Perawan Mahal sang Penggoda - Disuap Nurlela - Bab 22

28 December 2025

Begitu Queen turun dari mobil, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Tak perlu ditebak alasannya. Kulit putih mulus, gaun krem sederhana tapi mahal, rambut tergerai rapi terlihat seperti artis yang nyasar ke pinggir jalan. Apalagi ia turun dari mobil mewah yang mencolok di tengah deretan motor dan gerobak kaki lima. Beberapa ibu-ibu yang sedang duduk langsung berbisik-bisik. Sebagian melirik Queen, sebagian lagi tanpa malu menatap Garendra yang ikut turun dari mobil. Deko, yang baru selesai memarkirkan kendaraan, refleks menoleh ke spion. Mobil abu-abu di belakang mereka ikut berhenti. Alisnya mengernyit. Sementara itu, Queen menatap sekeliling dengan dagu sedikit terangkat. “Aku tuh kalau nggak dandan secantik ini, biasa aja dilihat orang,” katanya santai, setengah bangga. “Tapi kalau dandan begini, kayak lihat bidadari.” Gar tersenyum tipis. “Mereka juga terpesona lihat aku yang tampan.” “Dih,” Queen mendengus. Gar menatap area sekitar. Meja-meja penuh. Asap gorengan mengepul. Suara obrolan bertabrakan. “Sumpek sekali,” katanya jujur. “Yakin mau makan di sini?” Queen mengangguk ringan. “Ini mah nggak terlalu ramai. Biasanya malam jauh lebih parah.” Matanya menyapu area, lalu menemukan satu meja kosong di pojok belakang. “Nah, itu.” Ia melangkah lebih dulu, lalu spontan menarik tangan Gar. “Ayo ke sana.” Sentuhan itu singkat. Tapi cukup membuat Gar sedikit terhenti. Ada rasa aneh. Bukan tidak nyaman justru terlalu terasa. “Nah, di sini,” kata Queen puas sambil melepas pegangan tangannya. Gar menatap meja itu. Ada noda. Ada bekas minyak. Ada sisa sambal yang tidak dibersihkan sempurna. Ia mengernyit. “Ini kotor. Yakin?” Queen menoleh tajam. Tatapannya jelas tidak suka. “Kalau jijik, nggak usah duduk.” Gar terdiam sejenak. Lalu menarik kursi dan duduk juga. “Oke,” katanya akhirnya. “Aku temani kamu makan aja.” Queen langsung tersenyum kecil, menang. Ia menoleh ke penjual. “Mas, pesen pecel lele ya. Tahu, tempe, lalapan, sambalnya ekstra. Eh, sekalian ayam satu.” Pelayan itu tampak terkesima menatap Queen terlalu lama, lalu akhirnya melirik Gar. “Yang Bapak?” “Aku nggak pesan,” jawab Gar datar. Pelayan mengangguk. “Baik. Ditunggu ya, Kak Cantik.” Queen tersenyum manis sambil mengangguk, sementara Gar berusaha duduk senyaman mungkin di kursi plastik yang terlalu kecil untuk posturnya. “Mana anak buahmu itu?” tanya Queen sambil menoleh. “Deko?” Gar baru sadar. Tak lama, ponselnya bergetar. Deko: Tuan, ada yang mengikuti kita. Rahang Gar mengeras tipis. Ia menutup ponsel, lalu menatap sekeliling sekilas tanpa terlihat mencolok. “Kau cari tahu siapa dia,” balasnya singkat. Queen memperhatikan perubahan ekspresi Gar. “Kenapa?” tanyanya. “Oh,” Gar mengibaskan tangan ringan. “Deko nggak bisa ikut makan.” Queen mendengus kecil. “Aku rasa kau juga terpaksa kan makan di sini.” Ia tersenyum miring. “Orang kaya mana mau makan beginian. Padahal enak loh.” Gar tidak menanggapi. Fokusnya masih pada satu hal: siapa yang mengikutinya. Tak lama kemudian, pesanan Queen datang. Aroma sambal dan gorengan langsung menyeruak. “Wah,” Queen tersenyum lebar. “Kelihatan enak banget.” “Minumnya nggak pesan, Kak Cantik?” tanya pelayan. Queen melirik botol air di meja. “Nggak ah. Air botol aja.” Gar memperhatikan Queen yang sejak tadi malah tersenyum sendiri menatap piring di depannya. Nasi hangat, lele goreng, sambal merah menyala. “Kau kenapa senyum-senyum?” tanya Gar. “Kenapa