Drama #Satir #Kocak

KILAU YANG TERLALU TERANG

28 December 2025

Masalah Harlia bukan lagi soal perasaan. Masalahnya adalah mata. Matanya terlalu gampang silau. Setelah ngopi pertama yang salah kostum tapi entah bagaimana berakhir hangat. Harlia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya ia anggap tidak penting.

Sekarang, semua hal tentang Topan terasa… wah. Cara Topan parkir mobilnya yang bersih mengilap. Cara ia casually menyebut tempat makan dengan nama asing. Cara ia bayar tanpa lihat harga. Dan yang paling fatal, cara ia terlihat biasa saja melakukan semua itu.

Harlia duduk di mejanya sambil menatap layar komputer, tapi pikirannya sedang berada di dunia lain.

“Har...”

“Har!”

“HARLIA!!!”

“Hah?!” Harlia tersentak.

Rina berdiri di sampingnya, tangan bertolak pinggang. Jengkel karena Harlia tidak menyahut dan harus diteriaki.

“Lo lagi senyum ke monitor kenapa?”

Harlia refleks menutup layar.

“Nggak apa-apa," kilahnya.

“Keliatan,” kata Rina. “Lo senyum kayak habis dapet THR dobel.”

Harlia menahan tawa.

“Gue Cuma kepikiran Topan.”

Rina mendesah panjang.

“Oh Tuhan, dia lagi.”

Semuanya dimulai dari chat sederhana.

Topan: Lagi apa?

Harlia: Kerja.

Topan: Makan siang di luar?

Itu saja. Tapi makan siang itu bukan makan siang biasa. Topan menjemput Harlia dengan mobil yang interiornya bersih, harum, dan yang paling bikin Harlia tidak tenang — sunyi nyaman.

“Ini mobil lo?” tanya Harlia, pura-pura santai.

“Iya,” jawab Topan.

“Oh.”

Topan membawa Harlia ke restoran yang pelayannya memanggil mereka “Kak”, bukan “Mbak-Mas”. Menu tanpa gambar. Tanpa harga besar. Tanpa promo Jumat berkah dapat es teh. Harlia membaca menu dengan ekspresi orang sedang ujian.

“Lo pesen apa?” tanya Topan.

“Yang aman,” jawab Harlia.

“Semua aman di sini. Nggak ada babinya," jawab Topan.

“Harganya bukan babinya,” gumam Harlia.

Topan tertawa. Lagi pula untuk apa Harlia memikirkan harga, toh Topan yang akan membayar. Saat makanan datang, rasanya enak. Terlalu enak untuk orang yang biasa makan seblak prasmanan pedas gila.

“Gue jarang makan beginian,” kata Harlia jujur.

Topan menatapnya.

“Kenapa?”

“Biasanya gue mikir, uang segitu bisa buat seminggu.”

Topan terdiam sebentar, lalu tersenyum.

“Masuk akal. Artinya kamu penuh perhitungan, menarik."

Setelah makan, Topan membayar. Tanpa drama, tanpa kalkulator, tambah ngasih tip tidak pelit. Harlia menelan ludah. Bill nya benar-benar bisa untuk makan seminggu. Tip untuk pelayan lembaran uang ratusan ribu.

“Lo boros,” katanya setengah bercanda.

“Kadang,” jawab Topan santai. “Tapi gue kerja buat hidup nyaman.”

Kalimat itu menancap. Nyaman. Itu kata yang mahal. Orang harus menggelontorkan banyak uang demi kenyamanan. Dan sekarang, Harlia sedang membocorkan semuanya ke Rina bernada pamer.

“Mobilnya empuk,” kata Harlia berapi-api. “Kayak hidupnya nggak ada lubang.”

Rina menatapnya datar.

“Itu mobil atau kasur?”

“Terus tempat makannya—duh, Rin. Menu-nya nggak ada gambarnya.”

“Red flag,” jawab Rina cepat.

“Kenapa?!”

“Orang sederhana butuh gambar.”

Harlia mendengus.

“Lo iri.”

Rina menyilangkan tangan.

“Gue realistis.”

“Tapi dia baik,” bantah Harlia. “Nggak sombong. Nggak pamer.”

“Justru itu,” kata Rina. “Yang pamer gampang ketebak. Yang santai-santai sok rendah hati itu biasanya…” Rina menggantung ucapannya.

Kalau dilanjutkan nanti jadi perdebatan panjang yang berujung ia harus mentraktir gacoan.

“Biasanya apa?” tuntut Harlia.

“Biasanya aktor.” Akhirnya Rina tidak tahan.

Harlia mengernyit. “Lo lebay.”

Rina menatapnya serius.

“Har, ini kota besar. Banyak cowok yang pura-pura atau ngaku kaya raya demi dapetin cewek.”

Harlia tertawa kecil.

