Pagi terakhir di Paris datang dengan lembut. Langit berwarna keemasan, dan cahaya matahari yang hangat menembus tirai kamar hotel, membangunkan Sienna dari tidurnya. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar yang kini terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya terdengar suara samar kendaraan di jalan dan kicauan burung di luar jendela.
Sienna mengerjap pelan, lalu menoleh ke arah tempat tidur sebelah. Arden masih terlelap, rambutnya sedikit berantakan, tetapi wajahnya terlihat tenang. Tanpa sadar, Sienna tersenyum kecil. Ada sesuatu yang aneh, tetapi menenangkan melihat Arden yang biasanya selalu ketus kini tampak begitu damai.
Perlahan, ia turun dari sofa dan berjalan ke arah jendela. Tirai ia buka sepenuhnya, membiarkan sinar matahari pagi masuk dan menyinari ruangan. Dari sana, Menara Eiffel terlihat masih berdiri anggun di kejauhan. Cahaya pagi membuatnya tampak berbeda, lebih lembut, seolah ikut mengucapkan selamat tinggal.
“Pagi sudah datang,” gumam Sienna pelan.
Arden mengerang kecil, lalu mengangkat kepalanya. “Kamu selalu seberisik ini tiap bangun pagi?” tanyanya masih dibalut kantuk.
Sienna menoleh, tersenyum geli. “Aku cuma buka tirai, bukan menyalakan konser rock.”
Arden menguap, lalu mengusap wajahnya. “Aku benci pagi hari yang datang terlalu cepat,” katanya.
Sienna mendekat, duduk di sisi ranjang. “Karena itu berarti kita harus pulang, kan?” tanyanya lembut.
Arden menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Iya. Sayang sekali, padahal aku baru mulai terbiasa sama udara di sini.”
Sienna menunduk menatap jarinya sendiri. “Aku juga. Rasanya belum siap kembali.”
Arden menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, “Kita bisa kembali kapan pun kamu mau. Paris nggak akan ke mana-mana.”
Sienna tersenyum kecil. “Iya. Tapi aku nggak tahu apakah kita bisa menikmati semuanya seperti ini lagi.”
Arden tidak menjawab. Ia hanya menatap wajah Sienna yang diterpa sinar matahari. Ada sesuatu yang terasa menggantung di udara sebuah perasaan yang tidak diucapkan, tetapi jelas dirasakan.
Tak lama kemudian, Lucas mengetuk pintu.
“Tuan muda, pesawat akan berangkat dua jam lagi. Saya sudah memesan mobil untuk ke bandara,” lapornya sopan.
“Baik, kami segera siap,” jawab Arden.
Sienna berdiri, mulai merapikan barang-barangnya. Gaun-gaun yang semalam masih berserakan kini dilipat rapi ke dalam koper. Di sudut ruangan, ada beberapa kantong kecil berisi suvenir miniatur Menara Eiffel, gantungan kunci, dan beberapa cokelat khas Prancis. Sienna menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Aku nggak tahu apakah mereka akan menyukainya atau nggak,” katanya tanpa sadar.
Arden yang sedang mengenakan jaketnya menatapnya dari jauh. “Lupakan mereka, Sienna. Itu cuma benda.”
Sienna menatapnya, lalu berkata pelan, “Buatku, ini bukan soal benda. Tapi soal perasaan.”
Arden menghela napas panjang. “Kamu nggak akan berubah, ya?”
“Terserah aku,” balas Sienna dengan nada menggoda.
Arden tersenyum kecil. “Ya.”
Setelah semuanya siap, mereka pun keluar kamar. Lucas sudah menunggu di koridor dengan koper-koper yang tertata rapi. Saat lift terbuka, Sienna menoleh sebentar ke arah balkon ke tempat di mana semalam mereka berdiri bersama memandangi cahaya kota. Ada perasaan hangat sekaligus berat yang menyeruak di dadanya.
Di perjalanan menuju bandara, Paris perlahan menjauh di balik jendela mobil. Jalanan yang semalam penuh cahaya kini dipenuhi aktivitas pagi. Sienna menatap keluar jendela dengan mata berkilau lembut.
“Selamat tinggal, Paris,” bisiknya.
Arden mendengarnya, lalu menoleh sekilas. “Atau sampai jumpa lagi,” katanya.
Sienna tersenyum. “Ya. Sampai jumpa lagi.”
