Gar memperhatikan Queen makan suap demi suap. Cara wanita itu menikmati makanan sederhana membuat sesuatu di dadanya terasa ganjil hangat, tapi juga asing. Ia mengangkat tangan, memanggil pelayan laki-laki yang tadi. “Satu porsi nasi ayam,” katanya singkat. Queen mendongak, alisnya terangkat, lalu tertawa kecil. “Hah? Katanya nggak suka? Terus kenapa pesen?” Gar meliriknya sekilas. “Yang kamu suapin tadi enak.” Queen mendengus geli. “Alasan.” “Bukan alasannya,” balas Gar tenang. “Rasanya memang enak. Tapi lebih enak waktu kamu yang nyuapin.” Queen terdiam sepersekian detik, lalu menepuk meja pelan. “Kamu tuh aneh. Ini tempat rame. Masa aku nyuapin kamu? Kamu udah gede.” “Aku nggak minta banyak,” ujar Gar, setengah bercanda tapi matanya serius. “Cuma satu dua, atau lima suap.” Queen menggeleng cepat. “Nggak. Malu. Orang-orang pada lihat.” Gar tersenyum tipis, lalu bersandar. “Ya sudah. Aku tunggu kamu makan dulu.” Queen menghela napas lega dan melanjutkan makannya. Beberapa menit kemudian, pesanan Gar datang. Pelayan itu menaruh piring dengan senyum kagum, lalu pergi. Alih-alih langsung makan, Gar justru mengeluarkan ponsel. Ia menyandarkannya ke tempat sendok, mengatur sudut. “Ih, mau ngapain?” Queen menatap curiga. “Aku mau video,” jawab Gar santai. “Kamu nyuapin aku. Dari awal sampai habis.” Queen membelalakkan mata. “Kamu gila?” Beberapa orang di sekitar mereka melirik. Ada yang berbisik-bisik. “Oh, vlogger ya pantesan cantik, banyak uang,” celetuk seseorang. Queen menggigit bibir, lalu mendecak. “Dasar.” Ia menoleh ke Gar, menatapnya lama. “Ini terakhir. Habis itu makan sendiri.” Gar tersenyum puas. “Deal.” Queen mengambil sedikit nasi dan ayam, meniupnya pelan karena masih panas. Tangannya sedikit gemetar saat menyuapkan ke mulut Gar. “Ayo,” katanya pelan. “Buka.” Gar menurut. Suapan pertama membuatnya terdiam. Bukan hanya karena rasa makanan yang sederhana tapi pas melainkan karena cara Queen melakukannya. Tanpa sendok. Tanpa dibuat-buat. Alami. “Enak,” katanya jujur. Queen mendengus, tapi senyum kecil lolos dari bibirnya. Ia menyuapkan satu lagi, lalu satu lagi. Tak lama, Gar sudah makan sendiri, sementara ponselnya merekam diam-diam. Queen tidak tahu. Yang Gar tahu, video itu bukan untuk pamer. Bukan untuk publik. Itu bukti. Bukti yang ia siapkan kalau-kalau Amara masih merasa perlu mengirim mata-mata. Ia tidak lagi peduli dengan risiko kecil. Ayahnya sendiri punya lebih dari satu kehidupan. Dunia tempat ia dibesarkan tak pernah hitam-putih. Namun saat menatap Queen wanita yang tertawa kecil sambil mengelap jarinya dengan tisu Gar tahu satu hal: Ini bukan sekadar kontrak yang mulai bergeser. Ini sudah menjadi sesuatu yang lain. Dan Amara. cepat atau lambat, akan melihatnya. “Bos, aku ketahuan.” Amara menghentikan gerakan tangannya. Alisnya langsung berkerut, tatapannya tajam ke arah ponsel. “Bodoh,” desisnya. “Kenapa sampai ketahuan? Jadi, kau bilang aku yang menyuruh?” “Tidak, Bos. Aku...” “Maaf?” potong Amara tajam. “Maaf itu tidak memperbaiki apa-apa.” Pria di seberang telepon terdiam. Amara menutup panggilan itu dengan kasar. Dadanya naik turun menahan emosi. Ia sedang duduk di kursi salon, rambut barunya lurus tergerai panjang, harum oleh produk mahal. Penampilannya sempurna bertolak belakang dengan wajahnya yang masam dan penuh amarah. “Dasar tidak becus,” gumamnya kesal. Belum sempat emosinya reda, ponselnya kembali bergetar. Sayang, aku di luar. Amara menarik napas panjang. Ia berdiri, melangkah ke depan cermin besar. Matanya meneliti pantulan dirinya sendiri make up tegas tapi elegan, setelan celana dan blazer mahal membingkai tubuhnya dengan sempurna, perhiasan berkilau menempel pas. Ia tersenyum kecil. Senyum