Sienna menatap Arden tak mengerti. “Apa maksudmu, Arden?” tanyanya pelan, masih dengan sisa getir di suara yang nyaris pecah.
Arden, yang sejak tadi duduk di kursi rodanya dengan wajah tegang, mengangkat pandangannya perlahan. Tatapan matanya kali ini bukan lagi sedih atau kecewa, melainkan menyala dengan sesuatu yang tak pernah Sienna lihat sebelumnya, sebuah semangat yang membara.
“Aku yakin,” katanya mantap, “kalau mereka menolak kita datang itu karena kondisiku yang seperti ini. Karena aku duduk di kursi roda, karena mereka malu.”
Nada suaranya bergetar, tetapi bukan karena sedih, melainkan marah dan tersulut harga diri.
“Tapi entah kenapa, Sienna ... justru sekarang aku merasa bersemangat,” lanjutnya, matanya memancarkan tekad yang kuat. “Aku ingin datang. Aku ingin mereka melihat aku, bukan sebagai orang cacat yang pantas disembunyikan, tapi sebagai suamimu, seseorang yang berdiri di sampingmu dengan bangga.”
Sienna menatapnya dengan campuran kagum dan khawatir. “Tapi, Arden … ayahku dan ayahmu sendiri sudah bilang kita nggak boleh datang. Kalau kita datang tanpa izin, bukankah itu—”
“—itu justru lebih baik,” potong Arden cepat, dengan nada penuh keyakinan. “Kita akan buat mereka menyesal, Sienna. Menyesal karena sudah memperlakukan kita seolah kita aib keluarga. Aku nggak mau mereka berpikir aku lemah hanya karena aku nggak bisa berjalan.”
Sienna menghela napas panjang. Ia tahu betul keras kepala Arden itu sulit dilunakkan ketika sudah punya tekad.
“Lalu ... apa yang akan kita lakukan?” tanyanya akhirnya, menyerah pada rasa penasaran yang perlahan muncul di hatinya.
Arden tersenyum tipis, “Kita akan datang ke pernikahan itu dengan cara yang berbeda,” katanya penuh rahasia. “Tapi untuk mewujudkannya, kita harus menemui seseorang terlebih dahulu.”
Sienna menatapnya curiga. “Seseorang? Siapa maksudmu?”
Sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung tinggi berarsitektur modern di pusat kota. Di bagian depan terpampang logo elegan bertuliskan Lumine Jewel & Co, salah satu perusahaan perhiasan paling ternama di Asia.
Sienna melirik ke arah Arden yang duduk di kursi roda otomatisnya, mengenakan kaos hitam dengan celana santai. Wajahnya tampak tenang, tetapi matanya menyiratkan sesuatu, semacam tekad yang sulit dijelaskan.
Begitu mereka masuk ke lobi utama, seorang manajer muda segera menghampiri dan tersenyum ramah.
“Selamat datang, Tuan Arden! Kami sudah diberi kabar oleh Tuan Rangga untuk menyambut Anda secara khusus.”
Sienna sedikit terkejut. “Kau kenal dengan pemiliknya?” bisiknya pelan.
Arden hanya mengangguk kecil, bibirnya terangkat dalam senyum samar. “Teman lama,” jawabnya singkat.
Mereka pun dibawa melewati koridor berlapis kaca yang memantulkan cahaya dari lampu kristal. Suasana mewah terasa kental di setiap langkah, dinding putih, rak-rak kaca berisi kalung berlian dan mahkota bertatahkan batu zamrud.
Pintu ruangan besar terbuka, menampilkan seorang pria berpenampilan santai dengan jas abu dan rambut bergaya rapi. Begitu melihat Arden, pria itu sontak berdiri dari kursinya dan tertawa keras.
“Arden! Astaga, aku pikir kau sudah lenyap ditelan bumi!” seru Rangga, menghampiri dengan langkah lebar.
Arden tersenyum lebar, tangannya terulur untuk menjabat tangan sahabat lamanya itu.
“Rangga, kau masih cerewet seperti dulu.”
“Dan kau masih keras kepala seperti biasa,” balas Rangga sambil menepuk bahunya.
“Serius, aku nggak nyangka bisa ketemu lagi setelah kau menghilang berbulan-bulan. Kukira kau kabur ke luar negeri.”
Sienna hanya tersenyum kecil, memperhatikan dua pria itu berbincang seperti sahabat lama yang lama tak bertemu.
Mereka pun berpindah ke ruangan Rangga, ruangan luas dengan jendela besar menghadap kota, meja kayu hitam mengilap, dan rak kaca berisi model perhiasan mewah.
Arden melirik sekeliling. “Jadi ini markas barumu? Belum lulus kuliah saja sudah jadi direktur besar.”
