Bekti menarik napas berat sambil menatap putrinya dengan pandangan tajam. Ia menarik tangan Sienna tanpa banyak bicara, menyeretnya menjauh dari kerumunan tamu yang masih sibuk menikmati pesta. Mereka berhenti di sudut gedung yang agak sepi, jauh dari pandangan siapa pun. Musik pesta terdengar samar, hanya menyisakan ketegangan yang menggantung di antara mereka.
“Ayah sudah bilang, jangan datang!” suara Bekti meninggi, nadanya penuh amarah dan tekanan. “Kenapa kamu masih nekat muncul di sini, Sienna!”
Sienna menatap ayahnya tanpa gentar meski matanya bergetar menahan perasaan yang tertahan. “Kenapa, Yah? Apa aku ini aib buat keluarga kita sampai harus disembunyikan?” suaranya bergetar, tetapi tegas. “Aku hanya datang sebagai keluarga Henna. Sebagai kakaknya.”
Bekti mengepalkan tangan, nadanya makin tajam. “Kamu tahu sendiri alasannya! Kau datang bersama pria itu—”
“Pria itu adalah suamiku!” potong Sienna cepat, menatap ayahnya lurus-lurus. “Ayah sendiri yang menyuruhku menikah dengannya! Tapi sekarang kenapa Ayah yang justru malu? Apa Ayah menyesal?”
Bekti tersentak, tetapi genggaman tangannya di pergelangan Sienna semakin kuat. “Kamu nggak mengerti, Sienna. Dunia nggak sebaik yang kamu kira. Orang-orang di sini akan menertawakan keluarga kita, mereka akan mengasihani kita—”
“Biar saja!” Sienna membalas dengan suara meninggi. “Aku nggak peduli mereka mau bilang apa! Aku nggak malu, Yah. Bukan suamiku yang harusnya bikin Ayah malu, tapi sikap Ayah sendiri!”
Bekti menatap Sienna dengan amarah yang nyaris meledak. Tangannya sempat terangkat, ingin menampar putrinya yang berani menentangnya seperti itu. Namun, sebelum sempat melakukannya, suara berat memotong ketegangan.
“Berani sekali Anda mengangkat tangan pada anakmu sendiri, Ayah mertua.”
Bekti menoleh cepat. Arden sudah berada di sana, kursi rodanya bergerak perlahan mendekat dengan Lucas di belakangnya. Tatapannya tajam, wajahnya tenang, tetapi jelas mengandung peringatan.
“Apa yang sedang Ayah mertua lakukan? Kami datang baik-baik untuk memberi selamat. Harusnya Ayah menyambut kami dengan hangat, bukan menyeret istriku seperti ini.”
Bekti mendengus sinis. “Kamu pikir dengan datang seperti ini, Presdir Pandu akan senang? Kamu membuat malu keluargamu sendiri, Arden!”
Arden tersenyum tipis, matanya menyipit penuh tantangan. “Kalau begitu, silakan laporkan pada ayahku. Katakan padanya kalau aku datang dengan istriku, menunjukkan bahwa aku masih hidup dan nggak bersembunyi. Aku nggak takut.”
Suasana menegang. Bekti menatap Arden lama, tetapi tak sanggup menahan tatapan tajam menantang dari menantunya itu. Dengan dengusan kesal, ia akhirnya berbalik, melangkah pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Sienna menatap punggung ayahnya yang menjauh dengan mata berkaca-kaca. Arden menatapnya lembut.
“Kamu sudah cukup kuat hari ini, Sienna. Biarkan mereka tahu siapa yang seharusnya malu, dan siapa yang seharusnya bangga.”
Sienna mengangguk pelan. Pesta malam itu berlangsung meriah, cahaya lampu gantung berkilau di langit-langit, sementara denting gelas dan suara tawa para tamu berpadu dengan alunan musik lembut.
Di sudut ruangan, Sienna dan Arden duduk berdua di sebuah meja kecil, menikmati minuman berwarna kuning keemasan di bawah cahaya temaram. Gaun yang dikenakan Sienna, setiap lekuk kainnya memantulkan cahaya, seolah menyatu dengan kilauan berlian yang menghiasi leher, telinga, dan pergelangan tangannya. Di sisi lain, Arden tampak begitu elegan dengan setelan jas senada yang membuatnya terlihat berwibawa meski duduk di kursi roda otomatis.
Beberapa tamu berbisik pelan, sebagian menatap dengan rasa ingin tahu, sebagian lain tampak kagum. Namun, bagi Sienna dan Arden, semua tatapan itu bukan lagi sesuatu yang harus ditakuti.
