Sejujurnya, kalau hidup adalah lomba kecantikan, Harlia sudah menyerah sejak babak penyisihan. Ia perempuan berkulit putih—putih yang bukan jenis glowing ala iklan skincare, tapi putih yang lebih ke jarang kena matahari karena sering duduk. Tubuhnya gemuk, bukan gemuk seksi, tapi gemuk yang kalau duduk harus tarik napas dulu sebelum melipat kaki. Pipinya bulat, lengannya empuk, dan perutnya punya kebiasaan mengintip keluar kalau kemejanya ketat sedikit saja.
Sejak SMA, ia punya julukan yang tidak pernah ia minta dan tidak pernah ia inginkan.
Mrs. Puff
“Ih, Har, lo tuh kayak Mrs. Puff kalau ketawa,” kata seseorang dulu.
Dan seperti semua julukan buruk di dunia, yang niatnya bercanda, malah lengket sampai dewasa. Akibat julukan itu, hidup percintaan Harlia bisa diringkas dengan satu kalimat sederhana, yaitu tidak pernah ditaksir cowok secara resmi. Tidak ada surat cinta. Tidak ada tembak-menembak.
Tidak ada chat “gue suka sama lo”.
Yang ada cuma:
Jadi tempat curhat cowok soal cewek lain.
Jadi “teman baik” yang terlalu baik.
Jadi “lo tuh asik, tapi…”
Tapi anehnya, meskipun dunia berkali-kali menamparnya dengan fakta, Harlia tetap punya satu kelemahan fatal. Ia gampang GR. Sangat gampang. Kalau ada cowok bilang, “Lo lucu,” Harlia bisa mikir tiga hari tiga malam untuk menganalisis intonasi, dan menyimpulkan, “Oh, dia suka gue.”
Dan pertemuannya dengan Topan kemarin? Itu bukan sekadar GR. Itu bencana imajinasi.
Pagi itu, Harlia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan tatapan serius seperti mau wawancara kerja.
“Kemarin dia ngajak ngopi,” gumamnya.
Ia mengingat senyum Topan. Cara Topan memanggilnya menarik. Tatapan yang lama.
“Dia bilang gue beda.”
Harlia tersenyum kecil. Senyum salting seperti orang yang sedang kasmaran.
“Berarti gue spesial.”
Cermin itu, kalau bisa bicara, pasti sudah menghela napas panjang karena muak.
Harlia memilih baju dengan ekstra hati-hati. Biasanya ia pakai kemeja longgar warna gelap, tapi hari ini ia nekat. Ia memilih blus pastel yang agak ketat.
“Kalau sesak dikit nggak apa-apa,” katanya pada perutnya. “Demi cinta.”
Perutnya tidak setuju, tapi Harlia mengabaikannya. Ia terlihat seperti lontong yang kebanyakan diisi beras lalu mengembang ketika direbus. Di perjalanan ke kantor, pikirannya penuh skenario.
Bagaimana kalau nanti Topan ngajak makan siang? Bagaimana kalau ternyata dia beneran suka? Bagaimana kalau ini awal kisah cinta? Harlia menggeleng cepat.
“Jangan keGR-an!”
Lima detik kemudian....
“Tapi kalau iya gimana?”
Saat jam makan siang tiba, Harlia turun ke depan gedung. Biasanya ia langsung ke minimarket untuk membeli mie instan dalam cup, lalu makan sambil scroll ponsel. Tapi hari ini, langkahnya lebih pelan. Ia menoleh ke kanan, ke kiri seolah sedang mencari seseorang.
“Siapa tahu ketemu Topan,” gumamnya.
Tiba-tiba, terdengar suara yang membuat jantungnya loncat.
“Cilooook… cilok panas!”
Harlia refleks menoleh. Dan di situlah tragedi dimulai. Dari kejauhan, seorang pria berdiri di samping gerobak cilok. Badannya tinggi, pakai kaos gelap, berdiri santai sambil melayani pembeli. Mata Harlia membelalak.
“Topan…?!!!”
Jantungnya berdetak kencang. Dari angle tertentu—sangat tertentu—pria itu mirip Topan. Tinggi, postur santai, rambut agak ikal. Otak rasional Harlia mencoba bicara, tapi kalah cepat dari imajinasinya.
“Mungkin Topan aslinya dia CEO yang menyamar,” bisiknya.
“Mungkin Topan lagi pengen hidup sederhana.”
“Atau… dia sengaja jualan cilok buat lihat gue?”
Harlia tersenyum sendiri.
“Lucu banget sih dia.”
Ia mendekat. Semakin dekat, semakin yakin.“Iya, itu dia,” gumamnya. “Gaya berdirinya sama.”
