Sienna baru saja meletakkan gelasnya ketika seseorang dari belakang memanggil namanya dengan nada ragu, seolah tak percaya.
“Sienna? Apa benar ini kamu?”
Sienna menoleh. Seorang wanita berwajah lembut dengan rambut disanggul rapi berdiri di depannya, ditemani seorang pria berkemeja biru gelap. Ia tampak kaget, tetapi senang, matanya berbinar mengenali wajah yang sudah lama tak ia lihat.
“Aku Tante Sarah. Kau ingat?” tanyanya dengan senyum hangat yang tulus.
Sienna langsung tersenyum. “Ingat, tentu saja. Bagaimana kabar Tante?”
Sarah terkekeh kecil, memegang tangan Sienna sejenak. “Baik, sangat baik. Dan ini suamiku, Indra. Kalian baru pertama kali bertemu, kan?”
Sienna mengangguk sopan pada pria itu. “Senang bertemu, Om.”
Baru Sienna memperhatikan perut Sarah yang terlihat besar, menonjol dengan jelas di balik gaun formal berwarna dusty blue. Sienna tersenyum, matanya melembut.
“Sudah berapa bulan, Tante?” tanyanya hangat.
“Tujuh bulan,” jawab Sarah sambil membelai perutnya dengan bangga. “Doakan ya, nanti lancar sampai lahiran.”
“Tentu,” ucap Sienna tulus.
Sarah kemudian menatap Sienna lebih lama, sorot matanya berubah sedikit penasaran, tetapi tetap ramah.
“Ngomong-ngomong, Tante ikut mendoakan kamu juga, Sienna. Semoga cepat diberikan momongan.” Ia menatap Sienna dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Tapi … kenapa kamu nggak undang-undang Tante waktu menikah? Banyak yang kaget waktu dengar kamu udah nikah.”
Sienna masih tersenyum, meski pertanyaan itu menusuk cukup dalam. Sebelum ia sempat menjawab, Arden yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka berdehem pelan, mengalihkan perhatian Sarah dan Indra padanya.
“Oh!” Sienna tersadar. Ia langsung memperkenalkan. “Tante, Om … ini suamiku, Arden.”
Arden mengangguk sopan, kedua tangannya terlipat rapi di pangkuan kursi roda otomatisnya. “Senang bertemu.”
Sarah tampak sedikit terkejut, tetapi bukan terkejut buruk. Ia tersenyum, memandang Sienna dan kembali memandang Arden.
“Astaga, ganteng sekali. Kenapa nggak undang-undang? Mau umpetin suami ganteng begini, ya?”
Sienna terkekeh pelan. “Maaf, Tante. Pernikahannya mendadak sekali. Aku takut malah bikin Tante dan keluarga kaget kalau tiba-tiba dapat undangan tanpa kabar.”
Sarah mengangguk mengerti, meski sorot penasaran tidak sepenuhnya hilang dari wajahnya. Namun, pertanyaan berikutnya keluar begitu saja, tanpa disaring.
“Kalau boleh tahu .…” Sarah menoleh pada Arden dengan sopan, “kenapa kamu duduk di kursi roda, Arden?”
Indra, yang sedari tadi diam, ikut bersuara tanpa jeda. “Apa karena kecelakaan? Atau ada penyakit bawaan?”
Pertanyaannya blak-blakan, terlalu langsung untuk suasana pesta yang penuh kamera, sorotan, dan telinga yang ingin tahu.
Arden tetap tenang. Namun, Sienna cepat mengangkat tangan sedikit, mengambil alih percakapan.
“Om, Tante,” ucap Sienna lembut, tetapi tegas. “Mungkin … sebaiknya kita tidak membahas soal itu di sini. Hari ini hari bahagia Henna. Aku nggak mau ada topik lain yang bisa jadi bahan gunjingan orang.”
Indra langsung terdiam.
Sarah, baru sadar bahwa ia mungkin telah menyentuh batas pribadi yang sensitif, memucat sedikit dan menunduk meminta maaf.
“Astaga, maafkan Tante, Sienna … Arden.” Ia menyentuh lengan Sienna pelan. “Tante nggak berniat buruk. Tante hanya bertanya karena khawatir.”
Arden tersenyum tipis, ramah juga terkontrol. “Nggak apa-apa, Tante. Aku mengerti.”
Sienna menepuk tangan Sarah lembut. “Benar, Tante. Nggak apa-apa.” Ia tersenyum menenangkan. “Kita masih keluarga.”
Senyum Sarah kembali muncul, meski sedikit canggung. “Kalau begitu … selamat menikmati pestanya, ya. Senang sekali bisa bertemu kalian. Sienna, kamu makin cantik saja sekarang.”
