Istana Barat berdiri megah di bawah langit pagi yang suram. Dinding-dindingnya yang tinggi menjulang seperti bayangan batu yang mengawasi seluruh kerajaan. Burung-burung gagak bertengger di puncak menara, memandangi halaman istana yang sepi, seolah tahu bahwa pemilik kerajaan itu bukan sosok yang hangat atau mudah dipahami.
Raja Edric duduk di singgasana utama—singgasana yang dulu ditempati ayahnya—tanpa banyak gerakan, tanpa banyak ekspresi. Jubah hitam kebesarannya menjuntai hingga lantai, sementara matanya yang tajam namun tumpul memandangi aula tak berpenghuni.
Sudah empat tahun ia menjadi raja. Empat tahun penuh kehampaan.
Namun tak ada yang mampu menghapus satu hal yang paling menghantuinya: Pembatalan perjodohan dengan Anne.
Anne yang seharusnya menjadi ratunya. Anne yang seharusnya mengisi sayap timur istana. Anne yang—setelah keputusan kejam itu—menghilang tanpa jejak.
Dan dunia menyalahkannya sampai sekarang.
Edric menyandarkan punggung pada singgasana dan menghembuskan napas panjang. Pikiran itu datang lagi seperti gelombang yang tak pernah berhenti menghantam pantai. Setiap malam, setiap pagi, setiap kali ia lewat di lorong-lorong tempat para calon ratu biasanya berjalan, ia merasakan kehampaan yang semakin menyesakkan.
“Aku membuang satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan kerajaan ini…” gumamnya, suara itu nyaris tenggelam dalam ruang hening.
Ia ingat malam ketika ia membuat keputusan itu—malam yang membuatnya kehilangan segalanya. Saat itu, ia masih putra mahkota. Para penasihat menekannya. Ratu Elena mengirim surat gelap, mengancam bahwa jika perjodohan itu diteruskan, seluruh hubungan antara Utara dan Barat akan runtuh.
Dan ia—bodoh dan muda—memilih kerajaan di atas perempuan yang seharusnya ia lindungi.
Edric mengepal tangannya. Beberapa tulang jarinya berderit.
Jika waktu bisa diputar kembali, ia akan menolak semua tekanan itu. Ia akan mengambil Anne dan membawanya keluar dari istana. Ia akan menjadi pelindungnya, bukan penyebab kehancurannya.
Namun hidup tidak memberi kesempatan kedua.
Langkah-langkah ringan terdengar dari balik tirai panjang yang menghubungkan aula singgasana dengan sayap kiri istana. Aroma bunga melati memenuhi udara. Seorang wanita berjalan masuk, mengenakan gaun merah muda lembut, dengan rambut cokelat muda yang digelung elegan. Matanya menunduk sopan, bibirnya tersenyum anggun.
Selir Tingkat Satu, Lady Marvella.
Wanita paling berpengaruh di istana setelah raja sendiri. Cantik, pintar, dan licik. Raja Edric memang memanjakan semua selirnya—karena ia tidak memiliki ratu, para selir itu adalah satu-satunya “hiburan” politik yang bisa ia izinkan tanpa melukai perasaannya sendiri—namun Lady Marvella adalah yang paling menonjol.
“Hamba mendengar Yang Mulia belum menyentuh hidangan pagi,” ucapnya lembut, suaranya seperti seruling yang dimainkan pelan. “Hamba khawatir.”
Edric tidak menjawab. Ia memandang lurus ke depan.
Marvella tersenyum—senyum yang dibaliknya selalu ada jebakan halus. Ia melangkah lebih dekat, berhenti tepat dua langkah dari atas tangga singgasana.
“Yang Mulia,” katanya lagi, “hari ini ada rapat para penasihat. Mereka menunggu.”
Edric menghela napas lelah. “Biarkan mereka menunggu.”
Marvella menahan senyum. “Mereka akan tersinggung, Yang Mulia.”
“Biarkan.”
Ia hampir terlihat ingin mengusir semua orang dari hidupnya.
Bukan hal baru. Para selir terbiasa dengan sikap Edric yang dingin dan jauh. Namun Edric tidak pernah benar-benar kasar kepada mereka—ia hanya… tidak peduli. Memberi mereka harta, pakaian, dan kuasa kecil untuk menjaga istana, tapi tidak pernah memberi hatinya.
Hatinya berhenti pada Anne. Dan tidak pernah bergerak lagi.
Marvella memiringkan kepala, tatapannya lembut namun penuh hitungan. “Jika raja terus bersikap begini… kerajaan akan mulai bertanya-tanya. Sudah empat tahun tanpa ratu. Para bangsawan Selatan dan Timur mendesak agar kursi ratu segera diisi.”
Edric menatapnya tajam. “Kau ingin kursi itu?”
Marvella tidak tersenyum kali ini. “Yang Mulia… hamba hanya ingin kerajaan ini stabil. Hamba ingin membantu Anda.”
“Kau tidak akan menjadi ratu,” jawab Edric datar.
Suara itu cukup untuk membuat hawa di ruangan berubah.
Seseorang lain memasuki aula dari pintu samping—dan Marvella langsung menundukkan kepalanya.
