Dibawah bayang-bayang sinar matahari, setiap orang bekerja keras hanya untuk mencari sesuap nasi, walaupun keringat bercucuran sedikit demi sedikit, demi uang mereka akan melakukan segalanya. Semua ini mereka lakukan demi kebahagian keluarga keluarga kecil. Biarpun harus menjadi tulang punggung keluarga sendirian.
Namun, semua ini seakan tidak berarti bagi mereka yang terlahir dari keluarga kaya. Namun, terkadang kekayaan belum tentu membuat kita bahagia, begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh Le Yu He. Teman masa kecil Shui Hu ini sebenarnya terlahir dari keluarga kerajaan, tetapi sejak kecil dirinya tak pernah mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup.
Oleh sebab itulah, Le Yu He tumbuh besar di kampung halaman Shui Hu, kota Dongfang. Dirinya menyembunyikan identitas aslinya sebagai pangeran sulung Kerajaan Chen, dan menganggap sebagai putra dari seorang jenderal. Hal inilah, yang membuat dirinya bisa memimpin seribu prajurit dalam pasukan Gagak Putih milik Kerajaan Zhou.
Dengan wajah angkuh dan sombong, pria tampan setinggi 195 cm memakai zirah perang, berdiri dengan penuh wibawa dan bijaksana di depan seorang wanita yang sedang meronta-ronta, meminta untuk melepaskan tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya.
“Tenang saja, Nona Ming Lan. Kita akan bermain sebentar, Kok.” Sebuah suara agak serak tetapi memiliki nada dewasa, berusaha menenangkan Ming Lan, agar tidak meronta-ronta dan berteriak.
Ming Lan meludahi wajah tampan yang memiliki suara candu ini tanpa ragu-ragu. “Seandainya Shui Hu tahu seperti apa sifat aslinya, dia pasti akan kecewa dan membencimu!”
Yu He hanya tertawa kecil saat mendengar ocehan Ming Lan. Menggelengkan kepalanya, bertepuk tangan atas keberanian sang wanita yang sudah mengejeknya. Tangan kanannya dengan tulus menyentuh wajah mulus Ming Lan, mengusap-usap dengan pelan dan penuh perhatian, tetapi perhatian ini membuat Ming Lan merasa jijik dan membencinya.
Sebuah tamparan tiba-tiba merubah pipi mulus Ming Lan, menjadi bengkak serta dipenuhi dengan warna kemerahan. “Sudah ku bilang jangan menyebut namanya. Kau tak pantas menyebut nama Shui Hu.” Yu He mengancamnya agar tidak mengungkit Shui Hu lagi.
“Kau yang lebih tidak pantas. Dasar manusia hina!” Ming Lan tanpa takut, semakin menghina Yu He dengan kejam.
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Ming Lan, kali ini pipi sebelah kanan menjadi korbannya. Kedua mata Ming Lan perlahan mulai berkaca-kaca, berusaha menahan air matanya agar tidak keluar, walaupun dirinya harus menderita kesakitan yang luar biasa.
Seorang prajurit merangkak masuk ke dalam ruangan yang mengikat Ming Lan. Dia bersujud, lalu mencium kedua kaki Yu He. “Lapor, Komandan!”
Yu He menyuruh sang prajurit untuk bicara.
“Fang An bersama teman-temannya, sudah mulai mencari keberadaan Nona Ming Lan,” ucapnya sembari tetap bersujud di depan tubuh tinggi Yu He.
“Kau lihat?! Fang An pasti menemukan keberadaanmu, manusia hina!”
Walaupun begitu, Yu He tetap tak menghilangkan aura angkuh dan kesombongan dalam dirinya. Sikapnya tetap tenang dengan pikiran jernih penuh tipu muslihat. “Jalan sesuai rencana!”
Sang prajurit menjawab dengan tegas, “Siap, Komandan!” kemudian dia merangkak keluar meninggalkan ruangan gelap tanpa cahaya ini.
Yu He kembali menyentuh kedua pipi Ming Lan yang sudah bengkak. “Aku harap kau mau bekerja sama. Kalau tidak aku akan membocorkan identitas aslimu, putri kandung master pertama Sekte Bai Yang Jie.” Nada pelan tetapi penuh ancaman berhasil membuat Ming Lan menelan ludahnya sendiri.
Ming Lan terkejut, bagaimana seorang Yu He bisa mengetahui identitas aslinya. “Jadi, selama ini yang mengejarku adalah orang-orang suruhanmu?” Ming Lan bertanya karena penasaran serta mencurigainya.
