Drama

23. Arden yang Menyebalkan

25 December 2025

Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi udara di pantry kecil kantor. Sienna berdiri di depan mesin kopi, menatap tetesan cokelat pekat yang jatuh perlahan ke dalam cangkir.

Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore, waktu yang biasanya membuat semua orang mulai menghitung menit menuju pulang, tetapi baginya, pekerjaan yang menumpuk membuat napasnya terasa berat. Ia menyandarkan tubuh sebentar ke meja, memutar sendok kecil di tangan, mencoba mengusir rasa penat yang tak mau pergi.

Langkah kaki terdengar mendekat, diiringi suara tawa kecil. “Sienna, buatin aku juga dong. Aku udah bantuin kamu input data laporan tadi, tahu nggak betapa pusingnya itu,” kata Laras sambil memegangi punggungnya yang pegal.

Sienna tersenyum kecil dan menatap sahabatnya itu. “Oke, kamu mau yang manis pakai gula, atau yang pahit biar nggak gampang ngantuk?” tanyanya, mencoba bercanda.

“Hmm... manis aja deh. Hidup udah cukup pahit,” jawab Laras dramatis, membuat Sienna terkekeh pelan. Ia mengambil satu cangkir lagi dan mulai menyiapkan kopi untuk Laras. Suara mesin kembali berdengung, sementara uap panas mengaburkan sedikit pandangannya.

Dalam diam itu, Laras memperhatikan wajah Sienna yang tampak lebih segar meski jelas lelah.

“Eh, Sienna …,” katanya tiba-tiba, nada suaranya sedikit menggoda. “Aku masih nggak habis pikir, deh. Gimana bisa kamu tiba-tiba menikah? Tanpa ngasih kabar, terus langsung cuti dua minggu. Semua orang di kantor heboh loh!”

Sienna terdiam sebentar. Ia menunduk, menuangkan kopi ke cangkir kedua lalu menyerahkannya pada Laras.

“Maaf ya, Ras. Semuanya memang terlalu cepat,” ujarnya dengan senyum tipis. “Aku sendiri bahkan belum sempat ngabarin siapa pun. Itu ... perjodohan, dan aku cuma ikutin saja alurnya.”

Laras menerima cangkir itu, menatap Sienna dengan sedikit tidak percaya. “Perjodohan? Jadi bukan pacaran dulu? Nggak sempat mikir dulu, gitu?” tanyanya, masih penasaran.

Sienna menatap cairan hitam di dalam cangkirnya, melihat bayangan wajahnya yang tampak samar di permukaannya.

“Sempat sih, mikir,” katanya pelan. “Tapi akhirnya aku pikir ... mungkin ini memang jalan yang dikasih Tuhan buat aku. Jadi ya, aku jalanin aja.”

Laras menatap sahabatnya lama. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan tentang siapa suaminya, seperti apa orangnya, apakah Sienna bahagia, tetapi melihat senyum lembut yang penuh ketenangan itu, Laras menahan diri. Ia tahu, Sienna bukan tipe yang akan terbuka tentang sesuatu yang masih terlalu baru baginya.

“Ya udah, deh,” kata Laras akhirnya sambil menepuk bahu Sienna pelan. “Yang penting kamu kelihatan bahagia.”

Sienna menatapnya dan tersenyum tulus. “Iya. Makasih ya, Ras.”

Mereka berdua menyeruput kopi masing-masing, menikmati hangatnya minuman itu di tengah ruangan kecil yang hanya diisi bunyi kipas angin dan suara mesin printer dari luar.

Setelah beberapa menit berlalu, Laras menepuk pipinya sendiri. “Aduh, kopi doang nggak bikin kerjaan selesai. Yuk, balik sebelum si bos nyariin kita.”

Sienna tertawa kecil dan mengangguk. “Iya, ayo. Nanti malah dikira kita kabur kerja cuma buat ngopi.”

Mereka berjalan keluar pantry bersama. Sienna menarik napas panjang sebelum kembali ke mejanya.


Langit sore sudah mulai berubah warna menjadi jingga keemasan ketika pegawai-pegawai mulai berbondong-bondong keluar dari gedung. Sienna ikut berjalan bersama Laras sambil membetulkan tali tas di bahunya.

Begitu langkahnya keluar ke pelataran depan, mata Sienna langsung menangkap sosok mobil hitam mengilap yang terparkir di sisi jalan. Ia mengenali plat nomornya seketika, mobil Arden. Ia menghela napas kecil, dadanya tiba-tiba terasa berat.

