Mobil melaju meninggalkan area mall. Lampu-lampu gedung perlahan menjauh, digantikan jalanan kota yang lebih lengang. Mesin berdengung halus, AC menyebar dingin merata. Di kursi belakang, Queen menyandarkan tubuhnya ke jok. Kantong belanja memenuhi bagasi, tapi kepalanya terasa lebih penuh dari barang-barang itu. Matanya setengah terpejam, bulu matanya turun perlahan. Gar duduk di sampingnya, jaraknya tidak terlalu dekat, tapi juga tidak jauh. Ia melirik sekilas, melihat Queen yang tampak kelelahan setelah seharian gonta-ganti baju dan berjalan tanpa henti. Di depan, Deko menyetir dengan fokus, kedua tangannya mantap di kemudi. Ia tidak banyak bicara, tapi cukup sadar dengan suasana sunyi yang tercipta di belakangnya. Queen menghela napas panjang. “Capek,” gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri. Gar menoleh. “Mau pulang langsung, atau berhenti sebentar?” Queen menggeleng kecil. “Pulang aja.” Gar mengangguk. Tanpa bicara lagi, ia merogoh laci kecil di samping pintu, mengambil jaket tipis. Gerakannya pelan, tidak tergesa. Ia menyampirkannya ke bahu Queen. Queen refleks menoleh. “Eh.” “AC-nya dingin,” ucap Gar singkat. Queen tidak menolak. Ia menarik jaket itu sedikit lebih rapat. Kehangatannya sederhana, tapi cukup. Di kaca jendela, bayangan mereka tampak samar. Queen menatap pantulan itu beberapa detik, lalu kembali memalingkan wajah ke luar. Di depan, Deko sedikit mengecilkan AC tanpa diminta. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. “Tuan Gar,” ucap Queen akhirnya, suaranya lirih. “Hm?” “Aku biasanya kalau capek begini sendirian.” Gar menatap lurus ke depan beberapa detik, lalu kembali menoleh ke arah Queen. “Sekarang nggak.” Queen terdiam. Jarinya meremas ujung jaket pelan. “Aneh ya,” katanya lagi. “Padahal ini cuma kontrak.” Gar tidak langsung menjawab. Nada suaranya lebih rendah saat ia berbicara. “Nggak semua hal harus terasa palsu cuma karena ada kontraknya.” Queen menoleh. Matanya bertemu dengan mata Gar sepersekian detik, lalu cepat-cepat berpaling. Di depan, Deko tetap fokus menyetir. Tapi sudut matanya menangkap bayangan itu. Ia menghela napas pelan, hampir tak terdengar. "Kalau cinta bilang cinta," ucapnya pelan nyaris tak terdengar. Mobil terus melaju, membelah jalan malam. Queen akhirnya bersandar lagi, kali ini lebih rileks. Kepalanya sedikit miring, hampir menyentuh sandaran kursi di antara mereka. Gar memperhatikannya dalam diam. Tangannya terangkat sedikit, seolah ingin membenarkan posisi jaket di bahu Queen tapi ia menahannya. Ia menurunkannya kembali ke pangkuan. Tidak menyentuh. Tidak melampaui batas. Mobil berbelok memasuki ruang parkir. Lampu parkiran menyala, memantul lembut di kaca mobil. “Kita sudah sampai,” ucap Deko tenang. Queen membuka mata perlahan. Ia terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Gar menatapnya sejenak sebelum turun. “Istirahat.” Queen mengangguk kecil. “Iya.” Saat pintu mobil terbuka, udara malam menyambut mereka. Dan tanpa disadari, langkah Queen melambat sedikit menunggu Gar di sisinya. “Sebentar ya, aku capek.” Langkah Queen terhenti tepat sebelum pintu lift. Ucapannya pelan, tapi cukup membuat Gar ikut berhenti. Deko yang berjalan di belakang dengan tumpukan paper bag nyaris menabrak mereka. “Eh...” Deko menahan langkah, bahunya sudah terasa pegal. Gar menoleh cepat ke Queen. “Capek banget?” tanyanya bingung. “Padahal tadi cuma belanja dan