Drama

Chapter 8: Fiksi yang Runtuh

28 December 2025

Konfrontasi sengit terjadi. Bima terpaksa mengakui segalanya, menghancurkan ilusi 'jodoh' yang telah Meira bangun. Meira merasa hilang untuk kedua kalinya, kali ini kehilangan kepercayaan.

BAB 8: FIKSI YANG RUNTUH

Perpustakaan kota sore itu terasa seperti ruang vakum. Udara yang biasanya sejuk dan beraroma kertas tua kini terasa menyesakkan bagi Meira. Setiap gemerisik halaman yang dibalik, setiap derit kursi yang digeser, terdengar seperti gema di dalam kepalanya yang kosong. Ia duduk di salah satu meja kayu jati yang tersembunyi di sudut ruangan, di dekat rak-rak bertuliskan "Naskah Kuno". Tempat yang seharusnya menjadi surga bagi seorang calon novelis, kini terasa seperti panggung interogasi.

Di atas meja, di antara buku catatannya yang tertutup dan ponselnya yang gelap, tergeletak sebuah buku sketsa bersampul kulit cokelat. Buku itu bukan miliknya.

Meira menemukannya tanpa sengaja. Kemarin, saat Bima mengantarnya pulang setelah seharian menjelajahi sudut-sudut Jogja yang puitis, buku itu terjatuh dari tas selempangnya tanpa ia sadari. Meira baru menyadarinya pagi tadi, tergeletak di dekat rak sepatu. Niat awalnya baik, ia ingin segera mengembalikannya. Tapi rasa penasaran, sifat alami seorang penulis, mengalahkan sopan santunnya.

Halaman pertama membuatnya tersenyum. Sketsa Candi Prambanan yang detail, dengan arsiran pensil yang sabar. Halaman berikutnya, sketsa angkringan dengan kepulan asap dari ceret arang. Indah. Bima punya bakat terpendam. Tapi senyumnya memudar di halaman kelima.

Itu potret dirinya.

Bukan satu, tapi beberapa. Meira, sedang menatap tajam ke laptopnya di sebuah kafe. Meira, dengan rambut dikuncir kuda, sedang membaca buku dengan kening berkerut. Meira, sedang menyeruput kopi dengan tatapan menerawang ke luar jendela. Setiap sketsa ditandai tanggal kecil di sudut kanan bawah. Tanggal-tanggal yang jauh sebelum hari mereka bertemu di kereta Senja Utama. Tanggal-tanggal saat ia masih menganggap Jogja tak lebih dari sekadar tempat singgah yang membosankan.

Jantungnya berdebar kencang, bukan karena tersanjung. Ini debaran yang lain. Debaran dingin yang merayap dari perut hingga ke tenggorokan. Firasat buruk. Potongan-potongan puzzle yang selama ini ia abaikan mulai menyatu dengan paksa. Cara Bima menatapnya seolah sudah mengenalnya sejak lama. Caranya tahu jenis kopi kesukaannya tanpa bertanya. Caranya menyebut nama penulis favoritnya dalam obrolan santai mereka.

Semua itu bukan kebetulan. Bukan takdir.

"Meira! Maaf, aku telat sedikit. Tadi ada pengunjung yang butuh bantuan riset."

Suara Bima yang hangat dan familier memecah keheningan. Ia datang dengan senyum khasnya, senyum yang selama beberapa minggu terakhir ini berhasil meruntuhkan dinding sinisme Meira bata demi bata. Hari ini, senyum itu terlihat seperti topeng.

Bima meletakkan tasnya dan duduk di seberang Meira. Matanya langsung tertuju pada buku sketsa di atas meja. Senyumnya goyah. Wajahnya pias seketika.

"Lho, buku sketsaku... ketinggalan, ya? Aduh, maaf merepotkan. Aku cari-cari dari tadi," katanya, suaranya terdengar sedikit tegang. Ia mengulurkan tangan untuk mengambilnya.

Tangan Meira menahan buku itu di tempatnya. Tatapannya dingin, setajam silet. "Aku sudah membukanya," ucapnya pelan, setiap kata terasa berat.

Bima menarik kembali tangannya seolah tersengat listrik. Ia tidak berani menatap mata Meira. Pandangannya terpaku pada urat-urat kayu di permukaan meja. Keheningan yang menyiksa menggantung di antara mereka.

"Ini apa, Bima?" Meira mendorong buku itu sedikit ke arahnya. "Jelaskan."

"Itu... itu cuma sketsa, Mei," jawab Bima, suaranya nyaris berbisik. "Aku suka menggambar orang."

