Fang An, Shui Hu, dan dua saudara Gong terkejut dengan ucapan Gong Sun, yang mengatakan kalau itu kereta istana Kerajaan Chen. Bagaimana bisa sebuah kereta asing memasuki kerajaan ini dengan begitu mudah. Padahal dalam Kerajaan Zhou, jelas aturannya kalau kerajaan lain ingin berkunjung tidak boleh membawa kereta sendiri masuk ke wilayah mereka.
Fang An melirik ke arah Shui Hu, lalu bertanya, “Kau tidak apa-apa?” Ia tahu, Shui Hu pasti syok jika mengetahui sesuatu yang seharusnya ia tidak perlu tahu. Namun, bagaimanapun di kehidupan ini akan selalu ada kebohongan dan kejujuran.
Kali ini Shui Hu berusaha bersikap setenang mungkin, tidak terpengaruh oleh sesuatu yang mengejutkan pagi ini. Hal yang paling penting sekarang adalah menemukan Ming Lan. “Kita harus menemukan Ming Lan secepatnya!” Suara tegas keluar dari mulut Shui Hu sembari berdiri.
Tiga saudara Gong kompak menganggukkan kepalanya. Mereka siap membantu Shui Hu mencari keberadaan Ming Lan. Akan tetapi, Fang An menyela semangat mereka dalam mencari Ming Lan.
“Memangnya kenapa dengan Ming Lan? Apakah dia orang penting?” tanyanya dengan santai.
Pertanyaan sepele, tetapi menusuk dengan dalam ke dalam hatinya Shui Hu.
“Nanti aku kasih tahu semuanya. Sekarang semuanya harus menemukan Ming Lan terlebih dahulu,” ujar Shui Hu sembari bergegas menuju halaman timur.
Namun, Fang An mencegah langkah Shui Hu, memintanya memberikan mereka alasan, kenapa harus menemukan Ming Lan. Shui Hu menggelengkan kepalanya, bukannya tidak mau menjawab, tetapi dia berjanji pada Ming Lan untuk tidak membocorkan rahasianya.
“Keadaan sudah seperti ini? Kau yakin tidak ingin memberitahu kami? Kau yakin ingin mencarinya sendirian?” Fang An terus menekan Shui Hu agar menjawab pertanyaannya. Kedua kakinya terus melangkah ke arah Shui Hu, membuatnya terpaksa melangkah mundur, hingga mencapai dinding kamarnya.
“Kau yakinn tidak ingin menjawabnya, Shui Hu?” Sekali lagi Fang An menekan Shui Hu agar menjawab pertanyaannya.
Gong Zhong dan Gong Shi ingin menahan Fang An agar tidak memaksa Shui Hu untuk menjawab pertanyaannya, tetapi Shui Hu mencegah keduanya, meminta mereka agar tidak ikut campur.
“Itu urusan ketua kita. Kau tahu sendiri bagaimana sifat ketua selama ini,” ucapnya dengan nada rendah.
Shui Hu menelan ludahnya ketika batang hidungnya sedikit bersentuhan dengan hidungnya Fang An. Bola mata indah dengan warna kecoklatan menatap keduanya dari jarak satu senti, membuat detak jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Fang An kembali menekan Shui Hu dengan pertanyaan yang sama.
Akhirnya pertahanan Shui Hu runtuh, dia akan menjawab pertanyaannya, tetapi meminta mengabulkannya satu syarat. Fang An menyetujui satu syarat yang diajukan oleh Shui Hu.
“Kalau begitu apa syaratnya?”
Dalam sekejap, dalam hitungan detik, secara tiba-tiba dua bibir Shui Hu mendarat di atas kulit wajahnya Fang An. Fang An terkejut hingga mendorong Shui Hu ke belakang. Beruntung Shui Hu bisa menahan dorongan Fang An, sehingga tak membuat tubuhnya terjatuh ke tanah.
Kompak ketiga saudara Gong menutup matanya masing-masing, dan kompak memutar tubuh membelakangi Shui Hu dan Fang an.
“Kau gila, ya!” sebuah ucapan kasar keluar dari mulutt Fang An yang masih terkejut.
Shui Hu hanya menyengir kuda, memutar tubuhnya, melangkah menuruni tangga kamar, lalu pergi ke arah halaman timur. “Jangan lupa datang ke halaman timur untuk makan terlebih dahulu.” Ia mengingatkannya sembari melambaikan tangannya.
Pada akhirnya Fang An tak mendapatkan jawaban yang diinginkan, malah sesuatu mengejutkan tak terduga yang dirinya dapatkan.
