Perawan Mahal sang Penggoda - Sentuhan Kecil - Bab 26

29 December 2025

Di depan toko perhiasan, Queen sempat berhenti sejenak. Pandangannya beralih ke Gar, lalu kembali ke etalase kaca yang berkilau di hadapannya. Gar menangkap tatapan itu, sementara Deko berdiri setengah langkah di belakang, sigap seperti biasa. “Kita beli emas?” tanya Queen, nada suaranya masih ragu tapi matanya sudah berbinar. Gar mengangkat alis tipis. “Kau ragu menguras uangku?” Queen langsung tersenyum merekah. Senyum yang membuat Gar tahu, keraguannya barusan lenyap. “Oke,” ucap Queen mantap. “Ayo kita masuk.” Begitu pintu kaca terbuka, udara sejuk langsung menyambut. Queen terdiam satu detik penuh. “Wow…” Toko perhiasan itu luas dan tenang, dengan pencahayaan hangat yang sengaja diarahkan ke setiap etalase. Lemari kaca berjajar rapi, menampilkan barisan perhiasan emas dalam berbagai kadar dan desain. Ada cincin-cincin emas tipis dengan mata berlian kecil yang berkilau halus, juga cincin besar dengan ukiran klasik yang tampak berat dan elegan. Kalung-kalung emas menggantung anggun, dari rantai sederhana yang lembut hingga kalung tebal bermotif rumit dengan liontin besar. Gelang emas tersusun di bantalan beludru hitam ada yang polos dan mengilap, ada pula yang dipenuhi ukiran detail. Anting-anting berjejer rapi, dari yang kecil dan manis hingga model menjuntai yang berkilau setiap kali terkena cahaya. Semua tampak mahal. Bukan yang mencolok berlebihan, tapi jenis kemewahan yang tenang dan berkelas. Queen berputar perlahan, matanya tak berhenti bergerak. “Aku mau cincin, boleh?” tanyanya sambil menoleh ke arah Gar. Gar mengangguk tanpa ragu. “Bebas. Cincin, kalung, gelang.” Ia menambahkan santai, “Ambil saja semuanya kalau mau.” Queen terkekeh kecil, jelas senang. “Jangan gitu, nanti aku keterusan.” Ia lalu mendekat ke Gar, menepuk ringan lengan pria itu. “Aku mau ngomong sesuatu.” Gar mencondongkan tubuhnya sedikit, menurunkan wajahnya agar sejajar dengan Queen. Jarak mereka kini sangat dekat. “Ada apa?” tanyanya pelan. Queen menahan senyum, lalu berbisik, “Kau tahu, Tuan yang tampan dan kaya raya.” Gar tersenyum tipis, menunggu. “Aku lebih suka ini,” lanjut Queen, melirik deretan perhiasan emas di depan mereka. “Daripada tas.” Nada suaranya mantap, jujur, tanpa dibuat-buat. Gar tertawa rendah mendengarnya. “Baiklah,” katanya. “Pilih yang kamu mau.” Queen mulai memilih dengan antusias. Ia menunjuk satu cincin, lalu berganti ke kalung, lalu kembali ke gelang. Tak bisa diam. Penjaga toko sibuk membuka etalase satu per satu, sementara Gar berdiri di sampingnya, ikut membantu. “Bantuin dong,” pinta Queen sambil menyodorkan kalung. Gar mengambilnya, lalu berdiri di belakang Queen untuk memasangkan. Jari-jarinya menyentuh tengkuk Queen sekilas saat mengaitkan pengunci kalung. Queen terdiam sepersekian detik. Ada sensasi kecil yang membuat dadanya menghangat. “Sudah,” ucap Gar pelan. Queen mengangguk, lalu tersenyum ke cermin. “Yang ini juga,” katanya lagi, menyodorkan gelang. Gar menurut, memasangkan gelang di pergelangan tangan Queen. Sentuhan mereka tak terhindarkan. Kulit bertemu kulit. Singkat, tapi cukup membuat Queen menahan napas sejenak. Anting menyusul. Cincin. Lagi dan lagi. Queen sesekali terpana, bukan oleh emasnya, melainkan oleh cara Gar melakukannya tenang, sabar, tanpa komentar