Drama

BAB 16 — KURSI KOSONG DAN MATA YANG MENCURIGA

29 December 2025

Senja menggantung di atas Pedran, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu. Pasar telah mereda dari hiruk-pikuknya. Lampu-lampu minyak mulai dinyalakan, mengusir kegelapan yang merayap turun. Cloris merapikan lapaknya dengan gerakan lembut namun tergesa-gesa; pikirannya masih berputar memikirkan undangan raja.

Ia tak boleh datang. Ia tak boleh terlihat. Ia tak boleh mendekat ke istana lagi—bukan setelah ia menghilangkan dirinya sebagai Anne, Putri Utara.

Tapi kata-kata Raja Aldren terus terngiang:

“Aku akan menunggumu di jamuan itu.”

Cloris memejamkan mata. Ia harus menemukan alasan yang cukup kuat agar bisa menolak undangan itu tanpa menarik kecurigaan.

Namun nasib tidak memberinya waktu.

Langkah tegas terdengar dari ujung lorong pasar. Lampu-lampu minyak memantulkan cahaya pada mantel biru gelap seorang pemuda yang berjalan mendekat.

Pangeran Kael.

Cloris menegakkan tubuh, darahnya berdesir. Ia menelan ludah, diam-diam memikirkan kemungkinan melarikan diri. Namun itu mustahil—kaum bangsawan Selatan tak pernah berjalan tanpa penjaga tersembunyi.

Kael berhenti beberapa langkah darinya. Tatapan matanya yang tajam menelusuri lapak kain sederhana itu sebelum akhirnya terarah penuh pada wajah Cloris.

“Belum pulang?” suaranya rendah namun jernih.

Cloris menunduk cepat. “Yang Mulia… saya tidak menyangka Anda masih di Pedran.”

Kael menyilangkan tangan. “Ayahku kembali ke istana lebih dulu. Aku ingin memastikan keadaan pasar tidak kembali kacau setelah kami pergi.”

Lalu ia menambahkan, “Dan… mencari seseorang.”

Jantung Cloris berdegup kencang.

Kael mendekat. “Cloris.”

Ia mengucapkan nama itu dengan terlalu fasih, seolah menimbang-nimbang maknanya dari setiap huruf.

Cloris tersenyum tipis. “Saya hanya pedagang, Yang Mulia. Tak ada yang layak dicar—”

“Berhenti.” Kael memotongnya, tatapannya menusuk. “Jangan rendahkan dirimu dengan kata-kata itu. Kau berbicara di hadapan raja tanpa gentar. Itu tidak biasa.”

Cloris meraih gulungan kain, pura-pura sibuk. “Saya hanya mengatakan yang saya tahu.”

“Tetapi caramu mengatakan berbeda.” Kael melangkah mendekat selangkah demi selangkah, membuat Cloris tanpa sadar mundur setengah langkah.

“Cara bicaramu seperti bangsawan terlatih,” lanjutnya.

Cloris menegang.

“Bahasamu,” katanya lagi. “Etika tubuhmu. Ketegasanmu. Pengetahuanmu tentang struktur pajak dan ekonomi. Tidak mungkin seorang pedagang biasa mempelajari semua itu.”

Cloris mengangkat wajah, tersenyum manis—senyum yang dulu diajarkan gurunya untuk menutupi kebohongan.

“Yang Mulia terlalu berlebihan.”

“Tidak,” Kael menatapnya tanpa berkedip. “Aku melihatmu hari ini. Kau bicara seperti… seseorang yang pernah mempelajari politik.”

Cloris memaksakan tawa kecil. “Saya pedagang miskin, Yang Mulia. Saya bahkan—”

“Pedagang miskin tidak membawa buku catatan seperti milikmu,” potong Kael cepat. “Buku itu dibuat rapi. Metodis. Kau menghitung rata-rata, membuat pola, bahkan memprediksi kenaikan harga. Itu bukan kebiasaan orang pasar.”

Cloris merasakan jantungnya semakin memburu. Ia harus menjauh—sekarang.

“Maaf, Yang Mulia, tapi saya harus pulang. Hari sudah malam dan—”

Kael menahan pergerakannya hanya dengan kata-kata lembut, “Mengapa kau menolak undangan ayahku?”

Cloris membeku.

Kael menautkan alisnya, tampak benar-benar penasaran. “Semua pedagang bermimpi bisa masuk istana. Bahkan bangsawan kecil pun akan berlutut minta kesempatan itu. Tapi kau…” Ia mempersempit matanya. “Kau justru ketakutan.”

Cloris menunduk, menyembunyikan ekspresi wajahnya. “Itu karena saya tahu tempat saya. Istana bukan tempat bagi orang seperti saya.”

Kael mengamati gerakannya—cara ia mengepalkan jari, cara ia menghindari tatapan.

