Drama

BAB 12 Jejak Salju yang Hilang

29 December 2025

Duke Anthony masih menatap gulungan pesan itu seakan kertas tipis itu menyimpan kekuatan untuk mengubah seluruh nasib kerajaan. Di balik tinta yang tergores rapi, ia menemukan secercah keajaiban yang nyaris tak berani lagi ia harapkan: Anne hidup. Keponakan yang ia pikir telah lenyap ditelan kekejaman istana kini disebut-sebut berada di Pedran, jauh dari mata penguasa, namun cukup dekat untuk kembali dalam jangkauan takdir.

Jantung Anthony berdebar, bukan hanya karena kabar itu, tetapi karena kenangan lama kembali menghantamnya—kenangan tentang malam pengasingan Anne, tentang kemarahan yang tak terungkap, tentang ketidakmampuan yang menghancurkan dirinya selama bertahun-tahun. Namun lebih dari itu semua, satu kenangan lain muncul, jauh lebih lembut namun jauh lebih menyakitkan: kenangan tentang adik perempuannya, Althea—ibu Anne—wanita yang pernah menjadi cahaya paling hangat dalam hidupnya, sebelum cahaya itu dipadamkan oleh takdir yang kejam.

Saat itu, Anthony masih muda, penuh semangat, penuh keyakinan bahwa kebaikan selalu akan menang di istana. Althea, adik perempuannya, adalah pusat kehangatan keluarga mereka. Sementara Anthony tumbuh sebagai calon pewaris gelar Duke yang tegas dan disiplin, Althea tumbuh berbeda—lembut, jenaka, dan memiliki senyum yang bisa meredakan ketegangan bahkan di ruang aula tertinggi.

Ia sering berlari-lari di taman salju Istana Utara, rok gaunnya mengepak seperti sayap burung kecil yang mencoba terbang. Rambutnya, cokelat lembut seperti Anne, selalu terurai tertiup angin. Anthony sering mengawasinya dari kejauhan saat berlatih pedang atau mempelajari peta militer. Althea tak pernah peduli pada protokol, pada aturan rumit bangsawan. Dia hanya peduli pada orang-orang yang disayanginya, dan Anthony selalu berada di urutan pertama.

“Anthony!” serunya suatu sore, ketika salju turun perlahan. “Kau terlalu sering mengerutkan dahi. Kalau terus begitu, suatu hari dahimu akan pecah jadi dua.”

Anthony hanya menghela napas panjang. “Aku sedang belajar menjadi Duke. Aku tidak punya waktu bermain-main.”

Althea menepuk bahunya dengan lembut. “Maka dari itu, kau butuh sedikit kehangatan agar tidak membeku sebelum waktunya.” Ia kemudian menyodorkan secangkir cokelat panas. “Minum. Tidak semua pertempuran harus dilawan dengan pedang, Kak.”

Ia tertawa kecil saat itu, tawa yang masih menggemakan kehangatan di dadanya hingga kini.

Ketika Raja Charlos meminang Althea sebagai calon permaisuri, Anthony sempat merasa bangga. Ia pikir adiknya akhirnya mendapat tempat yang pantas—menjadi ratu yang dikagumi seluruh negeri. Althea pun menerima dengan lembut, namun bukan karena kemegahan atau ambisi. “Aku ingin membawa kebaikan ke istana, Kak. Ada banyak yang bisa kusembuhkan di sana,” katanya dengan mata bersinar.

Namun yang tidak mereka tahu, istana bukan tempat yang bisa disembuhkan dengan kebaikan semata.

Setelah Althea menikah, ia memang sempat membawa cahaya baru. Ia ramah pada pelayan, tersenyum pada bangsawan lain, bahkan berhasil membuat Raja Charlos—yang terkenal keras—menjadi lebih lembut untuk sesaat. Ia selalu hadir di aula kerajaan sebagai ratu yang dicintai rakyat.

Namun ketika Anne lahir, keadaan berubah.

Para penasihat mulai berbisik. Para bangsawan mempertanyakan garis keturunan Utara yang mengalir di tubuh Anne dan kemungkinan pengaruhnya terhadap politik kerajaan. Ratu Elena, yang saat itu masih seorang selir ambisius, melihat peluang. Perlahan, seperti ular yang menyusup di balik kehangatan, ia memutar cerita, menyebar keraguan, dan memanfaatkan ketakutan Raja Charlos akan pemberontakan Utara.