Yu He mengiyakan pertanyaan Ming Lan. “Memang kenapa?”
“Jadi … kau yang membunuh i-.” ucapannya tiba-tiba terpotong ketika Yu He membuatnya pingsan hanya dengan menyerang dahinya menggunakan kekuatan miliknya.
“Cepat bawa dia ke sana!” Yu He memerintahkan tiga orang prajurit untuk membawa Ming Lan ke suatu tempat.
….
“Bagaimana kabar kalian di sana?” Fang An bertanya pada teman-temannya lewat telepati.
Gong Shi dan Gong Shun sedari tadi terus mengawasi kediaman Le Yu He, tidak ada hal aneh. Yu He beraktivitas seperti biasanya, memberikan makan kuda, menggunting bunga, dan memasak makanan untuk seluruh anggota kediaman, serta meninjau laporan-laporan militer. Tampaknya tidak ada yang aneh.
Sedangkan Gong Zhong terus menyusuri setiap penginapan. Hampir semua penginapan di kota Dongfang tak mengenali wajah Ming Lan. Bahkan mereka tidak tahu di kota ini ada wanita cantik selain putri kediaman Keluarga Li.
Fang An meminta Gong Shi dan Gong Sun untuk menyelinap ke dalam kediaman Keluarga Le. Dirinya merasa semakin tidak terlihat aneh, semakin besar sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Kemudian meminta Gong Zhong untuk mengawasi dari luar.
“Kalian berdua cari di setiap kamar atau ruangan. Ming Lan pasti tersembunyi di sana.”
Kompak Gong Shi dan Gong Sun menjawab , “Siap, Ketua!”
.…
Di dalam ruangan yang memiliki diameter 5x5 meter, seorang wanita terlentang dengan pakaian seadanya di atas ranjang dan besar. Ruangan sebesar ini hanya berisi lukisan-lukisan seorang wanita cantik dengan penuh aksesoris emas. Pakaiannya serba berwarna putih.
Dan seorang pria paruh baya tertidur di sampingnya. Tangan kanannya memeluk erat tubuh sang wanita. Menikmati setiap kecupan bibirnya pada tubuh sang wanita. Hatinya ingin sekali menjauh dari sang wanita, tetapi tubuh berkata lain. Seakan dirinya terpengaruh oleh obat atau dikendalikan oleh orang lain.
Sang wanita yang merasa geli, karena kecupan sang pria pada tubuhnya, terbangun dari mimpi indahnya. Tubuhnya terperangah hingga terjatuh dari ranjang. Beberapa helai kain menutupi beberapa bagian tubuhnya. Hatinya merasa sakit, sakit karena merasa dirinya seperti sudah menjadi wanita hina.
“Paman Fu apa yang kau lakukan?” Ming Lan bertanya dengan histeris. Bahkan kedua matanya berkaca-kaca hingga mengeluarkan air mata.
Paman Fu berusaha membuat dirinya tetap sadar, tetapi kedua tangannya tidak bisa berhenti bergerak. Hawa nafsunya semakin membesar ketika melihat tubuh halus Ming Lan. Kedua matanya tak bisa melepaskan tatapannya pada dua buah gunung yang terhalang oleh sedikit kain.
Tak ada cara lain, Ming Lan hanya bisa berteriak meminta tolong dengan kencang.
Shui Hu dan Fang An yang sedang berjalan di halaman barat kediaman Keluarga Li, tiba-tiba mendengar teriakan seorang wanita yang meminta tolong dari arah halaman selatan. Keduanya kompak bergerak ke arah sana.
Di halaman selatan tak ada ruangan apa pun, kecuali sebuah kamar tempat ayahnya Shui Hu bertapa dan melepas rindu pada sang istri tercinta.
Ketika sudah berada di depan kamar privasi ayahnya, tanpa ragu-ragu Shui Hu meloncat ke atas, Fang An mengerti maksud Shui Hu. Dia mengumpulkan seluruh energi spiritualnya ke dalam tangan kanannya, lalu melemparkan Shui Hu ke arah pintu kamar, hingga Shui Hu mendobrak pintu kamar hingga hancur menyisakan patahan kayu.
“MingLan?! Paman Fu?!” Shui Hu terkejut saat melihat siapa yang ada di dalam kamar ini.
Fang An tinggal dua langkah lagi untuk masuk ke dalam kamar, tetapi Shui Hu menyerangnya dengan gelombang serangan kejutan, membuatnya terpental hingga tersungkur ke tanah, lalu buru-buru menutup pintu kamar menggunakan lemari.
“Kau jangan masuk, Fang An!”