“Terima kasih, Tante.”
Sarah dan Indra pun pamit, meninggalkan Sienna dan Arden kembali berdua.
Begitu pasangan itu menjauh, Arden menghela napas pelan. “Keluargamu … langsung tanya tanpa filter,” gumamnya sambil mengangkat alis.
Sienna tersenyum kecil. “Ya. Tapi … mereka tetap keluargaku.”
Arden menatapnya lama, lembut. “Dan sekarang keluargaku juga.”
Sienna menunduk, menahan senyum yang perlahan memenuhi wajahnya.
Bekti tiba-tiba datang menghampiri mereka dengan wajah yang sudah memerah karena menahan kesal.
“Kayaknya kalian sudah terlalu lama di pesta. Banyak tamu lain yang perlu diurus. Lebih baik kalian pulang saja.”
Nada itu terdengar halus, tetapi mata Bekti jelas memerintah agar mereka segera pergi. Sienna mengangkat dagu, hendak membalas, tetapi Arden lebih dulu meraih tangannya pelan.
“Baiklah,” kata Arden santai, seolah tidak tersinggung sedikit pun. “Lagi pula, pesta ini nggak ada apa-apanya.”
Bekti sampai terdiam, wajahnya berubah pucat. Ia ingin marah, tetapi ia tahu Pandu adalah atasannya, bagaimana pun dia tidak bisa bersikap kasar pada Arden. Dengan napas panjang, ia hanya berjalan pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata pada Sienna.
Arden menoleh pada Lucas yang langsung mengerti isyarat itu. Lucas segera berada di belakang kursi roda, bersiap mendorongnya. Sienna berdiri dan berjalan di sisi Arden saat mereka melangkah keluar dari aula pesta.
Namun tepat di pintu, mereka berpapasan dengan Henna dan Cakra yang baru saja kembali setelah berganti pakaian untuk sesi foto berikutnya.
Henna melihat mereka dan langsung menyeringai dengan nada ketus. “Akhirnya perusak pesta pergi juga.”
Cakra langsung menoleh tajam. “Henna. Jangan ngomong begitu.”
Henna mendengus, memalingkan wajah. Cakra lalu menatap Sienna dan Arden dengan sungkan.
“Maaf … dia cuma terlalu emosi,” ucapnya pelan.
Sienna menggeleng lembut. “Bukan apa-apa. Selamat ya, sekali lagi.”
Arden mengangguk kecil, tatapannya netral. “Selamat untuk pernikahan kalian.”
Lucas segera menyodorkan sebuah amplop berwarna putih gading. Cakra, yang heran, menerimanya.
“Aku nggak menyiapkan hadiah yang terlalu rumit,” ujar Arden dengan nada datar, tetapi sopan. “Semuanya terlalu mendadak. Semoga kalian menyukainya.”
Henna yang masih kesal hanya melirik sekilas, tidak tertarik. Akan tetapi, ketika Cakra membuka amplop itu, matanya langsung membesar.
“Ini … tiket bulan madu?”
Lucas tersenyum profesional. “Bukan hanya tiket. Ini paket lengkap bulan madu ke Hawaii selama tujuh hari. Termasuk vila pribadi, akses pantai, layanan spa, dan itinerary kegiatan laut. Semua sudah diatur.”
Henna spontan merebut amplop itu dari tangan Cakra. Ia memeriksa isinya dengan cepat voucher penerbangan kelas bisnis, pemesanan resort bintang lima, dan jadwal aktivitas yang semuanya tampak mewah. Bibirnya ternganga, tak mampu merangkai satu kalimat pun.
Cakra sendiri sampai terdiam lama sebelum berkata dengan suara yang hampir bergetar, “Arden … ini terlalu—”
“Anggap saja hadiah kecil,” potong Arden tenang. “Nggak perlu dilebih-lebihkan.”
Henna menatap Sienna, kali ini tidak lagi dengan tatapan meremehkan, melainkan terkejut bercampur tak percaya. Tapi Sienna hanya tersenyum sinis penuh kemenangan.
“Selamat berbahagia,” ucapnya.
Kemudian ia menoleh ke Lucas. “Ayo, kita pulang.”
Lucas langsung mendorong kursi roda Arden keluar dari gedung, sementara Sienna berjalan anggun di samping mereka. Henna dan Cakra hanya bisa memandangi kepergian mereka dalam diam, masing-masing dengan pikiran yang berbeda. Henna dengan rasa gengsi yang runtuh pelan-pelan, dan Cakra dengan rasa kagum serta syukur yang tak bisa ia ungkapkan.
Sienna tidak menoleh lagi, mereka tidak perlu menghadiri pesta apa pun untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya memiliki kelas.