Perawan Mahal sang Penggoda - Hak Akses Terbatas - bab 17

26 December 2025

Mereka tiba di area parkir bawah tanah. Deko menghentikan mobil tepat di samping sebuah motor sport berwarna pink lembut warna yang Queen pilih sendiri beberapa jam lalu. Mata Queen langsung berbinar. “Wow,” katanya sambil membuka pintu dan turun dari mobil. “Besok aku mau jalan-jalan pakai motor baru.” Ia mengelilingi motor itu, menyentuh setangnya, menepuk joknya pelan seolah memastikan benda itu benar-benar nyata. Garendra ikut turun. Tatapannya langsung mengeras. “Kau mau ke mana?” tanyanya. “Kau tidak boleh pergi ke mana-mana tanpa aku.” Queen berhenti bergerak. Alisnya naik. “Kenapa sih?” protesnya. “Ini motor aku. Atas namaku. Harusnya aku bebas dong mau ke mana aja.” Gar melangkah lebih dekat, suaranya tetap rendah tapi tegas. “Sesuai perjanjian. Tiga puluh hari ke depan, kau bebas keluar, jalan-jalan, belanja apa pun,” katanya. “Tapi harus ada aku.” Queen mendengus, menatap motor itu sekali lagi, lalu menoleh ke Gar. “Baiklah, baiklah,” katanya malas. “Daripada berdebat.” Ia berbalik ke arah lift sambil menguap kecil. “Aku capek. Aku butuh istirahat,” lanjutnya ringan. “Aku butuh tenaga ekstra buat belanja dan ngabisin uangmu besok.” Gar tersenyum tipis mendengarnya. Aneh. Ia senang melihat uangnya dihamburkan Queen. Entah karena ingin membalas dunia atau karena senyum Queen memang punya efek berbahaya. Deko hanya diam, mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke dalam lift khusus. Pintu menutup pelan. Queen menoleh ke panel tombol. Matanya membesar. Angka-angka berjejer rapi. 1… 2… 3… hingga 107. “Ini serius?” Queen menoleh ke Gar. “Gedung ini, tinggi banget.” Gar hanya melirik ke Deko lewat pantulan kaca lift. “Jelasin.” Deko mengangguk singkat, lalu mulai bicara dengan nada profesional. “Lantai satu sampai enam,” katanya, “khusus area parkir. Kendaraan karyawan, tamu penting, dan basecamp internal.” Queen mengangguk pelan. “Lantai tujuh sampai dua puluh,” lanjut Deko, “kantor operasional. Administrasi, keuangan, legal, HR.” “Dua puluh satu sampai empat puluh?” tanya Queen penasaran. “Divisi bisnis utama,” jawab Deko. “Manajemen proyek, ruang rapat besar, kantor direksi.” Lift terus naik. Angkanya berubah cepat. “Empat puluh satu sampai enam puluh,” lanjutnya, “fasilitas internal. Gym, klinik, lounge eksekutif, restoran privat.” Queen bersiul pelan. “Lengkap amat.” “Enam puluh satu sampai sembilan puluh,” kata Deko lagi, “area hunian terbatas. Apartemen tamu penting dan staf inti.” Queen menelan ludah. “Dan sisanya?” tanyanya pelan. Deko melirik sekilas ke Gar, lalu kembali menatap depan. “Lantai sembilan puluh satu ke atas,” katanya, “akses sangat terbatas.” Lift berbunyi pelan. 92… 93… Jantung Queen berdegup lebih cepat. “Termasuk lantai yang mau kita tuju?” tanyanya. Gar baru bicara. “Termasuk.” Queen terdiam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar sadar. Ia tidak hanya “tinggal” di gedung ini. Ia berada di atas dunia keban yakan orang di tempat yang hanya Garendra izinkan. Lift terus melaju ke atas. Dan Queen mulai bertanya dalam hati, apakah tempat setinggi ini adalah perlindungan atau sangkar yang terlalu mewah untuk disebut penjara.