nggak dimakan?” Queen menoleh cepat. Matanya membulat, seperti baru tersadar akan sesuatu yang penting. “Ini, beneran gratis?” tanyanya memastikan. Gar mengangkat alis. “Ya. Aku yang bayar.” Queen menatap makanannya lagi. Lalu menatap Gar. Ada kilau kecil di matanya. “Serius?” “Iya.” Ia tertawa kecil, tulus. “Makasih ya,” katanya pelan. “Kalau bisa, setiap hari gratis juga nggak apa-apa.” Gar ikut tersenyum. “Kedengarannya kamu senang banget.” “Banget,” jawab Queen jujur. “Aku nggak nyangka bisa makan tanpa kerja dulu.” Gar sedikit terdiam. “Tapi ini termasuk kerja, kan?” katanya kemudian. “Kontrak kita sudah mulai hari ini.” Queen tertegun sejenak. Lalu mengangguk pelan. “Iya juga, sih.” Ia tersenyum lagi, kali ini lebih lembut. “Tapi rasanya beda,” lanjutnya. “Biasanya aku kerja dulu, capek dulu, baru bisa makan. Bayar sendiri. Sekarang,” Ia melirik piringnya. “Dibayarin.” Gar menatap Queen cukup lama. “Iya,” katanya akhirnya. “Dibayarin.” “Habis makan kita belanja,” tambahnya ringan. “Kamu mau apa?” “Nantilah,” jawab Queen sambil mengibas tangan. “Sekarang aku mau makan dulu.” Ia bangkit sebentar, mencuci tangan, lalu kembali duduk dengan wajah penuh semangat. Queen mengambil sepotong daging lele, mencelupkannya ke sambal, mencampurnya dengan nasi, lalu menyuap dengan lahap. Gar memperhatikan. Tanpa komentar. Tanpa jijik. Tanpa tergoda. Ia hanya melihat. Queen makan dengan nikmat, seperti seseorang yang benar-benar menghargai setiap suapan. Lalu ia sadar tatapan Gar terlalu lama. “Kamu kenapa lihat aku gitu?” tanyanya sambil mengunyah. Terus, spontan ia menambahkan, “Mau coba?” Gar terdiam. “Aku nggak biasa makan begitu.” “Ya udah,” Queen mengangguk cepat. “Kalau nggak suka lele, aku pesen ayam juga.” Ia mengambil sedikit daging ayam goreng yang masih panas. Tangannya kepanasan. “Ah, panas,” gumamnya sambil meniup-niup kecil. Queen mencampur ayam itu dengan sambal dan nasi. Gerakannya sederhana. Alami. Ia menoleh ke Gar, ragu sebentar. Banyak orang memperhatikan mereka sejak tadi. Queen agak canggung… tapi lalu mengangkat bahu kecil. “Ayo,” katanya ringan. “Buka mulut.” Gar terdiam beberapa detik. Lalu tanpa sadar ia membuka mulut. Queen menyuapkan nasi dan ayam itu dengan tangannya sendiri. Beberapa orang di sekitar bersorak kecil. Ada yang terkikik. Ada yang tersenyum kagum. Pemandangan itu terlalu kontras: wanita cantik seperti artis, pria tampan berjas mahal, saling menyuapi di warung pecel lele pinggir jalan. Gar mengunyah perlahan. Matanya sedikit melebar. “Enak?” tanya Queen. Gar menelan. “Iya,” jawabnya pelan. “Enak.” “Nah, kan,” kata Queen sambil tersenyum puas. “Emang bener enak. Mau pesan seporsi?” Gar menggeleng pelan. Tatapannya justru tertuju pada tangan Queen yang masih memegang nasi. “Aku mau disuap aja.” Queen langsung mendengus. “Idih. Makan sendiri, ya. Malu dilihatin orang. Kamu kan udah gede.” “Enggak,” jawab Gar tanpa ragu. Nadanya turun, nyaris manja. “Aku maunya kamu yang suap, Nur.” Queen tertawa geli. Tawa kecil yang spontan, tanpa beban. “Dasar,” katanya sambil menggeleng. “Nggak.” Ia kembali fokus ke makanannya, seolah ucapan Gar barusan hanya angin lalu. Queen menyuap lagi, lahap, menikmati setiap gigitan. Gar memperhatikannya dengan senyum tipis. Tidak dipaksa. Tidak kesal. Entah sejak kapan, penolakan kecil dari Queen justru terasa menyenangkan. Ponsel Gar bergetar di saku jasnya. Ia melirik cepat ke layar. Deko: Tuan, yang mengikuti kita suruhan Nyonya Amara. Senyum Gar memudar perlahan.