Hari yang ditunggu pun tiba, Arden dan Sienna sudah mantap untuk hadir di pernikahannya Henna. Perhiasan mewah sudah di tangan, tinggal satu lagi yang harus Arden lakukan–memadukan perhiasan itu dengan gaun yang tidak kalah kelasnya. Itu sebabnya, sebelum mereka berangkat ke acara itu, Arden membawa Sienna ke sebuah butik ternama di kota ini.
Butik mewah itu terasa begitu elegan. Sienna berdiri di depan deretan gaun malam yang berkilauan, matanya menelusuri satu per satu desain yang menggoda. Di sampingnya, Arden duduk di kursi roda dengan ekspresi serius, tetapi penuh semangat, tatapannya fokus pada Sienna yang sedang menimbang-nimbang pilihan.
Seorang pramuniaga datang mendekat dengan senyum sopan. “Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Apa yang bisa saya bantu hari ini?”
Arden menatap ke arah pramuniaga itu lalu berkata dengan tenang dan tegas, “Kami sedang mencari gaun untuk istri saya. Tapi bukan sembarang gaun, saya ingin yang paling mahal dan paling berkelas yang kalian punya.”
Sienna spontan menoleh, menatap suaminya dengan heran. “Arden, nggak perlu yang paling mahal, aku hanya butuh yang cocok saja,” ucapnya pelan.
Namun, Arden hanya tersenyum kecil, matanya lembut tapi mengandung tekad. “Nggak, mereka menolak kita karena merasa malu. Jadi, biarkan mereka tahu, nggak ada yang pantas untuk merendahkanmu. Kamu harus tampil memukau di pernikahan itu.”
Sienna terdiam, hatinya berdebar. Ia tahu Arden mengatakan itu bukan untuk menyombongkan diri, tetapi sebagai bentuk perlawanan yang elegan. Ia bisa merasakan keinginan Arden untuk membuktikan bahwa mereka tidak layak diperlakukan seperti aib keluarga.
Pramuniaga itu mengangguk dengan cepat, lalu memanggil rekan-rekannya. Tak lama, beberapa orang datang membawa beberapa gaun dalam berbagai warna, emas, merah marun, dan hitam pekat dengan detail payet berkilau. Setiap kainnya tampak seperti buatan tangan terbaik, menonjolkan kemewahan dan cita rasa tinggi.
Sienna menyentuh salah satu gaun berwarna champagne, lembut di tangan dan tampak berkilau di bawah cahaya.
“Ini indah sekali,” gumamnya pelan.
“Coba yang itu dulu,” kata Arden. “Aku ingin lihat seperti apa kamu nanti malam.”
Dengan bantuan pramuniaga, Sienna masuk ke ruang ganti. Beberapa menit kemudian, ia keluar mengenakan gaun itu, potongannya elegan, menonjolkan siluet tubuhnya dengan sempurna, tanpa berlebihan. Gaun itu tampak seolah dibuat khusus untuknya.
Arden menatap tak berkedip. Matanya seketika melembut, lalu tersenyum samar.
“Aku tahu aku minta yang paling mahal, tapi ternyata hargamu jauh lebih dari semua itu,” ucapnya dengan nada menggoda.
Sienna tersipu, pipinya merona halus. “Kamu ini … bisa saja.”
Pramuniaga itu bahkan ikut tersenyum kagum. “Nyonya tampak luar biasa. Gaun ini memang buatan desainer internasional, hanya ada dua di Asia.”
Arden mengangguk puas. “Kami ambil yang ini,” katanya tanpa ragu.
Sienna menatapnya dengan mata berkaca-kaca, antara kagum dan terharu. “Arden … kamu yakin?”
“Yakin,” jawabnya mantap. “Kamu akan datang ke pernikahan itu sebagai dirimu sendiri bukan seseorang yang perlu disembunyikan.”
Sienna menunduk sebentar, berusaha menahan perasaan hangat yang memenuhi dadanya.
Setelah Sienna memastikan gaun pilihannya, pramuniaga itu kembali tersenyum dan berkata, “Kalau boleh, Tuan, kami juga punya stelan jas khusus yang senada dengan warna gaun Nyonya. Koleksi terbatas dari perancang yang sama.”
Arden menatapnya tertarik. “Boleh kulihat?”
Beberapa menit kemudian, pramuniaga membawa setelan jas berwarna abu keemasan lembut, dengan potongan elegan dan sentuhan kilau halus yang menyatu sempurna dengan gaun Sienna. Kainnya tampak mahal, bertekstur lembut, tetapi kokoh, menonjolkan wibawa pemakainya.
Sienna ikut menatap kagum. “Ini ... benar-benar cocok dengan gaunku,” katanya dengan suara lembut.
Arden tersenyum kecil, matanya berbinar. “Sepertinya malam nanti kita akan jadi pasangan yang paling mencolok,” ujarnya santai. “Baiklah, aku ambil juga.”
Pramuniaga tampak senang mendengarnya. Mereka pun segera menyiapkan segala keperluan dan memanggil tim tata rias butik untuk membantu Sienna bersiap.
