“Aku mungkin gak akan kembali, Rin. Dan yang aku maksud ibukota bukan ibukota saat ini, melainkan IKN–Ibu Kota Nusantara. Itu di Kalimantan,” ucap Adi.
Terjadi keheningan selama beberapa waktu. Baik Adi maupun Arini sama-sama tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sampai kemudian ….
“Jadi … apa yang kamu inginkan?” Pelan. Ucapan Arini begitu pelan. Tapi walaupun begitu, Adi masih bisa mendengarnya.
“Maaf kalau kamu berpikiran aku egois. Tapi aku ingin sekarang kamu memutuskan, apakah hubungan kita akan berlanjut atau enggak. Aku ingin kamu memilih, apakah kita akan menikah bulan ini, atau … atau enggak sama sekali.” Adi mengatakan kalimat terakhirnya dengan begitu lirih. Andai saja Arini tahu, kalimat itu bagai belati yang menusuk jantungnya. Sakit, tapi tetap harus dikatakan. Ia ingin tahu, seberapa pentingnya dirinya di hati Arini.
Arini terdiam, pandangannya menunduk ke bawah. Saat ini, ia berada dalam dilema. Di satu sisi, ada keluarga. Di sisi lain, ada pria baik yang ia harap akan menjadi masa depannya.
“Rin ….” Adi berucap lirih. “Aku akan menghormati apa pun keputusan kamu.”
“Apa kamu menyerah sama aku, Di?” tanya Arini lirih. “Apa kamu mulai lelah menunggu?”
Kini giliran Adi terdiam. Menunggu? Ia sudah cukup menunggu selama lima tahun terakhir, sejak pertama kali ia mengajak Arini menikah. Wajar kah jika ia memang sudah lelah menunggu? Urusan Arini tidak akan pernah selesai. Akan selalu ada masalah yang membuat Arini mengalah dan mengalah atas nama ‘keluarga’. Adi hanya ingin menarik Arini dari situasi seperti itu. Ia ingin Arini mulai memikirkan dirinya juga.
“Kamu gak perlu menjawabnya sekarang, Rin. Aku akan di sini sampai akhir bulan ini.” Adi ingin memberitahukan kepada Arini, bahwa ia serius dengan kata-katanya.
Adi pergi meninggalkan Arini usai mengatakannya. Pria itu bahkan tidak menoleh lagi untuk melihat bagaimana keadaan Arini saat ini. Mengapa? Mengapa satu-satunya pria yang menemaninya melewati segala permasalahan yang ada kini justru memberikan pilihan yang begitu sulit. Tak bisakah Adi menunggu sebentar lagi? Atau justru Adi benar, sudah saatnya ia mengambil jalan untuknya sendiri?
Pada akhirnya, Arini pulang dengan membawa segala keresahan yang belum terjawab. Ia ingin memikirkan segalanya di rumah. Namun nyatanya, semua itu tidak bisa ia lakukan karena sudah ada orang-orang pembawa masalah di rumahnya.
Tamu itu datang dari keluarga Intan–perempuan yang dihamili oleh Azril. Mereka sepertinya tengah membahas tentang pernikahan Azril dan Intan. Arini ingin mengabaikannya. Ia sudah akan masuk ke dalam rumah melalui pintu samping. Tapi, ibunya yang melihatnya gegas memanggil.
Dengan langkah berat, Arini mendekat dan memberi salam seraya tersenyum ke arah para tamu ibunya. Ada sepasang suami istri paruh baya, serta sepasang suami istri lainnya yang lebih muda. Jika Arini boleh menebak, kedua orang paruh baya itu pastilah orang tua Intan. Sementara dua lainnya adalah kakak dan kakak ipar Intan. Tapi … di mana Intan?
“Duduk, Rin.” Titin menepuk ruang kosong di sisinya untuk Arini duduk. Kemudian ia memberikan secarik kertas di atas meja kepada Arini. “Ini daftar mahar yang keluarga Intan minta.”
Arini membacanya dengan saksama. Di atas kertas itu tertulis banyak hal. Rumah, mobil, perhiasan, uang, dan banyak lagi. Arini hanya membaca sampai poin ke-4. Dadanya sudah bergemuruh. Apa-apaan mereka ini?