Rangga tertawa, mengangkat bahu. “Kalau bukan karena Ayahku kena stroke dan harus pensiun dini, mungkin aku masih nongkrong di kafe sama kalian. Tapi ya, takdir membawaku ke sini.” Ia lalu menatap Sienna dan tersenyum menggoda.
“Dan ini siapa wanita cantik di sampingmu, hmm?”
Sienna sempat kikuk, tetapi Arden dengan tenang berkata, “Kenalkan, ini istriku, Sienna.”
Rangga membelalak. “Istrimu? Kau nikah? Sejak kapan? Kok nggak ada kabar, apalagi undangan?”
Arden terkekeh. “Biasa, pernikahan instan gara-gara kemauan bokap.”
“Dan kamu ngomong begitu depan istrimu?” Rangga melongo, separuh kagum, separuh heran.
Sienna hanya tertawa kecil. “Nggak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan cara bicaranya,” ujarnya ringan.
Rangga ikut tertawa. “Baiklah, Nyonya Arden. Saya Rangga, teman lama sekaligus mantan partner gokil suami Anda.”
“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Rangga,” balas Sienna sopan.
Begitu tawa reda, Rangga mencondongkan tubuhnya sedikit. “Jadi, apa tujuanmu datang ke sini, Arden? Aku yakin bukan cuma mau nostalgia, kan?”
Arden mengangguk pelan. “Kau benar. Aku ke sini bukan untuk mengenang masa lalu, tapi untuk membeli sesuatu.”
“Perhiasan?” Rangga menaikkan alis. “Serius, Arden? Kamu dulu bahkan nggak tertarik dengan urusan bisnis.”
Arden tersenyum tipis. “Bukan untuk bisnis. Aku hanya ingin sesuatu yang ... membuktikan kalau aku bukan pria biasa.”
Rangga menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa keras. “Kamu memang nggak pernah berubah! Selalu saja ada omong besar di balik senyum dinginmu.”
Arden hanya mengangkat bahu. “Kamu tahu aku lagi serius.”
Rangga mengangguk, lalu menekan tombol interkom di mejanya. “Rina, tolong bawa koleksi ‘Celestia Series’ ke ruanganku. Sekarang.”
Tak sampai lima menit, seorang sekretaris masuk membawa kotak kaca besar yang dijaga dua staf. Begitu kotak itu dibuka, cahaya dari berlian-berlian di dalamnya memantul begitu indah hingga memenuhi ruangan.
“Wow ....” Sienna tanpa sadar menatap kagum. Di dalamnya ada satu set kalung, gelang, anting, dan cincin semuanya berhiaskan berlian biru langka dengan kilau seperti tetesan bintang.
Rangga tersenyum bangga. “Ini seri terbaru kami, belum dirilis ke publik. Hanya ada tiga set di dunia. Dua sudah dibeli oleh bangsawan Timur Tengah, dan yang satu ini, belum ada pemiliknya.”
“Rencananya akan kami rilis minggu ini,” lanjutnya, “tapi kalau kamu mau, kamu bisa membelinya sebelum peluncuran.”
Arden menatap perhiasan itu dengan pandangan penuh makna. “Sempurna,” katanya pelan. “Kapan kami bisa memakainya?”
“Untuk acara apa?” tanya Rangga penasaran.
Arden menoleh pada Sienna, senyum samar muncul di bibirnya. “Untuk minggu ini. Sebuah acara keluarga yang akan sangat ... berkesan.”
Rangga mengerling. “Kamu selalu punya rencana misterius, ya. Tapi baiklah, silakan dicoba dulu.”
Sienna menatap pantulan dirinya di cermin besar di ruang pamer pribadi itu. Kalung berlian yang baru saja dikaitkan di lehernya memantulkan cahaya lembut, berkilau mengikuti setiap gerakannya. Gelang dan anting senada menambah kesan elegan, membuatnya tampak seperti wanita dari dunia lain. Sienna sempat terdiam, tak percaya jika pantulan yang begitu memukau itu adalah dirinya sendiri.
Rangga tersenyum puas melihat reaksinya. “Luar biasa, kan? Aku sudah bilang, perhiasan ini bukan sembarangan. Batu berliannya langka, desainnya juga cuma dibuat tiga di dunia. Kamu benar-benar cocok memakainya.”
Arden yang duduk di kursi roda, menatap Sienna lama dengan mata hangat. “Kamu kelihatan luar biasa, Sienna,” katanya pelan. “Aku belum pernah lihat perhiasan yang bisa menyaingi kecantikanmu.”
Rangga tertawa kecil. “Wah, pujian yang sangat mahal dari seorang Arden.”
Sienna hanya tersenyum malu, tetapi di matanya tampak binar baru, rasa percaya diri yang perlahan kembali tumbuh.