Kalau ada satu hal yang bisa mengacaukan hidup Harlia lebih cepat daripada diskon besar-besaran, itu adalah notifikasi ponsel dari Topan. Masalahnya, Topan tidak mengirim pesan seperti manusia normal. Topan mengirim pesan seperti pria yang punya waktu, kreativitas, dan niat.
Topan: Pagi. Semoga hari ini lo ketawa minimal tiga kali.
Harlia membaca pesan itu sambil senyum sendiri di halte.
Topan: Kalau belum, gue siap jadi alasan ketiga.
Harlia mematikan layar ponsel, menekan dadanya sendiri.
“Tarik napas, Har,” bisiknya. “Ini cuma gombalan.”
Masalahnya, Harlia suka. Dan itu baru pagi. Siangnya, Topan mengirim foto segelas kopi.
Topan: Minum kopi. Kepikiran lo. Padahal ini pahit.
Harlia membalas setelah lima menit berpura-pura sibuk.
Harlia: Kopinya atau hidup lo?
Topan: Hidup gue pahit sebelum kenal lo.
Harlia menjerit pelan di kursinya.
“GUE KENA,” gumamnya.
Perhatian Topan tidak berhenti di pesan.
Besoknya, Harlia menemukan paper bag kecil di mejanya. Isinya sebungkus donat mini dengan catatan.
“Katanya gula bikin bahagia. Gue nggak tau dosisnya, jadi gue coba dari yang kecil."
Harlia menatap donat itu lama. Mau salting tapi takut ada yang lihat. Tidak salting? Tidak mungkin.
“Ini nggak perlu,” gumamnya. “Tapi… kok lucu.”
Ia memfoto donat itu dan mengirim ke Topan.
Harlia: Kenapa sih repot?
Topan: Karena gue layak lu repotin.
Harlia menutup wajahnya dengan tangan. Ini bukan klepek-klepek lagi. Ini leleh total.
Masalahnya, ada satu orang yang tidak boleh tahu. Rina. Sejak adu sindir kemarin, Harlia berjanji akan hati-hati. Dan entah bagaimana, di otaknya, “hati-hati” berubah jadi “backstreet”.
Ia tidak cerita soal pesan-pesan manis. Tidak cerita soal donat. Tidak cerita soal Topan yang sekarang rutin nanya: udah makan?
Saat Rina bertanya, Harlia menjawab setengah.
“Masih chat-an?” tanya Rina.
“Kadang,” jawab Harlia.
“Kadang tuh berapa kali?”
“Ya… kadang-kadang.”
Rina menyipitkan mata. Membohongi Rina bukan perkara mudah atau memang Harlia yang tidak punya bakat berbohong.
“Har," tegur Rina.
“Kenapa?” Harlia agak gugup.
“Lo bohong," tuding Rina.
"Eng — Enggak," katanya tergagap.
“Lo bohong versi gugup.”
Rina mendesak. Harlia pura-pura sibuk mengetik. Pura-pura serius bekerja padahal hanya ingin membuat Rina meninggalkan mejanya.
Suatu sore, Topan mengajak Harlia pulang bareng. Tidak fancy. Tidak mahal. Hanya naik mobil, denger musik pelan.
“Lo capek?” tanya Topan.
“Dikit,” jawab Harlia.
Topan mengangguk.
“Capek tapi seneng?”Harlia tersenyum.
“Iya.”
Topan meliriknya.
“Kenapa?”
“Karena ada yang nanyain,” jawab Harlia jujur.
Topan tersenyum kecil.
“Gue pengen jadi orang itu.”
Harlia terdiam. Kicep sudah pasti, tidak mungkin langsung bilang kalau memang Topan orangnya. Pokoknya sejak kenal Topan, Harlia selalu berbunga-bunga.
Mobil berhenti di lampu merah. Di luar mobil berisik deru kendaraan tapi di dalam mobil terasa tenang. Hanya ada alunan musik lembut. Sampai kemudian.....
Topan menoleh, suaranya lebih pelan.
“Har… gue nggak mau buru-buru. Tapi gue serius.”
Jantung Harlia berdebar.
“Serius ke mana?” tanyanya.
“Ke lo.”
Harlia menelan ludah.
“Topan…”
“Gue tau lo takut,” lanjut Topan. “Dan gue tau Rina pasti ngasih lo daftar panjang alasan buat nggak percaya gue.”
Harlia tertawa kecil.
“Dia emang gitu.”
“Tapi gue nggak mau lo menjauh cuma karena takut.”
Lampu hijau menyala. Mobil jalan lagi. Walaupun kini fokus Topan kembali ke arah depan, tapi ia tetap melanjutkan obrolan seriusnya tadi. Harlia menatap jendela.
“Gue nggak menjauh.”
Topan tersenyum.
“Bagus.”
