Mobil hitam Arden berhenti mulus di depan gedung tinggi berlogo Golden Cosmetic Corp, tempat Sienna bekerja.
Sienna menatap gedung itu melalui kaca mobil, menarik napas dalam sebelum akhirnya membuka pintu. Ia mengenakan jas kerja rapi berwarna krem dan sepatu hak rendah. Dari kaca, bayangan dirinya terlihat begitu profesional, berbeda jauh dari Sienna yang dulu hanya berpenampilan seadanya.
Arden menatapnya dari kursi roda di dalam mobil, tersenyum tipis. “Jadi ini tempatmu bekerja? Golden Cosmetic Corp, ya?” gumamnya sambil menatap papan nama besar itu. “Lumayan megah juga. Aku jadi penasaran, seperti apa kamu kalau sedang jadi pegawai kantoran.”
Sienna berbalik, menatapnya dengan senyum geli. “Pegawai kantoran, tapi aku manajer pemasaran, ingat?” ujarnya, dengan nada bangga, tetapi ringan.
“Justru itu,” balas Arden cepat. “Aku membayangkan kamu duduk di balik meja besar, memberi instruksi pada orang-orang. Haruskah aku ikut masuk untuk lihat langsung?”
Sienna langsung menatapnya tajam. “Jangan berani,” katanya sambil menunjuknya main-main. “Aku nggak mau kamu melihat sisiku yang cantik saat di kantor.”
Arden terkekeh. “Cantik? Kamu yakin sisi cantik bukan sisi galak?”
“Aku nggak mau memperlihatkannya!” sahutnya, lalu melangkah sedikit mendekat dari mobil.
“Sekarang kamu tunggu di rumah dengan baik, ya? Jangan bikin onar, dan tunggu aku cari uang dulu.”
Arden menatapnya dengan ekspresi tak percaya. “Cari uang dulu?” ulangnya. “Sienna, siapa di antara kita yang punya rekening tebal?”
Sienna tertawa kecil. “Tetap saja, aku harus terlihat sibuk. Biar harga diriku naik sedikit.”
Arden mendelik kesal, tetapi tidak bisa menahan senyumnya. “Dasar keras kepala.” Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Baiklah, tapi jangan lupa makan siang.”
“Iya, iya. Aku janji akan makan.”
“Kalau nggak, aku akan datang ke kantor dan membawakan bekal,” tambah Arden pura-pura serius.
Sienna tertawa lagi, menggeleng tak percaya. “Kamu gila,” katanya sambil berbalik.
“Dan kamu sudah terbiasa dengan kegilaanku,” balas Arden cepat, membuat Sienna menoleh sambil tersenyum kecil.
Ia lalu melangkah masuk ke dalam gedung, membenarkan tas di pundaknya. Arden masih menatapnya hingga bayangan Sienna menghilang di balik pintu kaca.
Begitu Sienna melangkah masuk ke lantai tiga kantor, suasana riuh kecil langsung menyambutnya. Beberapa pegawai yang sedang menata berkas dan menatap layar komputer spontan berdiri dengan senyum lebar.
“Selamat datang kembali, Bu Sienna!” seru salah satu staf marketing.
“Selamat atas pernikahannya, Bu!” sahut yang lain dengan nada penuh semangat.
Sienna terkejut sejenak, tetapi kemudian tertawa kecil dan menunduk sopan. “Terima kasih semuanya … aku nggak menyangka kalian masih ingat,” katanya dengan senyum hangat.
“Bagaimana bisa lupa?” ujar Riko lagi. “Cuma sayangnya, pemberitahuannya mendadak banget. Kami jadi nggak sempat hadir waktu itu.”
Sienna mengangguk pelan, merasa sedikit canggung. “Iya, aku juga nggak sempat undang siapa-siapa. Semua memang mendadak sekali.”
Baru saja ia ingin melangkah ke ruangannya, tiba-tiba seseorang berlari kecil mendekat dan langsung memeluknya dari samping.
“Siennaaa!”
Sienna menoleh cepat dan langsung tertawa saat melihat wajah cerah sahabatnya. “Laras! Aku baru mau cari kamu!”
Laras melepas pelukannya, tetapi masih menatap Sienna dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
“Aku dengar kamu bulan madu ke Paris, ya? Wah, jangan bilang kamu cuma tidur-tiduran di hotel sepanjang hari?” tanyanya dengan nada menggoda.
Sienna langsung mencubit lengannya pelan. “Dasar, mulutmu masih aja tajam.”
