Perawan Mahal sang Penggoda - Kuras Saja Uangku - Bab 24

29 December 2025

Di dalam mobil, suasana mendadak lebih tenang. Mesin menyala pelan, AC berembus dingin, kontras dengan sisa hangat yang masih menggantung di antara mereka setelah kejadian di warung tadi. Queen menyandarkan punggung di jok, menatap keluar jendela. Lampu jalan berganti satu per satu, tapi pikirannya masih tertinggal di sana, pada tatapan orang-orang, bisik-bisik, dan rasa malu saat ia menyuapi Gar di depan umum. Pipinya masih terasa panas. Gar meliriknya sekilas, lalu menurunkan volume musik. “Videonya mau aku kirim?” tanyanya santai, seolah itu bukan hal besar. Queen langsung menoleh. “Hah?” “Kirim ke siapa?” tanyanya cepat. Gar mengangkat bahu. “Ke kamu dulu.” Queen mengerutkan kening. “Ngapain dikirim? Itu kan, rame banget. Banyak orang lihat.” “Biar aja,” jawab Gar ringan. Mobil berhenti di lampu merah. Dari kursi depan, Deko melirik lewat spion, lalu diam-diam mengeluarkan ponselnya. Sebuah pesan ia kirimkan ke Gar. Tuan, apakah tidak bermasalah jika banyak orang melihat? Ponsel Gar bergetar. Ia membacanya sekilas, lalu membalas tanpa ragu. Ayahku puluhan tahun punya gundik dan nggak pernah ketahuan. Kalangan bawah seperti itu, mana ada yang kenal aku. Beda cerita kalau aku artis. Deko terdiam beberapa detik sebelum membalas lagi. Tetap sebaiknya jaga-jaga, Tuan. Jangan terlalu mencolok. Gar menatap layar ponselnya sesaat lebih lama. Lalu ia mengunci layar dan kembali menatap jalan di depan, wajahnya tenang terlalu tenang. Sementara itu, Queen menoleh ke arahnya, ada keraguan di matanya.

