Dihadapkan pada ultimatum dari keluarganya, Bima harus memilih: mengorbankan Meira demi menjaga nama baik keluarga atau melepaskan semua privilesenya untuk sebuah kesempatan kedua yang belum pasti.
Bab 9: Pilihan di Antara Dua Dunia
Udara di pendopo Ndalem Suryokusuman terasa berat, sarat dengan aroma melati dari taman dan ketegangan yang tak terucap. Bima duduk bersimpuh di atas tikar pandan, punggungnya lurus kaku, sementara di seberangnya, di kursi jati berukir naga, ayahnya menatapnya dengan sorot mata yang setajam bilah keris pusaka. Di sisi ruangan, ibunya, Larasati, meremas ujung selendang batiknya, wajahnya pias menyiratkan kecemasan yang mendalam.
Ini bukan sekadar percakapan antara ayah dan anak. Ini adalah sidang.
“Bima,” suara Suryo Hadiningrat, ayahnya, menggelegar pelan, memecah kesunyian yang mencekik. “Rama tidak akan berbasa-basi. Kami sudah tahu tentang perempuan Jakarta itu.”
Jantung Bima serasa berhenti berdetak sesaat. Ia tahu hari ini akan datang, tetapi ia tidak menyangka secepat ini, dan sedingin ini. Kata ‘perempuan Jakarta itu’ diucapkan dengan nada yang sama seperti orang menyebut wabah penyakit.
“Namanya Meira, Rama,” sahut Bima, berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang dan hormat, meskipun di dalam dadanya badai mulai bergemuruh.
“Nama tidak penting,” potong Suryo, tangannya yang keriput namun masih kokoh mengetuk lengan kursi. “Yang penting adalah asal-usulnya. Latar belakangnya. Bibit, bebet, dan bobotnya. Dan dari apa yang kami dengar, dia tidak memiliki satu pun dari ketiganya yang sesuai untuk keluarga ini.”
Bima menelan ludah. Ia tahu persis apa yang dimaksud ayahnya. Meira bukan putri seorang priyayi, bukan berasal dari keluarga terpandang di Solo atau Yogyakarta. Ia adalah produk dari kerasnya Jakarta, seorang perempuan mandiri yang berjuang meniti karier sebagai penulis, tinggal di apartemen sempit, dan berbicara dengan terus terang yang bagi telinga ayahnya pasti terdengar kasar.
“Rama, Meira adalah orang yang baik. Dia cerdas, berbakat—”
“Bakat tidak bisa membeli kehormatan, Nakmas,” sela Suryo lagi, kali ini lebih tajam. “Keluarga kita telah menjaga nama baik Suryokusuman selama tujuh turunan. Pernikahan adalah penyatuan dua keluarga, bukan sekadar pelampiasan perasaan sesaat dua anak manusia. Ini tentang aliansi, tentang menjaga martabat. Kamu tahu itu.”
Tentu saja Bima tahu. Sejak kecil, doktrin itu telah diukirkan ke dalam benaknya. Ia adalah putra kedua, yang diharapkan akan memperkuat jaringan keluarga melalui pernikahan strategis, sama seperti kakaknya, Danuadji, yang telah menikahi putri seorang pengusaha batik ternama.
“Rama sudah memilihkan calon untukmu,” lanjut Suryo, seolah Bima belum cukup terpukul. “Raraswati, putri bungsu keluarga Prawirodiningrat. Kamu kenal dia. Cantik, santun, lulusan luar negeri, dan yang terpenting, keluarganya sepadan dengan kita.”
Bima memejamkan mata sejenak. Raraswati. Ia mengingat gadis itu sebagai bayangan samar di berbagai acara keluarga; seorang gadis pendiam dengan senyum yang selalu tampak dipaksakan. Membayangkan hidup bersamanya terasa seperti membayangkan lukisan indah namun tak bernyawa. Hampa. Berbeda sekali dengan Meira, yang hidupnya penuh warna-warni tajam, kadang menyilaukan, kadang gelap, tapi selalu nyata.