Laras terkekeh, lalu menautkan lengannya di lengan Sienna sambil berjalan menuju area meja kerja.
“Ayo, ayo, cerita nanti aja. Aku penasaran banget, tapi sekarang duduk dulu. Kamu pasti jet lag.”
Begitu sampai di deretan meja marketing, beberapa pegawai lain menoleh sambil melambaikan tangan dan memberi selamat sekali lagi. Sienna membalasnya dengan ramah sebelum akhirnya duduk di tempatnya, meja di ujung ruangan, dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang kantor.
Di hadapannya ada dua meja berjajar ke belakang, dan tepat di seberangnya duduk Laras. Meja mereka dipisahkan oleh sekat tipis berwarna putih susu. Laras mengetuk pembatas itu pelan-pelan, membuat Sienna menoleh.
“Eh, Pengantin Baru,” ujar Laras dengan nada setengah bercanda. “Kamu belum lupa kewajiban istri yang baru balik kerja, kan?”
Sienna mengerutkan dahi, pura-pura bingung. “Kewajiban apa lagi?”
“Ya traktiran, dong!” jawab Laras cepat sambil menyengir lebar. “Minimal makan siang lah. Masa bulan madu di Paris, pulang-pulang nggak bawa oleh-oleh buat kami?”
Sienna terkekeh kecil, menatap sahabatnya dengan pandangan geli. “Baiklah, baiklah. Aku akan traktir makan siang. Kalian mau apa, seafood, steak, atau ramen?”
Laras langsung bersorak kecil. “Yes! Terserah yang penting bukan salad lagi. Aku udah trauma sama makanan sehat!”
Tawa pun pecah di antara mereka, membuat suasana kerja pagi itu terasa lebih ringan. Beberapa rekan kerja lain ikut menimpali, meminta ikut makan siang juga.
Sienna menatap wajah-wajah ceria di sekelilingnya dan tanpa sadar tersenyum hangat. Setelah beberapa hari hidup dalam dunia asing bersama Arden, kini rasanya ia benar-benar kembali ke dirinya sendiri. Sienna yang bekerja keras, bercanda dengan teman-temannya, dan menikmati rutinitas yang akrab.
Begitu jarum jam dinding menunjuk pukul dua belas siang, ruangan kantor seketika hidup. Suara kursi bergeser, tawa kecil, dan derap langkah bercampur jadi satu tanda waktu makan siang telah tiba.
“Yuk, kita berangkat sebelum restoran penuh!” seru Laras sambil berdiri dan menepuk tangan, mengundang yang lain untuk ikut.
Sienna menutup laptopnya dan berdiri, merapikan blouse putihnya yang rapi. “Kita ke mana katanya?” tanyanya sambil mengambil tas kecilnya.
“Restoran China yang baru buka di seberang gedung! Katanya enak banget, ramen dan dim sum-nya juara,” jawab Laras antusias. “Kamu harus coba!”
Sienna tertawa kecil. “Kamu yakin ramen itu makanan China, bukan Jepang?”
Laras mendengus pura-pura jengkel. “Pokoknya makan aja, jangan debat. Yang penting enak!”
Mereka pun keluar dari kantor bersama rombongan kecil sekitar enam orang, semuanya dari divisi pemasaran.
Begitu sampai di depan restoran, aroma harum kaldu dan bumbu khas oriental langsung menyeruak dari dalam. Pintu kaca otomatis terbuka, memperlihatkan interior bernuansa merah keemasan dengan hiasan lentera gantung dan musik lembut di latar belakang.
“Wah, suasananya mewah banget!” ujar salah satu rekan, Riko, sambil mengintip meja di dalam.
Pelayan ramah menyambut mereka dan mengarahkan ke meja panjang di sisi dekat jendela. Begitu duduk, Laras langsung membuka menu dan matanya berbinar.
“Kita pesan banyak ya, biar bisa sharing. Aku pengen dumpling udang, nasi goreng nanas, sama ayam kungpao.”
Sienna menatap daftar menu dengan senyum kecil. “Aku pesan sup jagung kepiting dan sayur tumis aja. Masih kenyang sarapan.”
“Ah, pengantin baru pasti makan makanan mahal tiap hari, ya,” celetuk Riko sambil tertawa. “Sekarang makannya harus sehat-sehat biar glowing.”
Sienna hanya menggeleng sambil menahan tawa. “Aku tetap suka makanan sederhana, tahu.”
“Bagus! Karena kamu yang traktir, jadi kita bisa makan makanan mahal!” sahut Laras sambil tertawa.