percaya diri yang selalu ia pakai sebagai tameng. Begitu keluar dari salon, seorang pria tinggi dengan wajah tampan sudah menunggunya. “Wow,” ucapnya kagum. “Seperti biasa. Pacarku memang cantik.” Amara tersenyum mendengar itu. “Romeo,” katanya sambil mengangkat dagu. “Aku memang selalu cantik.” Romeo tertawa kecil, lalu menggandeng tangan Amara tanpa ragu menggenggam istri orang dengan penuh kepemilikan. “Kamu nggak mual?” tanyanya khawatir. Amara refleks memegang perutnya. “Enggak. Aku baik-baik saja.” “Kamu yakin pakai high heels setinggi itu?” Romeo melirik sepatunya. “Mau beli yang lain? Jangan yang tinggi-tinggi dulu.” “Udah, nggak apa-apa,” jawab Amara cepat. “Aku cuma lagi kesal.” “Kesal kenapa?” Romeo menuntunnya ke mobil. “Kita mau makan di mana?” “Terserah,” balas Amara dingin. “Aku kesal karena Gar.” Romeo berhenti sejenak, melepaskan gandengan tangannya. “Kenapa Gar?” “Dia sekarang punya simpanan.” Alis Romeo terangkat. “Kamu cemburu?” “Bukan soal cemburu,” bantah Amara cepat. Nada suaranya meninggi. “Kalau perempuan itu sampai hamil, anaknya bisa jadi ancaman. Bisa jadi penerus perusahaan.” Romeo mendengus pelan. “Selama kamu belum cerai sama dia, masih aman,” katanya santai. “Terserah Gar mau main sama siapa.” Kali ini Amara yang terdiam. Wajahnya mengeras, bibirnya mengerucut tidak senang. “Terus kita?” tanyanya akhirnya. “Hubungan kita bagaimana, Romeo?”
Mendengar pertanyaan itu tentang hubungan mereka, Romeo terdiam sejenak. Tatapannya kosong, seolah sedang menimbang kata-kata. Sejak awal, ia mendekati Amara bukan karena cinta yang tulus. Uang Amara terlalu mudah didapatkan, terlalu nyaman untuk dilepaskan. Dan sejauh ini, Amara selalu memberinya apa yang ia mau. Keheningan itu membuat Amara tidak sabar. “Kenapa kamu diam?” tanyanya, nada kesal bercampur manja. “Kamu nggak cinta aku?” Romeo tersenyum kecil. Senyum yang lembut, terlatih, dan selalu berhasil menenangkan Amara. Ia meraih tangan wanita itu, menggenggamnya erat. “Sayang,” ucapnya pelan. “Aku cinta sama kamu.” Amara menatapnya, mencari kepastian. “Aku mau kok kamu pisah sama dia,” lanjut Romeo, suaranya terdengar penuh pengorbanan. “Kalau kamu mau nikah sama aku, aku juga mau.” Ia berhenti sejenak, lalu menunduk, seolah malu. “Tapi aku nggak punya banyak harta,” katanya lirih. “Aku nggak sekaya Gar.” Amara menggigit bibirnya. “Kamu ingat kan rencana kita?” Romeo mengangkat wajahnya kembali. “Yang penting anak kita. Yang penting kita tetap bersama.” Ia mengusap punggung tangan Amara dengan ibu jarinya, gestur yang terlihat hangat. “Biar status itu tetap seperti sekarang,” lanjutnya tenang. “Aku nggak keberatan. Aku akan selalu ada buat kamu, Sayang.” “Romeo,” suara Amara melembut, nyaris bergetar. “Apa pun yang terjadi aku mohon, jangan tinggalkan aku.” Ia menatap pria itu dengan mata penuh harap. “Aku cinta sama kamu.” Romeo terdiam sesaat, lalu menarik Amara ke dalam pelukan. Tangannya mengusap punggung wanita itu dengan gerakan menenangkan. “Tidak mungkin, Sayang,” ucapnya rendah, meyakinkan. “Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu.” Amara memejamkan mata, tenggelam dalam kata-kata itu. Ia percaya. Terlalu percaya. Namun di balik pelukan itu, tatapan Romeo berubah. Tidak dingin, tidak sepenuhnya palsu hanya penuh perhitungan. Ia memang menyayangi Amara. Itu tidak ia pungkiri. Tapi cintanya tidak pernah berdiri sendiri. Setiap uang yang Amara berikan, tidak pernah ia habiskan seluruhnya. Selalu ada bagian yang ia sisihkan, diam-diam, rapi, tanpa jejak. Untuk satu orang lain. Seseorang yang lebih dulu ia janjikan kebahagiaan. Adiknya. Dan Amara tidak pernah tahu, bahwa di dalam hidup Romeo, ia bukan satu-satunya alasan untuk bertahan.