“Dan sekarang, ketika ibu punya permintaan sekecil ini pun kamu tidak bisa mengabulkannya?” Nada suara Titin meninggi, menusuk langsung ke relung hati Arini.
Sepasang mata bening itu sudah berkaca-kaca. Mengapa ibunya selalu salah paham dengannya? Rasanya ingin sekali Arini berteriak, ‘bukan aku yang minta dilahirkan! Dan bukan aku yang minta dilahirkan sebagai anak perempuan!’. Tapi tidak, kata-kata itu hanya bisa ia ucapkan di dalam hatinya saja.
Usai menenangkan diri selama beberapa detik, Arini kembali berkata, “Bu, bagaimana kalau kita jual saja mobil Azril. Atau jadikan mobil Azril sebagai mahar?”
“Jangan bicara omong kosong! Lalu bagaimana Azril berangkat kuliah?” Titin terlihat sangat marah dengan usulan tidak masuk akal itu.
“Azril bisa beli motor. Lagi pula, biaya untuk membeli bensin motor dan juga perawatannya jauh lebih murah, Bu,” ucap Arini. Ia tidak habis pikir, di tengah keuangan keluarga yang carut marut, Azril tetap tidak bisa menurunkan gengsinya.
Arini ingat betul, mobil itu adalah mobil yang dibeli dengan uang hasil penjualan mobil peninggalan ayahnya. Jadi, secara teknis, mobil itu adalah mobil keluarga. Walaupun Azril meng-klaim mobil itu adalah miliknya, karena sejak membelinya, mobil itu tidak pernah dipakai orang lain di dalam keluarga, selain Azril.
“Bicara denganmu hanya membuat ibu semakin pusing! Lebih baik kamu masuk kamar sana! Dan pikirkan bagaimana menyiapkan mahar yang diminta keluarga Intan dalam waktu dua minggu!” Titin mengusir Arini dari sana. Padahal pembicaraan mereka belum sampai ke titik kesimpulan.
“Bu ….” Arini masih mencoba berbicara.
“Arini! Sejak kapan kamu tidak patuh sama ibu!” bentak Titin.
Arini menelan kembali kata-kata yang sudah menggantung di bibirnya. Berdebat dengan ibunya, ia tidak akan mendapatkan hasil apa-apa. Jadi sebaiknya ia pergi dulu, kemudian nanti mencari waktu lain untuk membicarakannya lagi dengan sang ibu.
Arini masuk ke kamarnya. Mau tidak mau ia teringat lagi tentang ucapan Adi beberapa waktu yang lalu. Pria itu terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Haruskah Arini melepaskan pria sebaik Adi? Tapi, akan terasa sangat Egois jika Arini terus menerus meminta Adi menunggu, sementara ia sendiri tidak mempunyai kepastian tentang hidupnya.
Setelah pernikahan Azril, Arini masih harus membayar cicilan yang panjang untuk penebusan sertifikat rumah mereka. Akan sangat tidak adil kalau Arini membawa utang keluarga ke dalam rumah tangganya kelak. Belum lagi deretan mahar yang harus Arini siapkan. Itu semua membutuhkan uang yang tidak sedikit.
Berbekal pemikiran panjang, Akhirnya Arini memberanikan diri mengirimi Adi pesan.
[Di, aku udah mikirin semuanya. Kamu tahu, aku sayang sama kamu. Tapi aku sungguh gak bisa kalau rasa sayangku ini menghalangi karier dan masa depan kamu. Kalau kamu mau pergi, pergi aja. Kamu berhak mendapatkan apa yang pantas kamu dapatkan. Aku tidak punya keluhan lain. Kamu pria terbaik yang pernah aku temui. Terimakasih untuk tujuh tahun terakhir. Dan maaf kalau hubungan kita harus berakhir seperti ini.]
Deraian air mata menganak sungai kala Arini mengirim pesan itu. Dalam waktu singkat pesan itu sudah berubah status menjadi ‘dibaca’. Dan pada detik berikutnya, Arini memblokir nomor Adi. Ia tidak ingin membaca pesan balasan dari Adi. Ia takut hatinya tidak kuat membaca apa pun yang akan Adi tulis di sana. Ia hanya bisa menyakinkan hatinya kalau apa yang ia putuskan sudah sangat benar.
