Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, satu jam lagi sudah pergantian antara matahari dengan bulan. Langit terlihat berwarna kekuning merah dengan awan-awan putih melaju ke arah barat, mengantarkan matahari pulang ke tempatnya untuk beristirahat, Beberapa orang sibuk membereskan tempat aktivitasnya masing-masing, karena aturan kota Dongfang ketika malam tiba tidak boleh ada yang keluar dari rumahnya masing-masing.
Shui Hu meminta Fang An dan Gong Zhong agar menginap di kediamannya selama satu malam. Fang An berterima kasih dengan halus, dirinya tak bisa meninggalkan kampung halaman begitu saja. Sebuah senyuman terukir di wajah Shui Hu, tangan kanannya meraih benda lunak yang mudah terbakar dari dalam pakaiannya, lalu memberikannya pada Fang An.
"Apa ini?" Tanya Fang An sembari menerima sepucuk surat dari Shui Hu.
Shui Hu tak menjawab apa pun, hanya menyuruhnya untuk membaca isi suratnya. Fang An membuka suratnya dengan pelan, matanya fokus pada tulisan yang ada di dalam surat, kedua bibirnya sibuk membacanya dengan suara pelan. Gong Zhong mengintipnya dari belakang.
Nak, tinggallah semalam di kediaman Shui Hu sebagai bentuk balas budinya pada kita. Dan bangun hubungan lebih dalam dengannya secara pelan-pelan.
Fang An buru-buru meremas kertasnya, dan memasukan ke dalam tubuhnya setelah selesai membacanya. Gong Zhong yang mengintip isi suratnya berusaha menahan tawanya.
Fang An meminta Shui Hu untuk menunjukkan jalan menuju tempat istirahatnya. Shui Hu awalnya ingin mengantar Fang An, tetapi Ming Lan sudah menunggu di kamarnya, sehingga ia hanya menyuruh pelayan pribadinya, Mei-Yin, agar mengantar Fang An dan Gong Zhong ke paviliun di halaman utara. Sedangkan Shui Hu berjalan menuju halaman selatan, karena di sanalah kediaman pribadinya.
...
"Eh, Shui Hu, itu siapa nama pria tampan yang datang pada waktu kita lagi makan?" Ming Lan sedikit penasaran dengan laki-laki tersebut.
Shui Hu menjawab dengan spontan, "Oh, dia? Dia Le Yu He, teman masa kecilku." Kedua matanya melirik ke arah Ming Lan yang sedang berpikir. "Kenapa memangnya? Kau menyukaikah?" sambungnya bertanya.
Ming Lan menggelengkan wajahnya dengan datar. "Tidak. Aku hanya merasa tidak cocok dengannya saja."
"Coba kau ceritakan, Ming Lan." Shui Hu penasaran ada apa sebenarnya Ming Lan terhadap Le Yu He. Ia pun mengambil posisi duduk berdampingannya.
"Dia memang tampan, aku akui, tetapi masih tampan Fang An, sih." Sebuah tawa kecil keluar dari kedua bibirnya.
Shui Hu menyuruh Ming Lan agar serius. "Sudah jangan bercanda."
Ming Lan berhenti tertawa, lalu melanjutkan perkataannya, "Aku hanya merasa dibandingkan dengan Fang A, dia siapa namanya?"
"Le Yu He."
"Ah, iya, Le Yu He. Aku merasa kalau dia seperti menyimpan energi negatif."
Shui Hu sedikit tidak paham apa yang dimaksud oleh Ming Lan.
Ming Lan berpikir sebentar, mencari kata-kata yang mudah dipahami oleh Shui Hu. "Lebih tepatnya dia itu terlihat lembut di luar, tetapi keras di dalam, kebalikan dari Fang An. Dalam tubuhnya terasa dikelilingi oleh hawa negatif dan hatinya terlihat seperti menyembunyikan sesuatu dari kita."
Namun, Shui Hu tetap berpikir tidak ada yang aneh dengan teman masa kecilnya itu. "Menurutku Kak Yu He, tetaplah Kak Yu He yang aku kenal. Begitu juga dengan Fang An."
Ming Lan hanya mendengus kesal saat mendengar ucapan Shui Hu. Dirinya menyerah untuk menjelaskan kembali padanya. "Sudahlah ayo kita tidur saja," ucapnya mengajak Shui Hu ke alam mimpi.
Shui Hu hanya menganggukkan kepalanya.
Tak menunggu lama, setelah mengambil tempat tidurnya masing-masing. Keduanya perlahan terlelap ke dalam mimpi indah.
...
Ditengah malam gelap gulita, tak ada satu pun orang yang berkeliaran di kota Dongfang kecuali dua orang, Gong Sun dan Gong Shi. Keduanya sedari tadi menunggu Fang An dan Gong Zhong di gerbang kota untuk pulang, tetapi setelah menunggu hingga malam keduanya tak menunjukkan batang hidungnya masing-masing.
