Perawan Mahal sang Penggoda - Suapan Cerita dari Gar - Bab 29

29 December 2025

Dibantu anak buahnya membuka pintu, Gar menggendong Queen langsung ke atas kasur. Queen agak tersentak, merasa tidak enak, lalu memilih duduk di tepi kasur. Gar dengan sabar membantu melepas sepatunya. “Tunggu di sini, aku ambilkan minum dulu,” kata Gar. “Kan tadi di luar ada pelayan, kenapa kamu nggak suruh mereka aja?” tanya Queen, masih merasa merepotkan. Gar tersenyum tipis. Ia ingin mengiyakan, tapi memilih melakukannya sendiri. Ada sesuatu yang membuatnya tak ingin melibatkan orang lain saat merawat Queen. Beberapa langkah kemudian, Gar kembali membawa segelas air putih. “Nih, minum dulu,” ucapnya sambil menyerahkan gelas. “Makasih ya,” jawab Queen sambil menerima dan meneguk air itu pelan. Rasanya segar, tapi rasanya lebih hangat karena diberikan Gar sendiri. Gar meletakkan gelas di meja samping tempat tidur. “Kalau lapar, bilang aja sama aku. Jangan ditahan, kan lihat sekarang?” Queen menunduk, menarik napas. “Aku emang sering gini, dari dulu.” “Terus kamu udah cek ke rumah sakit belum?” tanya Gar, sedikit khawatir. “Ini bukan sakit, Tuan. Dari kecil aku memang gini, cuma kecapean aja,” jawab Queen, berusaha meyakinkan dirinya sendiri juga Gar. Tak lama kemudian Deko mendorong troli tiga tingkat yang penuh sesak. Queen menatapnya dengan mata membesar, bingung dari mana semua ini datang. Di tingkat atas, tersusun rapi beberapa kotak berisi salad segar dengan sayuran hijau, tomat ceri, alpukat, dan potongan ayam panggang. Ada juga semangkuk quinoa dengan biji-bijian dan kacang-kacangan, lengkap dengan saus ringan yang menyehatkan. Tingkat kedua diisi dengan ikan salmon panggang, dada ayam rebus, dan telur rebus. Di sampingnya, ada kentang panggang dan brokoli kukus, serta beberapa botol kecil yogurt tinggi protein. Tingkat paling bawah berisi buah-buahan segar stroberi, blueberry, potongan pepaya, dan potongan apel serta beberapa kacang almond dan walnut. Terdapat juga minuman protein shake dalam botol kecil, siap diminum, untuk menjaga energi Queen tetap stabil. Queen menatap troli itu dengan kagum. “Wah, lengkap banget.” gumamnya. “Ini serius makanan nih?” Deko tersenyum tipis. “Tuan Gar selalu memastikan semuanya teratur, Nyonya.” “Wah, tapi kalau sebanyak ini, aku mana bisa habiskan,” gumam Queen sambil menatap troli penuh makanan. “Tenang,” jawab Gar sambil tersenyum tipis. “Nanti aku bantu. Aku suapin kamu, aku juga suapin aku.” Nada bicaranya ringan, tapi ada sesuatu yang membuat Queen agak tersipu. Deko di samping mereka hanya berdecak pelan. “Ya udah, Tuan. Saya pamit sebentar, saya juga belum makan dari siang.” Gar menoleh, alisnya mengernyit. “Siapa suruh nggak makan dari tadi?” Deko hanya tersenyum canggung sebelum melangkah keluar sebentar. Setelah Deko pergi, Gar mengambil sendok dan garpu, menata piring di depan Queen. Matanya tetap fokus padanya. “Kamu makan yang banyak ya,” ucap Gar sambil memotong daging ayam. Queen menunduk, sedikit tersipu. “Aku makan sendiri aja deh,” ucapnya, menolak saat Gar ingin menyuapnya. “Kenapa?” tanya Gar, nada suaranya tetap tenang tapi ada sedikit kekhawatiran. “Aku malu, lagian, nggak enak sama Deko. Kasihan dia,” jawab Queen jujur, menatap piringnya. Gar menatapnya lama. Hatinya sedikit panas melihat perhatian Queen yang tulus pada orang lain, padahal saat