berlebihan. Namun ia cepat menguasai diri, mengingatkan hatinya pada satu hal: ini hanya kontrak. Meski begitu, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari seharusnya. Dan Gar. Gar menyadarinya. Penjaga toko tersenyum profesional, tapi matanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan kecil melihat jumlah perhiasan yang kini terpasang di tubuh Queen. Deko berdiri di sudut, tangan terlipat di depan, ekspresinya datar, meski dalam hati ia menghitung angka yang terus bertambah. “Yang ini cocok sekali, Nyonya,” ujar penjaga toko sambil menunjuk cincin emas dengan ukiran halus di jari Queen. “Terlihat pas.” Queen mengangkat tangannya, memandangi pantulan cincinnya di kaca. “Iya ya,” gumamnya. “Kayaknya ini cocok.” Gar berdiri di sampingnya, memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Namun saat penjaga toko hendak mengambil cincin lain, Gar mengangkat tangannya sedikit. “Yang itu saja,” ucapnya tenang. Queen menoleh cepat. “Kenapa? Yang lain juga bagus.” Gar menatap tangannya lebih tepatnya cincin yang kini melingkar di jari Queen. “Karena itu sudah cukup,” katanya. “Kalau terlalu banyak, kamu malah bingung mana yang mau dipakai.” Queen menatapnya beberapa detik. Ada sesuatu dalam nada suara Gar yang tidak terdengar seperti soal uang, lebih seperti soal pilihan. “Oh,” Queen mengangguk kecil. “Iya juga.” Ia melepaskan beberapa perhiasan lain, lalu menyerahkannya kembali ke penjaga toko untuk di bungkus. Deko menghela napas lega, meski tidak berani menunjukkan. Akhirnya, drama mengantar Tuan dan Nyonya akan berakhir hari ini, mungkin juga tidak jika Gat menawarkan sesuatu yang lain. Saat transaksi berlangsung, Queen berdiri agak menjauh, menatap etalase lain. Gar menyelesaikan pembayaran tanpa banyak bicara. Angka yang muncul di layar kasir membuat penjaga toko menahan napas, lalu tersenyum makin lebar. “Terima kasih, Tuan,” ucapnya sopan. Gar hanya mengangguk. Ketika mereka melangkah keluar dari toko, Queen menenteng kotak perhiasan kecil dengan hati-hati, seolah itu benda rapuh. “Aneh ya,” katanya tiba-tiba. Gar menoleh. “Apa?” “Aku kira aku bakal lebih senang tas,” Queen tersenyum kecil. “Tapi ini, rasanya beda.” Gar melirik perhiasan di tangannya. “Karena ini bisa kamu simpan lama.” Queen mengangguk. “Iya. Dan rasanya lebih nyata.” Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor mall. Lampu-lampu terang memantulkan kilau emas di tubuh Queen. Beberapa orang menoleh, ada yang berbisik pelan. Queen mulai sadar dengan semua ini, ia semakin mencolok. Gar menangkap perubahan itu. Ia melangkah sedikit lebih dekat, bahunya hampir bersentuhan dengan Queen. “Kalau merasa tidak nyaman,” ucap Gar pelan, hanya untuknya, “bilang.” Queen menoleh, terkejut oleh nada suaranya yang protektif. “Kenapa?” tanyanya. “Karena selama kontrak ini,” lanjut Gar tenang, “kamu tanggung jawabku.” Queen terdiam. “Bukan barang,” tambah Gar cepat, seolah membaca pikirannya. “Orang.” Jantung Queen berdegup lebih keras dari seharusnya. Ia menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang nyaris lolos. “Kontrakmu ribet,” gumamnya. Gar tersenyum samar. “Kamu baru merasakan setengahnya.” Dari belakang, Deko mengikuti dengan ekspresi lelah sekaligus pasrah. Dalam hati ia berpikir satu hal: Ini sudah bukan kontrak biasa. Dan entah siapa yang akan rugi lebih dulu.