Suasana malam di depan restoran tampak hangat oleh lampu-lampu jalan yang berpendar lembut. Sienna berdiri di sisi trotoar sambil memegangi tas kecilnya, sementara Laras berdiri di sampingnya, tampak canggung, tetapi tersenyum kecil.
“Terima kasih ya, Sienna,” ucap Laras pelan, menyelipkan rambut yang tertiup angin ke belakang telinganya. “Aku benar-benar nggak nyangka bisa makan malam di tempat semewah ini. Kau tahu sendiri kan, ini bukan tempat yang biasa kudatangi.”
Sienna terkekeh lembut. “Aku juga jarang makan di tempat seperti ini, Laras. Tapi ... rasanya menyenangkan bisa makan bareng kamu. Aku butuh teman bicara yang normal di tengah ... situasi baruku ini.”
Laras menatapnya dengan pandangan yang lembut, penuh pengertian. “Kamu kelihatan bahagia, meski ... ya, mungkin sedikit kaku,” katanya bercanda, membuat Sienna tersenyum geli. “Tapi serius, aku senang kamu menikah dengan seseorang yang, yah ... tampaknya cukup memperhatikanmu. Meski dia terlalu sensitif.”
Sienna menoleh ke arah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana. Lucas sudah bersiap di kursi kemudi, sementara Arden terlihat duduk di dalam, wajahnya tertuju ke luar jendela dengan pandangan tenang. “Ya ... dia memang bukan orang yang mudah,” ucap Sienna perlahan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
“Kalau begitu, kau harus lebih sabar,” kata Laras lembut. “Pria seperti dia ... pasti punya banyak luka. Tapi aku yakin dia akan belajar mempercayaimu suatu hari nanti.”
Sienna hanya tersenyum, tetapi senyum itu samar dan berat. Ia tahu Laras benar. Namun, rasa asing yang masih menggantung di antara dirinya dan Arden belum sepenuhnya hilang. Masih ada jarak, dinding tak kasat mata yang belum bisa ia tembus.
Taksi yang dipesan Sienna akhirnya datang, berhenti di depan mereka dengan suara rem yang pelan. Sienna segera membuka aplikasi di ponselnya dan memastikan pengemudinya sesuai.
“Ini taksimu, Laras,” katanya lembut. “Aku nggak tenang kalau kamu pulang sendirian naik bus malam-malam.”
Laras mengangkat alisnya. “Aku bukan anak kecil, Sienna,” godanya. Namun ia tahu, perhatian kecil itu tulus. Ia menghela napas dan tersenyum. “Baiklah, aku naik taksi. Terima kasih banyak ya. Untuk makan malamnya ... dan juga ongkos taksinya.”
Sienna tertawa kecil. “Jangan disebut-sebut, nanti aku malu.”
Laras membuka pintu taksi dan sebelum masuk, ia melirik ke arah mobil Arden.
“Sampaikan salamku untuk suamimu ya. Meskipun tadi dia agak galak, tapi ... sepertinya hatinya nggak seburuk itu.”
Sienna menoleh ke arah yang sama dan tersenyum tipis. “Aku akan sampaikan. Hati-hati di jalan, Laras.”
“Ya. Sampai besok di kantor,” jawab Laras sebelum masuk ke taksi. Mobil itu pun perlahan melaju, meninggalkan mereka di bawah cahaya lampu jalan yang temaram.
Sienna menarik napas panjang sebelum berjalan kembali ke mobil. Lucas segera turun dan membukakan pintu untuknya. Di dalam, Arden duduk diam menatap lurus ke depan, wajahnya sulit dibaca.
Sienna masuk perlahan, menutup pintu dengan hati-hati. Keheningan memenuhi ruang sempit itu. Hanya suara mesin dan detak jantungnya sendiri yang terasa.
“Sudah selesai?” tanya Arden akhirnya, suaranya datar, tetapi lembut di ujungnya.
“Sudah,” jawab Sienna pelan. “Dia sudah naik taksi.”
Arden hanya mengangguk. Tatapannya tetap lurus ke depan, tetapi ada sesuatu di balik nada suaranya, mungkin lega, mungkin masih menyimpan rasa bersalah dari kejadian di restoran tadi.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan area restoran. Sienna menatap ke luar jendela, melihat bayangan lampu yang berlari di kaca.
Mobil berhenti perlahan di depan rumah besar bergaya modern itu. Sienna membuka pintu dan keluar lebih dulu.