"Orang? Atau aku?" Meira membuka halaman yang memuat potret dirinya paling detail. Potret dirinya di perpustakaan ini, sebulan yang lalu. Ia ingat hari itu. Ia sedang frustrasi dengan naskahnya dan kabur ke sini untuk mencari inspirasi. "Tanggal di sini, 15 April. Kita baru bertemu di kereta tanggal 2 Mei. Jadi, tolong jelaskan padaku, bagaimana caramu menggambar seseorang yang belum pernah kamu temui?"

Bima menelan ludah. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Aku... mungkin aku salah tulis tanggal."

Jawaban itu begitu lemah, begitu putus asa, hingga membuat Meira merasa muak. Kemarahan yang sedari tadi ia tahan kini meledak.

"Jangan bohong, Bima! Jangan anggap aku sebodoh itu!" suaranya naik satu oktaf, membuat seorang mahasiswa di meja seberang menoleh. Meira menarik napas, mencoba mengendalikan dirinya. Ia merendahkan suaranya menjadi desisan tajam. "Aku seorang penulis. Aku hidup dari detail. Dan detail-detailmu tidak cocok. Semuanya salah."

Ia menunjuk sketsa lain. "Di sini, kamu menggambar gelang yang aku pakai. Gelang ini putus tiga minggu lalu, tidak aku pakai lagi. Di sini, kamu menggambar stiker di laptopku yang sudah aku lepas sebulan lalu. Kamu sudah memperhatikanku. Jauh sebelum tumbler itu."

Pertanyaan terakhirnya menggantung di udara, sarat dengan tuduhan. "Benar, kan?"

Bima akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, penuh penyesalan. Ia mengangguk pelan. Satu anggukan itu meruntuhkan segalanya. Seluruh bangunan indah tentang takdir, semesta, dan jodoh yang tanpa sadar telah Meira bangun di dalam hatinya, kini hancur berkeping-keping. Fiksinya runtuh.

"Kenapa?" bisik Meira, suaranya bergetar. Bukan lagi marah, tapi terluka.

"Aku... aku minta maaf, Meira," Bima memulai, suaranya parau. "Aku tidak bermaksud menipumu. Sungguh."

"Lalu apa maksudmu?"

"Aku sudah sering melihatmu di sini," Bima mengaku, menatap ke sekeliling perpustakaan yang menjadi saksi bisu. "Beberapa kali di kafe seberang juga. Kamu selalu sendirian, selalu fokus dengan laptop atau bukumu. Ada sesuatu dari caramu menatap dunia... begitu tajam, tapi juga terlihat... rapuh. Aku terpesona."

Meira hanya diam, mendengarkan pengakuan yang terasa seperti belati yang diputar perlahan di ulu hatinya.

"Aku ingin menyapamu, berkali-kali," lanjut Bima. "Tapi aku tidak punya keberanian. Aku pengecut. Aku cuma bisa mengagumimu dari jauh, menuangkannya dalam sketsa-sketsa itu. Bagiku, kamu seperti karakter dari novel yang belum selesai kutulis."

"Jadi aku cuma objek fantasimu?" sela Meira, sinismenya kembali dengan kekuatan penuh.

"Bukan! Bukan seperti itu!" Bima menggeleng cepat. "Lalu hari itu... di Stasiun Gambir. Aku tidak sengaja melihatmu. Aku sedang mengantar sepupuku. Saat kereta akan berangkat, aku melihatmu terburu-buru dan sesuatu jatuh dari tasmu. Tumbler itu. Aku mengenalinya. Aku pernah menggambarnya saat kamu membawanya ke kafe."

Meira memejamkan matanya. Jadi bukan semesta yang mempertemukan mereka. Hanya kebetulan bodoh dan seorang pengagum rahasia yang terlalu pengecut untuk sekadar bilang 'hai'.

"Aku mengambilnya," kata Bima. "Awalnya aku berniat memanggilmu, tapi kereta sudah jalan. Lalu aku melihat namamu terukir di bagian bawahnya. 'Meira'. Aku tahu itu kamu. Dan aku melihatnya sebagai sebuah kesempatan. Sebuah tanda... untukku."

"Tanda untukmu?" Meira tertawa, tawa kering tanpa humor. "Jadi kamu mencuri ceritaku? Kamu mengambil konsep 'takdir' yang aku ciptakan di kepalaku dan menggunakannya untuk kepentinganmu sendiri?"

"Aku tidak mencurinya, Mei! Aku hanya... meminjamnya. Aku pikir, kalau aku muncul sebagai seseorang yang ditakdirkan untukmu, kamu mungkin akan memberiku kesempatan. Kesempatan yang tidak akan pernah aku dapatkan jika aku hanya menyapamu di perpustakaan dan bilang, 'Hai, aku Bima, aku sering melihatmu di sini dan aku pikir kamu menarik'."

