Ditengah malah yang dingin, hening, dan sunyi, dua orang wanita terlelap ke dalam mimpi. Keduanya menikmati dua mimpi berbeda, tetapi bertemu dengan satu pria yang sama. Pertemuannya dengan seorang pria tampan yang disukai di dalam mimpi, membuatnya tidak ingin terbangun ke dunia nyata. Sedangkan satu lagi, asyik bermain panah sambil menunggai kuda, keduanya berlomba siapa yang dapat memanah burung berbentuk love di langit.
Ditengah nikmatnya mimpi yang sedang terjadi, seseorang mengetuk pintu kamar, membuat mimpinya sedikit terganggu. Tak ingin mimpinya terganggu, dirinya terpaksu terbangun ke alam dunia nyata.
Ming Lan mengeluh karena seseorang sudah mengganggu mimpinya. Padahal di dalam kamar Shui Hu sudah tidak ada cahaya lagi, yang menandakan penghuninya sudah terlelap dengan ranjangnya yang empuk. Dalam gelapnya ruangan, Ming Lan yang masih setengah sadar, terpaksa berjalan menuju pintu kamar, untuk menemui orang yang mengetuk pintu.
Suara ketukan pintu kesekian kalinya kembali terdengar oleh kedua telinga Ming Lan. Ming Lan buru-buru memakai pakaiannya terlebih dahulu. “Ya, ya, sebentar. Siapa sih malam-malam bukannya tidur, malah datang ke kamar orang.” Suara lembut menyahut dengan nada sedikit tinggi.
Dengan masih menyimpan rasa kantuk, Ming Lan membuka pintunya pelan-pelan sembari bertanya, “Ya, ya, siapa sih i-.” Tiba-tiba dirinya tak sadarkan diri tepat di depan pintu.
Seorang pria berpakain pelayan segera menangkap Ming Lan, lalu seorang pelayan menyusul untuk memapah Ming Lan dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Berhenti kalian!” Teriak Gong Zhong sembari berlari, disusul Fang An dan dua saudara Gong lainnya.
Seorang pelayan yang merupakan pemimpin, melemparkan sebuah benda bulat hitam ke arah Fang An. Bola hitam tersebut meledak ketika mengenai tanah, lalu mengeluarkan asap tebal.
Seketika rasa kantuk merasuki tubuh Gong Zhong. Fang An yang menyadarinya, menyuruh Gong Sun dan Gong Shi untuk segera menutup mulut, tetapi sayangnya terlambat. Sekarang tersisa hanya Fang An sendirian yang masih setengah sadar, kedua kakinya berusaha melangkah untuk mengejar penculik Ming Lan.
Namun, seseorang dari belakang berhasil memukul pundak Fang An, hingga membuatnya tak sadarkan diri sampai fajar terbit.
…
Perlahan matahari terbit ke atas untuk menggantikan tugas bulan, yang sudah memberikan cahayanya di malam hari. Cahaya sinarnya satu demi satu mulai memasuki kediaman-kediaman di kota Dongfang lewat jendela rumahnya masing-masing. Ayam berlomba-lomba mengeluarkan suara merdunya untuk membangunkan manusia. Sedangkan bunga, berlomba-lomba untuk bermekar agar bisa menyerap sinar matahari lebih dahulu.
Empat orang laki-laki terlelap dalam tidur di halaman rumahnya, membuat Shui Hu menggelengkan kepalanya. Pertama dia membangunkan Fang An dengan menampar pipinya beberapa kali, hingga membuka kedua matanya, lalu berganti membangunkan tiga saudara Gong bergantian.
Satu persatu bangun untuk mengumpulkan nyawanya masing-masing. Gong Zhong teringat dengan kejadian semalam, ia buru-buru bertanya keberadaan Ming Lan pada Shui Hu.
Shui Hu hanya menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, “Dia tidak ada kamar. Kemarin malam, dia bilang ingin bangun pagi-pagi untuk membeli bahan obat-obatan.”
Fang An dengan nada datar bertanya, “Kau tidak tahu kejadian semalam?”
Shui Hu kembali menggelengkan kepalannya, dan bertanya balik, “Memangnya semalam ada apa?”
“Ming Lan diculik orang.” Gong Shi menjawab dengan keadaan setengah sadar.
Shui Hu syok saat mendengarnya.
Gong Sun yang sudah sepenuhnya mengumpulkan roh-rohnya, bantu menjelaskan. “Semalam kita ingin menyelamatkannya, tapi sayang kita terlalu meremehkan musuh,” ucapnya.
