Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 5

11 September 2025

“Kamu di sini rupanya. Ibu nyari-nyari kamu di kamar.” Titin berdiri di depan Arini dan menyerahkan brosur di tangan. “Ini brosur mobil. Ibu udah tandai, mana yang perlu kamu beli. Di sana juga ada rincian DP dan cicilannya. Ada nomor marketingnya juga di sana. Kamu telponlah dulu. Minta jangan lama!”

Arini hanya melirik brosur di tangan sang ibu, kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke langit sana. Titin agaknya tidak suka mendapatkan pengabaian sang putri. Ia menggoyangkan brosur di tangannya ke depan wajah Arini.

“Ibu aja yang nelpon. Biarkan mereka datang untuk survey. Nanti aku yang menemuinya,” ucap Arini tanpa menoleh.

Titin mendengus seraya menarik tangannya. “Bener kata adikmu. Kamu itu males! Disuruh nelpon doang malah balik nyuruh ibu. Gak berbakti kamu ini, Arini!”

Usai mengatakannya, Titin gegas pergi dari sana, tanpa memedulikan bagaimana raut wajah Arini saat ini.

Arini sendiri hanya bisa menarik napas dalam-dalam, mengisi organ dalamnya dengan oksigen, kemudian mengembuskannya perlahan. Karena ibunya sudah berkata demikian, bagaimana mungkin ia membiarkan hal itu menjadi sebuah fitnahan belaka. Arini tersenyum miris memikirkannya. Tapi sungguh, ia sudah merasa lelah dengan hidupnya sendiri.


Keesokan harinya, rumah yang biasanya damai itu seperti telah kehilangan kedamaiannya. Adalah Titin yang pertama kali berteriak karena terkejut, tidak ada sarapan di meja makan. Ia meneriakkan nama Arini yang tak juga datang ke hadapannya.

Di dalam kamar, Arini tengah menyisir rambut panjangnya di depan cermin. Walaupun pandangannya mengarah ke arah cermin, tapi jiwanya jelas tidak ada di sana. Hanya ada kekosongan di sepasang mata hitamnya.

“ARINI!” Teriakan sang ibu di ruang makan sampai di telinga Arini. Tapi ia sama sekali tidak berniat untuk menjawabnya. Sampai kemudian, gedoran di pintu kamar membuatnya menoleh.

Arini mengedipkan mata, kemudian mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu. Ia membuka pintu itu dan mendapati wajah marah sang ibu di depannya.

“Apa saja yang kamu lakukan dari pagi? Kenapa belum masak?” tanya Titin dengan nada tinggi.

“Maaf, Bu. Aku sedikit lelah. Aku sepertinya tidak akan sempat masak. Aku harus ke kantor sekarang, Bu,” jawab Arini dengan nada lembut seperti biasanya.

“Kalau kamu tidak masak, bagaimana ibu dan Azril makan? Kamu mau membuat kami kelaparan seharian?” Titin masih belum menurunkan nada suaranya.

“Maaf, Bu. Tapi kalau aku tidak berangkat sekarang, aku akan terlambat kerja. Nanti aku di pecat dan jadi pengangguran.” Tidak ada fluktuasi dalam nada suara Arini. Ia masih berbicara lembut seperti biasanya. Tapi jelas, ibunya yang mendengarnya merasa ada ancaman dan pemberontakan di dalam nada suara itu.

“Aku pergi dulu, Bu.” Tanpa menunggu tanggapan dari sang ibu, Arini gegas pergi meninggalkan rumah.

Titin sempat mematung sejenak melihat keanehan dari diri sang putri. Namun, saat ia hendak mengejar, Arini sudah pergi meninggalkan rumah. Menyisakan kekesalan tak beralasan di wajah sang ibu.

Di dalam rumah, Azril berteriak memanggil sang ibu. Ia sudah berdiri di depan kamarnya sambil memegangi sebuah kemeja berwarna biru di tangannya.

“Kenapa, Ril?” tanya sang ibu kala sampai di hadapan sang putra. Nada suaranya jelas lebih bersahabat dibandingkan saat ia berbicara dengan Arini beberapa saat lalu.

“Aku udah bilang waktu itu, kalau hari ini ada kuis, harus pake kemeja. Kenapa kemejanya belum di setrika?” tanya Azril dengan nada kesal.

Titin melihat kemeja kusut di tangan sang putra. Jejak kekesalan semakin terlihat jelas di sepasang mata tuanya. Mengapa Arini seceroboh itu, melupakan hal yang begitu penting.

“Biar ibu aja yang nyetrika.” Titin mengambil alih kemeja di tangan Azril dan gegas berlari ke ruang laundry. Ada meja untuk menyetrika di sana. Namun, baru saja Titin melangkah, suara Azril kembali terdengar.

“Bu, aku mau sarapan di kampus. Buatin sandwich telur dua ya, buat Intan juga.”

Titin mematung sejenak, tapi kemudian ia tersenyum dan mengangguk.

Pagi itu ditakdirkan menjadi pagi yang sibuk bagi Titin. Ia hampir lupa, kapan terakhir kali ia sesibuk itu. Ah … sepertinya saat suaminya masih ada.

