Kabar itu menyebar lebih cepat daripada angin pagi yang melintasi menara Istana Barat.
Raja Edric akan berangkat ke Selatan. ** Dan ia hanya membawa satu selir** untuk mendampinginya.
Nama itu menggema di seluruh kediaman para selir:
Lady Marvella.
Sejak keputusan itu diumumkan, istana bagian dalam berubah menjadi sarang lebah yang gelisah. Para pelayan berlari, para penjaga sibuk memperketat keamanan, namun yang paling gaduh justru para selir yang menyeret gaun-gaun mahal mereka sambil mengomel dan saling mencurigai.
Marvella berjalan di lorong panjang menuju kamarnya, langkahnya tenang meski tatapan-tatapan tajam menusuknya dari balik tirai.
Ia telah bertahun-tahun hidup dengan cemburu dan bisikan kotor di belakang punggungnya, namun hari ini… hawa itu jauh lebih panas, seperti percikan api yang siap membakar.
Saat ia membuka pintu, sebuah suara tajam menghentikan langkahnya.
“Selamat, Lady Marvella.”
Marvella berbalik perlahan.
Berdiri disana seorang wanita dengan gaun biru langit dan wajah cantik namun keras: **Lady Celestine. ** Selir tingkat dua—anggun, ambisius, dan terkenal memiliki keluarga yang merasa jauh lebih “berdarah biru” dibanding Marvella.
“Raja benar-benar memilihmu,” ujar Celestine dengan senyum menusuk. “Aku tidak tahu apakah itu penghormatan… atau kesalahan.”
Marvella membalas dengan senyum manis yang tidak menyentuh matanya. “Tergantung siapa yang menilai, Lady Celestine.”
Celestine melangkah mendekat, dagu terangkat angkuh. “Kau memang pandai merebut perhatian raja. Tetapi jangan lupa… kursi ratu masih kosong. Dan beberapa keluarga bangsawan—termasuk keluargaku—mengincarnya.”
Marvella menatapnya halus namun mengiris. “Keturunan mulia tidak menjamin kecerdasan politik.”
Wajah Celestine menegang. Ucapan itu tepat mengenai titik rapuhnya.
Namun sebelum ia membalas, suara yang lebih dingin dari angin musim gugur memotong udara:
“Cukup.”
Madam Thera berdiri di ujung lorong, kedua tangan disilangkan. Aura otoritasnya membuat semua selir otomatis merapatkan lutut.
“Keputusan Raja untuk membawa Lady Marvella bukan bahan perdebatan,” ujar Thera dingin.
Celestine menunduk, wajahnya memerah karena malu dan marah.
Thera menatap Marvella. “Bersiaplah. Kau berangkat esok pagi.”
Marvella mengangguk hormat. “Baik, Madam.”
Saat Thera pergi, Celestine membisik pelan—racun manis di ujung lidah.
“Hati-hati di Selatan. Mereka bilang Raja Aldren menyukai perempuan cantik.”
Marvella menoleh sedikit. “Kau takut aku tidak kembali?” Senyumnya merayap tipis. “Atau takut aku kembali dengan lebih banyak kekuasaan?”
Wajah Celestine menegang—dan untuk pertama kalinya, ia tidak menemukan jawaban.
Marvella memasuki kamarnya dan menutup pintu.
Dan di saat senyumannya memudar, ia merasakan sesuatu menusuk dadanya.
Bukan ketakutan akan perjalanan… Tapi ketakutan bahwa posisi yang selama ini ia bangun mungkin runtuh di Selatan.
Malam tiba. Di aula kecil yang diterangi lampu minyak, Marvella berlutut di hadapan Edric.
“Hamba siap mendampingi Yang Mulia.”
Edric hanya mengangguk sedikit. “Ini bukan perjalanan hiburan. Kau hanya pendamping resmi. Ingat itu.”
Seperti biasa, kata-katanya dingin. Seperti biasa… bukan untuk menyakiti. Tapi karena hatinya berada di tempat lain.
“Yang Mulia terlalu berbaik hati,” jawab Marvella pelan. “Para selir tidak hanya melakukan drama… mereka kelaparan kekuasaan.”
Edric menghela napas berat. “Aku tidak mencari ratu.”
“Tapi mereka mengejarnya.”
Edric tidak membantah.