Lucas segera turun dari kursi kemudi, berjalan cepat ke sisi lain mobil untuk membantu Arden. Ia membuka pintu belakang, lalu menurunkan kursi roda dengan gerakan terlatih. Setelah memastikan posisi kursi roda stabil, Lucas membantu Arden berpindah dari kursi mobil. Namun, begitu tubuhnya mendarat di kursi roda, Arden menepis lembut bantuan berikutnya.
“Aku bisa sendiri,” ujarnya pendek.
Sienna yang berdiri tak jauh hanya bisa memandangi punggung suaminya yang segera memutar roda kursinya, melajukan dengan cepat menuju pintu utama tanpa menoleh sedikit pun. Wajahnya datar, tetapi dari caranya menarik napas dan gerak cepat tangannya, Sienna tahu ia sedang menahan sesuatu, mungkin marah, mungkin malu, atau mungkin ... kecewa.
Tanpa menunggu siapa pun, Arden terus melaju masuk ke rumah. Pintu otomatis terbuka, lalu menutup lagi setelahnya. Dari balik kaca besar, Sienna melihatnya menekan tombol lift dan menghilang di balik pintu logam berkilau itu.
Sienna hanya bisa mendesah, menatap ke arah lift yang kini kosong. “Dia benar-benar seperti anak kecil,” gumamnya pelan, menunduk.
Lucas yang sejak tadi berdiri di belakangnya mendekat dengan wajah tenang, lalu berkata, “Nyonya nggak perlu terlalu diambil hati. Sejujurnya ... Tuan muda menunggu Nyonya pulang sejak siang tadi.”
Sienna menoleh, keningnya berkerut. “Menunggu aku?”
Lucas mengangguk. “Ya. Dia bilang hanya ingin makan malam bersama, tapi waktu terus berjalan dan Nyonya belum kembali. Mungkin karena bosan, dia bermain dengan kursi rodanya. Tapi ... kemudian terjatuh.”
Sienna menatap terkejut. “Apa? Dia jatuh?”
Lucas tersenyum tipis, mencoba menenangkan. “Nggak parah, Nyonya. Hanya lututnya yang sedikit terluka. Tapi mungkin itu yang membuatnya agak sensitif malam ini.”
“Kenapa bisa sampai jatuh? Dan kenapa dia jadi sensitif hanya karena jatuh?”
“Mungkin karena lututnya terluka, dan dia nggak bisa merasakan sakit seperti orang lain, itu malah membuatnya semakin frustrasi.”
Kata-kata terakhir itu membuat dada Sienna terasa sesak. Ia terdiam cukup lama sebelum bertanya pelan, “Jadi ... benar-benar nggak bisa disembuhkan, ya? Kondisi kakinya?”
Lucas menatapnya dengan mata teduh. “Bukan nggak bisa, Nyonya. Tapi ... sangat sulit. Saraf di kakinya sudah lama nggak aktif. Namun, bukan berarti nggak ada harapan. Kalau beliau punya tekad kuat untuk terapi, mungkin masih ada kemungkinan pulih.”
Sienna menarik napas panjang, matanya redup. “Mungkin ... kita harus mencoba berobat ke luar negeri. Harusnya waktu di Paris kemarin, aku ajak dia ke dokter spesialis. Aku malah sibuk dengan urusan lain.”
Lucas tersenyum tipis. “Itu ide bagus, Nyonya. Tapi saya rasa Tuan Muda belum siap untuk menerima semua itu. Dia menolak pengobatan, bahkan terapi rutin saja sulit dia jalani.”
Sienna menatapnya tak mengerti. “Kenapa? Bukankah dia ingin sembuh?”
Lucas menunduk sejenak. “Tuan Muda ... kehilangan kepercayaan diri sejak kecelakaan itu. Katanya, nggak ada gunanya berjuang untuk sesuatu yang nggak lagi bisa kembali seperti semula.”
Kata-kata itu membuat hati Sienna terhimpit. Ia menghela napas panjang, “Lalu ... apa yang harus aku lakukan, Lucas?”
Lucas menatapnya lembut. “Bantu dia percaya lagi, Nyonya. Kalau beliau mau terapi, rajin minum obat, dan mulai berlatih lagi ... kesembuhan itu bukan mustahil.”
Sienna menatap lantai sejenak, lalu tersenyum pahit. “Ternyata bukan hanya tubuhnya yang lumpuh ... tapi juga semangatnya.”
Lucas hanya menunduk pelan, tak membantah.
Sienna pun melangkah perlahan menuju pintu, menatap ke arah lift yang kini sunyi. “Baiklah,” bisiknya lirih. “Kalau begitu, tugasku sekarang adalah membuat dia percaya lagi.”