Walaupun ada seorang asisten rumah tangga, tapi tidak sepenuhnya ia terbebas dari tugas ibu rumah tangga. Karena suaminya jelas lebih memilih masakan istrinya daripada masakan asisten rumah tangga mereka.

Titin baru bisa bernapas lega setelah Azril berangkat ke kampus. Ia berbalik dan mendapati rumahnya bahkan belum dibersihkan. Pun dengan alat masak belum di cuci. Ia mengembuskan napas berat. Rasa kesalnya terhadap Arini semakin besar. Berani-beraninya anaknya itu meninggalkan banyak pekerjaan di rumah sebelum pergi. Ia harus memberikan pelajaran bagi Arini saat pulang nanti.

Di kantor, Arini menatap kosong ke arah layar komputer di hadapannya. Jelas hari masih pagi, tapi ia sudah melamun. Pikirannya masih berada di rumah.

Pagi tadi, Arini mengabaikan segala macam pekerjaan rumah sebelum pergi ke kantor. Entah seperti apa wajah ibunya sekarang. Memikirkannya, bulu kuduknya tiba-tiba merinding tanpa alasan.

“Rin, Pak Bos manggil kamu tuh!” Sebuah tepukan di pundak membuat Arini sepenuhnya sadar dari lamunan. Di depannya sudah berdiri Dita–teman kantornya.

“Pak Bos?” ulang Arini. Ia agak sedikit linglung mendengarnya.

“Pak Gibran,” jawab Dita memberi secercah jawaban atas kebingungan Arini.

Benar! Bagaimana ia lupa tentang Gibran, manajer keuangan yang merupakan atasan langsung Arini. Pria galak yang baru menjabat seminggu terakhir, setelah manajer keuangan sebelumnya–Bu Susan dipecat secara tidak hormat setelah terbukti melakukan manipulasi data keuangan.

Arini mengangguk, kemudian meninggalkan kubikelnya. Tidak lupa ia juga membawa sebuah map berisi data-data yang ia duga akan Gibran minta.

Tok … tok … tok …. pintu diketuk. Tak lama, suara berat seorang pria mempersilakan Arini masuk.

“Bapak manggil saya?” tanya Arini.

“Mana data yang saya minta kamu kerjakan,” ucap Gibran tanpa mengangkat kepalanya sama sekali. Pria itu tampak sibuk memilah beberapa kertas di depannya. Sungguh pria yang sibuk! Arini bahkan tidak tahu Gibran datang jam berapa. Atau jangan-jangan, pria itu tidak pulang? Sungguh workaholic!

Arini melangkah dan memberikan map di tangannya. Gibran melirik map itu dan membukanya. Namun, pada detik berikutnya, wajahnya berubah suram.

Arini tidak tahu apa yang terjadi sampai map yang baru saja ia berikan melayang di udara. Kertas-kertas berceceran dan jatuh di atas kepalanya. Ia mematung, mencoba mencerna apa yang terjadi.

“Pak ….” Hanya satu kata yang keluar dari mulut Arini.

“Kamu pikir saya ini lelucon? Saya minta data pengeluaran dan pemasukan selama tahun lalu, tapi kamu malah memberikan sampah tak berguna!” teriak Gibran.

Jantung Arini berdebar. Ya! Ia tahu apa yang Gibran minta. Bukankah itu juga ia ya berikan? Atau jangan-jangan ….

Arini mengambil sebuah kertas yang paling dekat dengannya. Kemudian ia melihatnya. Hatinya tenggelam seketika. Wajahnya memerah. Ia bahkan tidak mampu mengangkat kepalanya untuk melihat wajah bos galaknya itu.

“Ini … ini … kenapa ini?” Arini tergagap.

“Saya banyak melihat wanita sepertimu. Biar saya katakan untuk pertama dan terakhir kalinya kepadamu. Saya tidak tertarik pada hal-hal remeh itu! Dan lupakan fantasimu tentang saya!” Ucapan Gibran bak petir yang menyambar hati dan jantungnya. Arini bahkan merasakan dua organnya tidak berfungsi selama sepersekian detik. Apa maksudnya ini?

“Bapak salah paham.” Ingin Arini mengatakan itu, tapi entah mengapa, kata-kata itu tidak mampu keluar dari mulutnya.

Arini menunduk semakin dalam, memperhatikan barisan tinta yang tertera di atas kertas yang ia pegangi. Itu adalah rincian biaya resepsi dari sebuah wedding organizer. Ia ingat, Adi memberikannya beberapa hari lalu untuk ia baca. Tidak hanya itu, ada juga beberapa gambar venue, gaun pengantin, dan lain-lain. Dan Arini ingat betul, ia menyimpan semuanya dalam map itu karena tidak ingin mendapati kecurigaan teman-teman kerjanya. Tapi justru hal itu malah menjadi boomerang kepadanya. Bos galaknya pasti berpikir kalau Arini sedang mengajukan lamaran pernikahan kepadanya. Sial! Sungguh Sial!

“Keluar dari ruangan saya, dan bawa semua sampah itu!” teriak Gibran.

Arini tidak menunggu sedetikpun untuk membuat Gibran semakin murka padanya. Ia gegas mengemas kertas-kertas yang berceceran di atas lantai itu dan menyeret kakinya untuk meninggalkan tempat itu sesegera mungkin. Ia sungguh malu!