Althea melihat semuanya. Ia merasakannya. Namun seperti biasanya, ia memilih menghadapi dunia dengan kebaikan.

“Jangan khawatir, Anthony,” ujarnya suatu malam saat ia mengunjungi Istana Utara setelah melahirkan. Tubuhnya tampak lebih rapuh, namun sorot matanya tetap hangat. “Anne akan tumbuh menjadi cahaya bagi kerajaan ini. Aku akan menjaganya.”

Anthony hanya mengangguk, namun tak bisa menyembunyikan keresahan dalam suaranya. “Kau harus berhati-hati, Althea. Elena… dia bukan wanita biasa. Dia tidak menyukai posisimu.”

Althea tersenyum lemah. “Bukan posisiku yang ia incar, Kak. Takhta itu. Dan ia tidak akan berhenti sampai ia mendapatkannya.” Ia menatap langit malam yang bertabur bintang. “Tapi aku tidak takut. Selama Anne ada, selama kita melindunginya bersama, aku percaya segalanya akan baik-baik saja.”

Tentu saja, kenyataan tidak seindah keyakinannya.

Setahun kemudian, Althea jatuh sakit. Penyakit misterius yang tak pernah dapat dijelaskan tabib istana. Ia melemah dalam hitungan minggu, dan sebelum Anthony sempat mengunjungi istana untuk terakhir kalinya, Althea telah pergi. Kepergiannya begitu cepat, begitu tidak masuk akal, hingga Anthony selalu mencurigai ada tangan-tangan gelap yang bekerja di balik layar.

Pada hari pemakaman Althea, salju turun lebih lebat dari biasanya. Anthony berdiri di samping peti adiknya, membiarkan serpihan salju menempel di jubahnya, namun tak merasakan dingin sedikit pun. Ia tak menangis—ia membeku. Di sampingnya, Anne yang masih bayi menangis tanpa mengerti dunia baru yang menanti tanpa sosok ibunya.

Sejak hari itu, Anthony bersumpah untuk melindungi Anne, sekaligus mengungkap kebenaran yang ia yakini bersembunyi di balik kematian Althea.

Tetapi sumpah itu hancur pada malam Anne diasingkan.

Kini, bertahun-tahun kemudian, kenangan itu berputar seperti bayangan hantu di benaknya. Anthony memejamkan mata, membiarkan wajah Althea muncul dengan jelas—senyumnya, matanya, tawanya. Ia mendengar suaranya, lembut namun penuh keyakinan.

“Aku titipkan Anne padamu, Kak. Jaga dia… jika aku tidak bisa.”

Anthony membuka mata, napasnya berat namun stabil. “Althea… maafkan aku,” bisiknya pada dirinya sendiri, suara itu mengandung penyesalan yang menua bersama waktu. “Aku gagal menjaganya. Tapi tidak lagi. Aku bersumpah, kali ini, aku akan memenuhi janjiku padamu.”

Ia memandang jendela di depan meja kerjanya. Salju masih turun, sama seperti hari Anne lahir, sama seperti hari Althea pergi. Namun kini, salju itu tidak hanya membawa kesedihan. Ia membawa harapan baru.

Anne hidup.

Dan ia akan menemukannya.

Entah apa yang menunggu gadis itu di Pedran—bahaya, persekutuan baru, atau petunjuk masa lalu yang terpendam. Namun Anthony tahu satu hal dengan pasti: ia tak akan membiarkan sejarah terulang. Tidak ada lagi ambisi yang merampas keluarga. Tidak ada lagi keputusan kejam yang dibuat demi kekuasaan.

Kali ini, ia akan melawan.

Ia meraih mantel tebal berwarna biru tua dan mengenakannya. Pundaknya terasa lebih berat, bukan oleh mantel itu, melainkan oleh beban masa lalu yang kini berubah menjadi tekad.

“Anne,” ucapnya pelan, lembut namun tajam seperti pedang yang baru diasah. “Aku datang untukmu.”

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Anthony melangkah bukan dengan rasa bersalah, tetapi dengan tujuan yang jelas. Tidak peduli siapa yang berdiri di hadapannya—Raja Charlos, Ratu Elena, atau seluruh kabinet istana—ia tidak akan berhenti.

Bukan lagi sebagai seorang bangsawan.

Bukan lagi sebagai seorang Duke.

Melainkan sebagai kakak yang menepati janji pada adiknya.

Dan sebagai pria yang siap meruntuhkan intrik yang telah merenggut terlalu banyak.