Perawan Mahal sang Penggoda - Kau Rindu Aku? - bab 21

28 December 2025

Deko baru saja membaca balasan dari Queen. Ia belum sempat menjawab, masih berdiri santai di koridor lantai itu sambil memastikan situasi aman, ketika suara ding lift terdengar. Pintu lift terbuka. Dan jantung Deko langsung melonjak. Garendra. Pria itu melangkah keluar dengan jas rapi, wajah dingin, aura yang langsung menguasai ruang. Deko refleks berdiri tegap, lalu membungkuk hormat. “T-Tuan, kenapa tidak mengabari...” “Queen gimana?” potong Gar tanpa basa-basi. “Dia butuh sesuatu?” Nada suaranya datar, tapi ada ketergesaan yang tidak biasa. Deko terdiam sepersekian detik. Otaknya bekerja cepat, mencari jawaban yang tepat. Ia baru saja menghubungi Queen. Dan belum mendapat perintah apa pun. “Saya baru menanyakan itu, Tuan,” jawab Deko akhirnya jujur. “Tapi Nyonya malah bertanya kapan Tuan pulang.” Alis Garendra sedikit berkerut. “Jadi dia belum makan?” suaranya turun, lebih dingin. “Kau biarkan dia lapar?” Deko langsung menunduk lebih dalam. “Maaf, Tuan. Kelalaian saya.” Gar hampir memaki. Hampir. Namun kalimat terakhir Deko berputar ulang di kepalanya. Dia bertanya kapan Tuan pulang. Bukan minta makanan. Bukan minta uang. Bukan minta apa pun. Gar menghela napas pelan, menekan amarah yang sempat naik. Rahangnya mengeras, lalu mengendur sedikit. Tanpa menghiraukan Deko lagi, Garendra melangkah cepat menuju unit Queen. Pintu terbuka. Queen sudah duduk di sofa, ponsel di tangan, jelas sedang menunggu balasan yang tak kunjung datang. Ia mendongak begitu mendengar langkah kaki dan langsung membeku sepersekian detik. Garendra berdiri di sana. Setelan jas hitam rapi membingkai tubuhnya dengan sempurna. Jam mahal di pergelangan tangan, rambut tersisir rapi, wajah tampan yang terlalu kontras dengan kesan dingin yang biasanya ia bawa. Queen menaikkan alis, lalu tersenyum lebar. “Wih,” ujarnya santai. “Bos kaya raya kita datang.” Gar berhenti beberapa langkah darinya. Dan untuk sesaat, dunia yang ribut di kepalanya sejak pagi itu sunyi. Ekspresi Queen terlihat cerah. Tidak terkejut. Tidak canggung. Justru seperti benar-benar senang melihatnya. Gar ikut tersenyum kecil tanpa sadar. “Kau merindukanku?” tanyanya sambil mendekat. Pandangan matanya turun sesaat, menilai penampilan Queen. Dress krem lembut itu jatuh pas di tubuhnya. Sederhana, tapi membuatnya terlihat semakin mahal. Queen mendengus pelan. “Nggak,” katanya cepat. Lalu menambahkan, setengah malas, setengah jujur, “Aku cuma nunggu aja.” Gar melonggarkan dasinya sedikit. “Menunggu itu tanda rindu.” Queen mendelik. “PD.” Ia berdiri, lalu berkata ringan, “Ayo, kita belanja.” Gar tertawa kecil. Tawa yang jarang keluar, tapi kali ini lepas. “Tenang,” katanya. “Kita makan dulu. Aku juga belum makan.” Ia menatap Queen lebih tajam. “Kau juga belum makan dari pagi, kan?” Queen mengangguk. “Iya. Harus isi tenaga dulu.” Ia mengambil tas kecil di atas meja, menyampirkannya ke bahu. Gar menatapnya sejenak. “Kenapa nggak minta Deko siapkan makanan? Kau bisa perintah dia.” Queen mengangkat bahu. “Ya aku tahu.” Ia tersenyum kecil, agak malu. “Cuma, aku kebablasan. Bangun kesiangan, mandi lama, dandan. Tahu-tahu lupa lapar.” Gar mengamati wajah itu. Tidak disiplin. Tidak teratur. Tidak seperti wanita-wanita di rumahnya. Ibunya. Neneknya. Ayahnya. Amara. Semua serba terjadwal, rapi, penuh tuntutan. Queen berbeda. “Oke,” ucap Gar akhirnya. “Kau bebas mau bangun jam berapa. Asal kau happy.” Ia membuka pintu sambil menoleh. “Ayo. Kita makan di luar. Habis itu” Tatapannya mengunci Queen. “Kau boleh menguras uangku.” Mata Queen langsung berbinar. “Deal.” Lewat lift khusus miliknya, Garendra membawa Queen turun tanpa menarik perhatian siapa pun. Jalur itu steril tanpa karyawan, tanpa kamera publik, tanpa jejak. Dunia di luar gedung tidak pernah tahu siapa yang naik dan turun bersama Garendra. Namun satu hal tetap sama. Ke mana pun Gar pergi, Deko selalu ikut. Sopir. Pengawal. Asisten. Dan satu-satunya orang yang tahu terlalu banyak, tapi tidak pernah bicara lebih dari yang diminta. Mobil hitam itu meluncur keluar dari area perusahaan dengan mulus. Gerbang terbuka, lalu menutup kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Beberapa meter di belakang mereka, sebuah mobil abu-abu ikut bergerak. Jaraknya pas. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Profesional. Deko menangkap pantulan itu dari kaca spion. Sekilas. Lalu ia kembali menatap jalan, wajahnya tetap datar. Ia tidak perlu bertanya untuk tahu siapa. Amara. Garendra bersandar santai di kursi belakang, satu lengannya di sandaran, tatapannya lurus ke depan. “Kamu mau makan di mana, Nur?” tanyanya ringan. Queen menoleh. Alisnya sedikit berkerut. Bukan karena pertanyaan itu melainkan panggilan itu. Nur. Bukan Queen. Ia menatap Gar beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Aneh,” katanya akhirnya. “Kamu sering manggil aku Nur.” Gar meliriknya sekilas. Tidak menghindar. Tidak gugup. “Itu namamu,” jawabnya singkat. Queen menghela napas kecil, lalu tersenyum miring. “Iya sih, cuma jarang ada yang manggil aku begitu.” “Kenapa?” tanya Gar. “Kamu lebih suka Queen?” Queen menatap keluar jendela, memperhatikan gedung-gedung yang lewat. “Queen itu topeng,” jawabnya pelan. “Nur itu… aku.” Gar terdiam. Jawaban itu menempel di kepalanya lebih lama dari yang seharusnya. “Kalau begitu,” ucapnya kemudian, suaranya rendah, “aku panggil Nur.” Queen menoleh lagi. Ada sesuatu di matanya rapuh, tapi cepat ia tutupi dengan senyum ringan. “Ya sudah,” katanya. “Terserah kamu.”