“Aku tidak bisa, Rama,” bisik Bima, kepalanya tertunduk.
Keheningan yang menyusul terasa lebih menekan dari sebelumnya. Bima bisa merasakan tatapan kecewa ibunya membakar punggungnya.
“Apa maksudmu tidak bisa?” Suara Suryo kini tak lagi dingin, melainkan membara oleh amarah yang tertahan. “Kamu adalah seorang Suryokusuman. Kamu punya tanggung jawab.”
“Tanggung jawabku juga pada kebahagiaanku sendiri, Rama.” Bima mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap mata ayahnya. “Dan kebahagiaanku ada pada Meira.”
Suryo tertawa, sebuah tawa serak yang kering dan tanpa humor. “Kebahagiaan? Anak muda sepertimu mengira kebahagiaan itu datang dari debaran jantung sesaat. Kebahagiaan sejati, Bima, datang dari rasa hormat, dari kedudukan, dari stabilitas. Sesuatu yang perempuan itu tidak akan pernah bisa berikan padamu.”
Ayahnya kemudian berdiri, berjalan mondar-mandir di depannya seperti seekor macan yang mengukur wilayah kekuasaannya.
“Maka dari itu, Rama akan memberimu pilihan. Pilihan yang sangat sederhana.” Suryo berhenti tepat di depan Bima, bayangannya menelan putranya dalam kegelapan. “Tinggalkan perempuan itu. Lupakan dia. Bertunanganlah dengan Raraswati bulan depan. Maka, posisimu sebagai direktur pengembangan di perusahaan keluarga akan menantimu. Semua fasilitas, rumah, mobil, dan nama baik keluarga ini akan tetap menjadi milikmu.”
Bima menahan napas, menunggu bagian kedua dari ultimatum itu.
“Atau,” lanjut Suryo, suaranya turun menjadi bisikan yang mematikan, “pilih dia. Tapi jika kamu memilihnya, maka detik itu juga, kamu bukan lagi putraku. Kamu keluar dari rumah ini tanpa membawa apa pun kecuali pakaian yang melekat di badanmu. Tidak ada warisan, tidak ada pekerjaan, tidak ada nama Suryokusuman di belakang namamu. Kamu akan menjadi orang biasa, berjuang di Jakarta bersamanya. Lihat berapa lama ‘kebahagiaan’ versimu itu akan bertahan.”
Dunia Bima seakan terbelah menjadi dua. Di satu sisi, ada kehidupan yang ia kenal: nyaman, terjamin, penuh privilese, namun terasa seperti sangkar emas yang indah. Di sisi lain, ada sebuah dunia yang belum pasti, penuh tantangan, namun di sana ada Meira, ada kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri, ada kesempatan untuk merasakan cinta yang tulus.
“Rama memberimu waktu sampai besok pagi untuk berpikir,” pungkas Suryo, sebelum berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Ibunya mendekat, tangannya yang gemetar menyentuh bahu Bima. “Pikirlah baik-baik, Ngger,” bisiknya lirih, air mata menggenang di pelupuk matanya. “Ibu hanya ingin kamu bahagia, tapi… jangan hancurkan keluargamu sendiri.”
Lalu ia pun pergi, meninggalkan Bima sendirian di tengah pendopo yang luas dan dingin, bergulat dengan pilihan yang akan menentukan seluruh sisa hidupnya.
Malam itu, Bima tidak bisa tidur. Ia berbaring di ranjangnya yang luas dengan kanopi ukiran, menatap langit-langit kayu yang tinggi. Pikirannya berlari liar. Ia membayangkan wajah ayahnya yang keras, lalu wajah ibunya yang berurai air mata. Ia memikirkan semua yang akan ia korbankan: kenyamanan, keamanan finansial, rasa hormat dari masyarakat, dan yang paling menyakitkan, keluarganya.
