Perawan Mahal sang Penggoda - Pesona Queen Baju Bebek - Bab 27

29 December 2025

Queen melangkah ringan begitu keluar dari toko perhiasan. Kantong-kantong belanja kini bertambah berat, tapi wajahnya justru semakin cerah. “Sekarang ke mana lagi?” tanya Gar, menyamakan langkah dengannya. Queen berhenti mendadak, berbalik menghadap Gar. Matanya berbinar tatapan yang selalu muncul setiap kali ide belanja baru terlintas di kepalanya. “Baju,” jawabnya singkat, penuh arti. Gar mengangguk tanpa ragu. “Ayo.” Dari belakang, Deko yang sudah hampir menghela napas lega karena mengira mereka akan pulang, langsung berhenti melangkah. “Baju?” gumamnya pelan. Queen berjalan masuk ke sebuah butik khusus pakaian wanita. Begitu melewati pintu kaca, matanya langsung tertuju pada rak pakaian rumah dan baju tidur. “Eh,” katanya antusias. “Ini lucu-lucu banget.” Ia mengambil satu set piyama berwarna kuning pastel, dengan gambar bebek kecil dan topi tidur di kepalanya. “Gemes,” gumam Queen sambil menempelkan baju itu ke tubuhnya. Gar berdiri beberapa langkah di belakangnya, menyilangkan tangan, memperhatikan dengan ekspresi yang sulit ditebak. Deko berdiri di samping Gar, wajahnya datar tapi matanya jelas menunjukkan kelelahan batin. “Baju tidur?” tanya Gar akhirnya. Queen mengangguk mantap. “Iya. Aku suka yang lucu-lucu. Yang nyaman. Yang bikin tidur enak.” Ia mengeluarkan satu set lagi. Kali ini berwarna biru muda, bermotif awan dan bintang, dengan potongan longgar. “Ini juga lucu,” katanya sambil tersenyum puas. “Aku punya baju tidur bebek di rumah. Yang ini mirip, tapi lebih bagus.” Gar menahan senyum. Sulit baginya membayangkan Queen yang di luar terlihat dewasa dan cantik ternyata punya selera sesederhana dan selucu itu. “Ambil,” ucap Gar singkat. Queen menoleh cepat. “Hah? Serius?” “Kamu suka,” jawab Gar. “Itu cukup.” Queen terkekeh kecil, lalu mengambil beberapa set lagi. Ada yang bermotif kelinci, ada yang polos tapi dengan pita kecil di kerahnya. Sementara itu, Deko akhirnya tak tahan. “Maaf, Tuan,” katanya hati-hati. “Bukankah kita sudah belanja cukup banyak hari ini?” Gar menoleh ke arahnya. “Kamu boleh menunggu di luar kalau capek.” Deko terdiam. Menunggu di luar pun tetap kerja, batinnya. Queen melirik Deko sekilas, lalu tersenyum kecil. “Kasihan ya.” “Dia dibayar,” jawab Gar ringan. Queen tertawa, lalu masuk ke ruang ganti dengan beberapa potong baju tidur di tangannya. Tak lama, tirai ruang ganti terbuka sedikit. “Tuan Gar,” panggil Queen pelan. Gar mendekat. “Kenapa?” Queen menyibakkan tirai sedikit lagi, memperlihatkan piyama kuning bermotif bebek yang tadi ia pilih. Rambutnya diikat asal, wajahnya polos tanpa banyak ekspresi dibuat-buat. “Menurutmu ini lucu nggak?” Gar terdiam. Lucu bukan kata yang tepat. Menggemaskan, mungkin. “Lucu,” jawabnya akhirnya, jujur. Queen tersenyum puas, lalu menutup tirai lagi. Di luar, Deko menatap langit-langit toko, pasrah. Dalam hati, ia hanya bisa bergumam: Ini kontrak paling melelahkan yang pernah saya lihat dan Tuan saya kelihatannya menikmatinya. “Astaga,” gumamnya pelan sambil mengibaskan tangan. “Aku capek.” Gar yang sejak tadi duduk di sofa empuk depan ruang ganti langsung berdiri. Tatapannya otomatis mencari wajah Queen yang agak manyun. “Capek kenapa?” tanyanya. Queen menghela napas panjang, lalu menjatuhkan diri ke sofa. “Gonta-ganti. Ini lucu, yang tadi juga lucu. Yang itu