Mobil terus melaju, meninggalkan kota penuh kenangan itu di belakang, tetapi membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga.
Begitu roda pesawat menyentuh landasan, Sienna merasa dadanya ikut bergetar. Perjalanan panjang dari Paris akhirnya selesai, tetapi entah kenapa hatinya justru terasa berat. Ia memandangi jendela pesawat, langit Jakarta tampak kelabu, berbeda jauh dari birunya langit Paris yang cerah kemarin. Suara orang-orang yang mulai berdiri dan mengambil bagasi terdengar memenuhi kabin, membuat Sienna menarik napas panjang sebelum akhirnya ikut berdiri.
“Selamat datang kembali di Indonesia,” ucap Arden dengan nada santai, tetapi ada senyum samar di ujung bibirnya.
Sienna menoleh cepat. “Iya … akhirnya pulang juga,” balasnya datar, mencoba menutupi rasa canggung yang tiba-tiba muncul.
Lucas yang duduk di baris depan segera bangkit dan membantu menurunkan barang-barang mereka. Setelah melalui imigrasi dan pengambilan koper, mereka pun keluar dari bandara. Udara panas dan lembap langsung menyambut, berbeda jauh dari dinginnya angin Paris.
Sienna memijit lehernya pelan. “Aku kangen angin Paris,” gumamnya spontan.
Arden tertawa kecil. “Kamu bisa kangen udara, tapi nggak kangen aku?” tanyanya dengan nada menggoda.
Sienna meliriknya, separuh malu, separuh jengkel. “Kamu terlalu percaya diri,” balasnya cepat.
Arden hanya tersenyum puas, seperti biasa. Namun dalam hati, ia merasa perjalanan itu meninggalkan sesuatu di antara mereka, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan candaan.
Perjalanan menuju rumah Arden berlangsung tenang. Mobil melaju melewati jalanan kota yang ramai, hingga akhirnya gerbang besar rumah keluarga Arden terbuka perlahan.
Begitu mereka masuk, kesunyian langsung menyelimuti. Rumah itu megah dan indah, tetapi juga terasa dingin dan asing tidak seperti kehangatan yang mereka rasakan di Paris.
Sienna melangkah pelan melewati pintu lift. Setiap langkahnya terasa canggung. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Arden mengikuti di belakang dengan kursi rodanya, menatap punggung Sienna yang tampak kaku.
Begitu pintu lift terbuka, keduanya langsung menuju kamar mereka. Kamar itu luas, dengan ranjang besar di tengahnya, jendela tinggi yang tertutup tirai tebal, dan aroma lembut lavender dari pengharum ruangan. Namun entah kenapa, semua terasa berbeda sekarang.
Sienna meletakkan kopernya di sudut ruangan dan berdiri mematung. “Akhirnya sampai juga,” katanya pelan.
Arden memutar kursi rodanya mendekat ke meja, menatap sekeliling. “Lucu ya … biasanya kalau orang baru pulang dari liburan, suasana hatinya bahagia. Tapi kamu malah kelihatan tegang.”
Sienna menoleh cepat. “Aku nggak tegang,” bantahnya refleks.
“Oh?” Arden menaikkan alisnya. “Lalu kenapa dari tadi kamu berdiri kayak patung?”
Sienna menunduk, wajahnya memanas. “Aku cuma … belum terbiasa aja. Di sini rasanya berbeda.”
“Beda gimana?” tanya Arden, suaranya lembut kali ini.
Sienna menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil. “Di Paris, semuanya terasa lebih santai. Di sini … aku nggak tahu. Seperti kembali ke kenyataan.”
Arden terdiam, menatap wajah Sienna lama.
“Kalau kamu mau, kita bisa bikin kenyataannya sedikit lebih baik.”
Sienna menatapnya bingung. “Maksudmu?”
Arden hanya tersenyum samar. “Kamu istirahat dulu. Aku juga capek.” Ia mengarahkan kursinya ke arah jendela, menatap ke luar seolah ingin menyembunyikan sesuatu dari matanya.
Sienna mengangguk pelan, lalu berjalan ke sisi ranjang. Ia duduk di tepi tempat tidur, mengusap rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menatap punggung Arden dalam diam.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan tentang rasa aneh yang muncul sejak di Paris, tentang tawa dan momen yang terasa terlalu nyata untuk sekadar pura-pura, tetapi lidahnya kelu.