Tak bisa menunggu lagi, Gong Sun mengajak Gong Shi untuk pergi ke kediaman Shui Hu. "Mungkin mereka lupa pulang."
"Atau bisa jadi, keduanya mabuk di sana. Sehingga harus menginap satu malam di kediaman Shui Hu."
Keduanya bergegas menuju kediaman Shui Hu dengan cepat. Mereka mengikuti petunjuk jalan yang diberikan oleh Shui Hu dalam secarcik kertas. Rasa terkejut dan penasaran tak bisa mereka hindari, sepanjang jalan tak ada satu pun orang yang berkeliaran atau sekedar aktivitas. Rasanya sepi bak ditengah kuburan. Hanya suara hembusan angin yang menemani perjalanan keduanya.
Dalam waktu sepuluh menit, keduanya tiba di depan kediaman Shui Hu. Namun, tiba-tiba terdengar suara gelindingan roda kereta. Gong Sun menyuruh Gong Shi untuk berpencar dan bersembunyi. Alasannya berpencar, agar bisa melihat situasi dari segala arah.
Sebuah kereta mewah dengan penuh hiasan bercorak naga, serta ditarik oleh empat kuda melintas di jalan menuju kediaman Keluarga Li, lalu berhenti tepat di depan pintu kediaman Keluarga Li.
Kereta istana kerajaa? tapi sepertinya itu bukan kereta dari istana Kerajaan Zhou, Gong Sun terus memperhatikan detail yang ada pada kereta tersebut.
Kenapa ada kereta kerajaan di sini? Apa jangan-jangan Shui Hu ..., Ah rasanya tidak mungkin, tapi ini ..., Gong Shi bergelut dengan pikirannya. Memikirkan berbagai banyak hal, banyak kemungkinan yang terjadi.
Seorang pemuda tampan keluar dari kediaman Keluarga Li dengan berjalan gagah. Seorang pelayan memberikan hormat dengan berlutut, layaknya menyambut kedatangan sang raja.
Sebelum menaiki keretanya, sang pemuda mengucapkan satu kalimat pada sang pelayan dengan berbisik, "Jalankan sesuai rencana!"
Sang pelayan menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian, kereta berjalan dengan ditarik oleh empat kuda diikuti beberapa orang pengawal dari belakang. Sedangkan sang pelayan, memasuki kediaman Keluarga Li.
Sinyal bahaya terlintas dalam pikiran Gong Sun dan Gong Shi. Keduanya saling memberikan kode lewat tatapan mata. Gong Sun memberikan intruksi untuk bergerak secara terpisah dan bersembunyi. Gong Shi menganggukkan kepalanya. Tak menunggu lama-lama, keduanya langsung bergerak.
Gong Sun memasuki kediaman Keluargi Li lewat tembok di halaman utara, sedangkan Gong Shi lewat tembok halaman selatan.
Gong Sun berusaha mencari tempat istirahat ketuanya, Fang An. Begitu juga dengan Gong Shi. Dengan bergerak secara terpisah, maka untuk menemukan sang ketua hanyalah masalah waktu.
Gong Sun terus menyusuri setiap kamar yang ada di halaman utara, hingga menemukan kamar istirahat sang ketua.
Gong Shi terkejut saat melihat pelayan yang di depan pintu kediaman Kelurga Li berjalan menuju salah satu kamar. Mau tak mau, dirinya harus mengikutinya dari belakang.
Sang pelayan mengetuk sebuah kamar yang sudah dalam keadaan gelap. Tak ada satu pun orang yang merespon dari dalam kamar. Dirinya melirik ke kanan kiri, memastikan keadaan sudah terasa aman. Dia mengeluarkan sebuah benda kecil dari dalam pakaiannya, lalu menusukkannya ke dalam kertas yang menjadi dinding kamar, kedua bibirnya meniup benda kecil berbentuk bulat tersebut. Sebuah asap keluar dari benda mungil ini.
Sang pelayan kembali melirik ke kanan-kiri memastikan keadaan benar-benar aman. Dia berpura-pura jalan bolak-balik di depan kamar tersebut.
Apa yang sedang dia lakukan? Dan siapa yang berada di dalam kamar tersebut, Gong Shi terus memperhatika gerak-gerik aneh sang pelayan.
Tiba-tiba lima orang berpakaian pelayan datang bersama-sama. Kelimanya mendapatkan perintah masuk ke dalam kamar yang sudah dipenuhi oleh asap.
Tak bisa menunggu lama lagi, Gong Shi segera mengambil tindakan, tetapi seseorang menarik tangan kanannya.
"Jangan bergerak!”