Sienna baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih agak lembap, mengenakan piyama sederhana berwarna krem. Ia menatap Arden yang duduk di kursi rodanya di dekat tempat tidur, lalu bertanya lembut, “Kamu mau aku ambilkan cemilan sebelum tidur?”
Namun tak ada jawaban.
Sienna mengerutkan kening, lalu melangkah mendekat. Saat melihat wajah Arden, ia langsung tersenyum kecil. Pria itu sudah tertidur dengan posisi setengah duduk, kepalanya sedikit miring, dan ponsel masih tergenggam di tangannya. Napasnya teratur, wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding biasanya seolah semua keras kepala dan gengsinya ikut tertidur malam itu.
Sienna menghela napas pelan. “Kamu benar-benar bisa tidur di posisi seperti ini?” bisiknya pelan sambil menahan tawa kecil.
Dengan hati-hati, ia mendekat dan mengambil ponsel dari tangan Arden. Jemarinya bergerak perlahan agar tak membangunkan pria itu. Ia menaruh ponsel di atas nakas, lalu memasangkan kabel charger yang tergantung di sana. Setelah itu, ia menatap Arden lagi dan memutuskan untuk membenarkan posisinya.
Sienna menunduk, menggeser tubuh Arden sedikit agar lebih nyaman bersandar di bantal. Tangannya menarik selimut tipis dan menutup tubuh pria itu dengan lembut. Ia sempat berhenti sejenak, memperhatikan wajah Arden dari dekat. Cahaya lampu kuning memantul di garis rahangnya, menonjolkan sisi tenang yang jarang terlihat.
“Kalau kamu tahu caraku menatapmu sekarang, kamu pasti sudah mulai menggoda lagi,” gumam Sienna sambil tersenyum kecil. Dia menggelengkan kepala dan berdiri perlahan.
Sienna berbalik menuju sofa panjang di dekat jendela ruang tamu, terpisah dari kamar tempat Arden tertidur. Dia duduk sambil memeluk lututnya, memandang keluar ke arah menara Eiffel yang menjulang megah di kejauhan. Lampu-lampu di sekelilingnya berkelip indah, seolah menari di udara malam Paris.
Namun di balik keindahan itu, hatinya terasa sedikit hampa. Sienna menatap bayangan dirinya di kaca jendela, lalu berbisik, “Apa mereka bahagia di rumah sekarang?”
Bayangan wajah ayahnya dan adiknya melintas dalam benak. Mereka pasti melanjutkan hidup seperti biasa. Mungkin mereka bahkan tidak sadar bahwa Sienna kini ada di Paris, sebagai istri seorang pria yang nyaris asing baginya.
“Apa mereka merindukanku?” tanyanya lagi, meski tahu tak ada jawaban. “Atau mereka malah lupa kalau aku sudah menikah?”
Dadanya terasa hangat sekaligus perih. Dia menghela napas panjang, lalu merebahkan tubuhnya di sofa, menarik selimut tipis yang disediakan pihak hotel.
Cahaya dari menara Eiffel menembus kaca, menari di wajahnya yang mulai lelah. Sienna memejamkan mata perlahan, membiarkan suara kota Paris yang jauh di bawah sana menjadi lagu pengantar tidurnya.
Di sisi lain ruangan, Arden masih tertidur tenang. Dua hati yang berbeda dunia itu kini terlelap di bawah satu atap, tanpa menyadari bahwa malam itu adalah awal dari sesuatu yang pelan-pelan akan mengubah hidup mereka berdua.
Sienna terlelap dengan posisi meringkuk di sofa, selimut tipis melilit tubuhnya. Cahaya pagi menembus tirai jendela, menyinari wajahnya yang tenang. Namun, rasa geli di pipinya membuatnya perlahan menggeliat.
Ada sesuatu yang menyentuh wajahnya seperti ujung benda tumpul yang bergerak pelan di sekitar hidung dan dagu.
“Mmhh…” gumamnya setengah sadar, mengusap wajahnya. Namun, saat membuka mata, napasnya langsung tercekat.
Arden ada di depan wajahnya, sangat dekat, sambil memegang spidol hitam di tangannya. Tatapan matanya datar dan suaranya dingin.
“Kenapa kamu tidur di sini?” tanyanya tanpa ekspresi, seolah tak ada yang aneh dengan tindakannya barusan.
Sienna mengerjap bingung. “Eh… kamu udah bangun?”
