Drama

BAB 13 Langkah Pertama dalam Permainan Kekuasaan

29 December 2025

Pasar Pedran sore itu dipenuhi hiruk-pikuk yang meluap seperti gelombang tak pernah berhenti. Para pedagang berteriak hingga suara mereka serak, menawarkan rempah dari selatan, logam dari pegunungan utara, kain dari timur, dan berbagai barang yang membuat pasar seakan pusat pertemuan seluruh dunia. Udara penuh aroma roti panggang, kayu manis, dan debu kering yang berterbangan setiap kali gerobak lewat. Di tengah keramaian itu, Cloris sibuk menata kain-kain baru di lapaknya: biru laut, merah marun, dan hijau lumut. Tangannya bekerja cepat dan teratur, sementara matanya tetap mengamati kerumunan—seolah setiap bayangan bisa menjadi ancaman.

Namun sore itu, ada sesuatu yang berbeda. Di antara semua teriakan dan tawa, Cloris menangkap bisik-bisik halus.

Dua wanita tua sedang membungkuk di dekat lapak kain, wajah mereka tertutup kerudung tipis.

“Seraphine… kau dengar?” bisik wanita bersuara parau. “Dia katanya akan menjadi calon tunangan Pangeran Kael.”

“Benarkah?” sahut lainnya dengan suara gemetar. “Ia benar-benar mengejar posisi itu. Akhirnya ia dapat apa yang ia inginkan.”

Cloris menahan senyum tipis. Seraphine, dengan segala ambisi dan kepandaiannya memanipulasi orang, memang selalu bergerak ke arah kekuasaan. Mendapat kedudukan sebagai calon pendamping pewaris kerajaan Selatan? Itu kemenangan besar baginya. Cloris nyaris tertawa, namun ia menahan diri. “Akhirnya perempuan itu meraih apa yang dia incar,” pikirnya. Ada sedikit kepuasan di sana, meski ia sendiri tak tahu apakah itu perasaan yang patut dirayakan.

Tapi kedamaian kecil itu tidak bertahan lama.

Suara terompet pendek terdengar dari gerbang pasar. Warga berhenti sebentar, lalu berbisik satu sama lain. Cloris menoleh. Dari kejauhan, terlihat rombongan penjaga kerajaan berbaris rapi. Di tengah mereka, dua sosok berjalan berdampingan: satu berpostur tegap dengan jubah panjang merah keemasan, satu lagi lebih muda dengan mantel biru tua.

Raja Aldren dari Selatan. Dan putranya, Pangeran Kael.

Pasar Pedran jarang sekali menerima kunjungan langsung dari raja. Inspeksi seperti ini hanya terjadi bila ada masalah besar atau kebijakan baru yang hendak diterapkan. Para pedagang berbisik panik. Beberapa buru-buru merapikan lapak yang berantakan; beberapa lainnya mencoba menyembunyikan barang-barang dari luar kerajaan yang belum mereka laporkan.

Cloris menarik napas. Ini bisa berubah menjadi bencana.

Raja Aldren berhenti di beberapa lapak, menanyakan harga rempah, memeriksa kualitas kain, dan sesekali mengangguk puas. Namun ketika mereka tiba di lapak seorang pedagang rempah, nada sang raja berubah.

“Lima puluh koin untuk sekilo rempah?” tegurnya dengan suara berat yang menggema. “Kau menaikkan harga dua kali lipat dari yang tercatat di kerajaan.”

Pedagang itu tergagap. “A… amp—”

“Kau juga membawa rempah dari luar kerajaan tanpa izin,” kata Kael, nadanya tajam. “Pajaknya mana? Sertifikatnya mana?”

Orang-orang di sekitar mulai saling berbisik. Ketegangan memuncak. Raja menatap pedagang itu dengan mata penuh kekecewaan.

“Kalian menipu rakyat sendiri,” katanya pelan namun tegas. “Dan kalian merugikan kerajaan.”

Pedagang lain tampak ketakutan. Mereka tahu, jika raja marah, sanksi bisa sangat berat.

Cloris menelan ludah. Ia merasa pasar akan kacau jika situasi ini dibiarkan berlarut. Ia menatap raja, lalu pedagang-pedagang lain yang mulai panik. Dalam sekejap, ia tahu ia harus turun tangan.

Ia melangkah maju.

Tatapan semua orang tertuju padanya. Termasuk sang raja dan pangeran.

Cloris menunduk hormat, tetapi tidak kehilangan ketenangannya. “Yang Mulia,” ucapnya, suaranya lembut namun tegas. “Maaf bila saya lancang. Namun izinkan saya menjelaskan dari sudut pandang pedagang.”

Raja menatapnya. Matanya yang tajam menilai karakter Cloris sebelum berbicara. “Bicara.”

Cloris mengangguk pelan, lalu melanjutkan, “Harga pasar memang naik turun, Yang Mulia. Perjalanan dari wilayah selatan berbahaya. Pajak, risiko, serta biaya perjalanan membuat pedagang menaikkan harga. Namun, saya setuju bahwa harga yang tidak wajar merugikan rakyat dan kerajaan.”