Dan Marvella tahu—tanpa harus bertanya—bahwa kalimat itu bukan sekadar keputusan politik. Itu luka. Itu penyesalan.
“Ada sesuatu yang membuat Yang Mulia gelisah,” kata Marvella akhirnya. “Perjalanan ke Selatan… bukan sekadar diplomasi, bukan?”
Edric menatapnya, untuk pertama kalinya malam itu. “Di Selatan… aku harus memastikan sebuah kebenaran.”
“Kebenaran apa?” Marvella bertanya sangat pelan.
Edric memalingkan wajah. “Itu bukan urusanmu.”
Jawaban itu menusuk lebih dalam daripada hinaan selir mana pun.
Karena ia tahu: Jika bukan politik… Jika bukan urusan kerajaan… Maka hanya ada satu hal yang mampu menggetarkan Raja Edric sampai seperti itu.
Anne.
Sementara itu, di ruang minum kecil jauh dari penjaga, para selir berkumpul dalam lingkaran rahasia.
“Marvella tidak boleh kembali dengan kemenangan.” “Kita akan hilang posisi kalau dia semakin dekat dengan raja.” “Kursi ratu sudah lama kosong—dan jika dia berhasil… semuanya berakhir.”
Lady Ivelyn, selir tingkat tiga yang terkenal pendendam, mengetuk meja dengan kipasnya.
“Kita tidak perlu menyakitinya,” katanya dengan senyum licik. “Kita hanya perlu membuatnya melakukan kesalahan.”
“Apa maksudmu?” bisik selir lain.
Ivelyn mencondongkan tubuh. “Kalian lupa? Raja Aldren sedang sendirian setelah kematian ratunya dua tahun lalu. Ratu Lysandra wafat mendadak karena penyakit paru-paru. Sejak itu, Aldren hidup sendiri—dan seluruh bangsawan Selatan menunggu siapa yang akan menjadi ratu baru.”
Beberapa selir saling pandang.
“Apa hubungannya dengan Marvella?”
Ivelyn kembali tersenyum. “Cukup sebarkan rumor bahwa Marvella akan… menarik perhatian Raja Aldren yang sedang sendiri. Bahwa ia menginginkan kekuasaan di dua kerajaan sekaligus.”
Selir lain menelan ludah. “Itu bisa membuatnya dimusuhi para bangsawan Selatan.”
“Dan membuat Raja Edric merasa dikhianati,” tambah Ivelyn lembut.
Ruangan itu dipenuhi tawa licik.
Rencana itu telah dimulai.
Di balkon tertinggi, Edric berdiri menatap bulan.
Madam Thera menghampiri. “Kau tidak tenang.”
“Selatan menyimpan sesuatu,” jawab Edric perlahan. “Undangan itu terasa… lain.”
“Kau mencium harapan,” bisik Thera. “Harapan tentang Anne.”
Edric memejamkan mata sejenak. “Jika dia benar di sana… apakah aku pantas menemuinya lagi?”
“Tidak,” jawab Thera jujur. “Tapi kesalahan yang diakui… adalah langkah pertama menuju penebusan.”
Edric menelan keraguan itu. Entah apa yang menantinya di Selatan.
Anne… atau kehampaan baru?
Pagi datang.
Gerbang istana terbuka. Kereta kerajaan sudah siap. Para penjaga berdiri tegak.
Marvella melangkah dengan gaun perjalanan merah marun, wajahnya anggun namun tegang. Ia merasakan tatapan iri, dengki, dan rencana-rencana gelap yang bergerak di belakangnya.
Saat ia masuk ke dalam kereta, Edric sudah duduk diam, memandangi segel merah undangan Selatan.
Ekspresi yang sama sekali tidak tertuju padanya. Ekspresi yang… mengingatkan pada seseorang.
Itu membuat napas Marvella tercekat.
Ketika kereta mulai bergerak, meninggalkan istana…
Marvella menyadari satu hal:
Jika Anne benar-benar muncul kembali di Selatan— seluruh dunia yang ia bangun akan runtuh.
Dan Marvella tidak akan tinggal diam. Tidak kali ini.
Karena di kerajaan Selatan, seseorang menunggu. Seseorang yang dapat menghancurkan intrik para selir… dan meruntuhkan seluruh kekuasaannya.
Ini baru awal. Badai besar sedang bergerak.