…
Sedikit demi sedikt matahari perlahan mulai naik menuju puncak, untuk mengeluarkan cahaya sinarnya lebih terang lagi. Langit berwarna biru dan awan berwarna putih bersatu membuat seni indah di atas manusia, untuk memperlihatkan betapa indah dan cerahnya hari ini di bumi.
Jiangxi, ayahnya Shui Hu sudah menunggu kedatangan putrinya di meja makan. Beberapa menit kemudian, Shui Hu datang menyapa ayahnya, disusul oleh Fang An bersama tiga bersaudara Gong beberapa menit kemudian, dan Yu He menyusul 15 menit kemudian. Setelah semuanya sudah berada di meja makan, Jiangxi memimpin doa sebelum makan.
Gong Shi dan Gong Sun diam-diam memperhatikan Yu He. Ya, itulah dia, dia yang semalam menaiki kereta istana Kerajaan Chen. Dan dia juga yang memasukan seorang pelayan yang memberikan asap pengikat jiwa pada kamar Ming Lan. Gong Sun memberikan sebuah kode pada Fang An. Fang An yang menerima kode hanya mengangguk pelan, lalu menyuruh ketiga saudara Gong untuk menahan diri.
“Oh, ya, Hu’er bukannya kemarin ada satu temanmu yang wanita itu?” Sebuah pertanyaan kejutan keluar dari kedua bibir Yu He.
Fang An berusaha tetap tenang dengan mengendalikan emosinya.
Shui Hu hanya tetap makan, sebisa mungkin tak menjawab pertanyaannya.
Jiangxi sebagai seorang ayah, meminta anaknya untuk menjawab pertanyaan Yu He.
Shui Hu tidak ingin menjawabnya. “Bukannya ayah pernah bilang, selama kita makan tidak boleh ada yang mengeluarkan suara, apalagi mengobrol.” Shui Hu berusaha mengalihkan pertanyaan Yu He dengan peraturan yang pernah dibuat oleh ayahnya sendiri.
Dam … rasanya seperti menampar diri sendiri. Jiangxi hanya tertawa kecil, membenarkan ucapan sang putrinya sendiri. Kemudian menyuruh semuanya untuk terus lanjut makan hingga kenyang.
Yu He yang tak mendapatkan jawaban Shui Hu, hanya tersenyum sinis. Kemudian dirinya mengambil telur rebus kesukaan Shui Hu yang sudah dikupas kulitnya. “Dulu saat kecil, kamu bukannya menyukai telur rebus ini, Shui Hu.”
Shui Hu yang menerima telur rebus berterima kasih, dan membalas sang kakak dengan sebuah senyuman tulus.
Cihh! Omong kosong banget, Gong Zhong ingin rasanya menumpahkan semangkuk sirup daging ayam pada kepalanya Yu He.
Merasa sudah waktunya bergerak, Fang An berpamitan pada ayahnya Jiangxi untuk pulang. “Kami takut sampainya terlalu malam, jika berangkatnya terlalu siang, Paman.”
Jiangxi hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Tak lupa dia mendoakan Fang dan teman-temannya selamat selama perjalanan pulang.
Tiga saudara Gong menyusul Fang An untuk berdiri, lalu bersama-sama memberikan hormat pada tuan rumah.
Shui Hu ikut berdiri, meminta izin pada ayahnya untuk mengantarkan Fang An dan teman-temannya sampai pintu gerbang kota. Tak lupa, dia meminta pelayan pribadinya untuk memberikan Ming Lan makan jika sudah bangun.
Saat mendengar nama Ming Lan, Yu He mengangkat alisnya. Hah? Memangnya dia benar-benar ada di kamarnya? Tak mungkin.
Jiangxi sebenarnya tidak ingiin anaknya kerepotan, tetapi melihat kebahagian yang terukir di wajahnya, dirinya terpaksa mengizinkan Shui Hu untuk mengantar Fan An dan teman-temannya.
Dalam beberapa langkah, Fang An, Shui Hu, dan tiga saudara Gong keluar dari kediaman keluarga Li. Fang An memberikan kode untuk bertindak sesuai situasi. Semuanya kompak menganggukkan kepalanya.
Fang An menyuruh Gong Shi dan Gong Sun untuk menyusuri setiap penginapan yang ada di kota Dongfang, sedangkan Gong Zhong diperintahkan untuk mengawasi kediaman Yu He. Dirinya dan Shui Hu akan mengawasi pergerakan Yu He dari luar kediaman Keluarga Li.