Drama

26. Membujuk Arden

25 December 2025

Sienna membuka pintu kamar perlahan, langkahnya tenang, tetapi hatinya masih dipenuhi perasaan tak nyaman setelah mendengar cerita dari Lucas.

Pandangannya langsung tertuju pada sosok Arden yang sudah duduk di atas ranjang besar, bersandar pada tumpukan bantal dengan ponsel di tangannya. Wajah pria itu datar, jemarinya lincah menekan layar tampaknya sedang bermain game.

Sienna tidak mengatakan apa pun. Ia hanya berjalan pelan ke lemari, mengambil pakaian santai, lalu masuk ke kamar mandi. Suara air mengalir terdengar sebentar, menenangkan suasana yang semula kaku.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan rambut setengah basah, mengenakan piyama sutra berwarna lembut. Tubuhnya sudah terasa lebih rileks setelah seharian bekerja. Ia duduk di depan meja rias, mulai membersihkan wajahnya dari sisa make up kantor. Dari cermin, ia bisa melihat Arden masih fokus pada ponselnya, sama sekali tidak menoleh padanya.

Sienna akhirnya membuka suara, “Arden,” panggilnya, menatap pantulan wajahnya di cermin.

“Kamu mau ikut terapi lagi?”

Suara game berhenti. Arden terdiam sejenak sebelum menjawab tanpa menoleh.

“Terapi apa?”

“Terapi untuk belajar berjalan lagi,” jawab Sienna hati-hati. Ia tahu topik ini sensitif, tetapi tetap berusaha terdengar tenang.

Reaksi yang datang tidak membuatnya kaget, tetapi tetap saja membuat dadanya sedikit sesak.

“Nggak,” jawab Arden datar. Tegas. Tanpa ragu sedikit pun.

Sienna berbalik dari meja rias dan menatap punggung pria itu. “Kenapa nggak mau mencoba lagi? Siapa tahu kali ini hasilnya berbeda?”

Arden tidak menjawab. Ia menatap layar ponselnya sebentar, lalu mematikannya dengan kasar. Ponsel itu ia letakkan di meja samping ranjang, dan matanya yang tajam kini beralih pada Sienna. Tatapan itu menusuk, penuh dengan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar amarah, ada luka yang tak bisa dijelaskan.

“Apa kamu baru merasa malu melihatku seperti ini?” tanyanya tiba-tiba. “Malu karena suamimu lumpuh?”

Sienna tertegun. Lalu mendesah pelan, berusaha menahan diri agar tidak terpancing.

“Kenapa kamu selalu berkata seperti itu, Arden? Apa aku menyinggungmu karena menanyakan hal ini?”

Arden tak menjawab, hanya menunduk, tetapi tatapannya masih tajam. Sienna bangkit, berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang di sampingnya.

“Bagiku kondisimu bukan masalah,” katanya perlahan. “Aku nggak pernah malu memperkenalkanmu sebagai suamiku di depan siapa pun. Kalau aku malu, aku nggak akan membawamu makan malam bersama teman dekatku tadi. Tapi ....” Ia menatap Arden penuh harap.

“Kalau ada kesempatan untuk sembuh, kenapa nggak dicoba? Ini bukan demi aku, tapi demi dirimu sendiri.”

Arden diam lama. Ia menatap tangannya yang terlipat di pangkuannya. Untuk sesaat, kesombongan yang biasanya melindungi dirinya tampak runtuh.

“Jadi ... kamu benar-benar nggak malu sama sekali?” tanyanya pelan, tanpa menatap.

Sienna tersenyum lembut. “Nggak. Kalau aku malu, aku nggak akan mengenalkan Laras padamu. Aku nggak akan mengajakmu keluar makan malam bersama kami.”

Arden menoleh perlahan, menatap wajah istrinya. Ada ketulusan di sana, tak bisa disangkal. Sesuatu di dadanya menghangat tanpa ia sadari.

“Kamu benar-benar yakin ... aku bisa sembuh dan berjalan lagi?” Suaranya nyaris seperti anak kecil yang takut berharap.

Sienna mengangguk. “Aku yakin. Asal kamu mau mencoba, aku yakin kamu bisa.”

Arden terdiam beberapa saat. Pandangannya berubah lembut, tak lama kemudian matanya menyipit kecil, ada sinar nakal muncul di sana. “Kalau begitu,” ujarnya perlahan, “kalau aku bisa berjalan lagi ... apa yang akan kamu berikan padaku?”

Sienna terkejut sejenak. “Apa yang kamu maksud?”

Arden menyandarkan tubuhnya, bibirnya melengkung dalam senyum menggoda. “Aku butuh motivasi. Jadi ... kalau aku bisa berjalan lagi, kamu harus memberiku hadiah. Apa saja yang aku mau.”