Beberapa jam kemudian, ruangan rias terasa sunyi dan dipenuhi aroma parfum lembut. Sienna duduk di depan cermin besar, para perias dengan telaten merias wajahnya. Lapisan demi lapisan makeup diaplikasikan dengan presisi, menonjolkan keanggunan alami Sienna tanpa berlebihan. Pipi merona halus, bibir berwarna lembut, dan mata berkilau dengan sentuhan emas di kelopak.
Rambutnya disanggul elegan, menyisakan beberapa helai lembut di sisi wajahnya. Sang penata rambut dengan hati-hati menata setiap detail, memastikan sanggul itu memperlihatkan perhiasan yang akan menghiasi leher dan telinga Sienna.
Satu per satu, perhiasan yang mereka beli dari Rangga dikenakan. Kalung berlian dengan desain melingkar anggun menggantung di lehernya, anting panjang berkilau di telinganya, sementara cincin dan gelang melengkapi tampilannya dengan sempurna. Kilau berlian itu memantulkan cahaya ke seluruh ruangan, menciptakan aura mewah yang tak bisa diabaikan.
Ketika semua selesai, Sienna menatap pantulan dirinya di cermin. Ia nyaris tak percaya dengan yang ia lihat, sosok anggun dan mempesona yang berdiri di sana terasa seperti versi dirinya yang baru, lebih kuat, lebih berani.
Pintu ruangan terbuka, dan Arden muncul mengenakan jas senada. Rambutnya disisir rapi, wajahnya tampak tegas, tetapi lembut. Malam ini Arden terlihat lebih dewasa dari usianya.
Saat matanya menangkap sosok Sienna. Ia terdiam sejenak, bahkan lupa bernapas. “Sienna ... Kamu luar biasa.”
Sienna tersenyum malu, menunduk sedikit. “Kamu juga kelihatan ... sangat tampan,” jawabnya jujur.
Arden mengulurkan tangan, jemarinya menggenggam lembut tangan Sienna. Ia menatapnya lama, seolah mengukir momen itu dalam ingatan.
“Dengan penampilan ini, mereka nggak akan pernah bisa mengabaikan kita lagi,” katanya penuh keyakinan.
Sienna tersenyum, lalu berdiri mengenakan sepatu berhak tinggi berwarna senada dengan gaunnya. Tas kecil berhiaskan mutiara melengkapi penampilannya.
Lampu kristal di langit-langit gedung berkilauan indah, memantulkan cahaya yang menari di setiap sudut ruangan. Musik lembut mengalun, menyambut tamu-tamu yang hadir dalam pesta pernikahan megah itu. Namun, semua percakapan tiba-tiba terhenti ketika pintu utama gedung terbuka lebar.
Sienna melangkah masuk dengan gaun berwarna champagne yang elegan, berkilau lembut di bawah cahaya lampu. Di sampingnya, Arden melajukan kursi rodanya yang otomatis, mengenakan setelan jas senada yang membuatnya tampak gagah meski dalam keterbatasan fisik. Aura keduanya memancarkan wibawa dan ketenangan luar biasa.
Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar di antara para tamu.
“Itu Sienna, kan? Dia datang juga .…”
“Suaminya … ya Tuhan, tampan sekali meski di kursi roda.”
Bekti yang sedang berbincang dengan keluarga besan tiba-tiba terpaku. Wajahnya memucat, tak percaya anak yang dilarangnya datang justru muncul dengan penampilan luar biasa menawan.
Di sisi lain, Henna yang duduk di pelaminan mendadak menegang, senyumnya memudar berganti tatapan kesal. Gaun putihnya yang indah seakan kehilangan kilaunya di bawah sorotan keanggunan kakaknya.
Sienna berjalan anggun di samping Arden, langkahnya mantap, seolah tak terusik dengan tatapan-tatapan tajam di sekitarnya. Ketika sampai di depan pelaminan, ia menunduk sedikit memberi salam pada Bekti.
“Selamat malam, Ayah,” ucapnya percaya diri.
Bekti hanya bisa membalas dengan senyum kaku, tak tahu harus berkata apa. Semua mata menatap mereka, pasangan yang katanya tak pantas datang, kini justru mencuri seluruh perhatian pesta.
Sienna lalu menatap adiknya yang duduk di pelaminan bersama Cakra. Senyumnya tulus, tetapi ada sedikit sinar percaya diri di matanya.
“Selamat ya, Henna,” katanya sambil membuka tas kecilnya, mengeluarkan gantungan kecil berbentuk Menara Eiffel berwarna emas. “Ini oleh-oleh dari Paris, bulan maduku kemarin. Kupikir cocok untuk kamu gantung di tas atau kunci mobil barumu.”
Henna menatap gantungan itu dengan mata membulat. Bibirnya bergetar menahan emosi, sementara beberapa tamu di sekitar mulai berbisik kagum atas cara Sienna membawa diri.
Sienna menyerahkan gantungan itu dengan tangan lembut, lalu berdiri di samping Arden yang hanya menatap diam, tetapi di sudut bibirnya, tampak senyum puas.