“Katakan padaku tentangmu,” ucap Gar dengan mantap. Nada suaranya tenang, tapi jelas ia tidak sedang bercanda. Ada ketidaksabaran yang tertahan di sana. Queen terdiam sejenak. Dadanya naik turun pelan. Malam ini rasanya bukan waktu yang tepat untuk membuka luka. Ia memilih membalikkan badan, kembali membelakangi Gar, seolah jarak tipis itu cukup untuk melindunginya. Rasa penasaran Gar justru makin menekan. “Kenapa kau tidak mau cerita?” tanyanya lagi, lebih pelan. “Mungkin besok,” jawab Queen singkat. Atau lusa. Atau entah kapan. Garendra menarik napas dalam. Ia yakin, hidup Queen tidak sesederhana yang ia lihat. Terlalu banyak celah kosong. Terlalu banyak diam. “Nur,” panggilnya lembut, jauh berbeda dari sikap dinginnya biasanya. “Hm.” “Tiga puluh hari ke depan,” ucap Garendra perlahan, seolah menegaskan janji, “aku ingin tahu semua tentangmu.” Queen diam beberapa detik sebelum menjawab. “Iya.” Jawaban itu singkat. Tapi cukup. Di balik punggung yang membelakanginya, Queen menitikkan air mata tanpa suara. Ia mengatupkan bibir, menahan isak yang tak ingin ia perlihatkan. Ia tahu siapa dirinya. Wanita bayaran. Barang kontrak. Entah kenapa, pria di belakangnya pria bodoh dengan kuasa dan uang itu memilih membayar bukan hanya tubuhnya, tapi juga kehadirannya. Dan itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak.
Queen merasa malu. Bukan hanya karena menangis dalam diam, tapi karena tubuhnya bereaksi dengan cara yang menyebalkan. Hidungnya mampet. Napasnya berat. Pilek, hal sepele yang terasa memalukan di saat seperti ini. Pelan, ia bangkit dari kasur. Garendra tahu. Ia tahu sejak tadi Queen menangis. Napas yang tertahan. Gerakan bahu yang terlalu pelan. Diam yang tidak wajar. Queen melangkah menuju kamar mandi tanpa menoleh. Di depan wastafel, Queen menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya memerah. Matanya sembap. Hidungnya merah dan sedikit basah terlihat menyedihkan. Ia menghela napas kasar. “Bodohnya aku,” gumamnya pelan, suaranya bergetar oleh kesal pada diri sendiri. “Beginilah hidupmu, Nurlela. Kau sudah terlalu terbiasa dengan kesedihan.” Tangannya bergerak cepat, membasuh wajah dengan air dingin, seolah ingin menghapus jejak air mata sekaligus perasaan yang tidak diundang itu. Ia mengusap wajahnya kasar, tidak peduli kulitnya memerah. Di luar kamar mandi, Garendra duduk bersandar di ranjang. Ponselnya ada di tangan. Layar menyala. Tatapannya terfokus ke sana. Bukan untuk hiburan. Melainkan memastikan Queen baik-baik saja dengan caranya sendiri yang salah. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Queen kembali ke ruangan yang remang, dingin, dan wangi. Ia berhenti sejenak saat melihat Gar masih duduk di kasur. Jantungnya berdegup kecil ia tahu. Ia sadar Gar pasti menyadari tangisannya. Namun Queen tetap melangkah, berpura-pura tenang. “Kau tak tidur?” tanyanya santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Untung saja lampu remang, pikirnya. Wajahnya tak akan terlalu terlihat. Gar menoleh. Tatapannya lurus, jujur. “Mana bisa aku tidur,” jawabnya pelan, “sementara ada wanita di sampingku yang menangis.” Queen menegang. Panik. Malu. Dadanya terasa sempit. Ia tidak menjawab. “Naiklah lagi ke kasur,” lanjut Gar, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. Queen ragu sesaat, lalu menurut. Ia naik kembali, berbaring dengan jarak aman. “Anggap saja aku teman,” kata Garendra kemudian. “Kau bisa cerita