Mobil hitam yang membawa mereka melaju di antara jalanan kota Paris yang ramai. Dari jendela, Sienna memperhatikan gedung-gedung tinggi yang mulai berganti dengan taman dan arena terbuka. Langit siang itu cerah, penuh cahaya, dan udara terasa lebih segar. Ia menoleh pada Arden yang duduk di sampingnya, tampak begitu santai dengan kacamata hitamnya.
“Jadi, ke mana kita kali ini?” tanya Sienna penasaran sambil mencondongkan tubuh sedikit.
Arden menoleh, sudut bibirnya naik membentuk senyum penuh rahasia. “Ke tempat yang gak akan pernah kamu duga,” jawabnya pelan, membuat Sienna mengerutkan kening curiga.
“Arden, jangan bilang—”
Tapi kalimatnya terhenti begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang besar bertuliskan Parc d’Aventures. Di baliknya, terlihat aneka wahana permainan yang ramai oleh suara teriakan pengunjung.
Keduanya turun dari mobil, Arden duduk du kursi rodanya dengan bantuan Lucas.
Sienna memandang ke sekeliling dengan mata membesar. “Arden, apa kamu yakin mau bermain di sini?” tanyanya setengah panik.
Arden menatapnya sekilas, ekspresinya berubah dingin. “Kenapa memangnya? Apa orang lumpuh seperti aku nggak boleh bersenang-senang di taman hiburan?”
Sienna langsung menelan ludah, wajahnya memucat karena sadar ucapannya barusan terdengar salah.
“Bukan begitu maksudku, aku cuma… khawatir saja,” ucapnya lirih.
Arden hanya tersenyum tipis lalu mendorong kursi rodanya maju tanpa menatapnya. “Kekhawatiranmu nggak dibutuhkan, Sienna.”
Sienna menatap punggung Arden yang menjauh dengan perasaan bersalah.
“Arden, tunggu!” Ia buru-buru mengejar sambil berusaha menyesuaikan langkah.
Di belakang, Lucas, mengikuti dari jarak aman, sesekali memperhatikan keadaan tuannya dengan seksama.
Tak lama kemudian, Arden berhenti di depan wahana hysteria. Matanya berbinar seperti anak kecil yang melihat permen.
“Kita mulai dari sini,” ujarnya mantap.
Sienna menatap papan peringatan di samping wahana itu, lalu menatap Arden dengan tatapan tak percaya.
“Kamu serius?”
“Tentu saja,” jawab Arden santai. Dengan bantuan Lucas, ia berpindah dari kursi rodanya ke kursi wahana. Lucas memastikan sabuk pengamannya terkunci rapat, lalu memberi isyarat pada operator agar berhati-hati.
Sienna, yang tak bisa menolak, akhirnya duduk di sebelahnya. Tangannya gemetar memegang sabuk pengaman.
Arden meliriknya sambil menyeringai. “Kenapa wajahmu pucat begitu? Jangan bilang kamu takut?”
“Aku nggak takut,” jawab Sienna cepat.
Arden terkekeh pelan. “Kita lihat nanti.”
Wahana mulai bergerak perlahan, menuju ketinggian. Angin berhembus kencang, rambut Sienna berantakan. Ia menatap ke bawah dan menyesal sudah ikut naik.
“Arden… ini tinggi sekali,” gumamnya.
Arden hanya tersenyum puas. “Nikmati saja!”
Tiba-tiba, wahana meluncur cepat ke bawah. Sienna menjerit sekeras-kerasnya. Suaranya menembus riuhnya taman hiburan, sementara Arden tertawa lepas di sampingnya. Tubuh mereka seperti dihempaskan, lalu naik lagi dengan cepat, dan akhirnya turun dengan kecepatan penuh.
Ketika wahana berhenti, Sienna menunduk dengan wajah pucat seperti kertas. Ia menutup mulutnya dengan tangan.
“Aku… mau… muntah.”
Lucas yang sudah menunggu di bawah buru-buru menyiapkan air mineral. Sienna hampir berlari ke samping dan memuntahkan isi perutnya di tong sampah terdekat. Arden menatapnya sambil menahan tawa keras.
“Bagaimana? Menakutkan?” goda Arden dengan nada geli.
Sienna menatapnya kesal, matanya berair. “Kamu pikir itu lucu?”
“Sedikit,” jawab Arden santai, bahunya naik turun menahan tawa.
Sienna mengambil botol air dari Lucas dan meminumnya setengah habis dalam sekali teguk. Setelah beberapa menit, wajahnya mulai sedikit membaik.
“Aku sama sekali nggak takut, tahu,” katanya dengan nada keras kepala sambil menyeka mulutnya.
Arden mengangkat alis. “Oh, begitu?”
“Ya! Aku cuma… belum siap saja,” jawabnya cepat.
