Drama

27. Semangat, Arden!

25 December 2025

Di salah satu ruangan yang dulunya ruang olahraga, kini telah diubah menjadi ruang terapi lengkap dengan peralatan modern, mulai dari alat bantu gerak, matras latihan, hingga beberapa mesin kecil untuk melatih otot kaki.

“Kenapa alatnya berat banget begini?” seru Arden dengan wajah masam sambil menatap alat pengangkat kaki yang baru saja dipasang oleh Jordan, sang terapis utama. Dua asisten Jordan, Maya dan Theo, menyiapkan tali elastis dan bantalan kaki di sampingnya.

Sienna yang duduk di kursi tak jauh dari situ hanya tersenyum sabar.

“Itu belum apa-apa, baru pemanasan,” katanya lembut.

Arden memutar mata. “Pemanasan apanya? Rasanya seperti lagi disiksa.”

Jordan menatapnya tenang, seolah sudah terbiasa menghadapi pasien keras kepala seperti Arden.

“Tuan Arden, saya paham ini terasa berat. Tapi kita mulai dari gerakan sederhana dulu, ya? Fokus di otot paha. Saya bantu angkat sedikit, Tuan coba dorong pelan-pelan.”

Arden mendengus. “Aku bilang kan, nggak ada gunanya. Aku nggak bisa.”

Sienna segera mendekat, menatapnya lembut, tapi tegas. “Arden, kamu belum mencoba dengan benar. Ayolah, sekali lagi. Aku tahu kamu bisa.”

Tatapan matanya begitu tulus, membuat Arden tidak tega untuk menolak. Ia menghela napas panjang, lalu mencoba lagi mengikuti instruksi Jordan. Akan tetapi, hasilnya tetap sama kakinya hanya sedikit bergerak, hampir tidak berarti.

Suara Arden meninggi, frustrasi. “Lihat? Aku bilang juga apa! Ini percuma!” teriaknya, melempar handuk kecil ke lantai.

Jordan tetap tenang. “Nggak ada yang instan, Tuan Arden. Ini baru hari pertama. Fokusnya bukan hasil, tapi proses.”

“Terserah,” desis Arden sinis. Ia menoleh ke arah Lucas yang berdiri di dekat pintu. “Lucas, pecat mereka. Sekarang.”

Lucas yang sudah tampak pasrah hanya menghela napas pelan. Sebelum sempat menjawab, Sienna sudah berdiri di depan Arden dengan tangan di pinggang.

“Arden!” panggilnya dengan nada tegas. “Kamu nggak bisa seenaknya begitu. Mereka ini terapis profesional, datang ke sini untuk bantu kamu. Kalau kamu marah setiap kali gagal, kapan kamu mau sembuh?”

Arden membuang muka, bibirnya menegang. “Aku cuma capek, Sienna. Aku bahkan nggak merasa apa-apa di kakiku. Rasanya sia-sia.”

Sienna meraih tangannya, menatapnya dalam-dalam. “Dengar, nggak ada yang sia-sia kalau kamu masih mau mencoba. Sekarang mungkin belum terasa apa-apa, tapi tubuhmu pasti perlahan menyesuaikan. Semua butuh waktu. Kalau kamu menyerah hari ini, kamu nggak akan tahu seberapa jauh kamu bisa melangkah nanti.”

Jordan menambahkan dengan nada menenangkan, “Iya, Tuan. Banyak pasien saya yang butuh waktu berbulan-bulan sebelum bisa merasakan perubahan pertama. Tapi yang penting, jangan berhenti.”

Arden terdiam lama. Ia menatap wajah Sienna yang tidak menyerah sedikit pun, lalu menunduk pelan. Rasa kesal dan malu bercampur menjadi satu.

“Baiklah,” gumamnya akhirnya. “Kita lanjut besok.”

Sienna tersenyum kecil, lega akhirnya Arden mau mengalah. “Itu baru Arden yang aku kenal,” katanya lembut, mengelap keringat di pelipis Arden dengan handuk.

Lucas ikut tersenyum, sementara Jordan dan asistennya mulai membereskan peralatan terapi. “Kami akan kembali besok pagi, Nyonya,” kata Jordan dengan sopan. “Dan jangan lupa, Tuan Arden perlu peregangan ringan sore nanti.”

Arden hanya mengangguk malas, tetapi ada sedikit semangat di matanya. Setelah semuanya pergi, Sienna menatapnya dengan senyum lembut.

“Hari pertama selalu berat, tapi aku bangga kamu mau mencoba.”

Arden meliriknya sekilas, lalu menatap ke arah jendela. “Kamu benar-benar cerewet, tahu nggak?”

Sienna terkekeh kecil. “Cerewet demi kebaikanmu.”

Arden menoleh cepat, pura-pura tersinggung. “Hei!”

Akan tetapi, di balik protesnya, senyum tipis akhirnya muncul di wajahnya.

