Gar mengangguk pelan. Ia ingin tahu segalanya tentang Queen tentang Nurlela. Gadis cantik jelita yang hidupnya ternyata penuh rahasia dan kepedihan yang tidak pernah ia pamerkan. Queen menangkap tatapan itu. Ia tahu Gar ingin melanjutkan, ingin menggali lebih dalam. Tapi malam ini, ia sudah terlalu lelah bukan fisik, melainkan hatinya. Senyum tipis terbit di bibirnya. Rapuh, tapi nyata. “Udah ya,” katanya pelan. “Besok-besok aja sambungan ceritaku.” Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi. “Lebih baik kita tidur,” lanjutnya ringan, seolah tak baru saja membuka luka lama. “Besok kita harus belanja.” Gar tidak memaksa. Tidak mendesak. “Oke,” jawabnya singkat. Lampu remang tetap menyala. Dua tubuh berbaring di satu kasur, dengan jarak yang masih terjaga. Gar tidak tidur. Matanya terpejam, napasnya teratur setidaknya begitu yang terlihat. Tapi pikirannya justru berisik, dipenuhi wajah wanita di sampingnya. Wanita mahal yang seharusnya hanya kontrak. Hanya hiburan. Hanya penggoda sementara. Namun entah sejak kapan, keberadaan Queen mulai mengganggu keseimbangannya. Cerita barusan itu rantai besi, gubuk, luka di pergelangan kaki masih terputar di kepalanya. Terlalu detail untuk sebuah kebohongan murahan. Terlalu sunyi cara Queen mengatakannya. Tidak ada drama. Tidak ada air mata berlebihan. Hanya potongan-potongan ingatan yang terlepas begitu saja, seperti luka lama yang sudah kebal rasa. Gar menoleh pelan, memastikan Queen benar-benar membelakanginya. Bahu kecil itu tampak tenang, tapi ia tahu ketenangan Queen sering kali hanya topeng. Haruskah aku percaya? Benarkah ceritanya tadi benar? Sebagian dari dirinya curiga. Terlatih untuk curiga. Dunia bisnis dan keluarga membuatnya terbiasa memilah mana kebohongan yang rapi dan mana kebenaran yang tak sengaja bocor. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Jika Queen berbohong, ia tidak akan memilih cerita seburuk itu. Tidak akan membuka luka yang bahkan tidak memberinya keuntungan apa pun. Tidak ada permintaan simpati. Tidak ada kalimat yang meminta dikasihani. Dan itu justru yang membuat Gar gelisah. Bayangan Amara tiba-tiba muncul. Wanita yang pernah ia percaya. Wanita yang tersenyum manis sambil menyiapkan kebohongan paling rapi dalam hidupnya. Amara yang pandai menangis di waktu yang tepat. Pandai memutar fakta. Pandai membuatnya terlihat sebagai pria bodoh. Gar mengepalkan jari di bawah selimut. Kalau Queen juga berbohong. Dia melakukannya dengan cara yang jauh lebih berbahaya. Tapi ada satu perbedaan besar yang tidak bisa ia abaikan. Queen tidak meminta apa pun malam ini. Tidak uang. Tidak janji. Tidak perlindungan. Ia bahkan menutup ceritanya sendiri. Gar menatap langit-langit gelap, rahangnya mengeras. Kalau ceritanya benar. maka dunia sudah terlalu kejam pada wanita ini jauh sebelum aku muncul. Dan untuk pertama kalinya, Gar tidak merasa ingin memiliki. Ia merasa ingin memastikan. Bukan untuk kontrak. Bukan untuk kesenangan. Tapi untuk satu hal yang jarang ia rasakan: kebenaran. Di sampingnya, Queen bergerak sedikit dalam tidur setengah sadar. Gar langsung memejamkan mata, berpura-pura tidur kembali. Namun satu keputusan sudah terbentuk rapi di kepalanya. Besok, ia tidak hanya akan membelanjakan uang untuk Queen. Ia akan mulai membelanjakan kekuasaan untuk mencari tahu siapa sebenarnya Nurlela. Dan siapa yang pernah merantainya. Queen terbangun tanpa tahu pasti apakah matahari sudah naik atau belum. Tidak ada cahaya pagi yang menyelinap masuk. Tidak ada sinar hangat di sela tirai. Ruangan itu tetap sama putih, dingin, dan sunyi seperti malam yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia mengedarkan pandangan ke samping kasur. Kosong. Gar tidak ada. Entah kenapa, ada rasa aneh di dadanya. Bukan