Arden menyilangkan tangan di dada dengan senyum jahil. “Kalau begitu, mari kita buktikan.”
Sienna memandangnya waspada. “Maksudmu?”
“Roller coaster,” kata Arden mantap sambil menunjuk ke arah wahana raksasa di ujung taman. Relnya meliuk tajam dan suaranya bergemuruh tiap kali meluncur.
Sienna menatap wahana itu, lalu menatap Arden dengan tatapan pasrah. “Kamu benar-benar nggak punya rasa takut, ya?”
Arden tersenyum lebar. “Aku sudah kehilangan banyak hal dalam hidupku, Sienna. Tapi aku nggak mau kehilangan kesenangan.”
Sienna menatapnya sejenak, lalu akhirnya mengembuskan napas panjang. “Baiklah. Tapi kalau aku pingsan, kamu yang tanggung jawab.”
Arden tertawa pelan. “Kesepakatan yang adil.”
Mereka pun bergerak menuju roller coaster, dengan Lucas yang siap membantu seperti biasa.
Roller coaster menjulang tinggi di depan mereka, rel besinya berkelok tajam seperti ular raksasa yang siap menelan siapa pun yang berani menaikinya. Suara gemuruh dari kereta yang meluncur terdengar keras, disertai teriakan para penumpang yang bercampur antara ketakutan dan kegembiraan.
Sienna berdiri terpaku, menatap wahana itu dengan mulut sedikit terbuka. “Kamu yakin mau naik ini juga, Arden?” tanyanya setengah tak percaya.
Arden, yang masih duduk di kursi rodanya, hanya tersenyum tenang. “Aku nggak akan menyerah setelah baru satu wahana. Lagi pula, kamu bilang kamu nggak takut, kan?” ujarnya sambil menaikkan alisnya dengan ekspresi menantang.
Sienna mendengus pelan. “Kamu benar-benar senang membuatku terlihat lemah, ya?”
“Aku hanya menikmati pemandangan yang langka,” jawab Arden ringan.
Lucas datang membantu, menyiapkan akses khusus agar Arden bisa berpindah ke kursi wahana dengan aman. Petugas taman dengan ramah membantu, memastikan segalanya terpasang dengan benar. Sienna menatap Arden yang tampak begitu bersemangat seperti anak kecil. Sementara dirinya… perutnya sudah mual duluan hanya mendengar suara rel yang berderit.
Ketika semuanya siap, mereka duduk bersebelahan di barisan depan. Sienna menatap lurus ke depan, mencoba menenangkan napasnya.
“Jangan bilang kamu tutup mata lagi,” goda Arden sambil tersenyum miring.
“Aku nggak akan tutup mata,” balas Sienna cepat. “Aku cuma… fokus.”
“Fokus untuk nggak menjerit?” Arden menahan tawa.
Sienna meliriknya kesal, tapi belum sempat membalas, roller coaster mulai bergerak perlahan. Mereka naik ke puncak lintasan, semakin tinggi dan tinggi, hingga seluruh taman hiburan terlihat dari atas sana. Angin berhembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Sienna.
Arden memandang pemandangan itu sejenak, lalu melirik ke arah Sienna. Dalam hati, ia kagum melihat wanita itu tetap berusaha tegar, meski jelas terlihat gugup.
“Pegangan yang kuat, Sienna,” ucapnya pelan.
Sienna baru hendak bertanya “kenapa” saat tiba-tiba kereta meluncur dengan kecepatan luar biasa.
“AAAAAAAHHH!!!” Teriakan Sienna kembali menggema, kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Tanpa sadar Sienna memegang tangan Arden dengan erat. Tubuhnya seolah melayang, lalu menukik tajam ke bawah. Arden terdiam sesaat, tapi akhirnya ia kembali tertawa terbahak-bahak, bahkan sempat mengangkat tangannya ke udara dengan bebas.
Setiap tikungan tajam dan putaran cepat membuat jantung Sienna hampir meloncat keluar. Namun di sela ketakutannya, ia sempat melirik Arden pria itu tertawa, benar-benar menikmati setiap detik seperti sedang merasakan hidup sepenuhnya. Dan akhirnya Sienna pun mulai menikmati permainan itu.
Ketika wahana akhirnya berhenti, Sienna kembali terengah, wajahnya lagi-lagi pucat. Tapi kali ini, alih-alih langsung memprotes, ia justru tertawa kecil di antara napasnya yang tersengal.
“Aku… pikir aku mau mati,” katanya masih terengah, tapi dengan senyum di bibirnya.
Arden menatapnya dan ikut tersenyum. “Tapi kamu nggak mati. Kamu malah terlihat lebih senang.”
Sienna menatapnya sejenak, dan kali ini ia tak bisa menyangkal. Ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa ringan seolah beban yang selama ini ia bawa perlahan menguap bersama angin di ketinggian tadi.