Apakah ia egois? Apakah Meira sepadan dengan semua pengorbanan ini?
Lalu, tanpa sadar, tangannya meraih ponsel di nakas. Ia membuka galeri, menatap sebuah foto yang ia ambil diam-diam beberapa minggu lalu. Foto Meira yang sedang tertawa lepas di sebuah kedai kopi sederhana di bilangan Jakarta Selatan, matanya berbinar saat menceritakan ide novel terbarunya. Cahaya senja menerpa wajahnya, membuatnya tampak bersinar.
Dalam tawa itu, Bima tidak melihat ‘perempuan Jakarta’ yang dicap rendah oleh ayahnya. Ia melihat seorang pejuang. Seorang seniman. Seseorang yang melihat dunia dengan cara yang unik, sinis di permukaan namun penuh harapan di dalamnya. Ia adalah perempuan yang menantangnya, membuatnya berpikir, dan yang terpenting, membuatnya merasa hidup. Bukan sekadar bernapas, tapi benar-benar hidup.
Ia teringat percakapan mereka di gerbong tiga kereta Argo Lawu, saat tumbler itu pertama kali mempertemukan mereka. Meira, dengan segala kesinisannya, menyimpan duka yang dalam atas kehilangan ibunya, yang terwujud dalam sebuah tumbler sederhana. Bima, dengan segala privilesenya, menyimpan kekosongan yang dalam, terwujud dalam ketaatannya pada tradisi yang membelenggu. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling mengisi kekosongan satu sama lain.
Dengan tangan gemetar, Bima menekan nomor Meira. Sudah lewat tengah malam, tapi ia butuh mendengar suaranya. Sekali saja.
Dering ketiga, suara serak khas orang baru bangun tidur terdengar. “Bim? Ada apa?”
“Mei… maaf ganggu malam-malam.”
“Nggak apa-apa. Kenapa? Suara kamu aneh. Kamu lagi di Solo, kan? Ada masalah?” tanya Meira, nada khawatirnya langsung menyapu sisa-sisa kantuknya.
Bima terdiam sejenak, mencari kata yang tepat. Ia tidak mungkin menceritakan ultimatum ayahnya. Itu akan membebani Meira, membuatnya merasa bersalah.
“Aku cuma… kangen,” ucap Bima akhirnya, sebuah kejujuran sederhana yang terasa begitu berat.
Di seberang telepon, Meira terdiam. Lalu terdengar helaan napas lembut. “Aku juga.”
Hanya dua kata itu, namun cukup untuk menguatkan hati Bima yang goyah.
“Mei,” panggil Bima lagi, suaranya bergetar. “Kalau seandainya… seandainya aku bukan siapa-siapa, nggak punya apa-apa… apa kamu masih mau sama aku?”
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya, sebuah tes ketakutan terbesarnya.
Meira tertawa kecil, tawa yang sama seperti di foto itu. “Bima, emangnya sekarang kamu siapa? Bagiku, kamu itu cuma cowok aneh yang nemuin tumblerku di kereta, yang ternyata jago bikin nasi goreng, dan suka ngirim kutipan-kutipan puitis yang kadang norak. Aku nggak peduli kamu anak siapa atau punya apa.”
Ada jeda sejenak, lalu suara Meira melembut. “Yang aku peduli itu kamu, Bim. Cuma kamu.”
Dan di sanalah jawabannya. Jelas. Terang benderang.
Cinta Meira tidak bersyarat. Ia tidak mencintai nama Suryokusuman, tidak menginginkan harta keluarganya. Ia mencintai Bima, si pria canggung yang ia temui di gerbong tiga. Dan Bima, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, menyadari bahwa cinta seperti itulah satu-satunya hal yang benar-benar berharga. Semua yang lain—kemewahan, kedudukan—hanyalah hiasan.