“Kau takut… atau kau menyembunyikan sesuatu?”

Cloris menggeleng cepat. “Tidak, Yang Mulia.”

“Benarkah?”

Cloris menghela napas. “Saya tidak pantas berada di istana. Saya hanya pedagang kecil yang hidup pas-pasan. Jika saya datang, saya hanya akan mempermalukan diri sendiri.”

Kael mengulurkan tangan dan mengambil salah satu kain biru laut dari lapaknya. Ia mengamati teksturnya, kemudian berkata pelan, “Kau tahu apa yang paling mudah kubaca dari seseorang?”

Cloris tidak menjawab.

Kael menatap langsung ke matanya. “Ketakutan.”

Cloris tersentak halus.

“Dan kau… bukan takut pada kami,” Kael menurunkan kain itu. “Kau takut pada dirimu sendiri. Pada apa yang mungkin terlihat jika kau masuk ke istana.”

Seseorang di dalam Cloris, bagian yang telah lama ia kubur sebagai Anne, bergetar.

Ia memalingkan wajah. “Yang Mulia terlalu banyak menebak.”

Kael menghela napas, bukan kesal… tetapi seperti seseorang yang berusaha memahami teka-teki yang sulit.

“Aku ingin tahu siapa kau sebenarnya.”

Cloris merasakan udara tiba-tiba terasa sesak.

Kael melanjutkan, “Ayahku jarang tertarik pada orang luar. Apalagi sejak ibuku meninggal dua tahun lalu, ia hampir tidak membuka ruang kepercayaan untuk siapa pun. Tetapi pada hari ini… ia memuji seseorang untuk pertama kalinya setelah sekian lama.” Ia menatap Cloris dengan penuh penilaian. “Itu kau.”

Cloris menggigit bibir—tak kuat menerima tekanan dari dua arah: masa lalunya sebagai Anne… dan perhatian Raja Aldren.

“Yang Mulia,” ia berkata perlahan, “Saya berterima kasih pada pujian Anda. Namun saya benar-benar tidak pantas datang ke jamuan itu.”

“Apa yang membuatmu merasa tidak pantas?”

“Saya hanya pedagang.”

Kael menggeleng. “Kau bukan.”

Cloris menegang.

Kael menambahkan, dengan nada lebih lembut namun tegas, “Cloris, aku tidak tahu siapa dirimu. Tapi aku tahu ini: kau terlalu pintar untuk hidup sebagai pedagang biasa. Kau menyembunyikan sesuatu—dan entah apa itu, aku ingin mengetahuinya.”

Cloris membalik badan, ingin mengakhiri percakapan. Namun Kael buru-buru berkata:

“Aku tidak berniat menyakitimu.”

Cloris berhenti.

“Ayolah… datanglah ke istana,” bujuk Kael perlahan. “Bukan sebagai bangsawan. Bukan sebagai tamu kerajaan. Datanglah sebagai dirimu. Sebagai Cloris.”

Cloris menunduk, menahan napas. Ia ingin pergi. Ia harus pergi.

Namun suaranya keluar pelan dan jujur, “Saya takut.”

Kata yang sama yang ingin ia hindari sejak hari pengasingan itu.

Kael tampak tersentak. Ia mendekat selangkah, suaranya lebih hangat. “Jika istana membuatmu takut, maka aku akan memastikan kau terlindungi. Jika kau khawatir dianggap rendah, aku akan berdiri di sampingmu.”

Cloris memejamkan mata. Apa yang Kael katakan adalah kesetiaan seorang pangeran… atau bahaya besar bagi identitasnya sebagai Anne?

Kael kemudian berkata, lebih pelan namun menusuk, “Biarkan aku percaya padamu… dan biarkan kau percaya padaku.”

Cloris tersentak. Tidak. Ia tidak boleh percaya.

Ia mengambil napas tajam lalu berbalik. “Maaf, Yang Mulia. Saya tidak bisa.”

Kael menatapnya lama—tajam, menyelidik, namun juga… kecewa.

Cloris mengangkat keranjang kainnya dan melangkah menjauh tanpa menoleh.

Namun ketika ia hampir keluar dari lorong pasar, suara Kael menyusulnya:

“Kalau begitu… aku yang akan mencarimu di istana.”

Cloris berhenti seketika.

“…Apa?”

Kael berdiri tegak, sorot matanya tidak menunjukkan keraguan sama sekali.

“Kau menolak undangan ayahku?” ia berkata tegas. “Baik. Maka anggap ini undanganku.”

Cloris merasakan kakinya melemah.

“Aku tidak akan berhenti… sampai aku tahu siapa kau sebenarnya.”

Ia menunduk.

Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi Cloris… ia merasa benar-benar terpojok.

Permainan yang ia mulai tanpa sengaja… kini menjadi permainan yang mungkin menghancurkan semuanya