Drama

20. Kembali Bekerja

24 December 2025

Keesokan paginya, Sienna berdiri di depan lemari besar yang kini tampak berbeda dari terakhir kali ia lihat sebelum ke Paris. Saat membuka pintunya, matanya langsung membulat lebar. Deretan pakaian kerja tergantung rapi, ada blus sutra, rok pensil, blazer elegan dengan potongan pas tubuh, semuanya baru. Bahkan warnanya pun sesuai dengan selera Sienna.

Ia menelan ludah, mengedip beberapa kali, memastikan dirinya tidak sedang bermimpi.

“Apa-apaan ini…” gumamnya lirih. Tangannya menyusuri kain halus di salah satu blus, merasakan teksturnya yang mewah. Ia bahkan melihat label merek terkenal yang harganya jelas tak main-main.

“Sudah bangun rupanya,” suara khas itu terdengar dari belakang.

Sienna menoleh cepat. Arden muncul dari arah pintu dengan kursi rodanya, menatapnya dengan ekspresi santai dan senyum kecil.

“Kamu menyukainya?” tanyanya pelan, tetapi penuh percaya diri.

Sienna masih mematung. “Menyukainya?” ulangnya bingung. “Kamu … yang menyiapkan semua ini?”

“Tentu saja,” jawab Arden ringan, seolah itu hal kecil. “Aku sengaja memesannya. Pakaian kerja baru, beberapa sepatu, tas, bahkan ada sedikit tambahan di meja riasmu. Seperti parfum dan make up yang kupilih sendiri.”

“Make up juga?” Sienna membelalak tak percaya. Ia menoleh ke meja rias dan benar saja, di sana sudah tertata cantik kotak-kotak kosmetik dengan merek terkenal, bahkan beberapa parfum dengan botol kaca elegan yang belum pernah ia miliki.

Sienna menoleh kembali, kini menatap Arden dengan tatapan separuh kagum, separuh bingung. “Arden, ini … terlalu banyak. Untuk apa semua ini?”

Arden mengangkat bahu santai. “Kamu mulai bekerja lagi hari ini, kan? Aku hanya berpikir … kamu pantas punya penampilan terbaik. Lagipula, apa salahnya memberi hadiah pada istriku sendiri?”

Sienna menghela napas panjang. “Tapi … ini lebih seperti—”

“Pamer?” potong Arden cepat, senyum liciknya muncul. “Mungkin. Aku memang suka pamer.”

Sienna menatapnya tak percaya. “Kamu mengakui itu begitu saja?”

“Tentu,” jawab Arden sambil menautkan jari-jarinya di pangkuan. “Aku selalu pamer. Pamer kalau aku bisa melakukan apa saja.”

Sienna memalingkan wajahnya, pipinya memanas. “Kamu benar-benar nggak tahu malu, ya.”

“Justru aku tahu,” balas Arden santai. “Tapi aku nggak peduli.”

Sienna mendengus, mencoba menahan senyum yang hampir muncul. Ia lalu mengambil salah satu pakaian kerja, blus putih dengan potongan sederhana, tetapi elegan.

“Kamu bahkan tahu ukuranku? ” tanyanya pelan.

“Tentu saja aku tahu,” jawab Arden cepat, membuat Sienna langsung menoleh dengan tatapan curiga. Arden hanya terkekeh kecil.

“Tenang saja, aku nggak ngintip lemari pakaianmu waktu kamu tidur. Aku cuma minta Lucas mengukur baju-bajumu yang lama. Profesional, kok.”

Sienna menutup wajahnya separuh dengan tangan. “Kamu ini … benar-benar berlebihan.”

“Berlebihan itu gaya hidupku,” balas Arden dengan senyum miring.

Sienna akhirnya tertawa kecil, menyerah. Ia lalu memandangi pakaian-pakaian itu sekali lagi, kali ini dengan senyum lembut. Dalam hatinya, ia tahu, meski ucapan Arden terdengar sombong, tapi ada perhatian tulus di baliknya.

“Terima kasih, Arden,” ucapnya pelan.

Arden menatapnya lama, lalu berkata lembut, “Jangan cuma berterima kasih. Pakailah, dan tunjukkan pada semua orang kalau istri Arden Sakha Ravindra bisa terlihat lebih menakjubkan dari siapa pun.”

Sienna memutar bola matanya sambil tersenyum kecil. “Dasar narsis.”

“Tapi kamu suka, kan?” tanya Arden penuh percaya diri.

Sienna hanya mendengus pelan, lalu menatap cermin dengan ekspresi malu-malu. “Mungkin sedikit,” jawabnya akhirnya.