“Pantas saja kalian tidur di halaman. Aku kira kalian terbiasa tidur tanpa ranjang.”
Fang An menggelengkan kepalanya. “Memangnya kau tidak mendengar suara teriakan Gong Zhong?”
Shui Hu mencoba mengingat kejadian semalam, suara teriakan Gong Zhong? Aku hanya ingat semalam bertemu Fang An di sebuah hutan yang penuh bunga, tangan kanannya buru-buru menutup mulutnya, takut keceplosan mengatakan sesuatu yang tidak perlu dikatakan pada Fang An.
Fang An berdecak kesal, lalu berdiri dan melangkah menuju kamar Shui Hu. Kedua matanya melirik ke sana-sini melihat keadaan kamar Shui Hu. Tak ada barang mewah, hanya ada beberapa koleksi pedang dan pakaian sederhana. Dan sebuah ranjang yang berantakan, serta sebuah pakaian dalam yang tergeletak di lantai. Shui Hu buru-buru mengambilnya dengan cepat, lalu melemparnya ke dalam lemar.
Fang An pura-pura tidak melihat apa pun, lalu pura-pura batuk untuk mengalihkan perhatiannya. Hidungnya yang sensitif merasakan sisa-sisa asap pengikat jiwa. “Pantas saja kau tak mendengarnya, ternyata mereka datang dengan persiapan.”
Shui Hu kembali memperlihatkan wajah seriusnya. “Ada apa memangnya.”
“Kalian tak menyadarinya?”
Shui Hu, Gong Shi, dan Gong Zhong kompak menggelengkan kepalanya masing-masing.
“Asap pengikat jiwaa. Membuat kita terlena dalam mimpi dan menikmati mimpi-mimpi indah.” Sebuah suara serak terdengar dari balik pintu menjawab pertanyaan Fang An. Gong Sun memberikan sebuah benda mungil bulat panjang pada sang ketua.
Fang An memuji Gong Sun, karena hanya dia yang bisa dia andalkan dalam hal menginvestigasi tempat perkara.
“Pantas saja, aku menikmati mimpi indah untuk pertama kalinya,” celetuk Shui Hu memperkuat jawaban Gong Sun.
“Kau mimpi apa semalam, Shui Hu?” Tanya Fang An dengan nada datar.
Shui Hu hanya tersenyum, dan menyuruh Fang An agar lebih baik tidak mengetahuinya. “Kalau begitu apa yang harus kiita lakukan?” Ucapnya bertanya balik agar tidak mengalihkan topik.
Fang An meminta Gong Shi dan Gong Sun untuk menceritakan kejadian semalam dengan detail. Gong Sun menceritakan semuanya dari awal gerbang kota Dongfang hingga bertemu dengan Fang An. Gong Shi hanya terdiam membisu, karena setiap kali akan berbicara Gong Sun selalu memotong ucapannya.
Fang An mendeskripsikan pria yang dilihat oleh Gong Sun dan Gong Shi, dengan pria yang pernah makan bersama pada waktu sore hari di halaman timur kediaman Keluarga Li.
Gong Sun dan Gong Shi kompak mengiyakan deskripsi sang ketua. Semuanya sama persis.
“Bukannya itu Le Yu He, teman masa kecilku,” ucap Shui Hu seusai mendengar pria yang dideskripsikan oleh Fang An. “Seingatku dia tidak pernah menaiki kereta mewah, apalagi kereta dari istana. Dan dirumahnya pun tak ada tanda-tanda mewah, dia hanya fokus memimpin pasukannya di Kota Dongfang.” sambungnya mencoba menjelaskan, berharap kalau ini hanya salah paham.
“Kami memang melihat kereta istana kerajaan, tetapi sepertinya itu bukan kereta dari istana Kerajaan Zhou,” ucap Gong Sun saat mengingat kembali keretanya.
Fang An meminta Gong Sun untuk menggambarkan keretanya.
Gong Sun langsung menggambarkan keretanya sesuai ingatannya di atas tanah. Bahkan gambar keretanya hampir sangat mirip. Gong Shi dan Gong Zhong sama sekali tidak mengetahui, kalau Gong Sun mempunyai banyak kelebihan. Bahkan Shui Hu sempat memintanya untuk menggambarkan dirinya suatu hari nanti, tetapi Fang An mencegahnya, karena Gong Sun hanya menggambar untuk situasi khusus saja.
“Bukannya ini kereta dari istana Kerajaan Chen.”