Dinikahi Paman Mantan - Sikap Manis - Bab 6

Penulis Nuvola
15 September 2025

Lily membuka matanya perlahan. Pandangannya masih berkunang-kunang, kepalanya terasa berat seperti dihantam benda keras, dan pipinya perih, panas, meninggalkan sensasi terbakar. Ia refleks teringat kejadian sebelum pingsan, membuat tubuhnya mendadak terduduk dengan nafas terengah.

“Kamu sudah bangun? Ada yang sakit?” suara berat Agam terdengar lembut, berbeda dari biasanya. Wajah yang selalu dingin itu kini tampak diliputi kecemasan. Tatapan matanya menelusuri wajah Lily dengan penuh perhatian.

“Lily?” panggilnya lagi, pelan.

Lily mengerjapkan mata, mencoba fokus. “Hah? A-aku tidak apa-apa… hanya pusing saja.” Ia menggertakkan gigi, kemarahan kembali membuncah. “Di mana bajingan itu?” tanyanya tajam, jelas merujuk pada Rafael.

“Rumah sakit,” jawab Agam singkat. Tatapannya tak lepas dari wajah Lily, lalu tangannya terulur, dengan ragu namun tegas menyentuh pipi Lily yang memerah. “Maafkan aku,” bisiknya tulus, membuat Lily sedikit tertegun.

“Tidak apa-apa… aku yang salah karena membuka pintu,” balas Lily dengan suara parau.

Agam menegakkan tubuhnya. “Kamu mau makan? Sudah sore, dan sejak siang kamu belum menyentuh makanan,” ucapnya.

Lily merasakan perutnya memang kosong, akhirnya ia mengangguk kecil. “Tapi aku tidak ingin keluar dari kamar.”

“Aku minta maid bawakan makanan ke sini,” tutur Agam, lalu segera menghubungi seseorang lewat ponselnya.

Keheningan pun menyelimuti kamar itu. Lily bersandar pada kepala ranjang, sementara Agam duduk di kursi dekatnya, sama-sama terdiam. Tak ada percakapan, hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas. Hingga akhirnya, ketukan pintu memecah sunyi.

Namun, sebelum Agam sempat beranjak, pintu lebih dulu terbuka. Diana masuk, wajahnya dipenuhi rasa cemas. Ia langsung menghampiri Lily, duduk disisi tempat tidur, dan menggenggam tangan cucunya dengan erat.

“Lily sayang, bagaimana keadaanmu?” tanyanya penuh khawatir.

“Hanya sedikit pusing, Nek,” jawab Lily lirih.

Diana tak kuasa menahan perasaan bersalah, ia langsung memeluk Lily. “Maafkan Ibu, ini semua salah Ibu. Kalau saja Ibu tidak menyuruh Agam membawamu ke rumah utama, pasti hal ini tidak akan terjadi.” Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar.

Lily menggeleng pelan, berusaha menenangkan. “Tidak, Nek. Jangan salahkan diri sendiri. Ini bukan salah Nenek,” ucapnya lembut.

Diana menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil. Tangannya mengelus pipi Lily dengan penuh kasih. “Baiklah sayang… kalau begitu Ibu keluar dulu, biar kamu bisa istirahat dengan tenang.”

“Iya, Nek.”

“Eh, panggil Ibu… seperti Agam memanggil,” pinta Diana dengan suara lembut.

Lily tersipu. “Iya, maaf Bu. Lily belum terbiasa.”

“Tidak apa-apa, sayang.” Diana berdiri, menatap Lily sekali lagi, lalu melangkah keluar. Tepat setelahnya, maid datang membawa makanan di nampan perak.

Agam mengambil alih piring itu. Tanpa berkata banyak, ia duduk kembali dan menyuapkan makanan ke mulut Lily.

“Aku bisa makan sendiri, Om,” ucap Lily, sedikit kikuk.

