Perawan Mahal sang Penggoda - Mereka Suka Sesama Jenis? - Bab 25

29 December 2025

Queen masih menahan tangan Gar sebelum pria itu sempat membuka pintu mobil. Sentuhannya ringan, tapi cukup untuk menghentikan gerakannya. “Aku mau percaya,” ucapnya pelan, nyaris berbisik, “kalau ada buktinya.” Gerakan Gar terhenti. Ia menoleh, menatap wajah Queen yang kini terlihat berbeda. Tidak ada senyum ceria. Tidak ada nada menggoda. Yang ada hanya keraguan yang jujur dan itu justru membuatnya terlihat semakin cantik. “Bukti apa?” tanya Gar, memastikan. Queen menunduk sebentar, seolah menimbang keberaniannya sendiri. Lalu ia mengangkat wajahnya lagi. Senyum kecil, malu-malu, nyaris tidak terlihat. “Uang seratus juta,” ucapnya pelan. Gar terdiam sepersekian detik. Lalu ia tertawa rendah. Bukan tawa mengejek—lebih seperti seseorang yang akhirnya mengerti. Queen mengernyit sedikit. “Emang bisa kirim segitu langsung? Bukannya ada limit transfer?” Gar tersenyum tipis. “Ada,” jawabnya tenang. “Buat kebanyakan orang.” Ia mengeluarkan ponselnya, jemarinya bergerak cepat tanpa ragu. “Buat aku,” lanjutnya santai, “seratus juta itu bukan limit.” Gar menoleh padanya. “Nomor rekeningmu.” Queen menyebutkannya. Suaranya sempat goyah di angka terakhir, entah karena gugup atau tidak percaya. Beberapa detik kemudian, ponsel Queen bergetar. Notifikasi masuk. Matanya membesar. Angka itu nyata. Utuh. Tidak kurang satu rupiah pun. Seratus juta. Queen menatap layar itu lama. Dadanya terasa penuh. Bukan karena ia tak pernah memegang uang sebesar itu ia pernah. Tapi ini berbeda. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada obat. Tidak ada tubuh yang harus ia serahkan lebih dulu. Tanpa kerja. Tanpa pura-pura. Tanpa luka. Ia tersenyum lebar, senyum yang lepas dan jujur. Gar membuka pintu mobil, lalu menoleh kembali padanya. “Ayo, Nyonya,” ucapnya santai, tapi mantap. “Mall sudah menunggu untuk dikuras.” Queen tertawa kecil. Queen berpindah dari satu tas ke tas lain. Jemarinya menyentuh kulit halus, mengangkatnya sebentar, lalu menaruh kembali. Sesekali, matanya melirik ke arah Gar yang duduk santai di sofa kecil toko itu, menunggu tanpa terlihat tergesa. Tak jauh dari sana, Deko berdiri tegap, mengamati sekitar dengan sikap waspada. “Astaga,” gumam Queen pelan. “Pilih yang mana, ya.” Ia mengangkat satu tas kecil berwarna lembut. Cantik. Sangat cantik. Tapi begitu ia membayangkan semua barang yang ingin ia bawa, wajahnya langsung berubah ragu. “Yang ini kecil, tapi cantik banget,” katanya pada diri sendiri. “Cuma kalau naruh barang, pasti ribet.” Ia lalu beralih ke tas lain yang sedikit lebih besar. “Kalau yang ini juga cantik, lebih gede. Tapi yang kecil itu nggak kalah lucu.” Queen mendesah pelan. Bingungnya nyata. Saat ia masih menimbang, terdengar langkah mendekat. “Nur,” suara Gar terdengar lembut, “kamu suka yang mana?” Queen menoleh. Begitu mata mereka bertemu, senyum kecil yang malu-malu langsung terukir di wajahnya. “Sayangnya,” katanya jujur, “aku suka dua-duanya.” Gar melirik dua tas yang dimaksud, lalu tersenyum santai. “Oh,” ucapnya ringan. “Ambil aja keduanya.” Queen membelalakkan mata. “Hah?” Gar menoleh ke sekeliling toko tas yang dipenuhi rak-rak elegan. “Ini masih banyak,” lanjutnya seolah itu hal paling wajar di dunia. “Pilih yang lain juga. Masa cuma dua aja.” Queen terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil, nyaris tak percaya. “Serius?” Gar mengangguk. “Serius.” Di sudut toko, Deko hanya menghela napas pelan, menahan senyum tipis. Sementara Queen kembali menatap deretan tas di hadapannya kali ini bukan dengan bingung, tapi dengan mata berbinar. “Astaga,” keluh Gar sambil menyandarkan punggung. “Dari tadi kamu muter-muter. Ujung-ujungnya tetap dua tas itu juga yang kamu pilih.” Queen cengengesan sambil menenteng kantong belanjaannya. “Iya, soalnya aku mau beli banyak, tapi nanti ditaruh di mana coba? Sayang dong kalau ujung-ujungnya harus dijual lagi. Ini kan kenang-kenangan.” Gar menoleh padanya, nada suaranya datar tapi yakin. “Hei, tempatku itu besar. Kamu mau beli sebanyak apa pun, muat.” Queen mengangguk kecil. “Ya aku tahu tempatmu besar dan mewah,” katanya jujur. “Tapi aku kan cuma tiga puluh hari tinggal di sana. Lagian aku belum punya rumah sendiri. Mana bisa aku simpan banyak barang?” Gar berhenti melangkah. Ia menatap Queen, lalu bertanya seolah itu solusi paling logis di dunia. “Kamu butuh rumah?” Queen ikut berhenti. “Hah?” “Apa kita cari rumah dulu buat kamu,” lanjut Gar santai, “baru belanja lagi.” Queen membeku sepersekian detik. Lalu matanya membelalak. “Eh, jangan!” serunya cepat. “Ini sudah kelewatan batas, Tuan. Jangan gila dong.” Gar mengernyit. “What? Gila gimana?” Di belakang mereka, Deko sampai menggeleng-gelengkan kepala. Sudah bertahun-tahun ia menemani Gar, tapi belum pernah sekalipun mendengar tuannya menawarkan belikan rumah apalagi dengan nada sesantai itu. Queen menghela napas panjang, lalu menatap Gar dengan wajah serius bercampur geli. “Aku ini cuma kontrak. Bukan calon istri,” katanya menegaskan. “Kayaknya kontrak ini malah jadi ribet, ya, Tuan?” ucap Deko sambil berjalan di samping Gar. “Ribet gimana maksudmu?” tanya Gar tanpa menoleh. Deko menghela napas pendek, lalu berkata santai, seolah sedang membahas cuaca, “Ya sudah, nikah saja sekalian. Tuan sama Nyonya. Biar saya yang jadi saksinya.” Langkah Gar terhenti. Queen yang berjalan di depannya juga berhenti. Keduanya saling menoleh, sama-sama terdiam, seolah menimbang kalimat Deko yang terlalu ringan untuk makna sebesar itu. Queen lebih dulu bereaksi. Ia terkekeh kecil. “Orang gila mana,” katanya santai, “baru kenal sehari langsung nikah.” Ia kembali melangkah, seakan topik itu tidak layak dibahas lebih jauh. Sebelum benar-benar pergi, Queen menyodorkan dua paper bag ke tangan Gar. “Pegangin dong.” Namun Gar belum sempat menerimanya, sudah lebih dulu menyerahkannya ke Deko. “Bawa,” katanya singkat. Queen hanya melirik sekilas, lalu terus berjalan. Begitu jarak mereka sedikit menjauh, Gar menoleh tajam ke arah Deko. “Kenapa kamu bilang begitu?” suaranya terdengar lebih keras dari biasanya. Deko tetap tenang. “Tuan, kontrak ini merugikan Anda.” Gar tertawa pendek, tapi tak ada humor di sana. “Biar,” ucapnya ringan tapi tegas. “Biar aku yang dirugikan.” Ia menatap ke arah Queen yang semakin menjauh. “Kau tidak lihat dia? Dia wanita paling cantik di dunia ini.” Deko terdiam. Di kejauhan, Queen yang sudah melangkah cukup jauh tiba-tiba menoleh ke belakang. Pandangannya jatuh pada Gar dan Deko yang berdiri terlalu dekat, berbicara terlalu serius. Ia menyipitkan mata, lalu bergumam pelan dengan wajah curiga, “Curiga aku, mereka memang suka sesama jenis.”