Drama #Kocak #baper

FIRST DATE SALAH KOSTUM

28 December 2025

Harlia setuju ngopi dengan Topan dua hari setelah insiden cilok. Dua hari penuh ia gunakan untuk overthinking. Bukan soal Topan—tentang dirinya sendiri yang merasa tidak layak meski hanya sekadar ngopi bareng. Tapi hatinya yang lain memaksanya untuk egois dan menerima ajakan ngopi dari si pria tampan.

“Apa gue pantes?” gumamnya sambil menatap lemari.

Lemari itu berisi pakaian-pakaian yang setia sejak lama. Longgar, aman, dan tidak pernah berniat membuat siapa pun jatuh cinta. Tidak ada dress cantik. Tidak ada atasan yang “wow”.

Yang ada hanyalah pilihan antara: ✓Terlihat seperti ibu-ibu arisan ✓Terlihat seperti pegawai negeri teladan ✓Terlihat seperti… Mrs. Puff versi formal

Harlia menghela napas. Huuuh....

“Ngopi doang,” katanya pada diri sendiri. “Bukan nikah.”

Tapi jantungnya tidak tahu itu. Setiap siluet wajah Topan yang tersenyum lewat di pikirannya, langsung saja dag dig dug tidak beraturan.Ia akhirnya memilih blus krem dan rok hitam sederhana. Aman. Terlalu aman. Tapi setidaknya tidak berisik.

Saat bercermin, ia mengangguk. “Oke.

Minimal nggak memalukan.

”Cermin itu, lagi-lagi, memilih diam. Jika bisa ngomong sudah pasti akan menjadi yang pertama mengomentari penampilan Harlia yang engap itu.

Selanjutnya, pertemuan itu akhirnya tiba. Topan yang memilih kafe. Tentu saja bukan kafe biasa. Bukan juga kafe yang ramah dompet. Kafe itu punya pintu kaca tinggi, interior minimalis, dan barista yang pakai celemek hitam sambil terlihat terlalu cool untuk sekadar menyeduh kopi.

Harlia berdiri di depan pintu, membaca menu dari luar.

“Latte… cappuccino… manual brew…”

Ia menelan ludah.

“Kopi sachet nggak ada?”

Topan muncul dari dalam, melambaikan tangan.

“Har!”

Harlia masuk, langsung merasa seperti salah kostum. Topan hari itu mengenakan jaket tipis, kaos putih, celana gelap, dan sepatu yang jelas bukan sepatu diskonan. Rambutnya rapi tapi santai, wajahnya—sayangnya—terlalu cocok dengan tempat ini.

“Lo kelihatan… rapi,” kata Topan sambil tersenyum.

“Ini versi paling nekat gue,” jawab Harlia jujur.

Topan tertawa kecil.

“Santai aja. Duduk, yuk!”

Mereka duduk di meja dekat jendela. Tempat terbaik menurut Harlia. Ia merasa Topan sengaja memesan tempat keren ini untuk dirinya.

Kemudian seorang barista datang.

“Mau pesan apa, Kak? Mas?”

Topan menoleh ke Harlia.

“Lo duluan.”

Harlia menatap menu seperti sedang membaca kontrak hukum.

“Eee… yang nggak pahit,” katanya akhirnya.

Barista mengangguk profesional. “Sweet latte, Kak?”

Harlia melirik Topan.

“Itu pahit nggak?” tanya Harlia.

“Manis,” jawab Topan.

“Yaudah itu.”

Topan memesan kopinya sendiri dengan istilah yang membuat Harlia merasa sedang berada di seminar kopi internasional. Saat barista pergi, Harlia menarik napas.

“Gue jarang ke tempat kayak gini,” katanya.

Topan mengangguk. “Kelihatan.”

“Eh?”

“Maksud gue,” Topan cepat-cepat menambahkan, “lo jujur. Itu bagus.”

Harlia mendengus. “Biasanya gue ngopi di pantry kantor. Kopinya rasa stres.”

Topan tertawa.

“Gue juga dulu gitu.”

“Kok ‘dulu’?” Harlia menatap curiga. “Sekarang kopinya rasa apa?”

“Rasa hidup,” jawab Topan sok filosofis.

Harlia memutar mata. “Tuh kan. Gombal.”

Topan mengangkat tangan.

“Oke, oke. Guilty.”

Minuman datang. Untuk sejenak obrolan penuh tawa tadi harus terhenti. Harlia menyesap latte-nya. Matanya membelalak.

“Ini enak," pujinya pada minuman itu.

Topan tersenyum puas.

“Gue nggak salah pilih kalau gitu," kata Topan.

“Lo sering ngajak cewek ke sini?” tanya Harlia, setengah bercanda, setengah serius.Topan terdiam sebentar.

“Kadang," jawab Topan.

“Oh.”

Harlia langsung menyesal bertanya. Sunyi sebentar. Dasar Harlia, memangnya ia berharap hanya dirinya satu-satunya?