Melihat Queen terdiam cukup lama, Garendra tahu itu bukan sekadar lelah. Tatapan Queen terlalu fokus, terlalu tenang seperti sedang menyusun sesuatu di dalam kepalanya. Bukan termenung biasa. Itu rasa penasaran. Dan Garendra tidak menyukainya. Tanpa mengubah ekspresi, Garendra mengeluarkan ponselnya. Wajahnya tetap tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Namun jemarinya bergerak cepat, mengirim satu pesan singkat. Garendra: Kontrol HP Queen. Akses internetnya. Aku mau semua yang dia cari tentang aku, terfilter. Tak sampai satu menit, balasan masuk. Deko: Siap, Tuan. Semua pencarian akan diarahkan. Garendra menyimpan ponselnya kembali. Pandangannya beralih pada Queen yang masih menatap lantai lift dengan dahi sedikit berkerut. Ia tahu persis ketakutannya sendiri. Queen terlalu cerdas. Terlalu cepat membaca celah. Jika Queen sampai mengetahui identitas aslinya, siapa dirinya sebenarnya, status pernikahannya, keterikatannya dengan keluarga besar, wanita itu tidak akan bertanya. Ia akan kabur. Dan itu adalah satu-satunya hal yang tidak boleh terjadi. Di balik perusahaan besar, di balik gedung tinggi, di balik kekayaan yang ia pamerkan, ada fakta yang belum siap ia buka. Bukan karena malu. Tapi karena Queen belum boleh tahu. Jika Queen mencari namanya di internet, yang akan ia temukan hanyalah satu versi: Garendra. Pemilik perusahaan besar. Belum menikah. Pria bebas. Tidak ada Amara. Tidak ada keluarga. Tidak ada ikatan. Hanya satu kebenaran yang sudah dimanipulasi dengan rapi. Lift terus melaju naik. Angka-angka di panel menyala satu per satu. Queen masih diam. Dan Garendra tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Tapi senyum seseorang yang baru saja memastikan bahwa permainan ini masih berada di tangannya. Pintu lift terbuka perlahan. Queen langsung terdiam. Ruangan di hadapannya serba putih, bersih, dingin, dan terlalu rapi. Dinding mengilap, pencahayaan lembut, lantai marmer tanpa noda. Rasanya bukan seperti apartemen melainkan rumah sakit mewah yang disamarkan jadi tempat tinggal. Langkah Queen terhenti. “Ini,” gumamnya pelan. “Ruangan ini lagi?” Garendra berjalan lebih dulu, seolah itu tempat paling biasa di dunia. “Iya,” jawabnya santai. Queen menoleh cepat. “Kok kamu ikut masuk juga?” Garendra berhenti di depan pintu, menoleh sambil membuka kunci dengan sidik jarinya. “Ya iyalah,” katanya datar. “Aku tidur di sini setiap hari.” Pintu terbuka penuh. Garendra sedikit menyingkir dan memberi isyarat sopan. “Silakan masuk.” Queen melangkah masuk, lalu langsung berhenti lagi. Hanya ada satu kasur besar di tengah ruangan. Ia menoleh tajam. “Ih, nggak bisa dong. Aku perempuan. Masa kita tidur bareng?” Garendra menutup pintu di belakang mereka, tenang sekali. “Aku nggak bilang kita tidur bareng.” “Terus kamu mau tidur di mana?” Queen melipat tangan di dada. “Di sofa?” Garendra melirik sofa putih di sudut ruangan, lalu mengangguk kecil. “Kalau perlu, iya.” Queen mendengus, jelas tidak puas. Ia berjalan ke sofa dan duduk dengan kesal. “Ih, kok gitu sih. Harusnya aku yang tidur di kasur, kamu keluar.” Garendra mengangkat alis. “Keluar ke mana?” “Ke hotel lah. Ke apartemen tamu kek,” Queen semakin kesal. “Kamu kan kaya. Cari tempat lain. Jangan tidur sama aku.” Di depan pintu, Deko yang mengantar sampai sana langsung menunduk sopan. “Kalau begitu, saya pamit dulu, Tuan.” Garendra mengangguk singkat. Begitu pintu tertutup, ruangan itu terasa terlalu sunyi. Hanya mereka berdua. Garendra tersenyum tipis. Ia mendekat dan duduk di ujung sofa, menjaga jarak cukup dekat untuk terlihat jelas, cukup jauh untuk tidak melanggar batas. Ia menatap Queen. Wajah cantik itu. Ekspresi cemberutnya. Cara Queen duduk sambil memeluk lengannya sendiri. Dan anehnya, itu membuatnya senang. Bukan karena tubuh. Bukan karena nafsu. Tapi karena Queen ada di sini. Bersamanya. “Kenapa kamu natap aku begitu?” tanya Queen ketus, tanpa menoleh. Garendra menyandarkan punggungnya. “Tenang,” katanya rendah. “Di sini cuma ada kita berdua. Aku nggak akan ngapa-ngapain.” Queen akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, penuh curiga. “Ya aku tahu. Aku tahu kontrak kita.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada mengancam, “Dan jangan lupa, kontrak itu mulai besok.” Garendra mengangguk. “Aku ingat.” Queen bangkit dari sofa, berdiri tegak di depannya. “Sekarang kamu mau ngapain aku?” Garendra menatapnya lama, lalu tersenyum kecil senyum yang tenang, nyaris lembut. “Untuk malam ini?” katanya pelan. “Aku cuma mau kamu istirahat. Besok kamu butuh tenaga banyak.” Queen mendengus. “Buat apa?” “Menghabiskan uangku,” jawab Garendra tanpa ragu. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Queen tersenyum kecil, puas, penuh percaya diri.