Perawan Mahal sang Penggoda - Menguasai Tanpa Menyentuh - Bab 16

24 December 2025

“Ini HP keluaran terbaru,” ujar Gar saat mereka kembali berada di dalam mobil setelah berbelanja. “Kamu nggak suka?” Queen diam. Ia menatap layar ponsel mahal di tangannya, lalu perlahan mengalihkan pandangan ke arah Gar. Tatapannya ragu, seolah sedang menimbang sesuatu yang penting. “Kau bilang, kau dulu mafia, kan?” tanyanya akhirnya. Gar mengingat jelas momen itu. Saat pertama kali ia membawa Queen pergi, saat kebohongan itu keluar begitu saja dari mulutnya. “Ya,” jawab Gar. “Aku pernah bilang begitu.” Queen menelan ludah. “Terus… kau beneran mafia?” “Tidak.” Jawaban itu singkat. Terlalu singkat. Queen langsung menoleh. “Kalau begitu kenapa kau bilang ke aku kau mafia?” Gar tidak mengelak. Tidak berusaha memutar kata. “Supaya kau takut,” jawabnya jujur. “Supaya kau nurut. Supaya kau nggak kabur.” Queen mendengus pelan. “Kau ini pembohong, ya.” Alis Gar berkerut. Ia jelas tidak terima. “Aku bilang begitu karena aku nggak mau kehilanganmu,” ucapnya, suaranya sedikit mengeras tapi tetap terkendali. “Aku bukan pembohong.” “Bohong tetap bohong,” balas Queen cepat. Gar mengepalkan tangannya sesaat, lalu melepaskannya lagi. Ia menahan diri dan itu terlihat. “Oke,” kata Queen tiba-tiba, suaranya berubah serius. “Sekarang giliranku tanya.” Gar menoleh. “Kau sudah menikah atau belum?” Queen menatapnya lurus. “Tunjukkan KTP-mu.” Mobil melaju dalam keheningan singkat. Gar tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik dompet dari saku jasnya, membuka perlahan, lalu mengeluarkan satu kartu. Disodorkan ke Queen. “Lihat sendiri.” Queen mengambil KTP itu. Matanya langsung tertuju pada satu kolom. Status: Belum Kawin. Napasnya terasa lebih ringan tanpa ia sadari. Ia mengembalikan kartu itu, lalu bersandar ke kursi. “Kau nggak bohong soal ini?” tanyanya pelan. “Tidak,” jawab Gar mantap. “Soal itu, aku jujur.” Queen mendengus kecil. “Berarti kau cuma bohong kalau perlu.” Gar melirik sekilas. “Atau aku cuma pintar memilih cara bertahan.” Queen terdiam, lalu bergumam, “Kau aneh.” Gar menatapnya. “Kenapa?” “Orang kaya, nggak menikah, gampang buang uang, dan mengaku mafia padahal bukan.” Gar tersenyum tipis. “Aku bisa bilang hal yang sama tentangmu. Cewek yang berani minta kontrak, mau dihamburkan uang, tapi takut disentuh.” Queen tercekat. Hening kembali menyelimuti mobil selama beberapa detik. Mesin tetap menderu pelan, lampu-lampu kota berganti di balik kaca. Gar akhirnya memulai obrolan. “Kirimkan aku nomor lamamu.” Queen menoleh cepat. Ia baru saja dibelikan ponsel baru nomor baru, hidup baru. Tapi permintaan Gar itu tetap membuatnya waspada. “Untuk apa?” tanyanya datar. “Supaya aku bisa menghubungimu,” jawab Gar singkat. “Kalau suatu saat aku pergi.” Queen melipat kedua tangannya di dada. Ada rasa kesal yang sulit ia sembunyikan. Gerakannya kecil, tapi cukup jelas. Gar melirik sekilas. Ia menangkap perubahan sikap itu. Aneh namun justru membuatnya tertarik. Ia suka cara Queen menunjukkan penolakan tanpa teriak. “Percuma kamu punya nomor lamaku,” ucap Queen akhirnya. “Sinyal di tempatmu yang sunyi