nyaman, yang ini gemes. Kepalaku pusing.” Gar tersenyum kecil. Bukan senyum menggoda, lebih ke senyum seseorang yang menikmati pemandangan di depannya wanita yang sedang lelah tapi tetap terlihat hidup. Sementara itu, Deko berdiri tak jauh dari mereka. Dari mengambil belanjaan Queen. Tangannya penuh paper bag. Bukan satu, bukan dua lebih dari sepuluh. Beberapa bahkan hampir menutupi setengah badannya. Ia bergeser sedikit, menahan berat belanjaan Queen yang jelas belum selesai. “Tuan,” ucap Deko akhirnya, suaranya tetap datar tapi ada nada menyerah. “Kalau boleh usul, besok mungkin kita bawa satu orang lagi.” Gar menoleh. “Kenapa?” “Biar saya tidak kerepotan,” jawab Deko jujur. “Ini baru baju tidur.” Queen yang duduk langsung terkekeh kecil. “Maaf ya, Deko.” Deko mengangguk sopan. “Tidak apa-apa, Nyonya. Saya hanya takut roboh.” Gar terkekeh singkat. “Bawa dua orang sekalian besok.” Deko menghela napas lega. Queen menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Matanya terpejam sebentar. Lelahnya terasa sampai ke tulang. Belanja ternyata tidak sesederhana bayangannya, apalagi kalau semua terasa boleh dan tidak perlu ditimbang. Gar memperhatikannya dalam diam. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah pergi. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan satu botol minuman dingin di tangannya. Ia membuka tutupnya, lalu menyodorkannya ke Queen. “Minum,” katanya singkat. Queen membuka mata. Terkejut kecil. “Hah?” “Kamu kelihatan capek,” lanjut Gar, nadanya datar seperti biasa, tapi tangannya tetap terulur. Queen menerimanya perlahan. Jari mereka sempat bersentuhan sebentar cukup singkat untuk disebut tidak sengaja, tapi cukup lama untuk membuat Queen terdiam. “Terima kasih,” ucapnya pelan. Ia meneguk minuman itu. Dingin. Segar. Dan entah kenapa, rasanya lebih enak dari yang seharusnya. Gar tidak duduk kembali. Ia hanya berdiri di dekat Queen, satu tangannya masuk ke saku celana, matanya mengamati sekitar seolah sedang menjaga. Bukan toko. Tapi dia. “Kita pulang saja,” kata Gar akhirnya. “Belanjanya cukup hari ini.” Queen menoleh. “Kamu nggak keberatan?” Gar menggeleng pelan. “Kamu kelihatan sudah cukup.” Queen tersenyum kecil. Senyum yang tidak dibuat-buat. “Iya, capek juga ternyata diurusin.” Gar menatapnya. Ada jeda singkat sebelum ia menjawab. “Biasakan,” katanya pelan. “Selama kontrak.” Queen terkekeh kecil, tapi kali ini tawanya lebih lembut. Ia memutar botol minum di tangannya, lalu berkata tanpa menatap Gar. “Aneh ya,” ucapnya. “Aku biasanya capek sendirian.” Gar tidak langsung menjawab. “Tapi hari ini,” lanjut Queen lirih, “capeknya, nggak berat.” Gar menatapnya lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya pelan, tidak berisik, tapi nyata. “Karena kamu nggak sendirian,” jawabnya akhirnya. Queen terdiam. AC toko berdengung pelan. Deko berpura-pura sibuk menata paper bag di tangannya, walau telinganya jelas mendengar semuanya. Queen menghabiskan sisa minumannya, lalu berdiri. “Ayo pulang.” Gar mengangguk. Saat mereka berjalan keluar toko, Gar melangkah sedikit di belakang Queen. Tangannya refleks terulur, menjaga jarak agar Queen tidak tersenggol orang lain. Ia tidak menyentuh. Tapi cukup dekat untuk melindungi. Dan Queen, tanpa sadar, melambatkan langkahnya agar jarak itu tetap ada. Kontrak itu masih berlaku. Tapi kelelahan hari itu sudah terasa seperti milik berdua.