Hati Arini sungguh sakit. Ia membenamkan wajahnya di atas bantal. Menangis dalam diam. Melepaskan seseorang yang ia sayangi ternyata begitu menyakitkan. Tapi itu tetap harus dilakukan, demi kebaikan kedua belah pihak.
Matahari sudah terbenam sepenuhnya. Hari sudah gelap ketika Arini terbangun dari tidurnya. Ia bahkan tidak sadar, sejak kapan ia tertidur. Arini terbangun dan merasakan kerongkongannya kering. Lehernya juga sedikit sakit. Mungkin karena tertidur dalam keadaan tengkurap.
Arini berdiri dan menyalakan lampu. Kemudian ia keluar dari kamar untuk mengambil segelas air.
Saat melewati kamar ibunya, samar-samar Arini mendengar sebuah perbincangan. Ada suara Azril juga di sana.
“Yang ini, Bu, yang merah,” ucap Azril, “Intan sangat suka warna merah,” lanjutnya.
Arini tidak mendengar jawaban dari ibunya, hanya ada kalimat lanjutan dari Azril.
“Dp-nya sekitar sepuluh jutaan, cicilannya sekitar tiga jutaan selama lima tahun.”
“Ril, apa gaji kakakmu cukup? Belum lagi bayar cicilan sertifikat rumah yang ibu gadaikan.” Akhirnya suara sang ibu terdengar.
“Kalau kurang, suruh kak Arini nyari kerja sambilan. Jangan males! Lagipula ini aku udah nego banyak ke Intan. Dia gak menuntut punya rumah sendiri lagi pas aku bilang kalo rumah ini juga nantinya akan jadi milik aku, karena aku anak laki-laki satu-satunya. Dan akhirnya Intan setuju. Dia bilang akan memberitahu orang tuanya nanti. Ibu juga, kalau Intan udah pindah ke sini, jangan dipersulit. Ingat! Dia lagi ngandung anak aku, cucu ibu. Cucu laki-laki!” Azril berbicara penjang lebar.
Arini yang mendengarnya gegas memegang dadanya sendiri. Ada rasa sesak di dadanya. Air mata sebelumnya belum kering, tapi lagi-lagi Azril mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya. Kata ‘kerja sambilan’ terus terngiang di telinga. Adiknya itu bilang ia malas? Malas? Dari sudut pandang mana Azril melihat dirinya ‘malas’?
Sejak ayahnya meninggal, mereka tidak lagi memakai jasa asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumah. Semuanya Arini yang melakukan. Dari mulai memasak, mencuci, membersihkan rumah. Dan setelah semua itu, ia masih harus menghasilkan uang untuk membiayai semua pengeluaran rumah. Tapi ….
“Ya, kamu benar! Dia sudah mendapatkan banyak kemewahan dari kecil. Sudah saatnya dia membalas budi,” timpal sang ibu yang sama-sama tidak berperasaan. Di matanya, sebanyak apa pun yang Arini lakukan demi keluarga, tidak akan pernah cukup untuk membayar jasa sang ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya.
Dengan langkah terhuyung, Arini pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan ibu dan adiknya yang masih berdiskusi, bagaimana cara membuatnya lebih menderita lagi. Tujuannya bukan lagi ke dapur untuk mengambil air minum, tapi ke teras untuk mendapatkan udara segar.
Arini menengadahkan kepalanya ke atas, melihat langit malam tanpa bintang. Hanya ada sedikit sinar bulan sejauh yang bisa ia lihat. Tanpa terasa, sudut matanya menghangat, ada cairan bening yang merembes di sana. Arini memejamkan mata. Dan dua garis air mata kembali menetes di pipi.
Sejak kemarin, ia sudah banyak menangis. Itu mungkin adalah titik toleransinya terhadap kedua ibu dan anak di dalam sana. Hati yang sakit perlahan menjadi kebas. Hingga air mata di pipi mengering entah kemana.
Pada saat yang sama, Titin datang dari rumah dan menemui Arini di teras depan. Tanpa melihat dan menilai bagaimana keadaan Arini saat ini, ia menyerahkan brosur yang beberapa waktu lalu menjadi pembahasannya bersama dengan Azril.