dan sepi itu juga nggak ada.” Gar tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Aku akan bukakan sinyal untukmu,” katanya tenang. “Dengan satu syarat.” Queen menoleh, menatapnya penuh curiga. “Apa?” “Jangan beri tahu siapa pun,” ucap Gar mantap. “Tempat itu.” Queen terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Oke.” “Sebelum pulang, kita makan malam dulu,” ajak Gar. Queen menatap ke luar jendela sebentar. “Aku nggak tahu mau makan apa.” “Steak?” tawar Gar. Queen langsung menggeleng. “Nggak ah. Aku nggak suka makan yang begituan.” Gar berpikir cepat. “Kalau gitu, nasi Padang lagi?” tanyanya, mengingat bagaimana sore tadi Queen melahap nasi padang dengan lahap. Queen kembali menggeleng, kali ini lebih pelan. Ia sendiri tampak bingung dengan keinginannya. “Kau nggak perlu mikir,” kata Gar. “Apa pun yang kamu mau, kita beli sekarang.” Queen menarik napas kecil. “Nggak usah makan malam ini. Besok aja.” Gar langsung menoleh, jelas terkejut. Baginya, itu tidak masuk akal. “Mana bisa,” katanya refleks. “Aku nggak bisa lihat kamu kelaparan.” “Tinggal bilang aja,” lanjutnya cepat. “Restoran mana pun. Ayo, kuras aja uangku.” Dari kursi depan, Deko sampai melirik lewat spion. Ia tidak tahu harus merasa heran atau pasrah. Entah tuannya sedang melampiaskan dendam hidup atau memang Queen sudah menjadi pengecualian. Queen memandang Gar cukup lama. Mendengar kata kuras aja uangku justru membuat kepalanya dipenuhi daftar belanja panjang. Tapi malam ini, ia ingin menahan diri. Menyimpan tenaga dan keserakahan untuk besok. “Langsung pulang aja,” jawabnya akhirnya. Gar masih tampak ragu. “Kalau nanti kamu kelaparan gimana?” Queen tersenyum kecil. Tangannya menggenggam ponsel barunya, lalu ia sedikit mendekat ke arah Gar. Wajahnya terlalu dekat. Suaranya turun satu nada. “Aku punya kamu, Tuan Gar.” Hembusan napasnya mengenai rahang Gar. Tubuh Gar menegang seketika. Bukan karena dingin tapi karena Queen tahu persis bagaimana caranya membuatnya kehilangan kendali, tanpa menyentuh apa pun. Melihat tubuh Gar yang menegang seketika, Queen nyaris tertawa. Bukan tawa yang keluar hanya getaran kecil di dadanya, rasa puas yang mengalir pelan. Kena. Kini ia tahu. Ia tidak perlu obat, tidak perlu trik murahan, tidak perlu berpura-pura lemah. Pria kaya ini. sudah bisa ia kendalikan hanya dengan tatapan dan jarak. Dia belum menikah, pikir Queen dingin. Dan tanpa bantuan apa pun dari Abang aku bisa membuat pria sekaya ini tunduk. Queen mengalihkan pandangan ke depan. Pantulan wajahnya terlihat samar di kaca mobil. Senyum tipis di bibirnya menghilang, digantikan ekspresi tenang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mendapatkan kekuasaan. Lalu matanya menangkap sesuatu. Dari kaca spion depan, Deko sesekali melirik ke arahnya. Cepat. Hati-hati. Seolah sedang memastikan sesuatu. Queen pura-pura tak sadar. Ia menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi, bersikap santai seperti wanita yang hanya menikmati mobil mewah dan ponsel baru. Namun di dalam kepalanya, ia mencatat satu hal penting. Bukan cuma Gar yang memperhatikanku. Bukan terlalu percaya diri, tapi dia harus waspada.