kecewa. Bukan lega. Lebih seperti… kebiasaan yang baru saja mulai terbentuk lalu mendadak dihilangkan. Queen duduk perlahan, menyibakkan selimut. Rambutnya masih berantakan, kepalanya sedikit berat. Ia hendak melangkah ke kamar mandi, tapi tangannya terhenti saat melihat ponsel di atas nakas. Ia mengambilnya. Layar menyala. Ada sinyal. Alis Queen langsung terangkat. “Hah?” Ia menatap ikon sinyal itu seolah benda ajaib. Semalam nol. Sekarang penuh. Lalu notifikasi masuk. Tuan Gar. Queen mengernyit. “Sejak kapan aku simpan nomornya?” Ia tidak ingat menyimpannya. Tapi nama itu sudah tertera rapi, lengkap dengan foto kontak logo perusahaan Gar. Queen membuka pesan itu. Gar: Nur. Aku ada meeting pagi ini. Aku janji pulang cepat. Deko ada di gedung. Kalau kamu butuh apa pun, hubungi dia. Nomornya sudah aku simpan di HP-mu. Nanti kita pergi berbelanja. Di bawah pesan itu, beberapa foto menyusul. Queen menggeser layar. Foto pertama: dirinya berdiri di parkiran, di samping mobil hitam mengilap. Rambutnya tergerai, wajahnya santai, senyumnya tipis tapi penuh percaya diri. Foto kedua: lebih dekat. Sudut yang bagus. Terlalu bagus, malah. Queen menatap layar cukup lama. Ada perasaan aneh melihat dirinya sendiri seperti itu. Terlihat, mahal. Terlihat seperti wanita yang hidupnya tidak pernah kekurangan apa pun. Padahal ia tahu betul, siapa dirinya sebenarnya. Queen mendecak pelan. “Ck,” gumamnya sambil memperbesar foto. “Lihatlah betapa cantiknya aku.” Ada kebanggaan kecil di sana. Dangkal, mungkin. Tapi nyata. Ia meletakkan ponsel kembali, berdiri, lalu melangkah ke kamar mandi. Queen mandi lama. Bukan karena airnya terlalu hangat, tapi karena ia menikmati setiap detik tanpa terburu-buru. Sabun mahal dengan aroma lembut, handuk tebal yang menyerap air dengan sempurna, rak penuh skincare dan make up yang semuanya masih tersegel rapi semua disiapkan untuknya. Untuk Queen. Ia berdiri di depan cermin, mengeringkan rambut, lalu mulai berdandan. Pelan. Teliti. Seolah sedang mempersiapkan diri untuk peran baru. Bukan Nurlela yang lelah. Bukan Queen dari kamar sempit dan jadwal kotor. Melainkan seorang wanita yang punya waktu, ruang, dan pilihan. Gaun sederhana berwarna krem membalut tubuhnya. Tidak mencolok, tapi jatuh pas. Jam tipis melingkar di pergelangan tangannya. Tas kecil yang entah sejak kapan ada di sana. Ia menatap bayangannya sendiri. Cantik. Tenang. Mahal. “Gila,” gumamnya pelan. “Aku kayak nyonya beneran.” Saat itu ponselnya bergetar. Satu pesan masuk. Queen mengangkatnya. Deko: Nyonya, apakah Anda tidak membutuhkan makanan? Anda bisa menyuruh saya apa saja. Queen langsung tersenyum lebar. Bukan senyum dibuat-buat. Tapi senyum geli yang spontan. “Nyonya,” ulangnya lirih, lalu terkikik kecil sendiri. Rasanya aneh. Lucu. Menggelikan. Seperti sedang memainkan peran di drama mahal. Padahal kemarin ia masih seseorang yang tidak berhak memilih apa pun. Ia duduk di tepi ranjang, memutar ponsel di tangannya. “Hm,” gumamnya. “Aku butuh apa, ya?” Ia menoleh ke jam di pergelangan tangannya. 11.00 Mata Queen membesar. “Hah?!” Ia menatap jam itu lagi, memastikan tidak salah lihat. Sebelas. “Serius?” desisnya. “Aku mandi sama dandan selama ini?” Atau mungkin… ia memang bangun kesiangan. Queen menghela napas, lalu tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, bangun siang tidak membuatnya panik. Ia kembali menatap layar ponsel. “Ayo, Queen,” katanya pada diri sendiri. “Kau sekarang bisa minta apa aja.” Ia berpikir. Makanan? Minuman? Keluar jalan-jalan? Entah kenapa, satu nama muncul di kepalanya lebih dulu. Jarinya bergerak cepat, membalas pesan Deko. Queen: Kapan Tuanmu pulang? Pesan terkirim.
Perawan Mahal sang Penggoda - Queen Nyonya Baru - Bab 20
Penulis
MahaSilsi24
27 December 2025