Pengakuannya yang jujur dan menyedihkan itu tidak membuat Meira luluh. Justru sebaliknya. Itu membuatnya semakin marah.

"Jadi semua ini bohong?" desak Meira. "Saat kamu bilang kamu merasakan ada 'koneksi' di antara kita di gerbong tiga, itu bohong? Saat kamu bilang kamu percaya pada tanda-tanda dari semesta, itu semua hanya akting?"

"Awalnya mungkin begitu," Bima mengakui dengan berat hati. "Tapi setelah kita benar-benar bicara, setelah kita menghabiskan waktu bersama... perasaanku menjadi nyata, Meira. Semua yang aku rasakan untukmu sekarang, itu nyata. Aku benar-benar jatuh cinta padamu."

"Cinta?" Meira mendengus. "Cinta tidak dibangun di atas kebohongan, Bima. Kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari semua ini?"

Bima hanya menatapnya, pasrah.

"Tumbler itu," kata Meira, suaranya pecah. "Tumbler itu bukan sekadar botol minum. Itu satu-satunya peninggalan Ibuku. Satu-satunya benda fisik yang aku punya dari beliau. Saat aku kehilangannya, aku merasa kehilangan sebagian dari diriku, kehilangan koneksi terakhirku dengannya. Dan saat kamu datang membawanya kembali, aku merasa... aku merasa Ibu memberiku restu dari atas sana. Aku merasa semesta sedang memberitahuku bahwa semuanya akan baik-baik saja."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Meira, tapi ia menahannya agar tidak jatuh. Ia tidak akan terlihat lemah di depan pembohong ini.

"Dan kamu," lanjutnya, menunjuk Bima dengan jari gemetar. "Kamu mengambil simbol paling suci dalam hidupku dan mengubahnya menjadi alat untuk trik murahanmu. Kamu menodai ingatanku tentang Ibu dengan kebohonganmu. Kamu menghancurkan satu-satunya hal magis yang pernah aku percayai."

Kata-kata itu menghantam Bima lebih keras dari tamparan. Wajahnya memancarkan penyesalan yang begitu dalam. "Meira, aku... aku tidak tahu. Aku bersumpah, aku tidak tahu tumbler itu sepenting itu bagimu. Maafkan aku... aku benar-benar minta maaf."

"Maaf tidak bisa memperbaiki fiksi yang sudah runtuh, Bima," balas Meira dingin.

Ia berdiri. Tangannya meraih tumbler biru kesayangannya yang tergeletak di samping buku sketsa. Untuk sesaat, ia menggenggamnya erat. Benda ini adalah pusat dari segalanya. Pusat dari kehilangan, harapan, kebohongan, dan kekecewaan. Benda yang tadinya terasa hangat dan penuh kenangan, kini terasa dingin dan asing di tangannya.

Dengan gerakan tegas, ia meletakkan tumbler itu kembali di atas meja, tepat di samping buku sketsa yang terbuka. Ia mendorong keduanya ke arah Bima.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bima, panik.

"Aku tidak bisa melihatnya lagi," jawab Meira. "Setiap kali aku melihatnya, aku hanya akan teringat pada kebohonganmu. Ambil saja. Anggap sebagai piala kemenanganmu karena sudah berhasil menulis bab terburuk dalam hidupku."

Meira membalikkan badan, tasnya ia sampirkan ke bahu dengan kasar.

"Mei, tunggu!" Bima ikut berdiri, suaranya memohon. "Jangan begini. Kita bisa bicarakan ini baik-baik."

"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan," kata Meira tanpa menoleh. "Cerita kita sudah tamat. Dan ternyata, genrenya bukan romansa, tapi tragedi murahan."

Ia berjalan cepat, melewati rak-rak buku yang menjulang tinggi seperti tembok penjara. Ia bisa merasakan tatapan Bima di punggungnya. Ia bisa mendengar Bima memanggil namanya lagi, lirih dan putus asa. Tapi ia tidak berhenti.

Ia mendorong pintu perpustakaan dan udara lembap Jogja langsung menyergapnya. Klakson motor, deru mobil, suara tawa orang-orang di trotoar—semua suara itu terasa jauh. Dunianya kembali senyap, seperti ruang vakum tempat ia duduk beberapa menit yang lalu.

Dulu, ia kehilangan tumbler peninggalan ibunya dan merasa sebagian dunianya hilang. Kini, tumbler itu ada di sana, di atas meja kayu di dalam perpustakaan, namun ia merasa jauh lebih kehilangan.

Kali ini, yang hilang bukan lagi sekadar tumbler. Yang hilang adalah kepercayaan. Dan Meira tidak tahu cara menemukannya kembali.