“Aku mau makan pecel lele, boleh?” tanya Queen ragu, matanya melirik Gar sekilas. Ia takut pria itu menolak. Garendra terdiam sejenak. “Boleh aja,” jawabnya akhirnya. “Tapi aku nggak ikut makan.” Queen langsung menoleh dengan ekspresi aneh. “Hah?” Ia menatap Gar dan Deko bergantian. “Terus aku makan sendiri? Kalian nontonin?” Gar masih santai. “Aku nggak biasa makan itu.” Queen mengerutkan kening. “Kenapa? Kau takut aku racunin kamu?” tanyanya setengah bingung, setengah kesal. Gar menghela napas kecil, mencoba meluruskan. “Bukan begitu. Aku cuma, belum pernah makan. Itu kan yang di pinggir jalan.” “Dih,” Queen mendecak. “Sok elit amat.” Ia bersedekap, lalu menatap Gar dengan menantang. “Lagian bukan cuma lele. Ada ayam, tahu, tempe. Pokoknya aku mau makan itu.” Gar menatapnya beberapa detik, lalu Queen melanjutkan dengan nada tak bisa ditawar. “Dan kau sama anak buahmu itu,” katanya sambil melirik Deko, “harus temani aku makan.” Deko refleks melirik kaca spion, memilih diam. Gar akhirnya tersenyum tipis, menyerah. “Oke,” katanya. “Aku temani.” Queen tersenyum puas. “Bagus.”