Arden menatap piring makan siangnya yang sudah dingin di atas meja panjang ruang makan. Sendoknya dibiarkan tergeletak tanpa tersentuh, dan aroma makanan yang biasanya menggoda kini terasa hambar di hidungnya. Ia mengetuk meja pelan dengan jari, menatap jam di dinding, lalu mendesah berat.
“Kenapa sih ... hari ini rasanya lama banget,” gumamnya pelan, nada suaranya kesal bercampur bosan. Biasanya, ia bisa menghabiskan waktu dengan bermain game, atau sekadar menonton film avengers. Tapi entah kenapa, hari ini semuanya terasa hampa.
Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap kosong piringnya lagi. “Ini aneh. Aku nggak pernah sebosan ini sebelumnya,” gumamnya lirih. “Apa yang salah sebenarnya?”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan, sebelum akhirnya ia menghentakkan sendok ke meja dan berteriak keras.
“Lucas!”
Tak lama, suara langkah cepat terdengar dari arah dapur. Lucas muncul dengan wajah terkejut.
“Ada apa, Tuan Muda?”
Arden menatapnya dengan ekspresi kesal. “Kapan Sienna pulang?”
Lucas refleks melirik jam di pergelangan tangannya. Jarumnya baru menunjukkan pukul setengah satu siang.
“Nyonya Sienna biasanya pulang pukul lima sore, Tuan. Masih empat jam lagi.”
“Empat jam!” seru Arden setengah tak percaya. “Astaga, apa dia nggak bisa pulang lebih cepat? Atau berhenti kerja sekalian? Buat apa juga dia kerja kalau aku masih bisa menafkahinya?”
Lucas menatap tuannya itu dengan ekspresi canggung, berusaha menahan tawa. “Kalau Tuan mengatakan itu, saya yakin Nyonya Sienna akan langsung membenci Anda.”
Arden mendengus keras dan menenggelamkan diri di kursinya. “Ya, aku tahu ... dia pasti akan marah besar. Tapi aku nggak tahan menunggu! Satu menit aja rasanya mau gila.”
Lucas tersenyum kecil. “Mungkin Tuan Muda hanya bosan. Nyonya Sienna baru bekerja satu hari setelah liburan panjang di Paris, wajar kalau suasana rumah terasa sepi.”
Arden menatap langit-langit dengan wajah kesal. “Aku nggak suka suasana sepi begini.” Lalu tiba-tiba matanya berbinar, seolah menemukan ide.
“Bagaimana kalau aku juga kerja di tempat yang sama? Ayahku pasti bisa bantu aku masuk ke sana, kan?”
“Kerja di Golden Cosmetic Corp?” tanya Lucas dengan nada tidak percaya. “Tuan Muda serius?”
“Tentu saja!” jawab Arden mantap. “Aku bisa kerja di sana biar nggak bosan. Siapa tahu bisa satu divisi dengan Sienna.”
Lucas menatapnya lama, lalu menggeleng pelan. “Itu nggak mungkin, Tuan. Anda nggak punya pengalaman kerja ... dan juga, Anda bahkan belum lulus kuliah.”
Arden langsung terdiam. “Oh iya …,” gumamnya pelan sambil menatap kosong ke meja.
“Kalau aku mulai kuliah sekarang, kira-kira berapa lama sampai lulus?”
Lucas berpikir sejenak, lalu menjawab, “Kalau semua mata kuliah yang dulu Anda nggak lulus bisa diambil kembali dan nilainya memenuhi syarat, lalu ditambah waktu magang dan skripsi ... mungkin tiga tahun lagi, Tuan.”
“Tiga tahun?” ulang Arden dengan ekspresi frustasi. “Itu sama aja seperti mulai dari awal!”
Lucas hanya tersenyum lembut. “Sayangnya, Anda dulu terlalu sering bolos. Banyak mata kuliah yang dapat nilai E, ingat?”
Arden menatap Lucas dengan tajam, lalu memukul meja pelan dengan tangan. “Astaga! Kenapa sih, aku dulu sebodoh itu? Harusnya aku kuliah beneran, bukan bolak-balik nongkrong!”
Lucas menunduk, berusaha menahan senyum. “Dulu saya sudah bilang, Tuan.”
Arden mendesah panjang dan mengacak rambutnya sendiri dengan kasar. “Aku benci banget rasanya nunggu!” serunya frustrasi.
“Empat jam lagi? Ya Tuhan, bisa nggak waktu dipercepat aja?”
Lucas hanya menghela napas panjang, menatap tuannya yang kini benar-benar terlihat seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.
Arden menggerakkan kursi rodanya ke ruang keluarga dengan ekspresi bosan yang luar biasa. Ia melirik jam di dinding, baru pukul satu lewat sepuluh. Artinya masih hampir empat jam lagi sebelum Sienna pulang.