Seorang wanita tua, mengenakan pakaian sederhana berwarna abu-abu gelap, rambutnya digulung tanpa perhiasan, langkahnya tegas meski tubuhnya sudah renta.
Madam Thera. Madam pengasuh Edric sejak kecil. Satu-satunya orang yang bisa membuat seluruh istana, termasuk para selir, menunduk.
“Ratu masih kosong karena alasan,” kata Madam Thera, suaranya keras dan tajam. “Dan aku tidak mengizinkan selir manapun duduk di kursi itu.”
Marvella mengepal roknya. “Madam… hamba tidak bermaksud—”
“Diam,” potong Thera tanpa kompromi.
Edric mengusap wajahnya. “Madam…”
Thera menatap Edric dengan mata tajam. “Kau tahu apa yang ayahmu inginkan. Kau tahu kursi itu bukan untuk wanita sembarangan. Dan kau juga tahu, Edric… mengapa aku tidak mengizinkan siapapun naik menjadi ratu.”
Kata-kata itu membuat ruangan terasa mencekam.
Marvella mundur sedikit, takut.
Edric memejamkan mata.
Thera adalah satu-satunya yang tahu semuanya. Rahasia tentang Anne. Tentang alasan pembatalan perjodohan itu. Tentang ancaman yang memaksa Edric tunduk. Tentang rasa bersalah yang menggerogotinya seperti kutukan.
“Madam,” Edric berkata pelan, “kau tidak harus selalu menahan semua orang.”
“Kalau aku tidak menahan, kursi itu akan dipenuhi parasit,” balas Thera cepat.
Marvella menunduk sangat dalam. “Hamba permisi.”
Ia pergi seperti bayangan yang tersapu angin.
Edric memijat pelipisnya. “Madam… apa kita harus selalu—”
Thera mendekat, suaranya menurun menjadi bisikan. “Kau menunggu seseorang, Edric. Aku tahu itu. Ayahmu tahu itu sebelum ia meninggal. Dan aku… aku tahu juga.”
Mata Edric sedikit melebar.
Ia tidak bisa membantah.
Karena benar.
Ia menunggu Anne kembali. Meski ia tidak yakin itu akan terjadi. Meski ia tidak pantas menunggunya.
Edric menunduk. “Aku… tidak layak lagi.”
Thera menghela napas, memandangnya dengan mata seorang ibu. “Kau membuat keputusan yang salah. Tetapi menunggu bukanlah dosa.”
Air mata hampir jatuh dari mata Edric, namun ia menahannya. Raja tidak boleh terlihat rapuh, bahkan di hadapan orang tua yang mencintainya.
Ketukan pintu pelan terdengar.
Seorang prajurit masuk, membawa gulungan emas dengan segel merah kerajaan Selatan.
“Yang Mulia,” katanya sambil berlutut, “undangan resmi dari Kerajaan Selatan. Raja Aldren meminta kehadiran Anda dalam jamuan besar tiga hari mendatang.”
Edric mengambil gulungan itu, matanya langsung berubah.
Kerajaan Selatan? Aldren tidak pernah mengundangnya secara pribadi. Apakah ini politik? Perang dagang? Atau sesuatu yang lebih besar?
Atau… bisik hatinya, berkaitan dengan rumor yang beredar tentang seorang gadis yang mencuri perhatian pasar Pedran?
Edric membuka gulungan itu. Huruf-huruf indah terpampang rapi:
“Kehadiran Anda sangat penting. Ada hal besar yang harus didiskusikan. Kehormatan bagi kami bila raja Barat hadir.”
Edric menutup gulungan itu dengan tangan bergetar halus.
Madam Thera memperhatikan perubahan ekspresinya. “Ada apa?”
Edric menatap pintu yang terbuka sedikit, seolah melihat jauh melampaui istana, melampaui perbatasan, melampaui waktu.
“Tidak tahu,” jawabnya pelan. “Tetapi hatiku… merasa ini penting.”
Thera memandangnya lama. “Apakah kau mencurigai sesuatu?”
Edric berdiri, tubuhnya tegap namun matanya menyimpan badai yang jarang terlihat.
“Aku tidak mencurigai,” jawabnya, suara itu serak. “Aku berharap.”
Ia menggenggam undangan itu lebih erat.
“Persiapkan perjalanan,” katanya pada prajurit. “Kita berangkat ke Selatan esok pagi.”
Prajurit itu membungkuk dalam-dalam. “Baik, Yang Mulia!”
Ketika prajurit pergi dan pintu tertutup kembali, ruangan itu tenggelam dalam kesunyian yang dalam.
Thera berdiri di sampingnya. “Edric… apakah kau pikir… ini tentang dia?”
Edric memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun… senyum kecil tersungging di bibirnya. Senyum penuh harapan, ketakutan, dan kerinduan.
“Aku tidak tahu, Madam,” bisiknya.
“Tapi… aku ingin percaya.”
Ia menatap undangan itu sekali lagi.
Jika Anne berada di Selatan—jika kabar burung tentang gadis misterius itu benar—maka perjalanan ini bukan sekadar diplomasi kerajaan.
Ini adalah langkah pertama menuju penebusan.
Dan mungkin…
Menuju akhir dari kesepian yang telah lama ia hidupi.