“Ngapain capek-capek?”

“Karena berhasil,” jawab Rina. “Banyak yang ketipu.”

Harlia terdiam sebentar, lalu berkata, “Topan nggak kayak gitu.”

Rina mendekat.

“Lo kenal dia baru berapa lama?”

Harlia membuka mulut. Menutup lagi. Mencoba mengingat-ingat kira-kira sejak hari apa?

“Sebentar,” katanya akhirnya.

“Dan lo udah klepek-klepek,” lanjut Rina.

“Dikit.”

“Har,” Rina menghela napas. “Gue cuma nggak mau lo jatuh karena silau.”

Harlia menunduk.

“Gue cuma pengen ngerasain… dipilih.”

Rina terdiam. Muncul perasaan bersalah dan tidak tega. Sahabatnya ini tidak pernah punya pacar, tapi gampang suka sama orang. Kali ini tiba-tiba muncul orang bernama Topan yang memporak-porandakan kepolosan Harlia yang tidak pernah pacaran. Rasanya sulit untuk percaya jika Topan tulus suka dengan Harlia. Hari gini cowok nggak mandang fisik? MUSTAHIL. Tapi, apakah Harlia adalah salah satu yang mustahil itu. Rina meredam argumen kerasnya terhadap Topan. Ia tidak benci Topan, ia hanya khawatir sahabatnya kenapa-kenapa.

“Itu manusiawi,” katanya lebih lembut. “Tapi jangan sampe lo ngeliat kilau doang, lupa isinya.”

Masalahnya, kilau Topan makin terang. Topan ngajak Harlia ke acara kantor lain. Ke coffee shop lain. Ke tempat-tempat yang bikin Harlia merasa seperti sedang liburan kecil di tengah hidup yang biasanya lurus-lurus saja. Dan setiap kali, Harlia makin kecil. Bukan secara fisik. Tapi secara mental. Ia mulai mikir:

“Baju gue cocok nggak, ya?”

“Gue malu nggak ya duduk di tempat beginian?”

“Dia beneran nyaman sama gue?”

Di satu malam, Harlia pulang dan berdiri lama di depan kaca. Ia menatap dirinya.

“Kalau dia tau gue sebiasa ini,” gumamnya. “Masih mau nggak ya?”

Ponselnya berbunyi.

Topan: Hari ini seru. Topan: Lo bikin tempat mahal jadi santai.

Harlia tersenyum, tapi ada rasa aneh di dadanya.

Keesokan harinya, Rina kembali menembak. Ia masih belum menyerah untuk membuka mata batin Harlia yang seperti kecintaan banget pada sosok Topan. Akan tetapi, kini ia memakai cara lain. Mengumpamakan dirinya pernah jadi korban buaya nyatru ratu. Alias buaya menyamar sebagai raja.

“Lo tau nggak,” kata Rina sambil mengaduk kopi sachet, “gue pernah kenal cowok.”

“Terus?”

“Dateng naik mobil bagus. Makan di tempat mahal. Ngaku pebisnis.”

“Terus?” ulang Harlia.

“Utangnya di mana-mana. Mobil sewaan. Hidupnya tambal sulam.”

Harlia menelan ludah.

“Serius?”

Rina mengangguk.

“Makanya gue curiga.”

“Lo curiga sama Topan?”

“Gue hati-hati buat lo, Har.”

Harlia menghela napas.

“Gue tau.”

Rina menatapnya lembut.

“Lo pantas dapet orang baik. Bukan orang yang bikin lo ngerasa kecil.”

Harlia terdiam lama. Semua yang dikatakan Rina masuk akal. Namun terkadang Harlia begitu denial, meyakinkan dirinya bahwa Topan tidak begitu.

Lalu, Harlia berkata pelan, “Gue takut.”

“Takut apa?” tanya Rina.

“Takut ternyata dia beneran sekelas itu,” kata Harlia jujur. “Dan gue cuma numpang kagum.”

Rina tersenyum tipis.

“Nah. Itu ketakutan yang lebih masuk akal.”

Sore itu, Topan mengirim pesan lagi.

Topan: Dinner?

Harlia menatap layar lama. Ia ingat kilauan yang berbahaya. Ia ingat peringatan Rina. Ia ingat dirinya sendiri. Namun, ia juga ingat umurnya sekarang sudah hampir menginjak kepala orang. Muak sudah ditanya kapan nikah? Kapan nikah? Kapan nikah?

Harlia mengetik.

"Boleh. Tapi tempat sederhana."

Balasan Topan cepat.

"Deal. Gue juga lagi pengen yang biasa."

Harlia tersenyum kecil. Mungkin, pikirnya, kilau itu tidak selalu bohong. Tapi ia harus belajar menatapnya tanpa menyipitkan mata terlalu lama.Karena terlalu silau, bisa bikin lupa siapa diri sendiri.