Kael menyipitkan mata, tertarik namun waspada. “Lalu apa solusimu, gadis muda?”

Cloris meraih catatan kecil dari kantongnya—buku yang selalu ia bawa untuk mencatat segala perubahan harga di pasar.

“Kita bisa membuat sistem standar,” katanya sambil membuka halaman yang telah ia isi. “Daftar harga dasar untuk barang penting. Rempah, logam, kain, dan kebutuhan pokok lainnya. Pedagang yang membawa barang dari luar kerajaan wajib mendaftar, membayar pajak tambahan yang jelas jumlahnya.”

Ia mengangkat catatan itu agar sang raja dapat melihat.

“Dengan begitu,” lanjutnya, “tidak ada pedagang yang berani menipu. Rakyat tahu batas harga. Dan kerajaan tetap menerima pajak. Jika ada yang melanggar, mereka bisa ditindak dengan alasan yang jelas dan tercatat.”

Raja Aldren membaca catatan itu sebentar, alisnya perlahan terangkat. “Kau membuat ini sendiri?”

“Ya, Yang Mulia.”

“Dan kau pedagang biasa?”

Cloris tersenyum kecil. “Itulah yang terlihat.”

Jawaban itu membuat Kael hampir tersenyum. Raja bahkan tampak lebih tertarik.

“Jika sistem ini diterapkan,” Cloris menambahkan, “masalah harga tidak akan lagi menjadi alasan untuk menipu rakyat. Transparansi adalah kunci—dan pedagang akan lebih mudah menaati aturan.”

Raja diam beberapa saat. Udara di sekitar mereka seperti berhenti bergerak. Cloris merasakan jantungnya berdetak cepat—namun ia tetap berdiri tegak, penuh keyakinan.

Akhirnya, Aldren berkata, “Kau berbicara dengan logika yang tajam… dan keberanian yang tidak dimiliki banyak orang.”

Pangeran Kael mengangguk setuju. “Usulanmu, Cloris… sungguh masuk akal. Bahkan para penasihat pun belum memberikan konsep sejelas ini.”

Bisik-bisik di antara para pedagang mulai terdengar. Nama Cloris dilafalkan di setiap sudut pasar.

Raja memandangnya lagi, lebih lama. “Aku ingin tahu lebih banyak tentang sistemmu,” katanya. “Dan tentang siapa dirimu sebenarnya.”

Cloris menunduk sopan. “Aku hanya pedagang, Yang Mulia.”

Raja tersenyum kecil—senyum yang tidak sering terlihat. “Aku ragu itu. Namun jika kau tidak keberatan, aku ingin bertemu denganmu lagi.”

Cloris mengangkat wajah, terkejut. “Yang Mulia?”

“Ada jamuan di istana tiga hari lagi,” ujar Aldren. “Aku mengundangmu sebagai tamu kehormatanku. Aku ingin mendengar penjelasan lebih lengkap… dan mungkin memberimu sebuah hadiah atas kontribusimu bagi rakyat dan kerajaanku.”

Kerumunan langsung ribut. Pedagang menatap Cloris seakan ia tiba-tiba berubah dari manusia biasa menjadi sosok legenda. Beberapa bahkan menatap dengan rasa iri, beberapa kagum.

Cloris sendiri hampir kehabisan kata. Ia menunduk dalam-dalam. “Itu suatu kehormatan, Yang Mulia.”

“Baik.” Raja berbalik, namun berhenti sejenak. “Dan Cloris… jangan takut. Tidak ada pedagang jujur yang akan dirugikan hari ini.”

Kael sempat melirik Cloris sebelum mengikuti ayahnya. Tatapan itu bukan sekadar penuh rasa ingin tahu, tetapi juga penghormatan.

Ketika rombongan kerajaan pergi, pasar kembali bernafas. Suara-suara kembali terdengar—lebih pelan, lebih hati hati. Beberapa pedagang mendekati Cloris, menepuk bahunya, menyampaikan terima kasih atau kekaguman. Namun Cloris hanya menanggapi dengan senyum tipis.

Di dalam hatinya, ia masih terkejut.

Ia, Cloris si pedagang yang “biasa”, baru saja berdiri di hadapan raja dan pangeran—dan bukan hanya selamat, tetapi diundang ke istana.

Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan napasnya kembali stabil. Satu hal terlintas jelas dalam pikirannya: Ia harus sangat berhati-hati. Karena Cloris hanyalah nama samaran.

Di baliknya, ia adalah Anne, putri Utara yang tersembunyi—yang tidak boleh ditemukan oleh kerajaan mana pun, terutama kerajaan Selatan.

Namun tetap saja, ada secercah kepuasan. Hari itu, ia berhasil menavigasi intrik kekuasaan tanpa terpeleset. Bahkan lebih dari itu—ia menarik perhatian sang raja.

Cloris membuka matanya. Pasar kembali bergerak. Dunia politik kembali berputar. Dan ia tahu satu hal:

Permainan baru saja dimulai.