Arini mengangkat kepalanya dan mendapati sang ibu tengah menatapnya dengan tatapan entah. Seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi terhalang karena ada orang lain di sana.
“Saya sudah menyampaikan apa yang harus saya sampaikan. Tolong siapkan mahar yang tertulis di sana dalam dua minggu,” ucap wanita paruh baya di depan mereka.
“Ibu tenang saja, kakaknya Azril akan menyiapkan segalanya,” jawab Titin.
Arini menoleh ke arah sang ibu. Apa maksudnya ibunya mengatakan kalau ia akan menyiapkan barang-barang yang tertulis dalam kertas itu? Ia membacanya sekali lagi. Barang-barang itu mungkin bisa saja mereka siapkan ketika ayahnya masih ada. Tapi sekarang ….
Para tamu itu pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Kepalanya terangkat ke atas, sangat mencerminkan kesombongan mereka. Apakah ini tidak keterlaluan? Apa mereka tidak takut Azril tidak menikahi putri mereka? Bukankah mereka juga yang akan malu nantinya? Tapi mengapa mereka seakan memeras keluarganya sedemikian rupa hingga mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin?
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya keluarga Intan tidak berada dalam situasi bisa benegosiasi. Anak mereka yang hamil. Dan jika Azril tidak menikahinya, mereka yang akan malu. Tapi tentu saja Arini tidak menyampaikan isi kepalanya itu.
Dan kakaknya … tunggu! Bukankah ibu bilang Intan anak tunggal? Jadi … siapa dua orang lainnya itu?
“Arini!” Ucapan sang ibu menyadarkan Arini dari segala lamunan. Ia mengangkat kepalanya dan menatap wanita di depannya itu dengan tatapan kosong.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya.
“Bu, apa ibu merasa mereka sudah keterlaluan?” tanya Arini.
Titin yang semula berdiri usai mengantarkan tamu mereka ke luar kembali duduk di sofa kosong yang ada di depan Arini. Pandangannya buram. Ia juga sesekali memijat kepalanya yang terasa berat.
Melihatnya, Arini merasa kalau ibunya kini setuju dengan ucapannya. Tapi ….
“Mereka bilang, bayi dalam kandungan Intan berjenis kelamin laki-laki,” ucap Titin lirih.
Tanpa perlu ditanya lagi, Arini sudah tahu ibunya akan mengatakan apa. ‘Bayi Laki-laki’ sudah menjadi kata ajaib baginya. Ibunya yang selalu menjungjung tinggi para pria sudah jelas sangat menginginkan bayi dalam kandungan Intan. Bayi itu akan menjadi penerus nama keluarga Kemal nantinya. Walaupun sebenarnya ia sendiri tidak terlalu dengan peduli dengan itu. Untuk apa? Mereka sebenarnya bukan keluarga konglomerat yang diharuskan meneruskan nama keluarga. Tapi tentu saja ibunya tidak akan setuju jika ia mengatakan itu.
“Di mana kita bisa menyiapkan mahar yang begitu banyak, Bu?” tanya Intan pada akhirnya.
“Kok kamu nanya ibu? Kamu mikir lah! Ibu udah gadaikan sertifikat rumah untuk biaya pernikahan. Sisanya kamu yang mikir! Kamu harus tanggungjawab sebagai kakak!” jawab Titin.
Hati Arini kembali tenggelam. Bahkan ketika Azril berbuat salah, tetap harus dirinya yang menanggungnya? Apakah wanita itu benar-benar tidak pernah menganggapnya sebagai anak?
“Bu, ibu tahu sendiri ‘kan, aku cuma punya sepeda motor. Itu pun untuk sehari-hari aku kerja. Sementara gaji aku habis setiap bulannya untuk kebutuhan rumah. Aku udah gak punya apa-apa lagi, Bu,” ucap Arini lirih. Ia tahu, sejak dulu, ibunya memang pilih kasih. Tapi sekarang, sikap itu semakin jelas terlihat.
“Jadi kamu mau itung-itungan sekarang, iya? Kamu merasa telah berjasa karena membiayai rumah kita sejak ayah kamu pergi meninggalkan kita? Kamu lupa, siapa yang telah melahirkanmu dan mengurusmu dari kecil, Arini! Bahkan jika kamu membayar dengan nyawamu pun, kamu tidak akan bisa membalas jasa ibu!”