Agam tidak menanggapi, ia tetap menyuapkan makanan dengan tenang. Lily akhirnya membuka mulut, menerima suapan itu. Jantungnya berdetak kencang. Tatapan Agam yang sesekali bertemu dengan matanya membuatnya gelisah. Ia beberapa kali memalingkan wajah, malu dengan perhatian yang terasa begitu intim.

Saat suapan terakhir habis, Agam memberinya segelas air. Lily meneguknya, lalu menaruh gelas di meja samping. Matanya tiba-tiba menangkap luka di tangan Agam—memar dan sedikit terkelupas, seolah bekas pukulan keras.

Tanpa banyak bicara, Lily meraih kotak P3K di nakas. Ia menarik tangan Agam, memaksanya duduk lebih dekat. Dengan hati-hati, ia membersihkan luka itu, menempelkan plester, dan mengoleskan salep. Wajahnya serius, penuh konsentrasi, membuat Agam hanya bisa menatapnya dalam diam.

“Kamu… mematahkan kakinya?” tanya Lily, mencoba memecah keheningan, setengah bercanda.

Agam mengangkat alis. “Kamu mau aku melakukannya?”

“Tidak!” Lily terkekeh pelan, lalu tersenyum tipis. “Aku cuma bercanda.” Tatapannya naik, dan mata mereka bertemu dalam jarak begitu dekat.

Agam tak lagi menahan dirinya. Ia mengikis jarak, hingga bibirnya menyentuh bibir Lily. Kejutan membuat Lily membeku, tapi tak ada penolakan dari dirinya. Agam memperdalam ciumannya, lembut namun penuh rasa memiliki. Lily terhanyut, meski hatinya belum sepenuhnya yakin, tapi bagaimanapun Agam adalah suaminya.

Ciuman itu akhirnya terlepas. Agam menatap Lily lekat-lekat, mengusap rambutnya dengan lembut. “Istirahatlah. Aku kembalikan piringnya dulu,” ucapnya, bangkit dan berjalan keluar. Lily hanya mengangguk, pipinya memerah, hatinya berdebar tak menentu.


Di rumah sakit Rafael terbaring di ranjang dengan wajah lebam, bibir pecah, dan perban melilit kepalanya. Ruang rawat inap itu penuh aroma obat dan antiseptik. Barbara duduk di kursi samping ranjang, wajahnya muram tapi penuh amarah.

Tak lama kemudian, Emma dan Iris masuk dengan wajah panik. “Tante! Rafael! Bagaimana ini bisa terjadi?” seru Emma, matanya langsung berkaca-kaca melihat kondisi pria yang ia klaim sebagai miliknya.

Barbara mendesah keras, lalu mendesis penuh kebencian. “Semua ini gara-gara wanita murahan itu!”

“Bukan salah Lily, Ma,” potong Rafael lemah, suaranya serak. “Aku sudah bilang aku baik-baik saja, tapi Mama memaksaku ke rumah sakit.”

“Diam, Rafael!” bentak Barbara. “Wajahmu penuh luka, darah bercucuran, masih bilang tidak apa-apa? Kita harus melaporkan Agam ke polisi!”

“Benar sekali, Tante. Mereka pantas dilaporkan!” sahut Emma cepat, matanya penuh kilatan iri dan dendam. “Berani-beraninya dia menggoda calon suamiku!”

“Dia tidak pernah menggodaku!” Rafael mengangkat suaranya, meski tubuhnya masih lemah. Ia menatap Emma tajam, lalu Barbara. “Kalian salah menuduhnya. Lily tidak seperti itu!”

Ucapan Rafael membuat ruangan seakan membeku. Tiga wanita yang ada di sana sontak tersulut emosi.

“Jangan bohong, Rafael!” Iris maju selangkah, matanya merah karena marah. “Wanita itu jelas masih tidak terima kamu dengan Emma. Dia pantas mati! Sama seperti ibunya dulu!”