Hadiah berikutnya datang lagi. Kali ini lebih berbahaya. Sebuah buku. Judulnya tentang perempuan yang belajar mencintai dirinya sendiri. Di halaman pertama, ada tulisan tangan.
"Bukan karena lo kurang. Tapi karena dunia sering lupa adil."
Harlia membaca kalimat itu berulang-ulang. Dadanya hangat. Dan sediki takut. Karena ini terlalu tepat sasaran.
Rina mulai curiga serius saat Harlia mendadak rajin senyum ke ponsel. Saat ini Rina sedang menginap di rumah Harlia karena orang tua Harlia sedang menghadiri kondangan pernikahan anak kerabat mereka di luar kota.
“Siapa?” tanya Rina.
“Nggak siapa-siapa," elak Harlia.
Rina merampas ponsel Harlia. Agak kasar dan melanggar privasi memang, tapi begitulah Rina. Niatnya baik untuk menjaga sahabatnya, hanya kadang caranya yang bar-bar.
“EH!? RINNN!” seru Harlia.
Notifikasi muncul ketika ponsel sudah di tangan Rina. Pas banget Topan mengirim pesan.
Topan: Tidur yang nyenyak, calon favorit gue.
Sunyi.Sangat sunyi.
Rina membaca pesan itu. Lalu menatap Harlia.
“Calon apa?” tanyanya pelan.
Harlia panik.
“Itu cuma bercanda.”
“Har,” kata Rina serius. “Lo janji sama gue.”
Harlia menunduk.
“Gue nggak mau lo khawatir.”
“Dan lo pikir bohong bikin gue tenang?” suara Rina naik.
Harlia terdiam. Ia bingung harus apa sekarang karena sudah ketahuan. Rina menghela napas.
“Gue cuma takut lo terlalu dibuai.”
“Gue tau,” jawab Harlia lirih. “Tapi gue bahagia.”
Rina menatapnya lama. “Bahagia itu bagus. Tapi jangan sampe lo kehilangan pegangan.”
Malam itu, Topan mengirim pesan lagi setelah pesan terakhirnya tidak dibalas oleh Harlia.
Bagaimana mau membalas? Harlia sibuk diwejangi oleh sahabatnya.
Topan: Lo kenapa? Dari tadi beda.
Harlia mengetik lama.
Harlia: Gue takut ini terlalu cepat.
Balasan Topan tidak langsung datang. Lima menit. Sepuluh menit. Akhirnya....
Topan: Kalau gue berhenti, lo bakal lega atau kecewa?
Harlia menatap layar. Pertanyaan itu menohok. Ia tidak menjawab. Lalu ia menarik selimut dan tidur memunggungi Rina yang sudah tidur lebih dulu.
Keesokan harinya, ketika keduanya sudah berada di kantor. Rina melihat Harlia termenung.
“Lo nggak apa-apa kan, Har?” tanya Rina.
Harlia mengangguk pelan.
“Gue cuma mikir.”
“Boleh mikir bareng?” Rina bertanya.
Harlia tersenyum tipis.
“Nanti, ya. Gue pengen sendirian dulu," tolak Harlia.
Saat Rina pergi ke toilet, ponsel Harlia bergetar. Sebuah pesan dari Topan.
Topan: Gue ada di depan kantor lo.
Jantung Harlia melonjak.
Harlia: Sekarang?
Topan: Iya. Gue mau ngomong.
Harlia berdiri dengan perasaan gugup lagi bingung. Dan di saat bersamaan, Rina kembali dari toilet.
“Kemana?” tanya Rina.
Harlia membuka mulut, tapi bingung mau ngomong apa. Sementara itu, di luar, Topan menunggu. Dan di hadapannya kini, Rina menatapnya sangat ketat. Harlia masih berdiri dengan jantung yang terlalu penuh.
“Ada apa?” tanya Rina lagi. Kali ini ia curiga.
Harlia menggenggam ponselnya erat. Belum sempat ia menjawab pesan Topan yang tadi, ponselnya kembali bergetar. Ada pesan masuk.
Topan: Har, gue nggak main-main. Tapi gue juga nggak mau lo tertekan.
Harlia menelan ludah membaca pesan itu. Ia mengangkat kepala, menatap Rina.
“Rin,” katanya pelan. “Ada hal yang belum gue ceritain.”
Rina menatapnya tajam.
“Tentang Topan?”
Harlia belum sempat menjawab ketika suara klakson terdengar dari luar. Rina menoleh ke jendela. Dan melihat mobil Topan. Rina kembali menatap Harlia. Ekspresinya tidak marah. Tidak terkejut. Hanya… sangat serius.
“Har,” katanya pelan. “Lo yakin?”
Harlia membuka mulut. Serangan panik itu nyata, dan gadis itu sedang mengalaminya saat ini....