Topan menatapnya.

“Tapi jarang ada yang jujur bilang gugup kayak lo.”

Harlia tersenyum kecut.

“Gue nggak pinter jaim.”

“Bagus,” kata Topan. “Jaim bikin capek.”

Harlia tertawa kecil.

“Lo keliatan nggak capek hidup.”

Topan mengangkat alis.

“Lo kira?”

“Lo keliatan kayak… orang yang hidupnya rapi,” jawab Harlia.

Topan menghela napas.

“Itu tampilan, Har.”

Harlia menatapnya, sedikit terkejut.

“Sebenarnya,” lanjut Topan, “hidup gue agak berantakan.”

Harlia tersenyum.

“Berantakan versi orang kaya?” sindir Harlia.

“Touché!”

Topan tertawa, Harlia ikut tertawa.

Masalah kostum itu baru muncul lima belas menit kemudian. Harlia mulai berkeringat. Bukan karena gugup. Tapi karena kafe itu tidak terlalu dingin karena berada di area free smoking.

Sementara blusnya terlalu tebal. Ia membuka kancing atas satu. Lalu dua. Dan di situlah ia sadar. Ia mengenakan tank top bermotif kartun di dalam. Warna pink, dengan gambar ikan buntal. Mrs. Puff. Harlia membeku.

“Har?” panggil Topan. “Lo kenapa?”

“Nggak apa-apa,” jawab Harlia cepat, langsung mengancingkan lagi.

Topan menatapnya curiga.

“Lo kegerahan?”

“Sedikit.”

“Kita pindah ke lantai dua, mau? Di sana lebih dingin," ajak Topan.

Harlia panik.

“Nggak usah!”

“Kenapa?”

“Karena… karena… gue baik-baik aja.”

Topan tersenyum usil.

“Lo kelihatan kayak mau meledak. Buka saja semua kancingnya," saran Topan tidak bermaksud mesum hanya solusi karena melihat Harlia seperti engap dan sesak.

Harlia menghela napas pasrah.

“Oke. Tapi jangan kaget," warning Harlia.

“Kaget kenapa?”

Harlia membuka kancing perlahan. Dan tank top Mrs. Puff itu muncul ke permukaan dunia.

Topan terdiam.

Tiga detik.

Empat.

Lima.

Harlia ingin mati.

“Itu…,” kata Topan akhirnya.

“Jangan ketawa,” potong Harlia cepat. “Gue tau ini norak.”

Topan menatap gambar ikan buntal itu, lalu… tertawa. Tapi bukan ketawa mengejek. Ketawa kaget.

“Gue nggak nyangka,” katanya sambil tertawa kecil. “Lucu.”

“Baiklah, aku udah sering diketawain. Lucu kan?” tanya Harlia defensif.

“Lucu yang jujur,” jawab Topan. “Lo nggak berusaha jadi orang lain.”

Harlia menatapnya ragu. “Beneran?”

“Beneran.”

Harlia menunduk, pipinya memanas. Biasanya orang menertawakan dirinya untuk menghinanya.

Harlia mengangguk.

“Julukan gue Mrs. Puff.”

Topan sontak terdiam.

“Serius? Karena apa?” tanya Topan.

“Karena badan gue. Karena gue gemuk," jawab Harlia.

Topan menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Lo tau nggak apa yang gue lihat?”

Harlia mengangkat bahu.

“Cewek salah kostum?” tanya Harlia.

“No. Cewek yang nyaman sama dirinya,” kata Topan.

Harlia tertawa kecil.

“Itu versi lo.”

“Versi gue penting,” balas Topan santai.

Kini Harlia yang terdiam. Entah mengapa ia merasa dibela dan diterima. Ada perasaan aman dan merdeka seolah bentuk bulatnya kini memipih dengan sendirinya.

Saat mereka keluar dari kafe, Harlia merasa… ringan. Bukan karena Topan ganteng. Bukan karena kopi yang enak. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus menyembunyikan dirinya.

Di depan kafe, Topan berhenti.

“Ngopi lagi kapan?”

Harlia tersenyum. “Tergantung.”

“Pada apa?” tanya Topan.

“Apakah gue harus ganti kostum dulu atau nggak," celetuk Harlia masih mengungkit soal baju.

Topan tertawa. “Gue justru penasaran sama kostum lo berikutnya.”

Harlia mendengus.

“Jangan berharap terlalu tinggi.”

Topan tersenyum, matanya hangat.

“Justru itu. Mau ya? Kita ngopi lagi," ajak Topan.

Harlia mengangguk. Keduanya saling tersenyum satu sama lain. Sebelum kemudian mereka berpisah.

Harlia berjalan pulang dengan langkah ringan. Dalam hatinya, satu hal ia akui dengan jujur. Untuk pertama kalinya, ia tidak klepek-klepek. Ia cuma.... Nyaman.

Dan entah kenapa, itu jauh lebih berbahaya.