Drama

24. Jangan Rendah Diri

25 December 2025

Mobil hitam itu melaju pelan menembus lalu lintas sore yang mulai padat. Udara dalam kabin terasa menegang, tetapi Sienna berusaha tersenyum dan mencairkan suasana. Laras di samping kemudi sesekali melirik ke arah Sienna, lalu ke arah pria di belakang yang sejak tadi diam dengan wajah datar, Arden.

“Laras, gimana kalau kita makan malam dulu sebelum pulang?” tanya Sienna tiba-tiba, memecah keheningan.

Laras langsung menatapnya dengan mata membulat. “Hah? Makan malam? Aduh, Sien, aku nggak enak ... suamimu kan, udah nunggu kamu dari siang. Aku nggak mau ganggu, deh.”

Sienna tertawa kecil, nada suaranya lembut, tetapi memohon. “Ayolah, cuma sebentar. Aku kangen banget ngobrol sama kamu. Udah lama nggak nongkrong bareng.”

Laras masih ragu. “Tapi—”

“Aku traktir.”

Kalimat itu berhasil membuat Laras terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. “Kamu ini, selalu tahu cara ngerayu aku. Ya sudah, deh.”

Di kursi belakang, Arden mendengus pelan, matanya melirik ke arah mereka berdua lewat pantulan kaca. Ia tidak mengerti apa yang sedang Sienna lakukan. Baru saja tadi mereka bersitegang, dan sekarang ia malah dengan santainya mengajak orang lain makan bersama. Tapi Sienna terlihat begitu tenang, seolah semuanya baik-baik saja.

Mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah yang berjajar lampu-lampu indah di terasnya. Laras menatap papan nama restoran itu dengan takjub.

“Sienna ... ini mahal banget, loh.”

Sienna hanya tersenyum. “Sekali-kali.”

Lucas turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk mereka. Laras, yang duduk di samping kemudi, turun lebih dulu dan langsung terdiam melihat bagaimana Lucas dengan cekatan membantu Arden turun dari mobil, memindahkannya dengan hati-hati ke kursi roda. Gerakan itu begitu tenang dan terlatih, tetapi bagi Laras yang baru pertama kali melihatnya, tetap terasa kikuk.

Sienna menggandeng tangan Laras pelan. “Ayo,” katanya dengan suara lembut.

Mereka masuk ke dalam restoran yang hangat dan elegan, lampu gantung kristal berkilauan di langit-langit. Pelayan menyambut mereka dengan senyum sopan dan menuntun ke meja di dekat jendela besar.

Setelah duduk, mereka memesan makanan. Laras menatap sekeliling, masih canggung.

“Santai aja, Ras,” kata Sienna sambil tersenyum menenangkan. “Kita cuma makan, bukan wawancara kerja.”

Laras terkekeh pelan, tetapi tetap melirik Arden yang sejak tadi hanya menatap daftar menu tanpa bicara. Akhirnya, Sienna mengambil inisiatif.

“Oh iya, kenalin. Ini suamiku, Arden.”

Arden mendongak sedikit, menatap Laras sekilas.

“Oh, kenalin aku Laras, teman dekat Sienna,” jawab Laras gugup.

Ia menunduk sedikit, takut salah bicara. Meski begitu, tidak ada satu pun dari mereka yang menyinggung soal kursi roda yang diduduki Arden.

Laras hanya tersenyum kikuk dan mencoba mencari topik aman. “Kamu beruntung banget, Sienna. Suamimu tampan banget.”

Sienna langsung menatapnya dengan gaya bercanda. “Eh, jangan naksir, ya. Itu udah resmi punya aku.”

Laras langsung mengangkat kedua tangannya. “Astaga, tentu aja nggak! Aku cuma muji.”

Arden yang dari tadi diam, menatap keduanya dengan bingung. Ia tidak tahu apakah harus tertawa atau heran melihat interaksi mereka.

“Tapi serius,” lanjut Laras dengan suara lebih pelan, “kayaknya suamimu ini lebih muda, deh.”

Sienna tersenyum bangga. “Bener banget. Aku dapet brondong, selisihnya empat tahun.”

“Empat tahun!” Laras menatap takjub, lalu menatap Arden dan kembali ke Sienna.

“Astaga, kamu keren banget. Dapet yang muda, tampan, dan kaya pula!”

Sienna tertawa terbahak, sementara Arden hanya mengerutkan kening, merasa seperti sedang disorot di pameran.

“Kasih aku tips dong,” lanjut Laras sambil menyikut lembut bahu Sienna. “Gimana caranya bisa dapet berondong yang kayak gitu?”

