Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 2

11 September 2025

“Masuk kamar, dan kamu renungkan kesalahanmu!” Titin menunjuk ke arah pintu kamar Arini yang masih tertutup rapat. Ia tidak ingin dibantah sama sekali.

Tanpa banyak berkata, Arini gegas menyeret kakinya untuk menjauh dari tempat itu. Ia masuk ke kamarnya, dan membenamkan wajahnya di atas bantal. Tak lama, deringan ponselnya membangunkannya dari segala kepahitan. Ia gegas mengambil benda pipih di dalam tasnya dan menekan tombol jawab.

“Halo,” sapa Arini.

“Rin, gimana?” tanya seseorang di seberang sana.

Arini terdiam, tak menjawab tanya itu. Hingga sang penelepon kembali bertanya.

“Rin, kamu udah bilang sama keluarga kamu?” Si penelepon lebih memperjelas pertanyaannya.

“Di … aku … ada masalah di keluarga aku. Aku belum bisa membahas tentang ini,” ucap Arini pada akhirnya.

“Kamu … apakah kamu gak serius mau menikah denganku, Arini?” Pria di seberang sana terdengar sangat kecewa.

Namanya Adi. Mereka sudah saling mengenal dari semenjak kuliah. Keduanya kemudian menjalin sebuah hubungan sejak tujuh tahun yang lalu, tepat ketika Arini memasuki tahun ke tiganya di perguruan tinggi.

Saat itu sang ayah baru saja meninggal. Keluarga Arini jatuh sejatuh-jatuhnya. Pemasukan keluarga terhenti karena sang ayah adalah satu-satunya penanggungjawab keuangan keluarga. Sementara uang asuransi habis dipakai biaya sehari-hari dan juga biaya kuliah Arini, serta biaya pendidikan Azril yang saat itu sudah tahun terakhir di SMP. Bahkan tak jarang, Arini bekerja sambilan untuk kebutuhan tugas-tugas tertentu.

“Aku serius, tapi keadaannya bener-bener gak mungkin,” ucap Arini.

“Apakah ada pria lain?” tanya Adi.

“Bukan itu masalahnya, Di. Ini … ini tentang hal lain.” Entah bagaimana caranya Arini mengatakannya. Semua yang terjadi adalah aib keluarga. Adiknya menghamili wanita lain, dan tentu saja masalah tidak akan berhenti di sana ‘kan?

Sebuah ketukan di pintu menginterupsi perbicangan mereka. Arini gegas pamit kepada Adi, kemudian membuka pintu. Wajah tua sang ibu terpampang nyata di depannya.

“Bu …,” sapa Arini.

“Ibu sudah berbicara dengan orang tua gadis itu. Dia ingin pernikahan putri mereka dirayakan besar-besaran karena gadis itu anak tunggal. Ibu tahu sekarang kamu tidak punya tabungan banyak, jadi ibu memutuskan, untuk biaya pernikahan adik kamu, ibu akan menggadaikan sertifikat rumah. Kamu nanti tinggal bayar cicilannya setiap bulan,” ucap sang ibu. Ia bahkan tak repot-repot bertanya pendapat Arini.

“Tapi, Bu ….” Ingin sekali Arini menolak ketidakadilan ini. Ia juga punya rencana. Ia juga punya keinginan. Apa semua itu tak penting di mata sang ibu?

“Jangan banyak membantah, Arini! Ibu sudah memutuskan yang terbaik bagi keluarga kita!” sela sang ibu.

“Bu … aku … Adi mengajakku menikah. Aku pikir, usiaku sudah cukup untuk berumah tangga.” Arini menunduk dalam saat mengatakannya. Ia sama sekali tidak berani menatap mata sang ibu. Tepatkah waktunya mengatakan semua itu sekarang?

“Kamu itu jangan egois, Rin. Pernikahan Azril itu lebih darurat, gak bisa menunggu lagi. Atau kamu lebih suka kalau orang-orang sampai tahu aib keluarga kita ini, iya? Kamu itu punya otak dipake mikir! Mikirin keluarga, bukan cuma mikirin diri sendiri!” Ucapan sang ibu begitu menyakiti hati Arini.

