Sebuah pertanyaan dengan nada tinggi keluar mulut Fang An. “Shui Hu apa maksudnya aku tidak boleh masuk?”
Shui Hu menjawab dengan suara keras juga. “Pokoknya tunggu sebentar. Jangan masuk dulu!”
Shui Hu buru-buru menyuruh Ming Lan agar segera memakai pakaiannya. Ming Lan menganggukkan kepalanya, ia berdiri lalu mencari pakaian ke dalam sebuah lemari yang ada di ruangan ini. Walaupun tahu itu adalah lemari ibunya yang sudah meninggal, Shui Hu tak memperdulikannya, yang penting sekarang Ming Lan memakai pakaian layak terlebih dahulu.
Kemudian kedua mata Shui Hu melirik ke arah Paman Fu yang tergeletak di lantai. Bola matanya bergerak melihat keadaan tubuh Paman Fu, lalu bergerak melirik keadaan kamar privasi milik ayahnya. Kelihatannya tak ada yang istimewa, kecuali lukisan ibunya waktu masih muda. Sebenarnya ada apa dengan Paman Fu?, dirinya masih tak percaya kalau Paman Fu adalah orang sebejat ini.
Tak bisa masuk lewat pintu, Fang An terpaksa lewat udara, menerobos atap kamar privasi ayahnya Shui Hu. Kedua kakinya melangkah dengan cepat, lalu meloncat dan menerobos genteng kamar menggunakan tendangan kedua kakinya.
Seseorang masuk dari atas membuat Shui Hu terkejut. Refleks tangannya segera menutup kedua mata yang masuk lewat genteng. Ia tidak ingin seseorang melihat keadaan Ming Lan dalam keadaan setengah bugil.
Fang An merasa heran dengan tingkah Shui Hu hari ini, membuatnya bertanya-tanya. “Sebenarnya ada apa, Shui Hu?”
Shui Hu melihat ke arah Ming Lan. Ming Lan memberikan sebuah jempol sebagai tanda, dirinya sudah aman. Shui Hu buru-buru menyingkirkan tangannya yang menutupi penglihatan Fang An.
Fang An terkejut saat melihat isi kamar ini. Banyak sekali lukisan wanita cantik, tetapi setiap lukisan memiliki wajah yang sama, hanya pakaian dan tempatnya yang berbeda. “Siapa dia?” Sebuah pertanyaan keluar begitu saja dari mulutnya.
“Ibuku,” jawab Shui Hu tanpa ragu-ragu.
Fang An segera meminta maaf saat mendengar jawaban Shui Hu. Ia tahu kalau ibunya Shui Hu sudah lama meninggal. “Paman Fu? Mengapa dia di sini?” Ia bertanya pada Shui Hu.
Shui Hu mengangkat kedua bahunya sebagai respon pertanyaan Fang An, kemudian kepalanya melirik ke arah Ming Lan, lalu kedua bibirnya bertanya, “Kenapa dia bisa di sini? Apakah dia yang menculikmu semalam?”
Ming Lan hanya menggelengkan kepalanya saja, membuat Fang An dan Shui Hu tidak mengerti.
“Aku tidak tahu kenapa Paman Fu bisa di sini. Se-sebenarnya yang men-mencu-culikku bu-.” Tiba-tiba Ming Lan tak bisa melanjutkan ucapannya.
“Ayo cepat bilang, Ming Lan. Siapa yang menculikmu?”
“Ya. Jangan terbata-bata gitu. Cepat bilang, siapa yang menculikmu?” Shui Hu melangkah mendekati Ming Lan, lalu mengusap-usap punggungnya agar tetap tenang. “Tenang saja, kau tinggal bilang siapa yang menculikmu. Akan kami kasih pelajaran orangnya.”
“Sebenarnya yang menculiku bu-.” Lagi-lagi Ming Lan tidak bisa melanjutkan perkataannya. Kedua bibirnya tertutup rapat seperti ada perekat di antara kedua bibirnya.
Fang An dan Shui Hu terus memohon Ming Lan agar mengatakan siapa yang menculik dirinya, tetapi Ming Lan sama sekali tidak bisa mengucapkannya. Setiap kali ingin menyebut nama sang penculik, lidahnya tiba-tiba berhenti bergerak seakan tidak ingin memberitahu kebenarannya pada Fang An dan Shui Hu.
Fang An melihat Paman Fu masih dalam keadaan tergeletak. Tak ada sedikit pun gerakan ingin kabur pada tubuhnya. Sembari terus melihatnya, Fang An bertanya pada Ming Lan, “Apakan Paman Fu yang menculikmu?”
“Ya. Benar. Paman Fu-lah yang menculikku kemarin malam,” jawab Ming Lan dengan spontan, membuatnya sedikit terkejut. Kenapa aku bisa mengatakan hal ini?
“Kau yakin, Paman Fu yang menculikmu?” tanya Shui Hu memastikan sekali lagi.
“Ya, aku yakin. Dia yang menculikku.” Lagi-lagi jawaban spontan keluar dari kedua bibirnya disertai dengan tangan kanan menunjuk ke arah Paman Fu.