ini yang terpenting adalah kesehatannya sendiri. “Nur… Nurlela,” suara Gar lebih serius, lembut tapi tegas. “Kamu itu lemah. Kalau kamu nggak makan sekarang, itu bisa sangat berbahaya. Sekarang, buka mulutmu. Aku yang suapin.” Queen terdiam, menatap mata Gar yang menegaskan maksudnya. Hatinya berdebar, sekaligus merasa hangat karena perhatian yang tak dibuat-buat itu. Saat menyuapi Queen, Gar ikut tersenyum tanpa sadar. Ada rasa hangat yang aneh di dadanya perasaan yang sama seperti ketika Queen menerima suapan itu dengan patuh, pipinya sedikit menggembung saat mengunyah. Ia yakin, Queen juga merasakannya. Ada getar kecil yang tak mereka ucapkan, tapi terasa. “Kamu nggak pulang?” tanya Queen setelah menelan makanannya. Gar sudah bersiap dengan suapan berikutnya. “Tidak,” jawabnya singkat. “Aku ingin di sini.” Queen membuka mulut lagi. Gar menunggu dengan sabar sampai Queen mengunyah dan menelannya. Setelah itu, ia ikut mengambil sedikit makanan untuk dirinya sendiri. “Kamu nggak mau cerita, Tuan?” tanya Queen pelan. Gar berhenti sejenak. “Panggil aku Gar saja.” Queen tersenyum kecil. “Baiklah. Kamu nggak mau cerita, Gar?” Gar kembali menyuapi. “Baiklah. Aku akan cerita.” Queen makan dengan lahap, jelas kelaparan, sambil menunggu Gar merangkai kata. “Pada zaman dahulu, hiduplah...” “Ih!” Queen memotong cepat. “Bukan cerita dongeng. Cerita tentang kamu.” Gar tertawa lepas, suara tawanya memenuhi kamar. Sudah lama rasanya ia tidak tertawa seperti itu. “Haha… kamu penasaran ya sama aku?” katanya sambil tersenyum. “Kan aku semalam sudah cerita,” jawab Queen santai. “Sekarang gantian. Cerita apa aja. Tentang kamu.” Gar terdiam. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Banyak cerita di kepalanya, tentang pernikahan yang dingin, tentang ayahnya, tentang hidup yang terlihat sempurna tapi kosong. Tapi tak satu pun siap ia bagi. “Apasih,” protes Queen pelan. “Kok diem aja.” “Aku bingung mau cerita apa,” jawab Gar jujur. Queen menatapnya beberapa detik, lalu tiba-tiba bertanya, “Kamu pernah pacaran?” “Tidak.” Queen mengernyit. “Ih, serius nggak usah bohong. Kamu tampan, kaya. Masa nggak pernah pacaran?” “Iya,” jawab Gar tenang. “Aku serius.” Queen terdiam sesaat, lalu matanya melebar seolah mendapat kesimpulan besar. “Jadi benar dong,” ucapnya tiba-tiba. “Benar apa?” tanya Gar bingung. “Kamu suka sesama jenis,” kata Queen datar. “Kamu suka Deko?” “Uhuk uhuk!” Gar langsung terbatuk, hampir menjatuhkan sendoknya. Wajahnya berubah, antara kaget dan tidak percaya. “Ih, enggak lah!” bantahnya cepat. “Lubang depan lebih enak daripada lubang belakang.” Queen terdiam sepersekian detik, lalu menatap Gar dengan wajah penuh makna. “Oh,” katanya pelan. Kalimat itu langsung disambung Queen dengan nada yang lebih serius, nyaris tanpa ekspresi bercanda. “Berarti kamu pernah tidur dengan wanita sebelumnya?” Gar terdiam. Queen melanjutkan, suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang menusuk. “Oh iya… kamu saja bisa beli aku. Masa yang lain nggak.” Udara di antara mereka mendadak berubah. Bukan canggung. Tapi lebih dalam seperti ada batas tipis antara kontrak dan perasaan yang mulai goyah. Gar menatap Queen lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menjawab. Dan Queen tetap makan perlahan, seolah tidak sadar bahwa pertanyaannya barusan menyentuh sisi Gar yang selama ini ia kunci rapat.