Sienna pura-pura berpikir. “Hmm ... gampang. Modalnya hanya perlu cantik dan tebar pesona, nanti malah dikejar-kejar.”

“Seriusan?”

“Serius,” jawab Sienna sambil tertawa.

Keduanya tertawa lepas, saling bertukar pandang dengan mata berbinar. Suasana meja itu akhirnya menjadi hangat, penuh candaan dan tawa ringan.

Arden mengetuk meja dengan jari telunjuknya, keras dan ritmis.

“Kenapa kalian tertawa?” tanyanya tiba-tiba dengan tajam. “Ada yang lucu? Atau kalian sedang menertawakan aku?”

Sienna langsung menatapnya, terkejut dengan perubahan nada suaranya. Laras pun membeku, lalu berpaling ke arah Sienna seolah mencari penjelasan.

“Eh ... maksudnya apa, Tuan Arden?” tanya Laras hati-hati. “Kenapa harus tersinggung? Apa aku bilang sesuatu yang salah?”

Arden menyandarkan punggungnya di kursi roda, rahangnya mengeras. “Bukankah kalian sedang menertawakan keadaanku?”

Laras berkedip beberapa kali, lalu mengerutkan dahi. “Keadaanmu yang seperti apa? Aku nggak ngerti. Kau kelihatan sehat dan … kuat.”

Jawaban itu justru membuat Arden semakin tidak nyaman. Ia merasa Laras berusaha menutup-nutupi sesuatu.

“Kau yakin? Kau nggak sedang menahan tawa melihat aku begini?”

Laras menatapnya dengan bingung, lalu justru berkata spontan tanpa pikir panjang, “Aku cuma ... sebenarnya aku malah penasaran, apa malam pertama kalian menyenangkan?”

“LARAS!” seru Sienna keras kali ini, menatap sahabatnya dengan tatapan ingin membunuh.

Laras memegangi bibirnya dan tertawa canggung. “Maaf, maaf! Aku keterlaluan. Aku nggak akan nanya yang privasi lagi, sumpah.”

Namun bukannya mereda, ketegangan justru semakin naik. Arden menatap keduanya bergantian, matanya tajam dan rahangnya menegang. Ia tiba-tiba menggebrak meja dengan tangan terbuka, membuat gelas di atasnya berguncang.

“Sudah cukup! Kalian pikir aku nggak tahu nada kalian barusan?” suaranya serak, tetapi penuh emosi. “Kalian sedang merendahkanku karena aku lumpuh, bukan?”

Sienna mengambil napas panjang, “Arden, tolong dengarkan aku baik-baik.” Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

“Siapa yang membicarakan hal itu? Apa kamu mendengar kami menyinggung soal ... kondisimu?”

Arden menunduk, tetapi tidak menjawab.

“Kami hanya membicarakan kamu yang tampan dan muda,” lanjut Sienna, suaranya melembut sedikit. “Itu saja. Jadi tolong berhenti menuduh seolah semua orang menertawakanmu.”

Arden terdiam. Wajahnya perlahan berubah, kemarahan di matanya memudar, berganti dengan keraguan. Ia menghela napas pelan, lalu berkata lirih, “Aku ... pikir kalian terganggu dengan keadaanku.”

Kali ini Laras yang angkat bicara. “Tuan Arden,” katanya sambil menatapnya lurus, “kenapa kau begitu nggak percaya diri? Sejujurnya, dari tadi aku nggak lihat seorang pria lumpuh. Aku cuma lihat seseorang yang tangguh, yang bisa nyetir emosi satu ruangan cuma dengan tatapan.”

Sienna melirik sahabatnya, sedikit kaget dengan cara Laras berbicara, tetapi ia membiarkannya.

“Denger ya,” lanjut Laras pelan, “di balik kekurangan pasti ada kelebihannya. Dan aku yakin banget, kamu punya sesuatu yang bikin Sienna jatuh cinta sampai mau menikah denganmu. Jadi jangan buat dia sakit hati cuma karena kamu sibuk ngerasa rendah diri.”

Sienna tersenyum kecil, mencoba menenangkan suasana yang mulai mencair. “Dengar, Arden,” katanya lembut. “Aku nggak pernah malu sama kamu. Jadi berhenti mikir aku atau orang lain lihat kamu dari kekuranganmu.”

Arden menatapnya, kali ini dengan pandangan yang lebih hangat. Ia tidak menyangka jika Sienna ternyata memiliki pikiran seperti itu. Berbeda dari yang lain.