Memikirkan diri sendiri katanya? Memangnya kapan ibunya memberi waktu untuk Arini melakukan itu? Sejak lulus kuliah, Arini selalu menempatkan keluarga di atas segalanya, seolah keluarga adalah prioritas utama hidupnya. Ia bekerja banting tulang demi untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga. Terutama untuk memenuhi kebutuhan Azril yang tidak mau menurunkan standar gaya hidupnya setelah kepergian sang ayah.

Sebelum meninggal, sang ayah adalah manager umum di sebuah perusahaan multi nasional. Penghasilannya sangat cukup untuk istri dan anak-anaknya hidup mewah. Mereka sudah terbiasa makan makanan mahal, dan memakai barang mahal. Hingga cukup sulit, terutama bagi Azril untuk menurunkan standar gaya hidupnya. Dan semuanya dipenuhi oleh Arini. Tentu saja dengan desakan sang ibu.

Sang ibu selalu beralasan bahwa Arini sudah cukup hidup mewah sejak ia masih kecil, sementara Azril belum cukup merasakannya karena ayahnya sudah meninggal. Hingga tanpa sadar, kekosongan Azril atas ‘kehidupan mewah’ itu harus dipenuhi oleh Arini.

“Kalau kamu tetap ingin menikah, kamu bisa menikah tahun depan! Kamu tahu sendiri kalau sejak dulu, keluarga kita tidak pernah membenarkan lebih dari satu pernikahan di dalam keluarga di tahun yang sama!” Setelah mengatakannya, sang ibu gegas pergi, tanpa menunggu jawaban dari Arini lagi.


Keesokan harinya, Arini mengajak Adi untuk bertemu. Ia harus membicarakan tentang permasalahan yang terjadi di keluarganya, berharap Adi akan mengerti lagi dan lagi. Ya! Ini bukan kali pertama Arini meminta pengertian Adi saat ia mengajaknya menikah.

Adalah sebuah restoran di dekat kantor Arini yang mereka pilih untuk membicarakan tentang masalah dalam hubungan mereka itu.

“Jadi, alasan apa lagi yang membuat kamu menolakku lagi kali ini?” tanya Adi. Agaknya ia sudah mulai lelah dengan penguluran waktu yang Arini sampaikan setiap Adi mengajaknya menikah.

“Azril … dia menghamili seorang perempuan, Di. Keluarga gadis itu menuntut Azril untuk menikahi putri mereka,” jawab Arini.

“Jadi?” tanya Adi.

“Jadi tahun ini, Azril yang menikah. Kita mungkin bisa menikah tahun depan,” jawab Arini seraya menunduk. Ia sungguh tidak nyaman melihat wajah kecewa pria di depannya itu.

Adi mengembuskan napas lelah. Berkali-kali ia menunjukkan keseriusan kepada wanita yang sangat dicintainya itu, tapi selalu berakhir dengan kekecewaan.

Saat lulus kuliah, dan mereka sama-sama sudah mendapatkan pekerjaan, Adi sudah mengajaknya menikah. Tapi saat itu, Arini beralasan bahwa ia harus membiayai sekolah sang adik yang saat itu baru masuk SMA.

Kemudian setelah Azril lulus SMA, Arini masih mengulur waktu, mengatakan bahwa ia masih harus membiayai kebutuhan sang ibu, sampai Azril mendapatkan pekerjaan, dan bisa menggantikannya mengurus ibu mereka.

Akan tetapi, belum semua itu terwujud, masalah baru sekarang muncul. Azril harus menikah karena menghamili seorang perempuan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka, sementara pikiran Arini tidak pernah berada di dalamnya. Selalu ibu dan Azril yang ada dipikirannya. Bolehkah sekali saja Adi bersikap egois dan meminta Arini untuk memikirkan perasaannya juga. Terlebih … keharusan kali benar-benar tidak bisa ditunda lagi.

“Rin, kamu tahu ‘kan aku selalu mencintaimu?” tanya Adi tiba-tiba. Wajah Arini berubah seketika mendengarnya. Agaknya ia pun tahu, Adi akan mengatakan sesuatu yang buruk. “Aku … aku sudah menerima tawaran perusahaan untuk memimpin cabang baru di ibukota. Aku akan pergi ke sana dalam satu bulan. Tadinya aku pikir bisa membawamu ke sana sebagai istriku.”

“Ibu kota? Itu hanya beberapa jam perjalanan dari sini. Aku gak keberatan kita LDR beberapa waktu,” ucap Arini.

“Aku mungkin gak akan kembali, Rin." Adi berkata lirih.