Sienna menatapnya, mencoba menahan tawa. “Hadiah apa?”

“Apa saja,” jawab Arden cepat. “Kamu janji akan mengabulkannya, apa pun itu?”

Sienna berpikir sebentar, lalu mengangkat bahu. “Baiklah. Aku janji. Kalau kamu benar-benar bisa berjalan lagi, aku akan mengabulkan apa pun keinginanmu.”

Arden langsung berseru, wajahnya berbinar seperti anak kecil. “Benarkah? Jangan ingkar nanti!”

Sienna tertawa, kali ini tulus. “Buktikan saja dulu, Aku akan melakukan apa saja kalau kamu bisa membuktikan ucapanmu itu.”

Arden menatapnya lama, lalu tersenyum lebar. Senyum yang jarang muncul sejak kecelakaan itu.

“Lihat saja, Sienna. Aku akan membuatmu menyesal sudah berjanji seperti ini,” ujarnya dengan nada setengah menggoda.

Sienna hanya menggeleng sambil tersenyum, hatinya hangat. Ia tahu mungkin Arden hanya bercanda, tetapi sorot mata di wajah pria itu berbeda malam ini, ada cahaya yang sempat padam, kini mulai menyala kembali.

Sienna dan Arden sudah berbaring berdampingan. Selimut tebal menutupi tubuh mereka sampai dada, dan hanya cahaya temaram dari lampu di nakas yang menyinari wajah keduanya.

Arden menatap langit-langit beberapa saat, matanya tampak jauh, seolah pikirannya melayang entah ke mana.

“Sienna, apa kamu benar-benar yakin ... aku bisa jalan lagi?” tanyanya tanpa menoleh.

Sienna yang berbaring miring ke arahnya tersenyum lembut. “Tentu saja aku yakin. Kalau kamu benar-benar teguh dan punya tekad, apa sih yang mustahil terjadi?” ucapnya menenangkan.

Arden terdiam, seolah merenungi kalimat itu. Tapi sesaat kemudian, Sienna bertanya dengan nada hati-hati.

“Arden ... sebenarnya apa yang terjadi dulu? Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?”

“Kamu ingin tahu?” tanyanya datar.

Sienna mengangguk pelan. “Aku ingin tahu. Aku ingin mengerti kamu.”

Arden menghela napas panjang. Tangannya meremas sedikit selimut di dada, lalu ia mulai berbicara dengan suara berat, seolah setiap kata adalah kenangan pahit yang dipaksa keluar.

“Dulu aku ... bukan anak yang baik,” katanya lirih. “Aku nggak pernah nurut sama ayahku. Dia ingin aku jadi penerus perusahaan, tapi aku malah melakukan hal sebaliknya. Aku nggak pernah masuk kuliah, lebih suka buang waktu dengan teman-teman, nongkrong, balapan motor ... hal-hal bodoh seperti itu.”

Sienna mendengarkan dengan tenang, matanya menatap wajah suaminya yang kini tampak muram.

“Aku suka balap liar,” lanjut Arden. “Rasanya ... bebas. Angin malam, suara mesin, kecepatan, semua itu bikin aku merasa hidup. Tapi ... suatu malam, aku terlalu cepat. Ada truk besar yang tiba-tiba muncul dari tikungan. Aku berusaha mengerem, tapi motor yang kupakai kehilangan keseimbangan. Semuanya terjadi cepat banget. Dan saat aku sadar, aku sudah di rumah sakit.”

Kata dokter, saraf tulang punggungku rusak. Aku nggak bisa jalan lagi.”

Sienna menatapnya dengan hati mencelos.

Arden tertawa kecil, tetapi tawa itu terdengar pahit. “Untungnya kaki aku nggak diamputasi. Tapi ya ... aku nggak bisa merasakannya lagi. Aku pikir hidupku sudah berakhir waktu itu. Aku berhenti keluar rumah, berhenti ketemu siapa pun, berhenti peduli sama dunia. Aku cuma ... duduk, bernapas, tapi nggak benar-benar hidup.”

Sienna menggenggam tangan Arden yang di atas selimut, menggenggamnya erat.

“Itu sebabnya ayahku melakukan ini,” lanjut Arden pelan. “Dia pikir kalau aku menikah, mungkin aku akan punya alasan buat bangkit lagi. Dan entah kenapa, dia memilih kamu. Aku nggak tahu kenapa, tapi ... mungkin dia lihat sesuatu dalam dirimu yang aku nggak punya.”

Sienna tersenyum samar, matanya berkilat lembut. “Kalau begitu, semoga ayahmu nggak salah lihat.”

Arden menoleh ke arahnya, tatapan keduanya bertemu. “Meski alasan ayahku lebih buruk dari itu.”