Arden sudah duduk di meja makan ketika aroma roti panggang dan kopi hitam mengisi seluruh ruangan. Ia tampak santai dengan kaos putih dan celana santai, tangan kirinya memegang ponselnya, sementara tangan kanan memutar sendok di cangkir kopinya perlahan. Namun, tatapannya sesekali melirik ke arah lift, menunggu seseorang yang belum juga muncul.

Beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka. Arden menurunkan ponselnya, lalu pandangannya langsung tertuju pada Sienna, seketika senyuman kecil terbentuk di wajahnya.

Sienna tampak berbeda. Rambutnya diikat rapi, sedikit make up lembut menonjolkan kecantikannya tanpa berlebihan. Ia mengenakan blus putih dari satin dengan potongan simpel dan kerah Shanghai, dipadukan dengan rok pensil berwarna beige dan sepatu hak rendah. Di tangan kanan tersampir jas berwarna krem. Ada aura profesional dan anggun yang membuatnya tampak seperti sosok baru, seseorang yang siap menghadapi dunia dengan percaya diri.

Arden tidak langsung bicara. Ia hanya menatapnya beberapa detik, hingga akhirnya Sienna yang merasa diperhatikan terus, menghela napas.

“Kenapa menatapku begitu?” tanyanya sambil duduk di kursi seberang.

Arden meletakkan cangkirnya dan menautkan jemarinya di atas meja. “Kamu kelihatan … luar biasa,” katanya akhirnya, dengan nada yang tenang, tetapi tulus.

Sienna mengerjap. “Jangan mulai dengan pujianmu pagi-pagi begini,” sahutnya cepat, mencoba menutupi senyum kecil yang muncul di bibirnya. “Aku cuma pakai pakaian kerja biasa.”

“Biasa?” Arden menaikkan satu alis. “Kalau itu yang kamu sebut biasa, maka dunia perlu meninjau ulang definisi luar biasa.”

Sienna menahan tawa kecil, lalu menunduk. Ia mengambil segelas jus jeruk dan mencoba menenangkan diri.

“Kamu benar-benar tahu cara membuat seseorang merasa aneh, Arden.”

“Kalau itu berarti aku berhasil membuatmu memperhatikanku, maka aku nggak keberatan,” jawab Arden dengan nada santai.

Sienna menggeleng sambil tersenyum kecil, lalu mulai menikmati sarapannya.

Mereka makan dalam keheningan yang nyaman hanya terdengar denting garpu. Sesekali, Arden meliriknya diam-diam, memperhatikan bagaimana Sienna kini tampak lebih percaya diri.

Setelah selesai makan, Sienna menghapus bibirnya dengan tisu dan berdiri.

“Baiklah, aku berangkat dulu. Kalau aku terlambat hari pertama, itu akan memalukan.”

Arden menatapnya sambil menyandarkan diri di kursi rodanya. “Aku akan mengantarmu,” katanya tiba-tiba.

Sienna langsung menoleh. “Nggak perlu. Aku bisa pergi sendiri.”

“Nggak,” jawab Arden tegas. “Aku ingin memastikan kamu sampai dengan selamat.”

Sienna menatapnya dengan dahi berkerut.

“Arden, aku bukan anak kecil. Aku bisa naik taksi. Kamu nggak perlu repot—”

“Terlambat,” potong Arden sambil menggerakkan kursi rodanya sedikit menjauh dari meja. “Mobil sudah kusiapkan. Aku ikut.”

“Arden—”

“Aku memaksa,” katanya lagi, kali ini dengan nada kekanakan khas usianya, tetapi tak bisa dibantah. “Kamu bisa marah nanti di kantor kalau mau, tapi pagi ini, aku tetap akan mengantarmu.”

Sienna menatapnya lama, mencoba membaca kesungguhannya. Tapi dari cara Arden berkata, ia tahu pria itu tak akan berubah pikiran.

Ia akhirnya menghela napas pasrah. “Baiklah,” katanya pelan. “Tapi hanya sampai depan kantor. Jangan ikut turun.”

Arden tersenyum puas. “Kesepakatan yang adil.”

Sienna menggeleng kecil, lalu berjalan mengambil tasnya. Di balik nada datarnya, ada sesuatu yang bergetar halus dalam suaranya, entah itu rasa kesal, atau mungkin rasa yang lain, sesuatu yang bahkan Sienna sendiri tak ingin akui.

Arden menatap punggungnya sambil tersenyum samar. Ia pun mengikuti langkah Sienna. Di luar Lucas sudah menunggu kedatangan keduanya. Ia membantu menaikkan Arden ke dalam mobil. Kemudian disusul oleh Sienna.

Mobil itu pun melaju meninggalkan rumah megah itu, menuju kantor yang selama ini menjadi identitas dari Sienna. Seorang wanita pekerja keras dan tangguh.