Perawan Mahal sang Penggoda - Di Bawah Satu Selimut- bab 18

26 December 2025

Queen masuk ke kamar mandi tanpa banyak bicara. Ia tidak suka merasa kotor—debu, lelah, dan jejak hari panjang masih menempel di kulitnya. Ia ingin membersihkan semuanya, termasuk pikirannya. Pintu kamar mandi menutup. Di luar, Garendra tidak hanya menunggu. Begitu suara air terdengar, ia bergerak cepat. Ponselnya sudah di tangan, layar menyala, jarinya menekan satu aplikasi yang hanya ia miliki. Monitor kecil menampilkan sudut ruangan yang seharusnya privat. Garendra menatap tanpa berkedip. Bukan dengan nafsu kasar, tapi dengan ketenangan berbahaya seperti seseorang yang terbiasa memiliki kendali atas hal-hal yang tak seharusnya ia lihat. “Cantik,” gumamnya pelan. Waktu terasa berjalan lambat. Terlalu lama. Akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Queen keluar dengan rambut tergerai kering, mengenakan baju tidur biru lembut yang jatuh santai di tubuhnya. Wajahnya bersih, segar, nyaris kontras dengan kelelahan yang tadi ia bawa. Garendra segera menyimpan ponselnya. Wajahnya kembali datar, seolah tak ada apa pun yang baru saja ia lakukan. “Kau kelihatan segar,” katanya ringan. Queen hanya mengangguk kecil. Ia tidak menangkap apa pun. Tidak curiga. Tidak sadar. “Aku mau tidur,” ujarnya santai sambil melangkah ke arah kasur. Ia berhenti sejenak, menatap lampu yang masih terang. Garendra langsung bangkit. “Kalau ditekan sekali,” katanya sambil menjangkau saklar, “ruangan jadi remang.” Lampu meredup, meninggalkan cahaya lembut yang membuat ruangan terasa sunyi dan intim. Queen melirik ke arahnya. “Kalau mau gelap gulita?” tanyanya iseng. “Tekan dua kali?” Garendra menatapnya sebentar, lalu berkata pelan, “Ruangan ini gelap, kalau aku nggak ada.” Queen mendecih. “Gombal.” Ia naik ke kasur, menarik selimut. “Ya sudah, remang aja,” katanya sambil memejamkan mata. “Nanti aku diapain lagi.” Garendra tidak menjawab. Berbeda dengan malam sebelumnya, kali ini Garendra tidak sendiri. Ada Queen. Dan kehadiran itu membuat sofa putih di sudut ruangan terasa sama sekali tidak menggoda. Terlalu jauh. Terlalu dingin. Terlalu, tidak perlu. Garendra berdiri sejenak, menatap Queen yang sudah berbaring membelakanginya, tubuh kecilnya terbungkus selimut, napasnya mulai teratur. Lampu remang membuat garis wajah Queen tampak lebih lembut dari biasanya. Ia tidak ingin berpura-pura. Tidak ingin bersikap seolah ini hanya kebetulan. Tidak ingin menyangkal kenyataan bahwa ia memang tidak berniat tidur di sofa malam ini. Pelan, Garendra melangkah ke sisi ranjang. Ia duduk terlebih dulu, memberi jarak, memastikan Queen tidak terbangun. Tangannya menyentuh kasur hangat. Sudah lama ditempati. “Cantik,” gumamnya lagi, hampir tanpa suara. Ia berbaring di sisi lain, tetap menjaga batas. Tidak menyentuh. Tidak mendekat berlebihan. Tapi jelas, ia memilih tempat ini. Bukan karena kontrak. Bukan karena nafsu semata. Melainkan karena ia tidak ingin menyia-nyiakan keberadaan Queen, wanita secantik itu hanya dengan berpura-pura sopan.