“Terima kasih, Mei,” bisik Bima, matanya terasa panas. “Aku harus pergi sekarang. Nanti aku telepon lagi.”
“Oke. Hati-hati ya, Bim.”
Bima menutup telepon. Keputusan telah dibuat. Bukan di hadapan ayahnya, bukan di bawah tekanan ultimatum, tapi di tengah keheningan malam, dikuatkan oleh suara serak seorang perempuan di Jakarta yang melihatnya apa adanya.
Pagi menjelang, saat embun masih membasahi dedaunan di taman. Bima telah berkemas. Tidak banyak yang ia bawa. Hanya sebuah tas ransel berisi beberapa helai pakaian, laptop, dan beberapa buku. Ia sengaja meninggalkan semua barang mewah pemberian keluarganya. Jam tangan mahal, setelan jas bermerek, semua ia tinggalkan di lemari.
Ia berjalan menyusuri lorong-lorong rumah yang telah menjadi saksi bisu hidupnya. Ia berhenti sejenak di depan ruang kerja ayahnya. Pintunya sedikit terbuka. Di dalam, Bima melihat ayahnya duduk tepekur di depan meja kerjanya, menatap sebuah foto keluarga lama. Untuk sesaat, Bima melihat bukan seorang tiran yang angkuh, melainkan seorang ayah yang ketakutan—takut kehilangan putranya, takut tradisi yang ia junjung tinggi akan runtuh. Ada secuil rasa iba di hati Bima, namun itu tak cukup untuk mengubah keputusannya.
Ia tidak mengetuk. Tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Jawabannya akan terlihat dari tindakannya.
Langkah terakhirnya adalah menuju kamar ibunya. Ia mendorong pintu pelan. Ibunya sedang salat Subuh. Bima menunggu dalam diam sampai ibunya selesai. Ketika Larasati berbalik dan melihat putranya berdiri di ambang pintu dengan tas ransel di punggung, wajahnya langsung memucat. Ia tahu pilihan apa yang telah dibuat Bima.
Tanpa berkata-kata, Larasati bangkit dan memeluk putranya erat. Pelukan yang sarat akan cinta, kesedihan, dan perpisahan.
“Jaga dirimu baik-baik, Le,” bisiknya di telinga Bima, suaranya pecah oleh isak tangis. “Ibu akan selalu mendoakanmu.”
Di tangannya, Larasati menyelipkan sesuatu ke dalam saku kemeja Bima. Beberapa lembar uang yang digulung rapat. Itu tidak banyak, tapi itu adalah semua yang bisa ia berikan tanpa sepengetahuan suaminya. Sebuah restu yang tersembunyi.
“Terima kasih, Bu,” balas Bima, menahan air matanya sendiri. Ia mencium tangan ibunya untuk terakhir kali, lalu berbalik sebelum pertahanannya runtuh.
Ia berjalan keluar dari Ndalem Suryokusuman, melewati gerbang ukiran megah itu untuk terakhir kalinya sebagai seorang pangeran. Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur Solo, Bima melangkah menuju jalan raya. Ia tidak menoleh ke belakang.
Di tangannya, ia menggenggam ponselnya. Ia membuka kontak Meira, jarinya melayang di atas tombol panggil. Ia belum meneleponnya. Ia ingin tiba di Jakarta dulu, menemuinya secara langsung, sebagai Bima yang baru. Bima yang tidak memiliki apa-apa selain hati yang telah memilih, dan sebuah masa depan yang sama sekali belum pasti.
Langkahnya terasa ringan sekaligus berat. Ia telah melepaskan satu dunia demi kesempatan di dunia yang lain. Sebuah gema dari gerbong tiga telah membawanya pada persimpangan terbesar dalam hidupnya, dan kini, ia telah memilih jalannya. Jalan yang akan membawanya kembali pada Meira, kembali pada dirinya sendiri.