Laras yang ikut berjalan di sampingnya menatap ke arah mobil itu dengan kening berkerut.

“Eh, Sienna ... siapa tuh? Kayaknya nungguin kamu, deh.”

Sienna tersenyum tipis. “Iya, jemputanku mungkin,” jawabnya pelan.

“Jemputan atau ... suamimu?” Laras langsung menoleh cepat, wajahnya penuh rasa ingin tahu. “Kenalin dong sekalian, biar aku nggak penasaran. Kan, aku belum pernah lihat seperti apa suamimu itu,” pinta Laras semangat.

Sienna tersenyum kikuk. “Lain kali, ya. Dia nggak terlalu suka ramai.”

“Ohh gitu, baiklah. Hati-hati di jalan,” ucap Laras sedikit kecewa.

“Kamu juga,” jawab Sienna lalu melangkah cepat menuju mobil sebelum Laras sempat menahannya lagi.

Begitu pintu mobil terbuka, Arden sudah duduk di dalam, tampak rapi, tetapi wajahnya menegang. Lucas di kursi depan menatap lewat kaca spion, seakan sudah mencium hawa aneh yang menggantung di udara.

Sienna masuk dengan hati-hati, menutup pintu pelan. “Maaf kalau lama. Aku baru bisa keluar sekarang.”

Arden hanya melirik sekilas. “Nggak apa-apa,” jawabnya datar, tetapi nada suaranya dingin. Ia menatap ke luar jendela, jarinya mengetuk sandaran kursi dengan ritme cepat.

Mobil pun melaju meninggalkan halaman kantor. Keheningan di antara mereka begitu tebal, sampai Sienna merasa dadanya sesak.

Akan tetapi tiba-tiba Arden bicara tajam, “Sienna ... kamu malu, ya?”

Sienna menoleh, bingung. “Malu? Maksudmu apa?”

Arden menatapnya, rahangnya mengeras. “Malu karena aku datang menjemputmu? Karena keadaanku yang seperti ini?”

“Arden, aku nggak—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Arden membentak, “Jawab aku! Kamu malu karena menikahi pria lumpuh sepertiku, kan!”

Sienna terkejut. Suara bentakan itu menusuknya seperti cambuk. Ia menatap Arden dengan mata membulat, bibirnya bergetar, tetapi tak ada kata yang keluar.

Dalam hati, ia mencoba memahami, mungkin Arden marah karena merasa rendah diri, tetapi tuduhan itu tetap menyakitkan.

Ia menarik napas panjang, menahan perasaan yang mulai menghangat di dadanya.

“Lucas, bisa berhenti di depan halte?” tanya Sienna terdengar lebih seperti sebuah perintah.

Lucas menatap lewat spion, tampak ragu. “Nyonya ....”

“Berhenti sekarang,” ulang Sienna.

Dengan enggan, Lucas menepikan mobil di depan halte. Dan kebetulan, di sana Laras baru saja berdiri menunggu bus, memeluk tas di dadanya. Ia menoleh kaget ketika melihat mobil mewah berhenti tepat di depannya, lalu jendela mobil itu perlahan turun.

“Sienna?” serunya heran.

Sienna menatapnya sambil tersenyum lembut, meski matanya jelas memendam rasa kecewa yang tak ia tunjukkan.

“Kamu mau aku antar pulang, Ras?”

Laras sempat terpaku, matanya berpindah dari Sienna ke sosok Arden di dalam mobil, pria tampan berwajah tegas yang duduk di kursi roda lipat di dalam. Sekilas ia bisa membaca ada sesuatu yang menegang di antara mereka berdua, tetapi ia tak berani bertanya.

“Iya ... iya, boleh,” jawab Laras akhirnya, tersenyum canggung.

Lucas segera turun dan membuka pintu samping kemudi untuk Laras. Ia pun segera duduk dengan merasakan ketegangan.

Saat mobil kembali melaju, Sienna menatap ke luar jendela. Refleksi wajahnya di kaca tampak tenang, tetapi tangannya yang menggenggam tas di pangkuannya bergetar halus.

Arden diam di sisi lain, menatap ke depan tanpa sepatah kata. Ia tahu ia sudah keterlaluan, tetapi gengsinya menahannya untuk meminta maaf.

Sementara itu, Laras melirik diam-diam, merasa ada sesuatu yang dalam dan rumit yang belum bisa ia pahami dari pernikahan sahabatnya itu.