“Nanti kalau sudah sampai mall, aku mau beli tas dulu,” ucap Queen sambil mengangkat tas kecilnya. “Ini kecil banget. Aku butuh yang agak gede, biar muat banyak barang. Terus aku juga butuh make up, parfum, semuanya mau aku masukin ke tas itu.” Gar melirik tas Queen sekilas, lalu mengangguk santai. “Iya. Kita beli tas dulu.” Mobil melaju stabil di jalanan kota. Tak lama, ponsel Gar kembali bergetar. Pesan dari Deko. Tuan, ingat. Mata-mata Nyonya Amara baru satu. Kita tidak tahu apakah ada yang lain. Gar membaca cepat, lalu mengunci layar tanpa ekspresi. Mobil terus melaju. Queen yang sejak tadi bersandar, tiba-tiba merasa tidak nyaman. Tatapannya bergerak dari atas ke bawah, memperhatikan sosok Gar yang duduk di sampingnya. Tinggi. Badan tegap. Wajah terlalu rapi untuk pria biasa. Queen menyipitkan mata. “Umurmu berapa sih, Tuan Gar?” tanyanya tiba-tiba. Gar menoleh. “Kenapa?” “Soalnya kamu kelihatan muda dan ganteng,” jawab Queen jujur. Gar tersenyum miring. “Maksudnya aku kelihatan muda dan ganteng, kan?” “Bukan, bukan gitu maksudku,” Queen buru-buru melambaikan tangan. “Maksudku, kamu mapan, kaya, punya banyak harta, tapi belum menikah. Itu agak mencurigakan.” Gar mengangkat alis. “Mencurigakan?” Queen mengangguk mantap, lalu melirik Deko lewat spion. “Jangan-jangan kamu sama anak buahmu itu, Deko.” Gar hampir tersedak udara. “Maksud kamu apa?” “Ya siapa tahu,” jawab Queen polos. “Cinta sesama jenis.” Gar refleks menegakkan badan, sementara Deko menoleh penuh keterkejutan. “Jadi kamu mikir aku, gitu?” Queen mengangguk santai. “Iya. Soalnya pertama, kamu beli aku. Kedua, kamu kontrak aku tapi nggak pernah sentuh. Jadi aku mikir, mungkin kamu memang nggak tertarik sama perempuan.” Gar terdiam beberapa detik, lalu tertawa pendek. Bukan marah lebih ke tidak habis pikir. Queen menambahkan cepat, “Tenang aja. Aku nggak masalah. Kalau kamu memang cinta sesama jenis, itu malah bagus.” “Bagus?” ulang Gar. “Iya dong,” kata Queen lugas. “Artinya kamu nggak akan pernah sentuh aku. Uangmu ya beneran cuma buat aku. Titik.” Mobil hening sesaat. Gar menghela napas pelan, lalu menggeleng sambil tersenyum tipis. “Pikiranmu itu liar.” Queen mengangkat bahu. “Daripada aku mikir kamu punya istri yang disembunyiin. Kalau itu kan ribet. Suatu saat pasti ketahuan, dan aku yang bingung harus gimana.” Gar tidak langsung menjawab. Pandangannya lurus ke depan, rahangnya mengeras samar. Begitu mobil memasuki area parkir mall, Queen langsung berubah. Matanya berbinar, tubuhnya condong ke depan, seperti anak kecil yang baru diajak ke taman bermain. “Cepat ya,” katanya tak sabar. “Aku sudah tidak sabar lagi” Gar meliriknya sambil tersenyum tipis. “Semangat banget. Kayaknya kamu mau ngabisin uangku.” Queen terkekeh. “Ya iyalah.” Ia merapikan rambutnya dulu sebelum turun. Ponsel baru tentu saja ia gunakan sebagai cermin. Sedikit membetulkan poni, memastikan lipstik masih rapi. Sama sekali tidak terlintas di kepalanya untuk mengabari abang. Bangun kesiangan, mandi kelamaan, lalu makan, dan sekarang mall. Abangnya terlupakan begitu saja. “Jelas dong,” ujar Queen penuh semangat. “Ini hari pertama aku resmi mulai kontrak. Masa cuma makan pecel lele doang? Pecel lele mah aku juga bisa bayar sendiri.” Gar tertawa kecil mendengarnya. “Di mall ini aku mau tas,” lanjut Queen, jarinya mulai menghitung di udara. “Aku mau emas. Perhiasan. Terus, apa lagi ya?” Gar menyandarkan siku. “Kedengarannya banyak.” “Belum selesai,” potong Queen. “Besok mungkin perawatan. Tapi hari ini fokus emas sama perhiasan. Sama baju. Pokoknya apa pun yang aku lihat dan aku suka, aku beli.” Gar akhirnya tertawa lepas. “Semua wanita memang sama ya? Kalau soal belanja.” Queen menoleh cepat. “Tentu dong.” Ia tersenyum lebar, tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Kalau pakai duit sendiri sih mikir. Ini perlu nggak ya, mahal nggak ya. Tapi kalau dibelanjain.” Ia mengangkat bahu santai. “Siapa peduli. Yang penting kamu kaya, dan aku belanja banyak.” Gar menggeleng pelan, masih tersenyum. Entah kenapa, melihat Queen sebahagia itu hanya karena mall membuat dadanya terasa ringan. Sebelum keluar dari mobil, Queen tiba-tiba menahan lengan Gar. “Sebentar,” katanya cepat. Gar yang sudah hampir membuka pintu menoleh heran. “Ada apa?” Queen menatapnya serius, jauh berbeda dari ekspresi ceria tadi. “Kau beneran soal ini?” tanyanya pelan, memastikan. “Soal apa?” Gar mengerutkan kening. “Itu,” Queen menelan ludah. “Setelah aku belanja. Setelah aku melakukan apa pun yang aku mau hari ini, kamu tetap bayar aku seratus juta per hari, kan?” Gar terdiam sesaat. “Tanpa ngurangin uang belanja,” lanjut Queen cepat, suaranya sedikit lebih kecil. “Itu bener, kan?” Gar menatap wajah Queen yang tampak ragu seperti seseorang yang sudah terlalu sering dikecewakan oleh janji. Lalu ia tertawa kecil, bukan mengejek, tapi menenangkan. “Iya,” jawabnya ringan. Ia mendekat sedikit, suaranya dibuat santai tapi tegas. “Nyonya Nurlela.” Queen mendongak. “Aku bayar kamu seratus juta sehari,” lanjut Gar. “Uang belanja terpisah. Kamu bebas mau pilih apa pun yang kamu mau.” Queen menghela napas lega, bahunya mengendur. “Kecuali satu hal,” tambah Gar. Queen menegang lagi. “Apa?” Gar tersenyum tipis, agak nakal. “Kecuali beli lelaki lain.” Queen terpaku beberapa detik, lalu memukul lengan Gar pelan. “Dasar.”