jalan sebentar di mall.” Queen tidak menjawab langsung. Tangannya justru meraih lengan Gar, jemarinya mencengkeram pelan seolah mencari penopang. Berat tubuhnya condong sedikit. “Bukan capek biasa,” gumamnya. “Badanku lemes.” Deko memperhatikan sekilas, lalu mengernyit. “Tuan, Nyonya kelihatan pucat.” Gar baru benar-benar menatap wajah Queen. Kulitnya memang putih bening, biasanya sulit terlihat perubahannya. Tapi sekarang, ada sesuatu yang berbeda. Bibirnya tampak lebih pucat, matanya kehilangan kilau ceria tadi. “Kita ke rumah sakit,” ucap Gar refleks, nadanya naik satu tingkat. Queen langsung menggeleng. “Ih, jangan lebay. Aku nggak sakit. Aku cuma capek, sumpah.” “Tapi kamu pucat,” desak Gar. “Karena dingin mungkin,” bantah Queen cepat, berusaha berdiri lebih tegak meski tangannya masih menahan lengan Gar. Deko ikut menyela, mencoba berpikir logis. “Mungkin Nyonya belum makan, Tuan. Ini sudah malam.” Gar terdiam. Kalimat itu masuk akal. Ia menghela napas, menahan panik yang mulai naik. “Kamu lapar?” tanyanya pada Queen, lebih lembut. Queen terdiam sesaat. Lalu mengangkat bahu kecil. “Mungkin.” Gar mengeluarkan ponsel. “Kamu tuh,” gumamnya, lalu menelepon. “Suruh orang ambil semua belanjaan. Sekarang.” Panggilan ditutup. Gar melirik Deko yang berdiri dengan belanjaan hampir menutupi setengah badannya. “Kau ini bodoh sekali,” geramnya. “Kenapa nggak dari tadi suruh orang ambil belanjaan?” Deko tersenyum tengil, bahunya terangkat pasrah. “Saya kira masih kuat, Tuan.” Tak lama, dua orang anak buah datang mengambil paper bag dari tangan Deko. Deko menghela napas lega, tangannya langsung terasa ringan. Belum sempat ia benar-benar bernapas tenang, Gar kembali bersuara, “Deko.” “Iya, Tuan?” “Belikan makanan untuk kami,” perintah Gar tegas. “Yang bernutrisi. Protein yang utama. Jangan junk food.” Deko tercengang sepersekian detik. “Sekarang, Tuan?” “Sekarang.” “Baik,” jawab Deko cepat. Ia melangkah pergi sambil menggeleng kecil. Dalam hati, ia menghela napas panjang. Sejak ada Nyonya Queen, pekerjaan Tuan jadi aneh. Dulu, tugasnya hanya menemani, mengatur jadwal, mengawasi informasi dan itu pun sering ia limpahkan ke orang lain. Sekarang? Belanja. Makanan bergizi. Dan memastikan seseorang tidak tumbang. Deko melirik ke belakang sebentar. Gar masih berdiri di samping Queen, tubuhnya sedikit condong, tangannya siap menopang kapan saja. “Kontrak paling merepotkan,” gumam Deko pelan. “Dan kelihatannya, Tuan menikmatinya.”
Gar menatap Queen dengan khawatir. “Jadi, kamu masih lemes? Mau aku gendong aja?” Queen terkejut, spontan menjauhkan tangannya. “Aku bisa kok jalan sendiri,” jawabnya cepat, sedikit panik. Baru satu langkah, tubuh Queen oleng. Detik berikutnya, Gar sigap menyambutnya. Tanpa ragu, ia menggendong Queen dengan mudah. Queen menatapnya, mata membesar. “Akh… gak apa-apa loh! Aku bisa sendiri, serius!” Gar hanya menatapnya tenang, tegas. “Kamu lemah. Jadi biar aku yang gendong,” katanya. Queen menoleh lagi, bertatapan dengan mata Gar. Ada sesuatu di tatapannya tenang, kuat, tapi hangat. Queen menutup mata pelan, membiarkan dirinya ditopang. Saat Gar melangkah, Queen meletakkan tangan lembut di bahu Gar, seolah ingin menempelkan sedikit keberanian dan kepercayaan. Napasnya pelan, tubuhnya menyesuaikan dengan langkah Gar. Di dalam hati, Queen merasa ada sesuatu yang berbeda, capeknya tidak lagi berat, karena ada Gar di sampingnya.