padaku.” Queen tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip refleks daripada kebahagiaan. Teman. Kata itu terasa asing. Sepanjang hidupnya, Queen nyaris tidak punya teman. Ia punya orang-orang yang datang dan pergi. Pria-pria yang membayar. Senyum yang palsu. Pelukan yang tidak pernah dimaksudkan untuk tinggal. Untuk sesaat, ia ingin percaya. Ingin menganggap pria di sampingnya benar-benar hanya teman. Queen menoleh. Garendra masih duduk, memandanginya dengan ekspresi yang tidak menuntut apa pun. Tidak mendesak. Tidak menghakimi. Perlahan, Queen ikut duduk. “Nanti kalau aku cerita,” ucapnya pelan, nyaris berbisik, “kau akan ngejek aku.” Gar mengerutkan kening. “Ngejek bagaimana?” “Entahlah,” Queen mengangkat bahu kecil. “Mungkin kau pikir aku jual cerita sedih.” Gar menatapnya lurus. “Kalau pun kau jual,” katanya tanpa ragu, “aku tetap beli.” Queen tersenyum kecil. Sangat kecil. Senyum yang lebih mirip refleks daripada bahagia. Ia bingung. Terlalu banyak luka. Terlalu banyak bagian hidup yang rasanya tidak utuh. Ia bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. “Aku siap mendengarkan,” ujar Gar tenang. Queen memejamkan mata. Ia menarik napas panjang, seolah menyelam ke ingatan yang sudah lama ia kubur. “Aku nggak tahu pastinya,” katanya akhirnya. “Aku lupa. Sangat-sangat lupa.” Ia membuka mata perlahan. “Ada seorang pria waktu itu. Aku mungkin umur tiga atau empat tahun.” Suaranya mulai bergetar. “Kakiku dirantai besi.” Gar membeku. “Bahkan sampai sekarang,” lanjut Queen pelan, “bekasnya masih ada.” Ia mengangkat sedikit kain baju tidurnya, menunjukkan pergelangan kaki. Di sana, samar tapi jelas, ada bekas luka melingkar tanda yang tidak mungkin berasal dari kecelakaan biasa. Dada Gar terasa sesak. “Maksudnya apa?” suaranya turun drastis. “Kau diapakan waktu itu?” Queen menggeleng lemah. “Aku nggak ingat detailnya. Setiap kali aku mencoba mengingat siapa aku waktu kecil kepalaku kosong.” Ia menelan ludah. “Seolah ingatanku sengaja dihapus.” Gar berusaha tetap tenang, meski amarah pelan-pelan naik di dadanya. “Orang tuamu?” tanyanya hati-hati. Queen kembali menggeleng. “Aku nggak tahu. Sama sekali nggak ingat.” Gar semakin bingung. “Terus, abangmu?” Queen terdiam sejenak. Tatapannya kosong, lalu menajam. “Pria yang merantaiku itu,” ia berhenti, mencari kata. “Abang ada di sana.” Gar mengangkat kepala. “Dia bukan abangku waktu itu,” lanjut Queen. “Tapi, dia sudah jadi abangku.” Baru saat itu Gar mengerti. Abang yang Queen maksud selama ini bukan saudara kandung. “Namanya?” tanya Gar pelan. “Supardi.” Gar mengangguk. “Kalian tinggal berdua?” Queen menarik napas dalam. Matanya kembali meredup. “Abang dua belas tahun lebih tua dariku,” katanya. “Aku ingat terakhir kali aku melihat pria itu.” Tangannya mengepal tanpa sadar. “Kakiku masih dirantai. Rumahnya gubuk. Pria itu datang bawa botol minuman. Dia mabuk.” Suara Queen bergetar, tapi ia memaksa melanjutkan. “Aku nggak tahu apa yang terjadi persisnya,” katanya. “Tiba-tiba abang datang. Dia ambil batu. Memukul pria itu berkali-kali.” Gar menahan napas. “Abang lepasin rantainya,” Queen menutup mata. “Terus kami kabur.” Ruangan kembali hening. Gar tidak bicara. Tidak bertanya. Tidak menyela. Ia hanya menatap Queen bukan dengan iba, tapi dengan kemarahan yang dingin pada dunia yang tega melakukan itu pada seorang anak kecil. Queen membuka mata perlahan. "Kau mau aku cerita lagi?" tanya Queen.