Queen belum sempat memejamkan mata ketika kasur di sampingnya bergerak. Refleks, ia langsung menoleh. Tubuhnya menegang saat melihat Garendra naik ke atas kasur. Jantungnya berdegup terlalu cepat. “Kau ini kenapa tidur di sini?” Queen langsung duduk, nada suaranya kesal bercampur panik. Gar yang tadinya hendak berbaring ikut berhenti. Ia duduk di tepi kasur, sejajar dengan Queen. “Aku mau tidur di sini juga,” jawabnya tenang, seolah itu hal paling wajar di dunia. Queen mendengus. “Ih. Kau itu cowok. Aku cewek. Mana boleh sekasur.” Gar melirik kasur lebar itu, lalu kembali menatap Queen. “Kasur ini besar. Badanku dan badanmu nggak besar. Ini sangat sangat cukup.” “Masalahnya bukan cukup atau nggak,” Queen memotong cepat. “Aku nggak suka.” Ia menunjuk lampu di atas. “Aku mau lampu ini nyala.” Gar menghela napas pelan. “Aku nggak bisa tidur kalau terang.” Queen menatapnya tajam. “Aku juga nggak bisa tidur kalau ada kamu di sini. Di sampingku.” Kalimat itu membuat Gar terdiam sesaat. Padahal ini gedung miliknya. Ruangan ini miliknya. Kasur ini pun miliknya. Tapi wanita yang duduk di hadapannya sekarang, seolah sudah mengambil seluruh kendali. Gar menghela napas lebih dalam, lalu mengangkat satu tangan sedikit gestur menyerah yang jarang ia lakukan. “Aku sumpah,” ucapnya rendah, jelas, tanpa main-main. “Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu.” Queen menyilangkan kedua tangannya di dada. Tatapannya sinis. “Hei,” katanya. “Pria itu punya nafsu. Apalagi aku ini wanita cantik. Manis. Melebihi segalanya.” Gar hampir tersenyum hampir. Tapi ia menahannya. “Justru karena itu,” jawabnya pelan, “aku masih duduk. Bukan menyentuh.” Queen terdiam sesaat. Ia menatap Gar dari ujung rambut sampai bahu, seolah mencari celah kebohongan. “Kalau aku bilang keluar,” katanya dingin. “Kau mau?” Gar menatapnya balik. Lama. Jujur. “Tidak,” jawabnya akhirnya. “Tapi aku juga tidak akan melanggar batasmu.” Queen mendecak. “Menyebalkan.” “Setuju,” balas Gar singkat. Keheningan jatuh di antara mereka. Lampu masih remang. Jarak mereka masih ada tidak dekat, tidak jauh. Akhirnya Queen bergeser sedikit ke sisi kasur, menarik selimut lebih tinggi. “Kalau kau macam-macam,” katanya tanpa menoleh, “aku teriak.” Gar berbaring telentang, kedua tangan disatukan di dada, menjaga jarak jelas. “Kalau aku macam-macam,” jawabnya tenang, “kontrak itu batal sebelum besok.” Queen tidak membalas. Tapi kali ini, ia tidak lagi menyuruh Gar pergi.

Hening kembali menyelimuti ruangan. Queen berbaring membelakangi Gar, tubuh mereka berada di bawah satu selimut yang sama, namun jaraknya cukup aman tidak saling menyentuh. “Kau sudah tidur?” tanya Gar pelan. “Hm.” “Boleh aku bertanya?” “Hm.” Gar menarik napas singkat. “Kau cuma punya abang?” suaranya rendah. “Orang tuamu bagaimana?” Ia teringat laporan singkat dari Deko. Informasinya minim. Tidak ada nama orang tua. Tidak ada alamat lama. Hanya satu fakta: Queen hidup bersama abangnya. “Aku tidak punya orang tua,” jawab Queen lirih. Kata-kata itu jatuh begitu saja, tanpa emosi berlebihan. Gar terdiam. Ada rasa tidak nyaman menjalar di dadanya. Bukan iba yang berisik, melainkan sesuatu yang menekan perlahan. Ia membayangkan terlalu jauh, terlalu cepat dan langsung menyesal. “Boleh aku tahu,” ucapnya hati-hati, “kapan orang tuamu meninggal?” Queen yang tadi memejamkan mata perlahan membukanya. Ia berbalik, kini berhadapan langsung dengan Gar. Di cahaya remang, tatapannya tajam namun tenang. “Kau penasaran tentang aku?” tanyanya pelan, menatap mata Gar tanpa berkedip.