Lucas datang menghampiri dengan langkah hati-hati. Di tangannya ada sebuah amplop tebal berwarna gading dengan pinggiran emas berkilau.

“Nyonya, ini ada sesuatu untuk Anda,” katanya sambil menyerahkan amplop itu.

Sienna mengangkat alis, menerima dan memperhatikan tulisan indah di bagian depan amplop tersebut.

“Apa ini, Lucas?” tanyanya penasaran.

Lucas menunduk sedikit. “Itu undangan pernikahan adik Anda, Nona Henna, dan tunangannya, Tuan Cakra. Tadi kurir mengantarnya ke gerbang.”

Sienna tertegun. Matanya menatap nama itu lama Henna dan Cakra. Senyum kecil muncul di wajahnya, trtapi hanya sesaat sebelum ia menghela napas panjang.

“Jadi ... akhirnya mereka menikah juga.”

“Apa kamu akan datang?” tanya Arden yang juga mendengarkan.

Sienna menyandarkan tubuh ke sofa, menatap kosong ke arah undangan yang kini tergeletak di pangkuannya.

“Aku nggak tahu, Arden ... haruskah datang?” gumamnya pelan. Ada nada getir dalam suaranya, seolah dia tahu kehadirannya mungkin tidak diinginkan.

Ponsel Sienna yang tergeletak di meja berdering. Ia melirik layar dan alisnya langsung berkerut. Nama yang terpampang membuat dadanya terasa sesak, Ayah. Sudah begitu lama sejak terakhir kali pria itu meneleponnya.

Sienna menelan ludah pelan sebelum mengangkat panggilan itu.

“Halo, Ayah …,” ucapnya lembut. Arden melirik dengan wajah datar.

“Sienna, apa kamu sudah menerima undangan pernikahannya Henna?”

Sienna mengangguk meski tahu ayahnya tak bisa melihat. “Sudah, Ayah. Baru saja tadi Lucas memberikannya. Pernikahannya minggu depan, bukan? Aku—”

“Jangan datang!” potong Bekti tajam, suaranya keras hingga membuat Sienna spontan terdiam.

“Apa? Kenapa, Ayah?” tanyanya tak percaya. “Kalau memang sudah dikirimi undangan, kenapa kami nggak boleh datang? Itu pernikahannya Henna.”

Arden yang mendengar itu melirik dengan alis yang terangkat sebelah. Sama merasa heran.

“Apa kamu mau mempermalukan keluarga kita?” bentak Bekti tanpa ragu. “Ayah nggak mau keluarga besan dari pihak Henna tahu kalau aku punya menantu yang lumpuh! Kamu pikir orang-orang nggak akan membicarakannya?”

Sienna membeku. Kata-kata itu menusuk seperti belati. Seketika matanya memanas, tetapi ia berusaha menahan diri.

“Ayah, tolong jangan bicara seperti itu. Arden nggak salah apa-apa. Dia—”

“Sudah, Sienna!” potong Bekti lagi. “Ayah nggak ingin mendengar pembelaanmu. Kamu tahu sendiri bagaimana keadaan keluarga Cakra itu, mereka orang terpandang. Kalau sampai tahu kamu hidup dengan suami cacat, apa kamu mau membuat malu adikmu di hari pernikahannya?”

Sienna mengepalkan tangan. “Ayah sadar nggak, apa yang Ayah katakan itu sangat menyakitkan? Bagaimana kalau Ayah mertua mendengar kata-kata seperti itu?”

Di seberang sana, terdengar dengusan berat. “Pandu juga sudah tahu, dan dia pun setuju.”

Sienna membeku. “Tunggu ... apa maksud Ayah, Ayah Pandu juga setuju kalau kami nggak datang?”

Arden berdengus tak menyangka jika bahkan ayahnya sendiri menolak kehadirannya.

“Ya. Kami sudah bicara.” Suara Bekti terdengar dingin, seperti keputusan akhir. “Kalian berdua nggak perlu datang ke acara itu. Pokoknya, jangan datang. Kami nggak ingin ada gunjingan atau belas kasihan dari tamu-tamu di sana.”

“Ayah ... tolong ....” Suara Sienna melemah. “Itu pernikahan adikku, aku cuma ingin hadir sebagai keluarga, bukan untuk mempermalukan siapa pun.”

Namun, Bekti tetap keras. “Sudah kukatakan, jangan! Pokoknya kalian nggak boleh datang, titik!” Dan tanpa menunggu jawaban, sambungan telepon langsung terputus.

Sienna menatap layar ponselnya yang kini gelap, matanya berkaca-kaca. Napasnya berat, dadanya sesak oleh rasa sakit yang tak bisa dijelaskan.

Arden yang sejak tadi diam, akhirnya berkata pelan, “Haruskah kita menuruti kemauan mereka? Atau ... kita berikan mereka kejutan?”