Paman Fu menggelengkan kepalanya, memberitahu Shui Hu dan Fang An kalau dia tidak menculik Ming Lan. Dirinya ingin menyanggah jawaban Ming Lan, tetapi anehnya dirinya tak bisa mengendalikan mulutnya.
Tak lama kemudian, sebuah langkah kaki terdengar oleh Fang An. “Siapa di sana?” tanyanya sambil memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang masuk.
Jiangxi bersama Yu He datang bersama-sama mencari tahu apa sedang terjadi di kamar pribadinya. Jiangxi syok saat melihat Paman Fu, orang kepercayaannya tergeletak dengan setengah telanjang di samping ranjang tidur.
“Ada apa ini sebenarnya, Shu’er?” Ia bertanya pada anaknya sambil menahan emosi.
Sebelum Shui Hu menjawab, spontan Ming Lan menjawab pertanyaan ayahnya Shui Hu.
Terlepas dari pikiran hatinya, Ming Lan sama sekali tak bisa mengendalikan tubuhnya. Tubuhnya bergerak sendiri memberikan hormat, lalu memohon pada ayahnya Shui Hu agar menghukum Paman Fu, karena dia telah menodainya. Walaupun dia belum menyentuh dirinya sepenuhnya.
Fang An dan Shui Hu kembali dibuat terkejut dengan tingkah Ming Lan. Keduanya merasa ada yang tidak beres dengan Ming Lan hari ini.
Ming Lan, sebenarnya ada apa ini?, Shui Hu terus memperhatikan Ming Lan. Tak tanda-tanda aneh pada tubuhnya.
Apa jangan-jangan Ming Lan terkena mantra ilusi?, Fang An berpikir seperti ini karena tak biasanya Ming Lan berbuat seperti ini. Dia merasa Ming Lan adalah orang yang lemah lembut dan pemaaf, sikapnya hari ini tak mencerminkan dirinya sama sekali.
“Fu apakah benar ucapannya?” Jiangxi bertanya dengan nada tegas pada orang kepercayaan, Paman Fu.
Paman Fu menggeliat ingin menggelengkan kepalanya, tetapi kepalanya dengan sendirinya menganggukkan kepalanya tanda kalau dia mengakui perbuatannya.
Jiangxi hanya bisa mengambil nafasnya dalam-dalam sambil menutup kelopak matanya. Sebuah senyuman sedih terukir di wajahnya. Ia bertanya pada Yu He, “Sebaiknya apa yang harus ku lakukan, Yu He?”
Yu He meminta izin untuk memberikan dirinya keleluasaan menghukum Paman Fu. Jiangxi menganggukkan kepalanya, tanda setuju. Walaupun Shui Hu sempat menyuruhnya agar membiarkan dirinya dan Fang An yang menyelidiki kasus ini.
Karena sudah mendapatkan izin, Yu He melangkah melewati Jiangxi, lalu mendekati Paman Fu yang masih tergeletak. Tangan kanannya mengambil sebuah pedang yang menggantung di pinggangnya, lalu bertanya, “Apakah kau mengakui perbuatanmu, Paman Fu?”
Sekali lagi Paman Fu menganggukkan kepalanya.
Dalam sekejap, Yu He menebaskan pedangnya tepat pada leher Paman Fu, membuatnya meninggal dalam sekejap.
JIangxi hanya bisa menyayangkan atas sikap orang kepercayaannya, yang ternyata dia adalah orang bejat. Beruntung tidak menimpa putri tercintanya.
Shui Hu dan Fang An sama-sama terkejut saat melihat tindakan Yu He.
“Kak Yu He kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau tidak menyelidikinya?” Pertanyaan dengan nada tinggi keluar dari mulutnya Shui Hu.
“Adik Shui Hu, Paman Fu sudah mengakui perbuatannya. Jadi, sesuai hukum dinasti kita, orang bejat layak untuk dipenggal.” Jawaban Yu He membuat Shui Hu sakit hati.
Kedua mata Shui Hu mulai berkaca-kaca. “Sepertinya kau bukan Kak Yu He yang aku kenal,” ucapnya sembari menggelengkan kepalanya.
Fang An segera memegang tangan Shui Hu, agar tidak bertindak berlebihan.
“Aku ini Kak Yu He yang kamu kenal, Adik Shui Hu. Kak Yu He yang menemani bermain dari kecil hingga sekarang.”
Ming Lan ingin sekali bicara memberitahu semua orang tentang fakta kebenarannya. Namun, entah mengapa mulutnya tiba-tiba bergetar saat melihat wajah Yu He. Padahal sebelumnya dia adalah wanita pemberani.
“Shui Hu tenangkan dirimu,” Fang An berusaha menenangkan Shui Hu.
Shui Hu melepaskan pegangan tangan Fang An, lalu melangkah mendekati Yu He. Satu tamparan melayang tepat di wajah tampan Yu He.
“Kau bukan Kak Yu He!”