Kata-kata penuh kebencian itu menggantung di udara, membuat suasana semakin mencekam. Rafael menggertakkan gigi, menahan amarah dan sakit di tubuhnya.

“Sudah, kita jangan membahasnya dulu. Rafael pasti butuh istirahat,” tutur Emma dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Ia melangkah mendekati ranjang, menatap Rafael penuh kepura-puraan iba. “Aku suapin kamu makan, ya?” sambungnya sambil meraih piring bubur yang terletak di meja samping tempat tidur.

Namun Rafael hanya menghela nafas kasar. Wajahnya yang penuh lebam tampak semakin muram. “Tak perlu. Kalian pergilah,” ucapnya ketus, jelas tak ingin ada seorang pun di dekatnya, terutama Emma.

Emma pura-pura tak mendengar. Dengan senyum dipaksakan, ia tetap menyendok bubur dan mengarahkan sendok itu ke mulut Rafael. “Ayo, El. Kamu butuh makan biar cepat sembuh.”

Rafael menoleh dengan tatapan penuh kebencian. “Sudah aku bilang pergi!” serunya tiba-tiba, lalu menepis sendok itu dengan kasar. Sendok beserta bubur di atasnya terlempar ke lantai, bunyinya berdenting keras memenuhi ruangan. Aroma bubur panas yang tercecer di lantai ikut menambah kekacauan.

Ruangan itu mendadak senyap. Barbara terperanjat, sementara Emma terdiam kaku dengan wajah yang memerah menahan amarah. Tangannya gemetar, giginya terkatup rapat, menahan diri agar tidak melampiaskan emosinya di hadapan Rafael.

“Rafael!” tegur Barbara dengan suara meninggi, namun masih mencoba menahan nada kerasnya. Ia segera berdiri, menghampiri Emma, lalu meraih tangannya dengan lembut. “Jangan dimasukkan ke hati, sayang. Rafael sedang sakit, pikirannya kalut. Biarkan dia istirahat. Kamu pulang dulu saja ya, biar Tante yang jaga Rafael.”

Emma mengangguk pelan. Ia menoleh ke arah Rafael sekali lagi, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis, meskipun matanya menyimpan bara amarah. “Baik, Tante. Kalau begitu Emma dan Mama pulang dulu,” ucapnya penuh basa-basi.

Barbara mengelus punggung tangan Emma seolah menenangkannya, padahal hatinya sendiri juga geram dengan sikap Rafael yang membela Lily. “Iya, hati-hati di jalan ya.”

Emma akhirnya melangkah keluar bersama Iris. Begitu mereka masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu di parkiran rumah sakit, senyum manis yang tadi ditunjukkannya seketika lenyap. Wajahnya berubah kelam, matanya menyipit penuh dendam.

“Aku ingin wanita murahan itu segera lenyap, Mama!” seru Emma, tangannya mengepal erat di pangkuannya. Suaranya bergetar menahan emosi.

Iris, yang duduk di sampingnya, menoleh dengan wajah penuh kebencian. “Sabar, Em. Kita tidak boleh gegabah. Percayalah, akan ada cara yang lebih baik untuk menyingkirkannya.”

Emma menghentakkan kakinya ke lantai mobil dengan kesal. “Aku muak melihat wajahnya!”

Iris mengusap bahu anaknya, suaranya dingin penuh keyakinan. “Tenanglah. Lily sudah menikah, dia tidak akan bisa memiliki Rafael. Kamu tetap tunangannya. Apapun yang terjadi, posisi itu tidak bisa digoyahkan. Biarkan aku dan Tante Barbara yang urus sisanya.”

Emma terdiam sejenak, lalu tersenyum miring, senyum penuh tipu daya. “Baiklah, Mama. Tapi ingat… aku tidak akan tenang sebelum aku melihat Lily benar-benar hancur.”

Mobil itu melaju meninggalkan rumah sakit, membawa serta dendam dan rencana gelap yang kian mengakar di hati Emma.