“Lihatlah,” ujar Arden pelan, bibirnya melengkung dalam senyum kecil. “Nikmati semua pandangan itu, Sienna. Hari ini, mereka nggak hanya menatapku yang duduk di kursi roda, tetapi mereka juga terpukau pada kecantikanmu malam ini.”
Sienna menoleh padanya, menatap dengan senyum kecil yang lembut. “Tentu saja mereka terpukau,” ujarnya sambil memutar gelasnya perlahan. “Karena berlian yang menghiasi tubuhku terlalu berkilau untuk diabaikan.”
Arden terkekeh kecil, “Kalau begitu, berlian itu kalah bersinar dibanding pemakainya.”
Sienna tertawa pelan, dan suara tawanya yang lembut membuat beberapa pasang mata di sekitar mereka semakin lama menatap.
Sungguh, seolah waktu berhenti untuk melihat pasangan itu, pria tampan di kursi roda dengan aura tenang dan penuh wibawa, dan wanita yang duduk di sampingnya seperti dewi yang turun ke bumi.
Namun di atas pelaminan, pemandangan itu justru menyalakan bara cemburu. Henna, yang sejak awal sudah kesal dengan kehadiran kakaknya, menatap tajam ke arah Sienna dan Arden. Jemarinya yang memegang buket bunga pelaminan tampak menegang.
“Kenapa mereka harus datang?” gumamnya kesal, lalu menoleh pada suaminya. “Cakra, kenapa kamu nggak pernah membelikanku perhiasan seperti yang dipakai Sienna?”
Cakra, yang semula sedang berbincang dengan salah satu tamu kehormatan, menatap istrinya heran.
“Hah? Perhiasan? Itu ... aku pikir kamu nggak terlalu suka perhiasan yang mencolok.”
Henna mendengus, matanya tak lepas dari Sienna. “Coba kamu lihat! Semua orang memperhatikan dia, bukan aku! Padahal ini pestaku!”
Cakra hanya bisa terdiam, bingung harus menjawab apa. Namun tak lama kemudian, sekretaris pribadinya datang menghampiri, menunduk sopan sambil berbisik.
“Maaf, Pak. Saya pikir Anda harus melihat ini.”
Sekretaris itu menunjukkan sebuah video dari ponselnya. Video itu memperlihatkan peluncuran seri terbaru perhiasan dari perusahaan ternama, koleksi berlian edisi terbatas, dengan label harga yang fantastis. Dan di layar itu, tampak jelas model yang memamerkan perhiasan yang identik dengan yang kini dikenakan oleh Sienna.
Cakra mengerutkan kening. “Jadi itu ... perhiasan terbaru yang bahkan belum dirilis secara resmi?”
Sekretaris itu mengangguk. “Benar, Pak. Hanya ada tiga set di dunia, dan satu di antaranya dikenakan oleh istri Tuan Arden malam ini.”
Bisikan cepat pun mulai beredar di antara para tamu. Banyak yang mengeluarkan ponsel mereka, membuka video yang sama, membandingkannya dengan penampilan Sienna di ruangan itu. Beberapa bahkan berdecak kagum, membicarakan bagaimana Sienna bisa mendapatkan akses terhadap barang semewah itu.
Henna merasakan wajahnya memanas, antara malu dan marah. Ia bisa mendengar suara-suara di sekitarnya, pujian, kekaguman, bahkan decak iri. Tapi tak satu pun diarahkan padanya. Semua tentang Sienna.
Rahangnya mengeras. “Dia selalu mencuri perhatian. Selalu.” gumamnya pelan penuh amarah.
“Tenanglah, kau akan membuat pesta ini menjadi buruk. Seharusnya kau menyambut kakakmu dengan hangat, jadi orang-orang tetap akan memandangmu lebih baik,” tegur Cakra yang juga tidak senang dengan situasi ini.
Henna mendelik dengan penuh amarah, “Apa maksudmu? Aku harus tersenyum ramah pada kakakku itu? Kau juga menganggapnya sangat menawan?” ucap Henna meninggikan suaranya.
Cakra mendekat dan setengah berbisik, “Orang-orang melihat dan sedang menilai, berikan kesan baik di hari pernikahanmu. Jangan tunjukkan hubunganmu dengan kakakmu buruk, Henna. Apa begitu saja kamu nggak bisa?” tegur Cakra menahan kesal.
Sementara di bawah panggung pelaminan, Sienna dan Arden sama sekali tidak menyadari hiruk-pikuk kecil yang mereka timbulkan. Mereka hanya duduk berdampingan, menikmati malam mereka dengan tenang.