Ia mengembuskan napas berat, “Kalau aku nggak ngelakuin apa-apa, aku bisa gila.”
Ia lalu menatap ke arah rak konsol di depan televisi besar dan mendadak semangat.
“Oke, game time,” katanya penuh tekad sambil mengambil stik konsol. Dengan cepat, ia menyalakan layar, memilih permainan favoritnya.
Beberapa menit pertama, ekspresinya penuh fokus, jari-jarinya menari di atas tombol, matanya menatap tajam layar. Namun lima menit kemudian, terdengar suara notifikasi.
Victory!
Arden terpaku sejenak, lalu menatap layar dengan bingung. “Udah menang?” gumamnya tak percaya. Ia menatap layar hasil permainan yang menunjukkan skor sempurna.
“Astaga... lima menit!”
Ia menjatuhkan stiknya dengan frustasi. “Aku terlalu jago! Semua game ini nggak ada tantangannya lagi!” serunya seolah dunia bersekongkol membuatnya bosan.
Tanpa pikir panjang, ia berteriak, “Lucas! Ke sini cepat!”
Beberapa detik kemudian, Lucas muncul. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
“Belikan aku game terbaru! Seri apa pun yang baru rilis minggu ini!” pinta Arden dengan nada mendesak.
Lucas tampak ragu. “Tuan Muda, kita baru membeli sepuluh seri game baru seminggu yang lalu, dan semuanya sudah Anda mainkan sampai tamat dalam dua hari. Bahkan yang paling baru sudah Anda tamatkan tiga kali.”
Arden menatapnya dengan mulut terbuka lebar, lalu menepuk dadanya dengan gaya dramatis.
“Astaga ... jangan bilang semua hiburan di dunia ini sudah kehabisan tantangan untukku!” serunya dengan nada seolah dunia runtuh.
Lucas hanya bisa menahan senyum kecil. “Mungkin Tuan Muda perlu mencari hobi baru?”
“Hobi baru? Apa? Berkebun?” sahut Arden cepat dengan ekspresi jijik. “Aku bahkan nggak bisa membedakan tanaman hias sama rumput liar.”
Lucas tertawa kecil, tetapi segera menutup mulutnya karena takut dimarahi. Arden mendengus kesal lalu melempar stik konsol ke sofa.
“Sudahlah. Aku cari hiburan lain saja.”
Ia pun beralih ke rak buku di sisi ruangan, menarik satu komik dari tumpukan tinggi dan menatap sampulnya.
“Huh, terakhir kali aku baca komik ini waktu SMA.”
Dengan langkah malas, ia kembali ke sofa, membuka halaman pertama, dan mulai membaca.
Beberapa menit kemudian, ia tersenyum kecil tanpa sadar. Ceritanya lucu, karakternya menyebalkan tapi menghibur dan untuk sesaat, pikirannya tidak melayang ke mana-mana. Namun begitu halaman terakhir habis, ia mendesah panjang dan menutup buku itu perlahan.
“Baru lima belas menit,” katanya lirih, menatap jam lagi. “Kenapa waktu masih jalan segini lambatnya sih?”
Lucas yang masih berdiri di dekat pintu hanya tersenyum. “Mungkin karena Tuan terlalu menunggu seseorang.”
Arden menatapnya tajam, tetapi tak menyangkal. “Sial ... sepertinya kamu benar.”
Kemudian Arden dapat ide cermelang, ia menyalakan mode otomatis di kursi rodanya dan mulai meluncur keliling rumah dengan semangat seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru. Ia tertawa keras, memutar kursinya di lorong panjang, bahkan menabrak vas bunga di sudut ruangan hingga hampir jatuh.
“Wah, ini seru juga!” serunya sambil memacu kursinya lebih cepat.
Lucas dan beberapa pelayan hanya bisa menatap dengan wajah cemas. “Tuan Muda, hati-hati—” seru Lucas, tetapi terlambat.
Kursi roda itu berbelok terlalu tajam di tikungan dan kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, Arden terjungkal ke lantai dengan suara keras.
Lucas berlari menghampiri dengan panik. “Tuan Muda! Anda nggak apa-apa?”
Namun saat ia hendak membantu, Arden menepis tangannya kasar.
“Aku ... nggak apa-apa!” katanya, meski napasnya memburu. Ia menatap kakinya yang tertekuk aneh, mencoba merasakannya, tetapi tak ada apa-apa. Tidak ada rasa sakit, tidak ada sensasi.
Ia terdiam beberapa detik. Tatapannya kosong, senyum yang tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar. “Aku bahkan ... nggak bisa ngerasain apa-apa,” bisiknya lirih.