Arden memutar kursi rodanya menjauh. “Cepat bangun. Kita harus sarapan. Jangan buatku menunggu terlalu lama.”
Sienna masih mencoba memproses semuanya. “Sarapan? Tapi—”
Namun, sebelum sempat bertanya lebih jauh, Arden sudah berbalik dan menggerakkan kursi rodanya menuju pintu kamar. Dia bahkan tidak menatapnya lagi.
Sienna hanya bisa menghela napas, merasa aneh dengan sikap dingin Arden pagi itu.
“Kenapa dia berubah lagi pagi-pagi begini?” gumamnya kesal, lalu berdiri dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Begitu menatap cermin, matanya langsung membulat sempurna. Wajahnya penuh dengan coretan hitam dari spidol! Ada gambar kumis melingkar, alis tebal tidak beraturan, bahkan tulisan kecil “sleepyhead” di pipinya.
“ARDEN!!!” teriaknya keras hingga menggema di seluruh kamar.
Dari luar, terdengar suara tawa keras milik Arden. Sienna menatap bayangannya dengan wajah merah padam, antara malu dan marah.
“Kamu benar-benar sudah gila, Arden!” serunya kesal, mencuci wajahnya dengan cepat sambil mengomel panjang lebar.
Sementara itu, di luar kamar, Arden yang masih terkekeh berhenti di depan lift. Lucas, asisten pribadinya, sudah menunggu di sana.
“Selamat pagi, Tuan muda,” sapa Lucas sopan.
“Apakah Tuan sudah siap untuk sarapan?”
Arden tersenyum kecil, berusaha menahan sisa tawanya. “Ya. Ayo kita ke restoran bawah.”
Lucas mengangguk sopan, lalu bertanya hati-hati, “Bagaimana dengan Nyonya? Apakah beliau akan ikut sekarang?”
Arden memasang ekspresi datar seolah tak ada yang terjadi. “Dia akan menyusul,” jawabnya santai sambil menatap layar lift yang terbuka.
“Baik, Tuan muda.”
Keduanya masuk ke dalam lift. Begitu pintu menutup, senyum licik kembali muncul di wajah Arden. Ia bersandar santai di kursi rodanya, tampak puas dengan karya seni pagi yang baru saja ia buat.
Sementara itu, di atas sana, Sienna masih berjuang menghapus sisa spidol dari wajahnya dengan tekad bulat untuk membalas dendam pada pria paling menyebalkan yang pernah ada di hidupnya.
Sienna berjalan menuju restoran hotel dengan wajah masih cemberut, rambutnya yang dikuncir seadanya membuatnya tampak seperti menahan amarah sejak bangun tidur. Begitu melihat Arden yang tengah duduk tenang sambil menikmati sarapan croissant dan kopi, ekspresinya makin masam.
Arden yang sedang menyeruput kopinya langsung berhenti ketika merasakan tatapan menusuk dari arah pintu. Ia menoleh dan begitu melihat Sienna berjalan ke arahnya dengan ekspresi kesal, senyum di bibirnya perlahan menghilang.
“Pagi,” ucapnya hati-hati.
“Pagi?” Sienna menatapnya tajam sambil duduk di seberang. “Kamu senang sekali, ya, menjahiliku?”
Arden menaruh gelas kopinya, mencoba menahan tawa yang nyaris keluar. “Aku cuma menemukan spidol di meja. Aku bingung harus mencoret ke mana, jadi—”
“Jadi wajahku jadi kanvasmu?” potong Sienna cepat, mendengus keras. “Kamu benar-benar kekanak-kanakan.”
Arden tertawa kecil meski berusaha tampak menyesal. “Kalau kupikir lagi, hasilnya lumayan bagus. Sayang kamu keburu mencucinya.”
Sienna memutar bola matanya dengan malas. “Aku bisa saja membalasnya, tahu?”
“Kalau itu terjadi, aku akan pastikan Lucas memotret buktinya,” balas Arden dengan senyum tipis.
“Kamu benar-benar nggak tahu malu.”
“Aku hanya berusaha membuat suasana pagi jadi lebih menyenangkan,” ujar Arden dengan nada lembut.
Sienna akhirnya mengambil roti di hadapannya dan memulai sarapan. Meskipun masih mendengus pelan, suasana di antara mereka perlahan mencair. Arden sesekali meliriknya, Sienna tampak sudah tidak kesal lagi.