Penjual cilok itu menoleh.
“Cilok, Mbak?”
SUARANYA BERBEDA.
Tapi terlambat. Harlia sudah tersenyum manis. Senyum paling ramah yang ia punya.
“Topan,” panggilnya lembut.
Penjual cilok itu mengernyit. “Hah?”
Harlia terkikik kecil, menutup mulut.
“Ih, bercanda. Kamu lagi ngapain di sini?”
Beberapa orang di sekitar menoleh. Penjual cilok itu menatap Harlia dari ujung rambut sampai ujung sepatu, ekspresinya campur aduk antara bingung dan waspada.
“Mbak… saya tukang cilok.”
Harlia tertawa lebih keras.
“Iya, iya. Aku tahu. Kamu tuh suka gitu ya, bercanda.”
Sunyi.
Angin lewat.
Penjual cilok itu menelan ludah.
“Mbaknya kenal saya?”
Harlia baru benar-benar melihat wajah si tukang cilok dengan seksama. Bukan Topan. Sama sekali bukan. Hidungnya beda. Matanya beda. Senyumnya… bukan senyum gombal, tapi senyum orang yang takut dilaporin. Otak Harlia mendadak kosong.
“Oh.”
Satu kata. Sangat pelan. Sangat memalukan.
“Maaf,” katanya cepat. “Saya kira kamu teman saya.”
Penjual cilok itu mengangguk ragu.
“Oh. Kirain… Mbak kenapa.”
Orang-orang mulai melirik. Ada yang senyum-senyum. Ada yang bisik-bisik. Harlia ingin menghilang saking malunya.
“Ciloknya mau, Mbak?” tanya penjual itu sopan.
Harlia mengangguk cepat.
“Iya. Dua porsi.”
Kenapa dua? Ia tidak tahu. Mungkin karena malu butuh karbohidrat. Saat ia membayar, tangannya gemetar.
“Makasih,” katanya pelan.
“Iya, Mbak.”
Harlia berbalik dan berjalan cepat menjauh. Wajahnya panas seperti disiram air mendidih. Begitu jauh dari keramaian, ia berhenti.
“Ya Tuhan,” bisiknya. “Gue baru aja ngira tukang cilok itu cowok yang gue suka.”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Mrs. Puff, lo keterlaluan.”
Di kantor, Rina langsung tahu ada yang salah.
“Kenapa muka lo merah kayak abis dikejar debt collector?” tanya Rina.
Harlia menjatuhkan diri ke kursi.
“Gue malu banget sumpah.”
“Ceritain!" perintah Rina.
Harlia menceritakan semuanya. Dari cilok sampai khayalan tidak masuk akal.
Rina terdiam tiga detik. Lalu tertawa. Bukan ketawa kecil. Tapi ketawa yang sampai harus pegang meja.
“HAHAHA—ASTAGA, HAR!”
“Jangan ketawa, iiihh..!” rengek Harlia.
“GUE NGGAK BISA,” kata Rina sambil mengusap air mata. “Lo ngira tukang cilok itu Topan?!”
“Dari jauh mirip!”
“DARI JAUH SEMUA COWOK MIRIP KALAU LO KE-GR-AN!”
Harlia menunduk.
“Gue bodoh. Sialan, huh!"
Rina menghela napas, lalu duduk di sampingnya.
“Lo cuma berharap.”
“Itu yang bikin gue malu.”
Rina menepuk bahunya.
“Har… jangan baru satu senyum udah bikin lo berhalusinasi.”
Seolah alam semesta ingin menambah penderitaannya, sebuah suara muncul dari belakang.
“Harlia?”
Harlia membeku. Ia menoleh perlahan. Topan berdiri di sana. Yang ini asli meskipun nggak ada badaknya. Ini bukan cilok.
“Sore,” katanya sambil tersenyum. “Tadi siang gue liat lo di depan.”
Harlia menelan ludah.
“Oh.”
“Lo tadi kayak buru-buru,” kata Topan. “Kenapa?”
Harlia ingin jujur. Tapi harga diri menahannya.
“Nggak apa-apa.”
Topan menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil.
“Oke. Tapi tawaran ngopi gue masih berlaku.”
Harlia mengangguk pelan. Dalam hatinya, satu hal ia yakini. Mulai sekarang, ia harus berhenti berhalusinasi. Atau setidaknya…memastikan dulu apakah yang berdiri di depannya benar-benar Topan, atau cuma tukang cilok dengan nasib apes.
Ya, apes. Bahkan tukang cilok saja tidak berminat padanya apalagi Topan si perfect?
Seketika Harlia merasa kecil bagaikan punguk yang merindukan bulan. So sad....